DUNIA ISLAMKAJIANNEWSSIRAHSYARIAH

Kebahagiaan Hadir Selalu Diawali dengan Ujian

 Oleh: Hj. Desmawati, M.Si

SATU bukti manusia tak kuasa secara mutlak dalam hidup ini adalah hadirnya musibah dalam perjalanan hidup setiap manusia. Namun demikian, sebagian besar orang masih menjadikan tolok ukur akal dalam menimbang dan menentukan segala sesuatu termasuk musibah, sehingga alih-alih ingat dan kembali kepada Allah, sebagian malah semakin jauh dari ketentuan Islam.

Ketika anak secara mendadak terjatuh, luka bagian kepala dan mengucurkan darah segar begitu banyak yang membuat siapapun yang melihatnya akan shock, sebagian orang tua langsung menghardik buah hatinya. “Ya Allah, kenapa sampai seperti ini, kamu kok gak hati-hati, kan tadi sudah mama bilangin, jangan main di situ.” Padahal, musibah terjadi tanpa ada satu pun manusia akan ada yang mengetahui.

Dalam kata yang lain, tak ada gunanya menyalahkan apa dan siapapun kala musibah menimpa. Cukup kembalikan kepada Allah dengan mengucapkan “Innalillahi wainna ilayhi roji’un” sebagaimana Allah tegaskan di dalam Surah Al-Baqarah ayat 156.

Dari segi bahasa, “musibah” atau dalam dialek Arab diucapkan dengan mushabah dan mashubah, berarti “peristiwa yang dibenci yang menimpa manusia.”

Al-Qurthubi berkata, musibah sebagai semua peristiwa yang menyakiti kaum beriman. Dalam kehidupan keseharian, musibah mencakup bencana dan segala hal yang membawa kerugian dan kejelekan dalam pandangan manusia.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghindari kegalauan hati, mulai dari cara sederhana sampai dengan terapi medis yang mahal biayanya. Jika belum terlambat terkena stres berat, ada baiknya mempelajari cara mudah dan praktis menghindari ketidakbahagiaan. Misalnya, dengan menghindari khawatir berlebihan dan perbanyak pikiran positif

Khawatir bisa memicu stres berlebihan. Perasaan khawatir biasanya muncul akibat sibuk dengan skenario “bagaimana jika” dan hal buruk lainnya. Rasa was-was ini dapat menyedot energi emosional, membuat tingkat kecemasan melonjak, dan mengganggu kehidupan sehari-hari. Anda bisa melatih otak untuk tetap tenang dan melihat kehidupan dari perspektif yang lebih seimbang jika mau terus berbenah.

Hiduplah santai apa adanya. Berfikir yang tidak-tidak dan belum tentu terjadi bisa menambah kecemasan (sama seperti mengkhawatirkan untuk mimpi buruk saat tidur sering membuat Anda tetap terjaga). Keyakinan positif tentang kekhawatiran bisa lebih merusak lagi. Sulit untuk menghentikan kebiasaan khawatir jika Anda yakin kekhawatira tetap dalam lingkup pikiran. Untuk menghentikan kekhawatiran dan kecemasan tersebut, Anda harus menyadari bahwa mengkhawatirkan adalah masalahnya, bukan solusinya, Anda bisa mendapatkan kembali kendali atas pikiran khawatir.

Jangan serakah, iri hati dan dengki akan milik orang lain. Keserakahan sama buruknya dengan iri hati dan dengki. Anda harus bahagia dengan apa yang dimiliki dan tidak cemburu dengan apa yang orang lain miliki. Keserakahan, cemburu, dan iri hati tidak akan membuat hidup lebih baik. Jika serakah, Anda tidak akan mendapatkan apapun yang tidak diinginkan dalam hidup ini karena Anda akan selalu khawatir dengan apa yang tidak dimiliki dalam hidup ini. Anda harus bahagia dengan apa yang didapatkan dalam hidup

Baca Juga  Idul Fitri, Menang Melawah Hawa Nafsu dan Meraih Kesucian

Bila kegelisahan makin terasa, cepatlah berubah, kata orang sekarang  “move on”, berfikir selalu ke depan, bukan ke masa lalu.  Banyak orang mengatakan bahwa sangat penting untuk mengingat hal-hal yang telah Anda lakukan di masa lalu sehingga Anda dapat memiliki panduan untuk apa kehidupan kedepannya. Sejatinya, sejarah tidak lain adalah masa lalu. Apa yang telah dilakukan di masa lalu sama sekali tidak memiliki peran untuk dimainkan di masa depan. Kita semua telah melakukan sesuatu atau melalui situasi yang tidak kita banggakan atau sukai, yang merupakan bagian dari kehidupan.

Berarti kebahagiaan hanya dapat diperoleh dengan meniti jalan yang digariskan oleh Allah. Yang dimaksud dengan meniti jalan Allah adalah menaati perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya dengan ikhlas dan benar.

*Pelihara Jiwa*

Sehingga sudah dapat dipastikan bahwa orang yang meninggalkan jalan yang digariskan oleh Allah akan, tidak tenang dan tidak bahagia. Karena ia akan mencari jalan dan sumber kebahagiaan pada jalan yang dibuat dan digariskan oleh selain Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman:’’Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS.Thaha [20]: 123.

Dalam kehidupan ini yang yang disebut jasad da nada hati. Maka kehidupan ini bukan hanya membutuhkan kebahagiaan dalam jasad saja tetapi juga kebahagiaan hati yang hakiki yang membawa gembiira dan kehidupan yang dirasakan menyenangkan.

Adapun petunjuk Islam memenuhi kebutuhan keduanya (ruh dan jasad) secara adil. Ruh dipenuhi kebutuhannya dengan cahaya wahyu dari langit dan menjaga kesehatan jasad dengan pememenuhan hajat syahwat dan syahwat melalui cara yang halal dan thayyib. Allah Ta’ala berfirman: ‘’Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (QS. al-Qashash [28]:77).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kepada ummatnya untuk menunaikan hak kepada pemiliknya masing-masing. “Sesungguhnya Rabbmu punya haq darimu, dirimu punya haq darimu, keluargamu juga punya hak, maka berilah setiap hak kepada pemiliknya” ( HR. Bukhari).

Tidak ada sesuatupun yang meneguhkan dan menegarkan hati, kecuali karena  telah merasakan lezat dan manisnya keimanan. Sehingga mereka merasakan ketenangan batin dan ketegaran saat menghadapi ancaman, termasuk ancaman pembunuhan sekalipun. Tiada kebahagiaan tanpa sakinah (ketenangan) dan thuma’ninah (ketentraman).Dan tiada ketenangan dan ketentraman tanpa iman. Allah Ta’la berfirman tentang orang-oranf beriman: ‘’Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). (Qs Al-Fath: 4).

Baca Juga  Tips Membeli Hewan Kurban, Harus Diperhatikan Ini

*Jangan Harta *

Keimanan melahirkan kebahagiaan dari dua sisi. Selain Iman dapat menghindarkan dan memalingkan seseorang dari ketergelinciran ke dalam dosa yang merupakan sebab ketidak tenangan dan kegersangan jiwa., Juga Keimanan dapat menjadi sumber utama kebahagiaan, yakni sakinah dan thuma’ninah. Sehingga di tengah lautan masyakil (probematika) dan krisis hidup tidak ada jalan keluar dan keselamatan selain Iman.

Oleh karena itu orang yang tanpa iman di hatinya dipastikan akan selalu dirundung rasa menderita, was-was, kahwatir, gelisah, dan galau. Adapun bagi orang beriman. Meras bahagia bersama Allah.

Hati yang dipenuhi iman memandang biasa saja setiap kesulitan yang menghimpit, kerana orang beriman selalu menyikapi segala persoalan dengan tawakkal kepada Allah. sedangkan hati yang kosong, tanpa iman tak ubahnya selembar daun rontok dari dahannya yang diombang-ambingkan oleh angin.

  Dalam kehidupan dunia Allah Ta’ala telah menjanjikan kebahagiaan bagi orang-orang beriman dan beramal shaleh:’’Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(Qs An-Nahl [16]:97).

Ayat tersebut menegaskan bahwa orang yang beriman dan beramal shaleh akan dihidupkan di dunia dengan kehidupan yang baik; bahagia, tenang, tentram, meski hartanya sedikit.

Sedangkan kebahagiaan di akahirat Allah berjanji akan tempatkan dalam surga dan kekal di dalam selama-lamanya; “Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya” ( Qs Hud [11]:108)

Singkatnya, dengan iman seorang hamba dapat meraih kebahagiaan hakiki di dunia dan di akhirat. Jadi, Islam telah datang dengan konsep dan jalan kebahagiaan yang abadi, yang mencakup kebahagiaan di dunia dan di akhirat.Allah mengingatkan ; ‘’Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat.(Qs An-Nisa [4]: 134).  Bahagia bagi seorang Muslim yang beriman  ada disisi Allah jauh lebih baik dan kekal abadi.(*)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close