SYARIAH

Adab Bersetubuh Menurut Ajaran Islam

Oleh Aminuddin
Wartawan

Wahai saudaraku …

ADA seorang perempuan Anshar bertanya kepada Nabi tentang menyetu buhi perempuan di farjinya namun lewat belakang.

Nabi SAW pun membacakan ayat :

“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (QS Al-Baqarah 223).

Umar juga pernah bertanya kepada Nabi SAW : “Ya Rasulullah! Celaka aku.”

“Apa yang mencelakakan kamu?” Tanya Nabi kemudian.

“Tadi malam saya memutar kakiku (satu sindiran tentang bersetubuh dari belakang),” jawab Umar.

Nabi SAW tidak menjawab, sampai akhir nya turun ayat (Al-Baqarah 223).

“Boleh kamu bersetubuh dari depan dan boleh juga dari belakang, tetapi hindari di waktu haidh dan dubur.” (HR Ahmad dan Tarmidzi).

Namun dalam Islam tidak boleh bersetubuh melalui dubur.

Turunnya ayat ini mengandung sebab dan hikmat yang besar sebagaimana diutarakan oleh seorang ulama India, Waliyullah ad-Dahlawy :

“Orang Yahudi mempersempit gaya persetubuhan tanpa dasar hukum syara’, sedang orang-orang Anshar dan berikut nya mengikuti cara-cara mereka itu.”

Mereka berpendapat apabila seorang laki-laki menyetubuhi isterinya pada farjinya dari belakang, maka anaknya akan lahir juling.

“Maka datangilah tanah tempat berco cok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.”

Ayat ini menjelaskan isteri itu laksana sa wah. Si suami berhak bercocok tanam di seluruh sawah yang dimiliki dan dimana yang dia sukai.

Baca Juga  Tinggalkan Mengumbar Kehebatan dan Mencari Ketenaran

Tak ada suatu larangan apapun dan tidak ada seorangpun yang dapat melarangnya.

Ia berhak melakukan segala sesuatu as alkan masih dalam lingkungan tanah sawah yang dia miliku itu.

Dari jalur depan mau pun dari belakang, selama itu diarahkan untuk satu tujuan yaitu kemaluan atau farji.

Hal ini dipandang tidak apa-apa, karena ada hubungannya dengan masalah kepentingan kebudayaan dan kecenderungan.

Sementara setiap orang tahu kemaslahatan pribadinya.

Wahai saudaraku …

Bersetubuh harus diniatkan untuk meme nuhi kewajiban dari Allah SWT agar men dapat pahala yang besar dan juga Sun nah rasul-Nya, bukan sekadar untuk me menuhi keinginan nafsu birahi saja.

Di antara adab bersetubuh menurut aja ran Islam itu ada 11 macam :

1. Ketika akan bersetubuh, badan harus bersih dari kotoran dan sebaiknya ber wudhu terlebih dahulu, memakai wangi-wangian, bercumbu sambil mengelus sasaran penggerak syahwat kedua belah pihak.

2. Perut jangan terlalu kenyang, sebab dengan terlalu kenyang dapat mengurangi kenikmatan bersetubuh.

3. Dengan hati gembira, hilanglah rasa susah.

4. Waktu terbaik untuk bersetubuh pada malam hari dengan sinar lampu yang remang, meskipun pada siang hari diperbolehkan.

5. Sebelum bersetubuh, bacalah doa berikut :

“Bismillahi allahumma jannibnaasy syaithaana wa jannibisy syaithaana maa rozaqtanaa.”

Baca Juga  Kebahagiaan Hadir Selalu Diawali dengan Ujian

(Dengan nama Allah. Wahai Allah! Jauh kanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari perkara (anak) yang Engkau akan berikan kepada kami). (HR Syaikhain).

6. Posisi bersetubuh sambil berbaring. Suami di atas dan isteri di bawah. Mes kipun bersetubuh diperbolehkan selain berbaring, tetapi dapat mengganggu kesehatan, seperti :

– Bersetubuh sambil berdiri, menimbul kan sakit kepala dan hati berdebar

– Bersetubuh sambil berbaring miring ke kanan atau ke kiri dapat menimbulkan sakit jantung dan sering buang air (besar).

– Bersetubuh isteri di atas dapat menim bulkan penyakit sukar buang air atau kencing darah.

Demikian menurut pendapat sebagian ulama.

7. Usahakan keluar mani bersama-sama.

8. Ketika akan keluar mani, hendaknya ingat kepada Allah dan makna doa tadi, apabila air mani itu dijadikan anak, semoga anaknya menjadi anak yang saleh.

9. Setelah bersetubuh, disunnatkan membaca “Alhamdu Lillah” dengan niat wirid, jangan diniatkan membaca ayat suci Al-Quran.

10. Setelah bersetubuh sebaiknya kela min dicuci bersih.

11. Tidak boleh melihat kelamin pihak lainnya, kecuali kepunyaan sendiri.

Wallahu a’lam bishshawab

________

Sumber literasi

1. Halal dan Haram dalam Islam karya Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi.

2. Tuntunan Berumah Tangga Bagi Pengantin Baru karya KH Moch Anwar.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close