Asal Usul dan Keistimewaan
Al-Zubair bin al-‘Awwām radhiyallāhu ‘anhu adalah putra Shafiyyah binti Abdul Muthallib, bibi Nabi Muhammad ﷺ. Ia termasuk keluarga dekat Rasulullah dari jalur ibu. Sejak usia muda, ia dikenal berjiwa pemberani dan masuk Islam pada usia 16 tahun. Ia juga tercatat sebagai sahabat pertama yang menghunus pedang di jalan Allah demi membela Rasulullah ﷺ1.
Rasulullah ﷺ menyanjungnya sebagai ḥawārī (penolong setia), sebagaimana sabdanya:
«إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوَارِيًّا، وَحَوَارِيَّ الزُّبَيْرُ» (متفق عليه)
“Sesungguhnya setiap Nabi memiliki seorang ḥawārī, dan ḥawārī-ku adalah Al-Zubair.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim)2.
Sahabat yang Dijamin Surga
Al-Zubair termasuk dalam kelompok al-‘asyrah al-mubasysyirīn bil-jannah (sepuluh sahabat yang dijamin surga). Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ … وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ …»
“Abu Bakar di surga, Umar di surga, … dan Zubair di surga.” (HR. al-Tirmidzi)3.
Keteguhan Iman
Meskipun berasal dari keluarga terhormat, Al-Zubair mengalami penyiksaan berat dari kaumnya, terutama dari pamannya, Naufal bin Khuwailid. Namun, ia tetap teguh dalam keislamannya. Ia berhijrah ke Habasyah, lalu ke Madinah, dan terus berjuang bersama Rasulullah ﷺ4.
Peran dalam Hijrah ke Habasyah
Rasulullah ﷺ pernah memerintahkan sahabat berhijrah ke Habasyah seraya bersabda:
«فَإِنَّ بِهَا مَلِكًا لَا يُظْلَمُ عِنْدَهُ أَحَدٌ»
“Sesungguhnya di sana ada seorang raja yang tidak menzalimi siapa pun.”5
Al-Zubair termasuk rombongan yang hijrah dan bahkan dipercaya sahabat untuk memantau kondisi politik di Habasyah ketika terjadi pergolakan.
Jihad di Perang Badar
Pada Perang Badar, Al-Zubair tampil gagah dengan sorban kuning. Diriwayatkan bahwa malaikat Jibril turun dalam rupa dirinya. Dalam pertempuran, ia menewaskan beberapa musuh termasuk pamannya, Naufal bin Khuwailid6.
Jihad di Perang Uhud
Dalam Perang Uhud, Rasulullah ﷺ menyaksikan seorang musyrik menyerang dengan kejam, lalu memerintahkan: “Hadapilah dia, wahai Al-Zubair!” Al-Zubair pun berhasil mengalahkannya.
Tentang para sahabat yang tetap taat meski terluka, Allah ﷻ berfirman:
اَلَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِلّٰهِ وَالرَّسُوْلِ مِنْۢ بَعْدِ مَآ اَصَابَهُمُ الْقَرْحُ… (QS. Āli ‘Imrān: 172)
Aisyah radhiyallāhu ‘anhā menyebut bahwa ayat ini mencakup Abu Bakar dan pamannya, Al-Zubair7.
Perang Khandaq
Dalam Perang Khandaq, Rasulullah ﷺ bertanya tiga kali siapa yang siap mencari kabar Quraisy, dan Al-Zubair menjawab: “Saya.” Maka Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوَارِيًّا، وَحَوَارِيَّ الزُّبَيْرُ»
“Sesungguhnya setiap Nabi memiliki seorang ḥawārī, dan ḥawārī-ku adalah Al-Zubair”8.
Perang Hunain dan Yarmuk
Di Perang Hunain, kaum musyrik menyebutnya sebagai penunggang kuda dengan ikat kepala merah yang menakutkan. Ali bin Abi Thalib menggambarkannya: “Ia marah seperti macan dan menerjang seperti singa.”9
Di Perang Yarmuk, ia menembus barisan musuh seorang diri berulang kali hingga tubuhnya dipenuhi luka. Dari sinilah ia mendapat dua luka besar di pundak yang terus membekas10.
Penaklukan Mesir
Ketika Khalifah Umar mengirim bala bantuan ke Mesir, ia berkata: “Aku mengirimkan 4.000 pasukan, dan pada seribu di antara mereka terdapat seorang yang setara dengan seribu pasukan.” Yang dimaksud adalah Al-Zubair.
Ia memimpin serangan terhadap benteng Babilonia, memanjat dindingnya dengan tangga, lalu diikuti pasukan Muslim hingga kota itu jatuh11.
Kesyahidan dalam Perang Jamal
Al-Zubair gugur dalam Perang Jamal setelah memutuskan mundur karena teringat sabda Nabi ﷺ. Namun dalam perjalanan pulang ia dibunuh oleh Ibnu Jurmuz.
Ali bin Abi Thalib menangis, mencium pedangnya, lalu berkata: “Demi Allah, pedang ini telah banyak digunakan untuk membela Rasulullah dari berbagai marabahaya.”12
Kedudukan Syahid
Rasulullah ﷺ pernah bersabda di Bukit Hira’:
«اسْكُنْ حِرَاءُ؛ فَمَا عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ، أَوْ صِدِّيقٌ، أَوْ شَهِيدٌ» (رواه مسلم)
“Tenanglah, Hira, karena yang ada di atasmu hanyalah seorang Nabi, seorang Shiddiq, dan para syuhada.” (HR. Muslim)13.
Saat itu bersama Nabi ﷺ ada Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Sa’ad, dan Al-Zubair. Hadis ini menjadi pertanda bahwa beliau wafat dalam keadaan syahid.
Penutup
Kehidupan Al-Zubair bin al-‘Awwām adalah teladan iman, jihad, dan kesetiaan. Ia tidak hanya menjadi ḥawārī Rasulullah ﷺ, tetapi juga sahabat yang dijamin surga, pahlawan di medan jihad, dan akhirnya gugur sebagai syahid.
(Diringkas dari: Ashabu Al-Rasul, Mahmud Al-Mishri)
Catatan Kaki:
Ibn Hajar al-‘Asqalani, al-Iṣābah fī Tamyīz al-Ṣaḥābah, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, juz II.
Al-Bukhārī, al-Ṣaḥīḥ, Kitāb al-Manāqib, no. 2846; Muslim, al-Ṣaḥīḥ, Kitāb Faḍā’il al-Ṣaḥābah, no. 2415.
Al-Tirmidzi, al-Sunan, Kitāb al-Manāqib, no. 3747.
Ahmad bin Hanbal, Faḍā’il al-Ṣaḥābah, no. 1220.
Ibn Hisham, al-Sīrah al-Nabawiyyah, 1/321.
Al-Haitsami, Majma‘ al-Zawā’id, VI/84; Ibn Sa‘d, al-Ṭabaqāt al-Kubrā, jilid III.
Al-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān, tafsir QS Āli ‘Imrān: 172.
Al-Bukhārī, al-Ṣaḥīḥ, no. 2846; Muslim, al-Ṣaḥīḥ, no. 2415.
Ibn Sa‘d, al-Ṭabaqāt al-Kubrā, III/72.
Al-Dhahabi, Siyar A‘lām al-Nubalā’, I/39.
Al-Baladhuri, Futūḥ al-Buldān, hlm. 216.
Ibn Kathīr, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, VII/241.
Muslim, al-Ṣaḥīḥ, Kitāb Faḍā’il al-Ṣaḥābah, no. 2411.