KAJIAN

Orang Islam itu Bersih Suci dengan Wudu’Terpelihara

Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih

Oleh: Bangun Lubis ( Wartawan Risalah.id )

Islam itu bersih, suci dan memiliki keutamaan untuk selalu suci dan menyucikan diri. Orang mana pun di dunia, memiliki tradisi kebersihan. Orang jepang, Inggris dan bangsa Arab serta orang-orang Asia. Namun kebersihan orang-orang Islam jauh lebih dari mereka karena ada wudhu’ yang terpeliharan selama 24 jam.

Di antara bukti kesempurnaan ajaran Islam adalah perhatiannya terhadap masalah kebersihan. Lebih-lebih kebersihan batin. Tubuh kita saja hakikatnya adalah amanah, oleh karena itu wajib dijaga kebersihannya, agar dapat melakukan kewajiban agama dengan baik dan terhindar dari ancaman penyakit yang dapat mengurangi produktivitas kebaikan. Intinya, Islam itu bersih.

Bahkan, nyaris semua aktivitas ibadah tidak bisa dipisahkan dari aspek kebersihan sebagai bagian daripada tercapainya kesucian lahir dan bathin. Rasulullah SAW bersabda, “Kunci sahnya shalat adalah kesucian diri dari najis.” (HR. Abu Dawud).

Dan, di dalam Alquran, Allah menegaskan bahwa cinta-Nya diberikan kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang gemar membersihkan (mensucikan) diri. “Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih” (QS. At-Taubah [9]: 108). Dalam hadis lain ditegaskan, “Kebersihan itu sebagian dari iman” (HR. Tirmidzi).

Dengan demikian, idealnya setiap Muslim adalah pribadi yang menerapkan pola hidup bersih dan komitmen menjaga kebersihan secara utuh-menyeluruh lahir-batin. Imam Ghazali dalam kitab monumentalnya, Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa kebersihan tidak sebatas berkaitan keindahan lahiriah dengan membersihkan, menyiram dan membasuhkan air pada anggota-anggota tubuh. Tetapi juga menyatukan dengan pembersihan aspek batiniah dengan menjauhi kemaksiatan maupun bentuk dosa lainnya.

Hal ini disandarkan pada ayat-Nya di dalam Alquran, “Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 89).

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir mengutip pendapat Ibnu Sirrin, “Qalbun salim (hati yang bersih) yaitu ia mengetahui bahwa Allah adalah haq dan sesungguhnya hari Kiamat tidak ragu lagi pasti akan tiba, serta Allah akan membangkitkan para penghuni kubur.”

Oleh karena itu, Islam memandang kebersihan secara integratif-komprehensif, sehingga upaya pembersihan diri selalu meliputi aspek lahiriah dan bathiniah sekaligus yang berkaitan nyaris dengan seluruh jenis ibadah; mulai dari membaca Alquran, shalat, berdoa, dan lain sebagainya.

Menjaga Wudhu’ Hingga Kebersihan Tercipta, Begitulah Islam

Menariknya, terkait operasional pembersihan jiwa raga ini telah dijabarkan dengan lengkap oleh Hujjatul Islam, Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menjadi empat tingkatan aktivitas bersuci.

Pertama, menyucikan tubuh dari segala bentuk hadas, kotoran dan benda yang menjijikkan lainnya. Kedua, menyucikan setiap anggota tubuh dari segala perbuatan buruk dan mengandung dosa. Ketiga, menyucikan qalbu (hati) dari segala perbuatan dan akhlak (perilaku) tercela berikut sifat-sifat keji lainnya. Keempat adalah mensucikan jiwa dari yang selain Allah Ta’ala.

Dengan demikian betapa indahnya kehidupan seorang Muslim yang kebersihan dirinya tak sebatas raga, rumah, pakaian, kendaraan, tetapi juga hati, cita-cita dan visi hidupnya, sehingga kebersihan yang diupayakan adalah bagian penting terwujudnya kemaslahatan di tengah-tengah kehidupan umat manusia. Apalagi, kebersihan dapat memicu semangat dalam bekerja. Wallahu a’lam.

Begitu pentingnya kebersihan menurut Islam, sehingga orang yang membersihkan diri atau mengusahakan kebersihan akan dicintai oleh Allah, sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: Artinya :“Agama Islam itu (agama) yang bersih, maka hendaklah kamu menjaga kebersihan, karena sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang bersih”. (H.R. Baihaqy).

Baca Juga  Bersedih Dan Membenci Adalah Sumber Penyakit

Hadits tersebut menjelaskan bahwa agama Islam adalah agama yang suci. Untuk itu umat Islam harus menjaga kebersihan, baik kebersihan jasmani maupun rohani. Orang yang selalu bersih dan suci mengindikasikan bahwa ia telah melaksanakan sebagian dari perintah agama dan akan memperoleh fasilitas berupa surga di akhirat kelak.

Dalam hadits lain diriwayatkan, yang artinya: “Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqas dari bapaknya, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: Sesungguhnya Allah Subahanahu wa Ta’ala itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Mahamulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu” (HR. At-Tirmidzi).

Kebersihan, kesucian, dan keindahan merupakan sesuatu yang disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika kita melakukan sesuatu yang disukai oleh Allah, tentu mendapatkan nilai di hadapan-Nya, yakni berpahala. Sebagai hamba yang taat, tentu kita terdorong untuk melakukan hal-hal yang disukai oleh Allah.

Untuk mewujudkan kebersihan dan keindahan tersebut dapat dimulai dari diri kita sendiri, di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun di lingkungan sekolah. Bentuknya juga sangat bermacam-macam, mulai dari membersihkan diri setiap hari, membersihkan kelas, menata ruang kelas sehingga tampak indah dan nyaman. Bila kita dapat mewujudkan kebersihan dan keindahan, maka kehidupan kita pasti terasa lebih nyaman.

Kalau kebersihan merupakan perintah dari Allah dan Rasul-Nya, sudah seharusnyalah kita bersungguh-sungguh melaksanakan atau menerapkan kebersihan itu dalam kehidupan kita sebagai wujud dari rasa cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sebagaimana firman Allah:  Artinya: Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Ali Imran [3]: 31).

Mencintai Allah dan Rasul-Nya itu tidak ada jalan kecuali dengan cara percaya kepada-Nya serta menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Itulah yang dinamakan beriman dan bertaqwa.

Kebersihan dapat diterapkan dalam masalah ibadah (hubungan dengan Allah), kita bisa ambil contoh dalam mendirikan shalat. Sebelum kita melaksanakan ibadah shalat maka kita harus membersihkan diri dulu dengan berwudhu.

Secara jasmani, sebagaimana dijelaskan dalam Ilmu Fiqih, berwudhu adalah membersihkan kotoran-kotoran yang menempel pada anggota tubuh kita yang terbuka. Sedangkan secara rohani, sebagaimana dijelaskan oleh Ulama Tasawuf, wudhu adalah membersihkan dosa-dosa yang telah dilakukan oleh anggota tubuh kita seperti menggunjing, memaki, berbohong, makan makanan haram. Dengan demikian wudhu juga merupakan sarana bertaubat sebelum menghadap Allah.

Kebersihan bukan hanya monopoli dalam ibadah shalat saja tapi ibadah-ibadah yang lainpun seperti puasa, zakat dan haji selalu ada tema kebersihan di dalamnya, apakah itu kebersihan jasmani maupun kebersihan rohani.

Selain dalam masalah ibadah, kita juga harus menerapkan kebersihan dalam hal muamalah (hubungan antar sesama makhluk) seperti dalam hidup berkeluarga dan dalam hidup bermasyarakat.

Baca Juga  Kabarkan Berita Gembira Kepada Saudaramu

Peliharalah Kebersihan dalam Keluarga

Membersihkan diri sebelum tidur (berwudhu dan menggosok gigi), sesuai perintah Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam merupakan bagian dari kebersihan di dalam keluarga. Seperti disampaikan di dalam hadits yang maknanya: “Bersihkanlah badan, maka Allah akan membersihkan kamu. Maka sesungguhnya tidak ada seorang ‘abdi (muslim) yang tidur dalam keadaan suci/bersih kecuali tidur bersamanya, pada rambut-rambutnya, malaikat yang tidak ada henti-hentinya mendoa. ‘Ya Allah ampunilah abdimu ini karena sesungguhnya ia tidur dalam keadaan suci/bersih.” (H.R. Thabrani dan Ibnu Hibban).

Membiasakan diri menjaga kebersihan badan, juga diajurkan Nabi, seperti dalam sabdanya sesuai yang artinya: “Sepuluh macam dari fitrah yaitu memotong kumis, memelihara jenggot, bersiwak, menghirup air ke hidung, memotong kuku, membasuh lekuk telinga atau sela-sela kuku jari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, cebok dan berkumur”. (H.R. Muslim).

Demikian halnya, membersihkan halaman rumah, sesuai perintah baginda Nabi, yang artinya: “Maka bersihkanlah halaman rumahmu dan janganlah kamu menyerupai orang Yahudi”. (H.R. Tirmidzi)

Tidak buang air besar atau air kecil di sembarang tempat, merupakan cerminan menjaga kebersihan di dalam masyarakat, sebagaimana larangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi  Wasallam, yang artinya, “Jauhilah (perbuatan) dua orang yang menyebabkan laknat, yaitu orang yang buang air besar dan air kecil di jalanan yang biasa dilewati orang banyak atau di tempat-tempat mereka berteduh”. (H.R. Muslim)

Kebersihan Itu Akan Menghindarkan dirimu dari Penyakit

Membersihkan sampah dari jalan atau membuangnya pada tempat yang seharusnya, juga merupakan perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang artinya: “Buanglah duri/sampah dari jalan. Sesungguhnya hal demikian itu termasuk dari sedekahmu”. (H.R. Bukhari)

Kita sering mengalami bencana alam yang disebabkan oleh ulah kita sendiri seperti musibah banjir dan tanah longsor. Salah satu sebabnya adalah karena kita, orang-orang yang menghuni alam ini, tidak menjaga kebersihan lingkungan sekitar kita. Seperti membuang sampah sembarangan di selokan/saluran, di sungai bahkan di jalan, lalu menebang pohon-pohon tanpa mempedulikan keseimbangan alam.

Sebagai makhluk hidup yang diberi amanah Allah sebagai khalifah fil ardh, manusia seharusnya mampu menjaga keselarasan antara dirinya dan alam sekitarnya. Jika keselarasan ini tidak tercapai maka akan terjadi ketidakseimbangan alam yang bisa menyebabkan murka Allah dengan timbulnya berbagai macam musibah atau bencana.

Oleh karenanya, mari kita berkaca pada diri kita, apakah kita sudah menjaga kebersihan badan kita? Apakah kita sudah menjaga kebersihan rumah dan halaman kita? Apakah kita sudah membiasakan diri menjaga kebersihan alam/lingkungan di sekitar kita?

Kalau belum, mari kita ubah pola pikir kita terhadap masalah kebersihan (cintailah kebersihan sebagaimana Allah dan Rasul-Nya mencintai kebersihan dan orang-orang yang bersih), mari mulai belajar dan berlatih membiasakan diri menjaga kebersihan.

Ingatlah juga bahwa kebersihan adalah bagian dari amal (akhlak) baik yang akan dilihat oleh Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik sesuai firman-Nya: Artinya: “Dan berbuat baiklah (ihsan), karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Baqarah: 195).

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close