DUNIA ISLAM

Ikhlas Menerima Situasi Hidup, Jadi  Sumber Energi Besar

RISALAH – Hari itu sudah siang sekitar pukul 12.02 Wib. Sebentar lagi pun sudah masuk waktu Zhuhur, tetapi seorang teman yang bekerja sebagai seorang Trainer  dan Motivator di Palembang, Drs. Afif,  masih begitu antusias memberikan penjelasan soal  berpikir positif atau bersifat menerima dan ikhlas serta sedia atas apapun yang terjadi pada kita.

Akhirnya azan pun berkumandang, dan kami mengambil langkah untuk pergi ke masjid Al Furqon selanjutnya melaksanakan salat zhuhur .  Sebelumnya kami sudah 20 menit berdskusi bagaimana sikap menerima atau ikhlas atas persoalan ataupun adanya bunga-bungan hidup baik bentuk ujian penderitaan maupun kesenangan dan kemewahan.

Afif adalah seorang traner yang juga mengenal beberapa pengetahuan tentang hidup smarta terkait dengan ketengan, penerimaan, ikhlas, jujur dan mengupayakan hari yang senang dan smart. Ia juga seorang event organizer (EO) dalam berbagai event terkait motivasi dan usaha penyempurnaan pemahaman dalam menjalni kehidupan sehari – hari termasuk pengetahuan grafologi.

Menerima

Karenanya dia banyak mengetahui hakekat kehidupan manusia, hingga kami sering berdiskusi soal – soal hidup, agama , psikologi kepribadian dan juga adab dalam kehidupan bermasarakat. Biasanya diskusinya panjang, namun memiliki hikmah yang luar biasa hingga saya bisa menuliskannya dalam bentuk opini atau feture ringan untuk kita jadikan hikmah.

Afif, yang sekarang masih eksis dalam profesinya itu, menjeleaskan betapa hati memegang peran penting dalam  setiap tindakan ataupun prilaku sehari-hari dalam kehidupan manusia. Hati akan menebar  hikmah positif dan negative yang sesuai dengan bagaimana seseorang menjadikannya sebagai satu bentuk atau model dalam pemikiran positif kita.

Baca Juga  Beramallah Engkau Untuk Dua Dunia

Sebuah persoalan hadir di hadapan kita, bila itu menjadi negetaif dalam pandangan kita, maka hasilnya akan menjadi negative. Apa implikasinya kepada kehidupan (pemikiran) kondisi hati dan jiwa serta fisik? Maka tentu pengaruhnya pun akan negative. Badan tak menerima menjadi sakit, jiwa dan hati tak menerima, maka bisa sakit nurani yang berkepanjangan, dan  fisik menjadi sumber penyakit.

Namun, bila sebuah kondisi misalnya ujian menghinggapi jiwa dan diri kita, namun kita menerimanya dengan positif (ikhlas dan menerima) maka jiwa pun akan berkata menerima. Jiwa dan hati yang menerima biasanya akan mengirim energy yang sangat besar artinya bagi roda kehidupan hati dan fisik seseorang. Bisa menjadi kekuatan dahsyat untuk mengendalikan diri.

Positif Tinking

Afif menjelaskan betapa penerimaan atas hal-hal yang  positive bisa menjadi sebuah kekuatan dahsyat dalam melaksanakan pesan  hidup dalam kehidupan jiwa dan fisik kita. “Ia akan mengirim enersi posisif ke seluruh penjuru nadi atau syaraf energy untuk kemudian menjadi sumber penyembuhan bagi penyakit hati dan fisik,”ujarnya.

Dalam pendangan psikologi, konsep diri positif menunjukkan adanya penerimaan diri dimana
individu dengan konsep diri positif mengenal dirinya dengan baik sekali. Konsep diri yang positif  bersifat stabil dan bervariasi. Individu yang memiliki konsep diri positif dapat
memahami dan menerima sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri sehingga evaluasi terhadap dirinya sendiri menjadi positif dan dapat menerima dirinya apa adanya .(Calhoun dan Acocella, 1990).

Baca Juga  Takut Kepada Allah Saja, Aku Tak Takut Corona, Ini Jawabannya

Orang dengan konsep diri positif ditandai dengan lima hal (Sukatma, 2004): Yaitu yakin dengan kemampuannya dalam mengatasi masalah, merasa setara dengan orang lain, menerima pujian tanpa rasa malu, menyadari bahwa setiap orang memiliki berbagai perasaan,   keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui   oleh masyarakat.

Mampu memperbaiki dirinya sendiri karena ia sanggup   mengungkapkan aspek kepribadian yang tidak ia senangi  dan berusaha mengubahnya.

Dalam al quran Allah berfirman://“Barang siapa berbuat kebaikan sekecil apa pun perbuatan baik itu, dia akan menyaksikan hasilnya. Begitu pula yang melakukan perbuatan buruk, sekecil apa pun perbuatan buruk itu, dia akan menyaksikan hasilnya.”//(QS. Fuslihat: 33)

Energi baik tentu  akan menimbulkan keriangan dalam diri, bahagia, senang dan yang berketerusan. Inilah yang disebut Afif sebagai energy yang membangun diri kita hingga bisa membuat bahagia dan senang yang padagilirannya menyehatkan dan ikhlas atas segala sesuatu. Ini tentu menibulkan energy positif yang menguatkan segala syaraf tubuh dan membuat motivasi bagi seseorang untuk mengembangkan pemikirannya.(*)

Penulis: Bangun Lubis

 

 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close