KAJIAN

Bersedih Dan Membenci Adalah Sumber Penyakit

Oleh: Bangun Lubis

Bicara soal hati, sama halnya membicarakan keseluruhan hidup. Hati adalah pusat ketaqwaan, cinta dan benci, ilmu, keragu-raguan dan bencana. Hatilah adalah jalan menuju Allah, sedangkan anggota tubuh lainnya hanyalah mengikuti dan berkhidmat kepadaNya.

 Para salafush shalih memperoleh kearifan dalam hidupnya tidak lain adalah karena kualitas hati mereka ketika beribadah kepada Allah, yang suci dan bersih dari noda-noda kemaksiatan, sehingga mereka pun memiliki keistimewaan di sisi Allah.

Sungguh Allah telah berfirman yang artinya: “(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” QS. As Syu’aro [26]: 88-89

Hati yang suci adalah hati yang selamat. Hati yang riang adalah obat. Obat dalam keselamatan hidup. Hati yang selamat yaitu hati yang terbebas dari kejelekan syahwat/hawa nafsu dan keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah, dan dari setiap syubhat (kerancuan/ketidakjelasan) yang menyeleweng dari kebenaran.

Maka barangsiapa menginginkan keselamatan bagi hatinya, hendaklah ia membersihkan hatinya dari pengaruh racun-racun di atas dan dari benalu-benalu kemungkaran. Kemudian menjaganya, jangan sampai ada racun lain yang menggerogotinya.

Peran Hati

Pernah suatu ketika Ustadz Reza Esfan, memberikan kajian di Masjid Al Furqon, menyebutkan bahwa sesuatu yang paling mulia pada jiwa manusia adalah hatinya. Hati mempunyai peran yang sangat penting terhadap seluruh anggota badan, ibarat raja terhadap para prajuritnya. Semua bekerja atas dasar perintahnya dan tunduk kepadanya. Seluruh tubuh adalah pelaksana semua titah (perintah)nya yang selalu siap untuk menerima arahannya. Jika hati seseorang baik maka akan baik pula seluruh tubuhnya, namun jika hati seseorang jelek maka akan menjadi jelek pulalah seluruh tubuhnya.

Sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya: “Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik maka seluruh tubuh pun baik. Dan apabila ia rusak maka seluruh tubuh pun rusak. Ketahuilah, itu adalah hati.” HR. Bukhari – Muslim).

Baca Juga  Lihatlah yang Baik dari Orang Lain

Dikutip Assajidin dari sebuah tulisan Al Imam al ‘Iz Abdussalam pada situs muslim.or.id, menjelaskan dalm hadits: “Apabila hati baik dengan setiap keadaan dan mengamalkan kebajikan maka akan baik pulalah seluruh tubuh dengan melaksanakan ketaatan (kepada Allah). Namun, apabila hati rusak dengan kejahilan-kejahilan dan jelek dalam beramal di setiap keadaan maka seluruh tubuh pun akan melakukan kefasikan dan kemaksiatan.” Qowaidul Ahkam: 1/176, dinukil dari kitab Ma’alim fis Suluk: 67

Alangkah bagus apa yang disampaikan oleh sahabat Abu Hurairah: “Hati adalah raja bagi anggota tubuhnya. Dan anggota tubuh adalah para prajuritnya. Apabila raja baik maka para prajuritnya pun baik. Dan apabila raja jelek maka para prajuritnya pun jelek.” Majmu’ Fatawa oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: 10/15

 

Kesucian Hati

Barangsiapa yang memperhatikan kebanyakan manusia saat ini, niscaya ia akan menjumpai banyak perkara yang sangat mengherankan. Yaitu kebanyakan orang menaruh perhatian yang berlebihan kepada penampilan lahiriah saja tetapi lalai dari kebutuhan batiniah. Banyak juga orang yang sibuk dengan memperindah amalan ibadah lahir tetapi ia juga lupa dari memperindah ibadah batin. Di samping itu, kita juga menyaksikan kerumunan orang sangat antusias (bersemangat) mengikuti berbagai macam majelis penyucian hati, seperti majelis dzikir, manajemen qolbu, dan lain-lain. Namun pada hakikatnya mereka terjebak dalam perangkap tasawuf, yang justru makin memperkeruh hati.

Oleh karena itulah, sebagai kaum muslimin umat Nabi Muhammad yang bersandar di atas al Quran dan as Sunnah, sudah seyogyanya kita memahami dan mengetahui cara meraih kesucian hati.

Misalnya,  memurnikan tauhid kepada Allah. Merealisasikan dan memurnikan tauhid (yaitu hanya beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukanNya) merupakan wasilah/sarana terpenting untuk meraih kesucian hati (lihat firman Allah dalam QS. Fushshilat [41]: 6-7). Ibnul Qoyyim mengatakan: “Tauhid adalah sesuatu yang paling lembut, halus, bersih, dan jernih. Maka kotoran sekecil apapun dapat membuatnya keruh dan mempengaruhinya. Ia bagaikan kain putih yang sangat sensitif terhadap kotoran sekecil apapun. Ia juga bagaikan cermin yang sangat bersih, benda yang paling kecil pun dapat mempengaruhinya.”  

Adapun syirik, ia adalah penghapus semua amal ibadah dan mengakibatkan kekekalan di dalam Neraka Jahannam. Selain itu, syirik juga menyebabkan kehinaan dan kenistaan, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Janganlah kamu adakan Tuhan yang lain di samping Allah agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).” QS. Al Isra’ [17]: 22

Baca Juga  Tinggalkan Mengumbar Kehebatan dan Mencari Ketenaran

Meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah

Dalam masalah ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Jiwa dan amal tidak bisa suci, hingga dihindarkan dari hal-hal yang bisa menentangnya. Dan seseorang tidaklah bersih melainkan dengan meninggalkan yang buruk karena ia akan mengotori dan mengeruhkan jiwa.

Ibnu Qutaibah berkata: “Firman Allah (QS. Asy Syams [91]: 10) Yaitu orang yang mengotori hatinya dengan kefasikan-kefasikan maksiat. Orang yang fajir (berbuat dosa) itu telah menghancurkan dan menenggelamkan jiwanya. Sedangkan orang yang berbuat baik, ia telah mengangkat dan meninggikan martabatnya.”  

Ustadz Drs. H Umar Said menyebutkan dalam sebuah kajian, jangan kalian mungkiri peran hati dalam kehidupan ini. Hati memiliki peran yang sangat agung di dalam tubuh seseorang. Terangilah hati kita dengan membaca al Quran dan mentadabburi makna yang terkandung di dalamnya, mendatangi majelis ilmu. Sesungguhnya, jika hati kosong dari mengingat Allah maka niscaya setan akan masuk sebagai racun yang mengantarkan diri kepada kemaksiatan.(*)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close