Oleh: M. Indra Kurniawan
Islam adalah agama yang sempurna, namun kehadirannya tidak serta-merta menghapus seluruh tradisi masyarakat. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai pembawa risalah, seringkali berhadapan dengan beragam adat dan kebiasaan masyarakat Arab saat itu. Beliau tidak serta-merta menolak atau menerima semua tradisi, melainkan menyikapinya dengan bijak berdasarkan prinsip syariat.
Fleksibilitas dalam Berinteraksi dengan Tradisi
Suatu ketika, para sahabat bertanya kepada Nabi tentang kebiasaan mereka meruqyah (menggunakan jampi-jampi) di masa Jahiliyah. Dengan tenang, beliau menjawab, “Tunjukkan padaku ruqyah kalian. Tidak mengapa selama tidak mengandung kesyirikan.” (HR. Muslim).[1] Sikap ini menunjukkan bahwa Nabi tidak serta-merta melarang tradisi lama, selama tidak bertentangan dengan tauhid.
Contoh lain adalah ketika beliau hendak mengirim surat kepada pemuka kaum asing. Dikabarkan bahwa mereka hanya menerima surat yang dibubuhi stempel. Tanpa ragu, Nabi membuat stempel bertuliskan “Muhammad Rasulullah” dari perak (HR. Bukhari).[2] Ini adalah bentuk adaptasi beliau terhadap tradisi administratif yang berlaku, selama tidak melanggar syariat.
Menerima yang Baik, Menolak yang Bertentangan
Di Madinah, Nabi menemukan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura sebagai bentuk syukur atas kemenangan Nabi Musa. Beliau pun bersabda, “Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian,” lalu memerintahkan umat Islam untuk berpuasa di hari itu (HR. Bukhari dan Muslim).[3] Di sini, Nabi tidak hanya menerima tradisi tersebut, tetapi juga mengislamkannya dengan memberi makna baru.
Sebaliknya, ketika penduduk Madinah masih merayakan dua hari raya warisan Jahiliyah, Nabi dengan tegas menggantinya dengan Idul Fitri dan Idul Adha. “Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari yang lebih baik,” sabda beliau (HR. Abu Daud).[4] Tradisi yang sarat dengan nilai syirik atau kemaksiatan jelas ditolak.
Kearifan dalam Hal Hiburan
Dalam urusan hiburan, Nabi juga menunjukkan keluwesan. Suatu saat, ‘Aisyah mengantar mempelai wanita ke tempat mempelai pria dari kalangan Anshar. Nabi lalu bertanya, “Apakah ada hiburan untuk mereka? Orang-orang Anshar menyukai hiburan.” (HR. Bukhari).[5] Namun, ketika nyanyian tersebut mengandung syair yang keliru (seperti mengklaim Nabi tahu hal gaib), beliau segera mengoreksinya (HR. Ibnu Majah).[6]
Pelajaran dari Sikap Nabi
Dari kisah-kisah di atas, kita belajar bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bersikap kaku dalam menyikapi tradisi. Beliau memilah dengan teliti:
- Menerima tradisi yang bersifat duniawi dan tidak bertentangan dengan syariat (seperti stempel surat).
- Mengislamkan tradisi yang memiliki nilai baik (seperti puasa Asyura).
- Menolak tradisi yang mengandung syirik atau maksiat (seperti hari raya Jahiliyah).
Ini menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama yang memusuhi budaya, tetapi membersihkan dan menyempurnakannya. Sebagai umat Muslim, kita dituntut untuk meneladani sikap bijaksana Nabi dalam menyikapi tradisi, selalu mengedepankan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai filter utama.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Catatan Kaki:
[1] Berikut teks hadis tentang ruqyah:
عَنْ عَوْفٍ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قـال : كُنَّا نَرْقِي فِى الْجَـاهِلِيَّةِ، فَقُلْنـَا يـَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ تَرَى بِذلِكَ ؟ فَقَالَ : أَعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَـأْسَ بِالرُّقْيَةِ مَالَمْ تَكُنْ شِرْكـاً
Dari sahabat ‘Auf bin Malik ra dia berkata : “Kami dahulu meruqyah di masa Jahiliyyah, maka kami bertanya : ‘Ya Rasulullah, bagaimana menurut pendapatmu ?’ Beliau menjawab : ‘Tunjukkan padaku ruqyah (mantera) kalian itu. Tidak mengapa mantera itu selama tidak mengandung kesyirikan’” (HR. Muslim).
[2] Berikut teks hadis tentang stempel surat:
أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَادَ أَنْ يَكْتُبَ إِلَى رَهْطٍ أَوْ أُنَاسٍ مِنْ الْأَعَاجِمِ فَقِيلَ لَهُ إِنَّهُمْ لَا يَقْبَلُونَ كِتَابًا إِلَّا عَلَيْهِ خَاتَمٌ فَاتَّخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ نَقْشُهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ فَكَأَنِّي بِوَبِيصِ أَوْ بِبَصِيصِ الْخَاتَمِ فِي إِصْبَعِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ فِي كَفِّهِ
Bahwasanya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak menulis surat kepada pemuka kaum atau sekelompok orang asing, lantas diberitahukan kepada beliau; ‘Sesungguhnya mereka tidak akan menerima surat Anda kecuali jika surat tersebut dibubuhi stempel, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membuat stempel (cincin) dari perak yang diukir dengan tulisan ‘Muhammad Rasulullah’, seolah-olah saya melihat kilauan atau kilatan cincin berada di jari tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau di telapak tangan beliau.’” (HR. Bukhari No. 5423).
[3] Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu- dia berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَهُ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
“Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- mendatangi Kota Madinah, lalu didapatinya orang-orang Yahudi berpuasa di Hari ‘Asyura. Maka beliau pun bertanya kepada mereka, “Hari apakah ini, hingga kalian berpuasa?” mereka menjawab, “Hari ini adalah hari yang agung, hari ketika Allah memenangkan Musa dan Kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun serta kaumnya. Karena itu, Musa puasa setiap hari itu untuk menyatakan syukur, maka kami pun melakukannya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kami lebih berhak dan lebih pantas untuk memuliakan Musa daripada kalian.” kemudian beliau pun berpuasa dan memerintahkan kaumnya puasa di hari itu.” (HR. Al-Bukhari no. 3145, 3649, 4368 dan Muslim no. 1130)
[4] Berikut teks hadis tentang hari raya:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ
Dari Anas dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, sedangkan penduduknya memiliki dua hari khusus untuk permainan, maka beliau bersabda: “Apakah maksud dari dua hari ini?” mereka menjawab; “Kami biasa mengadakan permainan pada dua hari tersebut semasa masih Jahiliyah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari kedua hari tersebut, yaitu hari (raya) kurban (iedul Aldha) dan hari raya Iedul fithri.” (HR. Abu Daud)
[5] Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَا عَائِشَةُ، مَا كَانَ مَعَكُمْ لَهْوٌ؟ فَإِنَّ اْلأَنْصَارَ يُعْجِبُهُمُ اللَّهْوُ
“Wahai ‘Aisyah, apakah ada hiburan yang menyertai kalian? Sebab, orang-orang Anshar suka kepada hiburan.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari [no. 5162], al-Hakim [II/183-184], al-Baihaqi [VII/288] dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah [no. 2267]).
[6] Ar Rubai’ binti Mu’awwidz radhiyallahu ‘anha berkata,
دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَبِيحَةَ عُرْسِي وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ يَتَغَنَّيَتَانِ وَتَنْدُبَانِ آبَائِي الَّذِينَ قُتِلُوا يَوْمَ بَدْرٍ وَتَقُولَانِ فِيمَا تَقُولَانِ وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ فَقَالَ أَمَّا هَذَا فَلَا تَقُولُوهُ مَا يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلَّا اللَّهُ
“Di hari pernikahanku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke rumahku di saat hari masih pagi, sementara di sisiku ada dua orang budak wanita yang sedang memukul rebana dan bernyanyi memuji bapak-bapak kami yang gugur pada perang badar, hingga mereka mengucapkan apa yang mereka ucapkan (dalam nyanyiannya), ‘Padahal di sisi kami ada Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.’ Maka beliau pun bersabda: ‘Adapun (syair nyanyian) yang ini, jangan kalian ucapkan, sebab tidak ada yang tahu apa yang terjadi di masa datang selain Allah.’” (HR. Ibnu Majah Nomor 1887)