DUNIA ISLAM

Delapan Penyebab Bisa Membuat Orang Celaka

Oleh aminuddin (Wartawan)

RISALAH – PROF. Syekh Yusuf Dajwi, sebagaimana dikutip Prof Dr Hamka (Tasawuf Modern), mengatakan ada delapan penyebab orang celaka.

Apa saja? Berikut penjelasannya …

Pertama, royal. Berbelanja lebih dari penghasilan, sehingga mati rasa kemanu siaan dan kesopanan. Semuanya perlu kepada uang, padahal uang saja tidak cukup. Akhirnya dicari segala macam sumber, meskipun dari sumber yang tidak halal.

Kedua, boros. Adiknya si royal. Sebabnya karena pikiran lemah. Tak pandai menga tur keperluan hidup sehari-hari. Tiap hari nya kerjanya mengeluh. Tidak memikir kan yang di belakang. Hanya memikirkan yang saat ini saja.

Allah SWT berfirman :

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS 17: 26-27).

Ketiga, pandai membagi waktu. Ketahuilah umur manusia yang sangat pendek itu akan sangat panjang jika pandai mengatur diri dan pekerjaan. Sesungguhnya yang memendekkan umur, walaupun hidup di dunia seribu tahun, karena tak pandai mengatur pekerjaan dan diri.

Ingatlah firman Allah SWT :

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecu ali orang-orang yang beriman dan meng erjakan amal saleh dan nasehat mena sehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al-‘Ashr 1-3).

Keempat, tidak mendapat didikan agama dalam rumah tangga di saat masih belia. Ayah bunda gelap, sebab itu rumah tang ga gelap. Yang ada cuma pengaruh ke bendaan belaka.

Rumah tangga seperti ini tentu tidak ak an menurunkan kepada anak-anaknya selain dari kegelapan pula.

“Muliakan lah anak-anakmu dan berilah pendidikan yang baik kepada mereka.” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Abbas ra).

Baca Juga  Ajarilah Anakmu Sebelum Engkau Menyesal Dikemudian Hari

Pada suatu hari ada seorang laki-laki mengadu kepada Umar, bahwa dia telah dipukul oleh anaknya.

Lalu Umar bertanya kepadanya :

“Apakah engkau sudah mengajari anakmu tentang Al-Quran?”

“Belum ya Amirul Mukminin,” jawab orang itu.

“Siapa nama anakmu?” Tanya orang itu lagi.

Laki-laki itu menjawab dan ternyata nama anaknya itu adalah nama yang jelek

“Siapakah ibunya dan dari keluarga yang bagaimana?” Tanya Umar.

Si laki-laki itu menjawab dengan menye butkan sifat-sifat isterinya yang buruk dan dari keluarga yang tak baik pula.

Mendengar ucapan si laki-laki itu, Umar lalu berkata kepadanya : “Pantaslah ka lau begitu. Ingatlah, tidak memberinya nama yang baik dan tidak memilihkan ibu yang baik pula, maka perbuatan anakmu itu merupakan balasan untukmu.”

Kelima, pendidikan sekolah tidak sejalan dengan masyarakat atau putus hubung annya dengan rumah tangga. Tidak ada kerjasama yang baik antara guru dan wali murid.

Keenam, kurangnya buku-buku bacaan yang teratur yang dapat menyelaraskan perkembangan rohani dan jasmani.

Ketujuh, kegelapan dalam rumah tangga, bahan pelajaran di sekolah yang tidak ada hubungannya dengan moral agama, selain bacaan yang kacau balau yang menimbulkan ‘ketidaknyamanan’ di masyarakat.

Kedelapan, tidak ada pembagian kerja yang teratur di masyarakat. Karena orang tak tahu diri. Semuanya berduyun-duyun mengejar pangkat, menjadi pegawai.

Ayah menyekolahkan anak ke sekolah karena mengharap bila keluar (tamat) dapat diploma, kelak menjadi orang berpangkat.

Orang berduyun-duyun lari ke kota. Tim bul benci kepada pertanian. Padahal ora ng kota itu pun tidak akan dapat hidup jika tidak ada pertanian.

Allah SWT berfirman :

“Dan Dia-lah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tum buhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tang kai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pula lah) kematangannya. Sesungguhnya pa da yang demikian itu ada tanda-tanda (ke kuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” QS Al-An’aam 99).

Baca Juga  'Tragedi George Floyd' Tidak Dikenal dalam Islam, Karena Mengedepankan Ukhuwah Islamiyah

“Maka hendaklah manusia mau melihat makanannya. Sesungguhnya Kami be nar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sevaik-baiknya, lalu Kami tum buhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur mayur, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu ” (QS ‘Abasa 24-32).

“Tidak ada seorang muslim pun yang menanam tanaman atau menaburkan benih, kemudian dimakan oleh burung atau manusia, melainkan dia itu baginya merupakan sedekah.” (HR Bukhari dan Muslim).

“Tidak ada seorang muslim pun yang menanam tanaman, kecuali apa yang dimakan merupakan sedekah baginya, dan apa yang dicuri juga merupakan sedekah baginya dan tidak juga dikura ngi oleh seseorang melainkan dia itu me rupakan sedekah baginya sampai hari kuamat.” (HR Muslim).

Salah seorang sahabat Nabi SAW ada yang mengatakan :

“Saya mendengar Rasulullah SAW mem bisikkan pada telingaku ini, yaitu : “Bara ngsiapa menanam sebuah pohon kemu dian dengan tekun memeliharanya dan mengurusinya hingga berbuah, maka sesungguhnya baginya pada tiap-tiap sesuatu yang dimakan dari buahnya merupakan sedekah di sisi Allah.” (HR Ahmad).

Wallahu a’lam bishshawab.

_____
Sumber literasi :
1. Tasawuf Modern karya Prof Dr Hamka(1980)
2. Wanita Bersiaplah ke Rumah Tangga karya Yusuf Abdullah Daghfak (1992)
3. Halal dan Haram dalam Islam Karya Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi (1982)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close