SYARIAH

  Allah Memberi Nikmat, Bila Kita Kerja Keras

Betapa Rasulullah ingin menekankan bahwa bertukang kayu adalah pekerjaan yang mulia sekalipun terlihat kasar

Oleh: Bangun Lubis

Kesibukan para Nabi dan Sahabat menyebarkankan agama ke seluruh pelosok jazirah arab bahkan dunia, ternyata tidak mengendurkan semangat mereka untuk mencari nafkah dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Mereka tidak memiliki rasa lelah dan rasa enggan untuk mencari nafkah sekalipun terlihat bersusah payah. Pada dasarnya, para Nabi dan orang-orang salih pada masanya lebih senang mencari nafkah dengan tangan mereka sendiri yang terkait dengan kerja kasar.

Maka terdengar kisah-kisah pada nabi seperti Nabi Nuh yang yang membuat bahtera (perahu besar), menunjukkan pekerjaan kasar agar keluarga dan para sahabat dapat mencari nafkah untuk memenuhi kehidupan mereka sehari-hari. Tapi Nuh dengan sahabatnya, tidak juga berhenti menyebarkan ajaran agama kepada masyarakat dunia.

Kerja Keras

Lihat saja  Allah Tha’ala berkata kepada Nabi Nuh: //“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami …”// (QS. Hud : 37). Para ulama memberikan tafsiran sebagai petunjuk dari Allah untuk mendapatkan isyarat  tentang pekerjaan bertukang

Artinya, pekerjaan tukang dan industri merupakan salah satu jenis pekerjaan yang bisa dilakukan oleh manusia untuk dijadikan sebagai mata pencahariannya. Allah telah memberikan kemampuan berindustri membuat baju-baju besi kepada Nabi Daud:”//Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperangan; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)”. (QS. Al Anbiya’ : 80).

Ustads Habib Ahmad di Palemang dalam sebuah perbincangan dengan AsSAJIDIN baru-baru ini, menyebut bahwa dalam sebuah hadist disebutkan, //“Sesungguhnya Nabi Daud tidak makan kecuali dari hasil jerih payahnya sendiri”//. [HR Bukhari)

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji orang yang makan dari hasil jerih payahnya dan kerja keras,”//“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari memakan hasil jerih payahnya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Daud makan dari hasil jerih payahnya sendiri”. [HR Bukhari)

Baca Juga  Rahasia Satu Amalan yang Dapat Membawamu Ke Syurga

Nabi Pun Bekerja

Masih tentang pekerjaan pertukangan ini, Rasulullah SAW menceritakan tentang Nabi Zakariya://“Zakariya Alaihissallam dulu adalah seorang tukang kayu”. (HR Muslim). Betapa Rasulullah ingin menekankan bahwa bertukang kayu adalah pekerjaan yang mulia sekalipun terlihat kasar.

Lihatlah Ummu Salamah menceritakan: //“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami bershadaqah”. Maka Zainab –isteri Abdullah (bin Mas’ud)- berkata: “Apakah boleh aku bershadaqah suamiku yang fakir dan kemenakan-kemenakanku yang yatim, dan aku menghidupi mereka dengan ini dan itu?” Rasulullah n menjwab,”Ya, boleh.”  Rasululullah,// “Dan ia (Zainab) adalah wanita pembuat kerajinan tangan”. (HR Ibnu Majah)

Aisyah Radhiyallahu ‘anha menuturkan tentang Zainab binti Jahsy (salah seorang isteri Rasulullah SAW ) – ketika wafatnya ://“Dan Zainab adalah wanita pengrajin tangan, ia menyamak kulit dan melobangi (serta menjahit)nya untuk dibuat khuf atau lainnya. Lalu ia bershadaqah di jalan Allah.” [HR Al Hakim )

Habib Ahmad menjelaskan, demikian pula yang berlaku pada sebagian sahabatnya, seperti dalam riwayat berikut ini. Abdullah bin Rafi’ menuturkan: Aku pernah bertanya kepada Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ,”Mengapa engkau dijuluki Abu Hurairah?” Ia balik bertanya,“Apakah engkau ingin merendahkan aku?” Aku jawab,“Tidak. Demi Allah, aku amat menghormatimu.” Ia pun berkata,“Aku dahulu menggembalakan kambing-kambing milik keluargaku. (HR At Tirmidzi)

Rasulullah sendiri, ketika masa mudanya sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul, Beliau pernah berdagang ke negeri Syam dengan ditemani budak lelaki Khadijah yang bernama Maisarah, membawa barang-barang perniagaan milik Khadijah  sebelum menikahinya.

Baca Juga  Tidak Sehat Mencampur Susu dengan Ikan dan Daging

Wanita Pekerja

Lihat Sirah Ibnu Hisyam (2/5-6). Pekerjaan inilah yang banyak digeluti oleh para sahabat, baik ketika masa jahiliyah maupun setelah Islam, terutama dari kalangan Muhajirin. Diceritakan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu : “Dan sesungghnya saudara-saudara kami kaum Muhajirin sibuk dengan urusan niaga di pasar. Sedangkan saudara-saudara kami kaum Anshar sibuk mengusahakan (memutar) harta mereka …” [HR Bukhari).

Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha menceritakan: “Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu pernah keluar berniaga ke Bushra (Syam) pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pengkhususan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah mencegah Abu Bakar, yaitu untuk tidak memberikan bagiannya dari barang-barang perniagaan.

Hal itu karena kekaguman dan kesukaan mereka dengan usaha niaga. Dan tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencegah Abu Bakar dari memperjualbelikan barang-barang niaganya karena kecintaan, kedekatan dan pengkhususannya terhadap Abu Bakar -dan sungguh bersahabat dengannya amat mengagumkan-, karena anjuran dan kekaguman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap usaha niaga.” [HR Ath Thabarani)

“Ya, Allah. Berkahilah untuk umatku di pagi harinya.” Dan apabila Beliau   mengutus pasukan, Beliau mengutusnya pada awal siang (pagi hari). Dan adalah Shakhr seorang pedagang; ia mengirimkan perniagaannya dari awal siang (pagi hari), maka ia pun menjadi kaya raya dan banyak harta”. [HR Abu Dawud).

Begitulah para Nabi dan sahabat yang demikian taat beragama. Tetapi juga mereka dengan rela melakukan pekerjaan untuk kehidupan mereka, namun juga menyiarkan agama dengan berjibaku kepada umat yang saat itu masih jahiliah.(*)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close