RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
Kategori
  • Akhbar Dauliyah (1,063)
  • Akhlak (135)
  • Al-Qur'an (80)
  • Aqidah (169)
  • Dakwah (35)
  • Fikrah (1)
  • Fikrul Islami (43)
  • Fiqih (193)
  • Fiqih Dakwah (76)
  • Gerakan Pembaharu (23)
  • Hadits (107)
  • Ibadah (13)
  • Kabar Umat (444)
  • Kaifa Ihtadaitu (6)
  • Keakhwatan (7)
  • Kisah Nabi (12)
  • Kisah Sahabat (4)
  • Masyarakat Muslim (14)
  • Materi Khutbah dan Ceramah (78)
  • Musthalah Hadits (3)
  • Rumah Tangga Muslim (12)
  • Sejarah Islam (199)
  • Senyum (2)
  • Taujihat (25)
  • Tazkiyah (45)
  • Tokoh Islam (20)
  • Ulumul Qur'an (7)
  • Uncategorized (5)
  • Wasathiyah (138)
0
2K
RISALAH
Subscribe
RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
  • Akhlak

Metode Kenabian dalam Meraih Hati

  • 23-04-2026
  • No comments
Rr2

Cara Pertama: Melayani Manusia dan Memenuhi Kebutuhan Mereka

Jiwa manusia diciptakan dengan kecenderungan untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya dan condong kepada orang yang berusaha memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, dikatakan:

“Berbuat baiklah kepada manusia, niscaya engkau akan menawan hati mereka, karena kebaikan seringkali dapat memperlunak hati manusia.”

Orang yang paling berhak untuk diraih hatinya adalah keluarga dan kerabat dekatmu. Karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang terbaik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Ketika Aisyah ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah di rumah, ia menjawab, “Beliau membantu pekerjaan keluarganya. Ketika waktu shalat tiba, beliau berwudhu dan pergi untuk shalat.”

Di antara kita ada yang tidak peduli untuk meraih hati orang-orang terdekatnya, seperti orang tua, istri, dan kerabatnya. Akibatnya, hati mereka dipenuhi kebencian atau kedengkian terhadapnya karena kelalaiannya dalam memenuhi hak-hak mereka dan kesibukannya dari menunaikan kewajibannya terhadap mereka.

Di antara orang-orang yang perlu kita raih hatinya dan memiliki keutamaan atas yang lain adalah tetangga, karena sabda Nabi ﷺ:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kemuliaan apa yang lebih besar daripada menyeru mereka kepada petunjuk dan ketakwaan? Bahkan beliau bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ – أَوْ قَالَ: لِجَارِهِ – مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya –atau beliau bersabda: untuk tetangganya– apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, kita harus bersikap ramah kepada tetangga, memulai dengan salam, menjenguknya ketika sakit, melayatnya ketika tertimpa musibah, mengucapkan selamat ketika berbahagia, memaafkan kesalahannya, tidak mengintip auratnya, menutupi apa yang terlanjur terbuka dari auratnya, peduli untuk memberi hadiah kepadanya, mengunjunginya, berbuat baik kepadanya, dan tidak menyakitinya. Rasulullah ﷺ bahkan meniadakan iman yang sempurna dari orang yang menyakiti tetangganya, beliau bersabda:

وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman.” Ada yang bertanya, “Siapa itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.” (HR. Al-Bukhari)

Di antara orang-orang yang harus kita raih ke dalam barisan dakwah –saudaraku yang terkasih– adalah orang-orang yang kita temui di tempat kerja yang membutuhkan bantuanmu. Jika engkau seorang dokter, maka pasienlah yang membutuhkanmu. Jika engkau seorang guru, maka murid-muridmu. Jika engkau seorang pegawai, maka para klien yang berurusan denganmu. Engkau harus meraih hati mereka dengan memberikan upaya maksimal yang mampu engkau lakukan untuk melayani mereka, menyelesaikan urusan mereka, dan tidak menunda-nundanya. Betapa banyak di antara kita yang mendengar seseorang mendoakan keburukan terhadap seorang pegawai yang tidak mau bersusah payah menunaikan kewajibannya dalam pekerjaannya dan menunda-nunda urusan orang lain. Dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ شَيْئًا مِنْ أُمُورِ الْمُسْلِمِينَ، فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمْ، احْتَجَبَ اللَّهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang Allah beri wewenang untuk mengurus suatu urusan kaum muslimin, lalu ia menghalangi diri dari melayani kebutuhan, kesulitan, dan kemiskinan mereka, maka Allah akan menghalangi diri dari memenuhi kebutuhan, kesulitan, dan kemiskinannya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

Singkatnya, pekerjaan adalah lahan subur untuk meraih hati manusia dan menyampaikan dakwah Allah kepada mereka. Tiga kelompok orang ini disebutkan secara khusus –yaitu keluarga atau kerabat, tetangga, dan orang-orang yang kita temui dalam pekerjaan kita– karena dua alasan: seringnya pertemuan dengan mereka, dan kedua, besarnya kelalaian atau pengabaian terhadap hak-hak mereka, yang berdampak negatif pada penerimaan mereka terhadap apa yang kita dakwahkan kepada mereka. Jadi, seorang muslim, terlebih lagi seorang dai, hendaknya meliputi semua manusia dengan akhlak dan pengorbanannya. Karena itulah Khadijah menggambarkan Rasulullah dengan sabdanya: “Sungguh, engkau menyambung tali silaturahmi, menanggung beban, memberi sesuatu kepada yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong dalam menegakkan kebenaran.”

Cara Kedua: Santun dan Menahan Amarah

Terkadang sebagian manusia berbuat salah terhadapmu. Ia berjanji lalu mengingkari, terlambat, atau melukaimu dengan lisannya. Untuk meraih hatinya, engkau harus bersikap santun dan menahan amarah, karena engkau memiliki tujuan dan sasaran yang ingin engkau capai. Oleh karena itu, engkau harus bersikap baik. Allah memuji golongan dai ini dalam firman-Nya:

وَٱلْكَـٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

“…dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)

Dari Anas, ia berkata: “Aku sedang berjalan bersama Rasulullah, dan beliau mengenakan selendang dari Najran dengan pinggiran yang kasar. Tiba-tiba seorang Arab Badui menarik selendang itu dengan keras hingga meninggalkan bekas di pundak Rasulullah karena kerasnya tarikan. Kemudian ia berkata, ‘Wahai Muhammad, perintahkanlah agar aku diberi dari harta Allah yang ada padamu!’ Maka Rasulullah menoleh kepadanya sambil tersenyum, lalu memerintahkan agar diberi pemberian kepadanya.”

Sikap penghulu manusia ini tidak memerlukan komentar dari kita selain mengatakan apa yang telah difirmankan Allah dalam menggambarkan Nabi-Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍۢ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4)

Cara Ketiga: Mudah dalam Bertransaksi

Rasulullah ﷺ merangkum prinsip-prinsip interaksi yang dengannya seorang muslim dapat memasuki hati manusia dan meraih cinta serta kasih sayang mereka, beliau bersabda:

رَحِمَ اللَّهُ عَبْدًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ، وَإِذَا اشْتَرَى، وَإِذَا اقْتَضَى

“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang bersikap toleran ketika menjual, ketika membeli, dan ketika menagih.” (HR. Al-Bukhari)

Dalam riwayat lain: “dan ketika membayar utang.”

  • Toleransi dalam menjual: Hendaknya penjual tidak kikir dengan barang dagangannya, tidak terlalu tinggi dalam mengambil untung, dan tidak kasar dalam memperlakukan orang lain.

  • Toleransi dalam membeli: Hendaknya pembeli bersikap mudah terhadap penjual, tidak terlalu banyak menawar, terutama jika pembeli kaya dan penjual miskin lagi papa.

  • Toleransi dalam menagih utang: Yaitu ketika seseorang menagih hak atau utangnya, ia menagihnya dengan lembut dan lunak, bahkan mungkin memaafkan orang yang kesulitan atau memberinya penangguhan, seperti dalam hadis:

كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَكَانَ إِذَا رَأَى مُعْسِرًا قَالَ لِفَتَاهُ: تَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا، فَتَلَقَّاهُ اللَّهُ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ

“Ada seorang laki-laki yang biasa memberi utang kepada orang lain. Jika ia melihat orang yang kesulitan, ia berkata kepada para pelayannya, ‘Maafkanlah dia, semoga Allah memaafkan kita.’ Maka Allah pun memaafkannya.” (HR. Al-Bukhari)

  • Toleransi dalam membayar utang: Yaitu menunaikan semua utang atau hak dengan cara terbaik pada waktu yang dijanjikan. Perhatikan bagaimana Rasulullah berhasil memasuki hati seorang laki-laki yang kisahnya diriwayatkan:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ يَتَقَاضَاهُ، فَأَغْلَظَ لَهُ، فَهَمَّ بِهِ أَصْحَابُهُ، فَقَالَ: دَعُوهُ، فَإِنَّ لِصَاحِبِ الْحَقِّ مَقَالًا، ثُمَّ قَالَ: أَعْطُوهُ سِنًّا مِثْلَ سِنِّهِ. قَالُوا: لَا نَجِدُ إِلَّا أَفْضَلَ مِنْ سِنِّهِ. قَالَ: أَعْطُوهُ، فَإِنَّ خَيْرَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً. فَقَالَ الرَّجُلُ: أَوْفَيْتَنِي، أَوْفَى اللَّهُ لَكَ

“Seorang laki-laki datang kepada Nabi menagih utangnya dengan ucapan yang kasar. Para sahabat bermaksud menghajarnya, tetapi Nabi bersabda: ‘Biarkan dia, karena orang yang memiliki hak berhak berbicara.’ Kemudian beliau bersabda: ‘Berikanlah kepadanya yang seusia dengan untanya.’ Mereka berkata, ‘Kami tidak menemukan kecuali yang lebih baik darinya.’ Beliau bersabda: ‘Berikanlah kepadanya, karena sebaik-baik kalian adalah yang terbaik dalam membayar.’ Maka laki-laki itu berkata, ‘Engkau telah membayar penuh kepadaku, semoga Allah membayar penuh kepadamu.'” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Termasuk toleransi dalam interaksi adalah tidak mempersulit dalam menghisab orang yang lalai dalam memenuhi hakmu. Dari Anas, ia berkata: “Aku melayani Rasulullah selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengatakan ‘ah’ kepadaku, dan tidak pernah berkata tentang sesuatu yang kulakukan, ‘Mengapa engkau lakukan itu?’ atau tentang sesuatu yang tidak kulakukan, ‘Tidakkah sebaiknya engkau lakukan itu?'”

Cara Keempat: Berakhlak Mudah – Bukan Berakhlak Munafik

Al-mudārāh bukanlah al-mudāhanah. Al-mudārāh adalah berkata lembut, bersikap ramah, dan bergaul dengan baik terhadap orang-orang yang memiliki sedikit kecenderungan pada kemaksiatan dan kefasikan, demi kemaslahatan syariat.

Dari Aisyah: “Seorang laki-laki meminta izin kepada Nabi untuk masuk. Ketika melihatnya, beliau berkata, ‘Sungguh, seburuk-buruk saudara sekutu adalah dia.’ Namun ketika ia duduk, wajah Nabi bersikap ramah dan terbuka kepadanya. Ketika laki-laki itu pergi, Aisyah berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau berkata begini dan begini tentang laki-laki itu, tetapi kemudian engkau bersikap ramah dan terbuka kepadanya?’ Rasulullah bersabda:

يَا عَائِشَةُ، مَتَى رَأَيْتِنِي فَحَّاشًا؟ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ

‘Wahai Aisyah, sejak kapan engkau melihatku bersikap buruk? Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan manusia karena takut akan keburukannya.'” (HR. Al-Bukhari)

Ibnu Hajar, mengutip Al-Qurthubi, berkata: “Dalam hadis ini terdapat kebolehan menggunjing terhadap orang yang terang-terangan berbuat fasik atau cabul, dan semacamnya seperti kezaliman dalam hukum dan menyeru kepada bid’ah. Juga dibolehkan bersikap lunak terhadap mereka untuk menghindari kejahatan mereka, selama tidak mengarah pada sikap kompromi dalam agama Allah.” Kemudian Al-Qurthubi –mengikuti Iyadh– berkata: “Perbedaan antara al-mudārāh dan al-mudāhanah adalah bahwa al-mudārāh adalah memberikan bagian dunia untuk memperbaiki urusan dunia atau agama, atau keduanya; ini mubah dan terkadang sunah. Sedangkan al-mudāhanah adalah meninggalkan agama demi memperbaiki urusan dunia.”

Dengan demikian, kita perlu meraih hati orang-orang fasik juga dengan perkataan lembut dan pergaulan yang baik, untuk membimbing mereka kepada kebenaran –atau setidaknya– untuk menghindari kejahatan mereka. Beberapa orang fasik saat ini menjadi alat di tangan kaum sekuler; mereka dijadikan keliling karena orang-orang baik menjauhi mereka atau tidak bersikap lunak terhadap mereka seperti yang dilakukan Rasulullah.

Cara Kelima: Membahagiakan Orang Lain

Ini adalah salah satu cara terpenting untuk memperkuat ikatan, menyatukan dan mempersatukan hati. Membahagiakan seorang muslim termasuk sebaik-baik amal yang mendekatkan diri kepada Allah. Ada banyak jalan dan pintu untuk membahagiakan hati kaum muslimin. Di antaranya disebutkan dalam hadis:

أَحَبُّ الْعِبَادِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِعِبَادِهِ، وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ…

“Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan ke dalam hati seorang mukmin…” Beliau melanjutkan: … تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا، وَلَأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ لِي الْمُسْلِمِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ شَهْرًا، وَمَنْ كَظَمَ غَيْظًا سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَلَوْ شَاءَ أَنْ يُمْضِيَهُ أَمْضَاهُ مَلَأَ اللَّهُ قَلْبَهُ رَجَاءً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ مَشَى مَعَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ فِي حَاجَةٍ حَتَّى يُثَبِّتَهَا لَهُ أَثْبَتَ اللَّهُ قَدَمَيْهِ يَوْمَ تَزُولُ الْأَقْدَامُ

“…dengan menghilangkan kesusahannya, atau membayarkan utangnya, atau menghilangkan laparnya. Sungguh, aku berjalan bersama saudaraku muslim untuk suatu keperluan lebih aku cintai daripada aku beri’tikaf di masjid selama sebulan. Barangsiapa menahan amarahnya, Allah akan menutupi auratnya. Barangsiapa menahan amarahnya –padahal jika Dia menghendaki, Dia bisa melampiaskannya– Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Barangsiapa berjalan bersama saudaranya muslim untuk suatu keperluan hingga ia menyelesaikannya untuknya, Allah akan meneguhkan kakinya pada hari ketika kaki-kaki tergelincir.” (HR. Ath-Thabrani)

Akhlak yang buruk dapat merusak amal. Setidaknya, senyuman dan keramahan itu penting. Senyumanmu di hadapan saudaramu sesama muslim memiliki pengaruh dalam meraih hatinya. Karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janganlah engkau meremehkan kebaikan apa pun, meskipun hanya engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” (HR. Muslim)

Wajah thalq adalah wajah yang menampakkan keramahan dan kegembiraan. Abdullah bin Al-Harits berkata: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah.” Jarir berkata: “Rasulullah tidak pernah menghalangiku untuk menemuinya sejak aku masuk Islam, dan tidak pernah melihatku kecuali beliau tersenyum.”

Rasulullah juga bersikap ramah kepada anak kecil dan orang dewasa, bercanda dengan mereka, dan selalu berkata benar. Berikut dua contoh candaan beliau dalam meraih hati para sahabatnya:

  • Dengan orang lanjut usia: Dari Anas, bahwa seorang laki-laki Badui bernama Zahir, dan Rasulullah mencintainya, meskipun ia berwajah buruk. Suatu hari, Rasulullah mendatanginya saat ia sedang berjualan, lalu memeluknya dari belakang hingga ia tidak melihatnya. Laki-laki itu berkata, “Lepaskan aku! Siapa ini?” Ia menoleh dan mengenali Nabi, lalu ia menempelkan punggungnya ke dada Nabi. Nabi bersabda: مَنْ يَشْتَرِي هَذَا الْعَبْدَ؟ “Siapa yang mau membeli budak ini?” Zahir berkata, “Wahai Rasulullah, kalau begitu, demi Allah, engkau akan mendapati saya sebagai barang yang tidak laku.” Rasulullah bersabda: لَكِنَّهُ عِنْدَ اللَّهِ لَيْسَ بِكَاسِدٍ “Tetapi di sisi Allah, engkau bukan barang yang tidak laku,” atau beliau bersabda: لَكِنَّهُ عِنْدَ اللَّهِ غَالٍ “di sisi Allah, engkau sangat berharga.” (HR. Ahmad)

  • Bermain dengan anak-anak dan membahagiakan mereka: Dari Anas, bahwa Rasulullah adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Aku memiliki seorang saudara laki-laki yang masih kecil bernama Abu ‘Umair, yang memiliki seekor burung pipit kecil yang sakit yang ia beri nama al-Nughair. Rasulullah biasa membujuk anak kecil itu dan bersabda: يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟ “Wahai Abu ‘Umair, apa yang dilakukan burung kecilmu?” (HR. Al-Bukhari)

Demikianlah, wahai saudara dai, Rasulullah selalu menempuh segala jalan menuju hati manusia, selama tidak haram. Dengan begitu, ia menjadi orang yang paling dekat dengan hati mereka.

Cara Keenam: Menghormati dan Menghargai Kaum Muslimin

Menghormati, menghargai, bersikap sopan, mengagungkan, dan memuliakan kaum muslimin. Rasulullah biasa memuliakan orang yang datang kepadanya, menghormatinya, bahkan terkadang membentangkan pakaiannya untuknya, mendahulukannya dengan bantal yang ada di bawahnya, dan mendesaknya untuk duduk di atasnya jika ia menolak. Beliau menempatkan manusia pada kedudukan mereka dan mengetahui keutamaan orang-orang yang memiliki keutamaan. Pada hari penaklukan Makkah, beliau bersabda: مَنْ دَخَلَ بَيْتَ أَبِي سُفْيَانَ فَهُوَ آمِنٌ “Barangsiapa memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman.” Beliau juga bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang tua kami, tidak menyayangi yang muda di antara kami, dan tidak mengetahui hak orang yang berilmu di antara kami.” (HR. Ahmad)

Hal yang perlu kami ingatkan di sini –wahai saudara dai– adalah: menghormati orang yang berbeda pendapat denganmu dalam hal-hal yang masih membuka ruang ijtihad dan perbedaan, tidak merendahkannya, menuduhnya bodoh, kurang fikih, atau berburuk sangka kepadanya selama lahiriahnya masih menunjukkan keselamatan. Juga menghormati pembicara dan tidak memotong pembicaraannya. Ibnu Katsir berkata: “Adalah kebiasaan Rasulullah, jika seseorang berbicara kepadanya, beliau menghadapkan wajah dan tubuhnya kepadanya, dan mendengarkannya dengan sepenuh hati. Beliau tidak pernah memotong pembicaraan hingga orang itu sendiri yang menghentikannya.”

Cara Ketujuh: Berbicara dengan Baik

Rasulullah menganjurkan perkataan yang baik dan berbicara dengan baik. Seperti sabdanya:

الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Perkataan yang baik adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ini karena pengaruhnya dalam meluluhkan hati dan menyenangkan jiwa. Tidak cukup hanya menyampaikan kebenaran kepada manusia, tetapi yang lebih penting adalah wadah yang akan membawa kebenaran itu. Jika Rasulullah bersabda: زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ، فَإِنَّ الصَّوْتَ الْحَسَنَ يَزِيدُ الْقُرْآنَ حُسْنًا “Hiasilah Al-Qur’an dengan suara kalian, karena suara yang baik menambah keindahan Al-Qur’an,” maka lebih utama lagi kita katakan kepada para dai: “Hiasilah dakwah dengan perkataan kalian yang baik, karena perkataan yang baik menambah keindahan dan daya tarik dakwah.” Terutama saat menasihati. Nasihat adalah obat yang pahit, maka hendaknya disertai dengan sedikit manisnya perkataan. Maka jadilah orang yang menegakkan kebenaran dan menyayangi makhluk. Dengarkanlah perkataan Yahya bin Mu’adz: “Sebaik-baik sesuatu adalah perkataan lembut yang keluar dari lautan dalam di lisan orang yang lembut.”

Betapa banyak kata-kata buruk dan kasar yang diucapkan oleh pemiliknya tanpa mempedulikan konsekuensi dan akibatnya, yang memecah belah hati, merobek-robek barisan, dan menanamkan kebencian, dendam, dan permusuhan di dalam jiwa. Karena itu, terdapat dalam hadis bahwa beliau bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا، يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang tidak ia pikirkan implikasinya, yang menyebabkan ia terjerumus ke dalam neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (HR. Al-Bukhari)

Saudaraku yang mulia, saya akhiri cara ini dengan satu sikap pendidikan ini, di mana terjadi dialog antara Rasulullah dan Aisyah. Aisyah berkata: “Serombongan orang Yahudi masuk menemui Rasulullah. Mereka berkata, ‘As-sāmu ‘alaikum.’ Aisyah berkata, ‘Aku memahami ucapan itu, lalu aku menjawab, ‘Wa ‘alaikum as-sāmu wal-la’nah.’ Aisyah berkata, ‘Rasulullah bersabda, ‘Pelankanlah suaramu, wahai Aisyah!’ Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka katakan?’ Rasulullah bersabda, ‘Aku telah menjawab, ‘Wa ‘alaikum.'” Jadi, cara bicara Rasulullah dengan orang-orang yang berbuat keji, fasik, dan kafir membutuhkan kajian yang mendalam dari kita, karena di dalamnya terdapat kebijaksanaan yang mendalam.

Cara Kedelapan: Rendah Hati dan Lemah Lembut

Rasulullah meraih hati orang-orang di sekitarnya dengan kerendahan hati dan kelembutannya. Anas menggambarkan salah satu bentuk kerendahan hati beliau: “Seorang wanita yang sedikit terganggu pikirannya datang kepada beliau dan berkata, ‘Aku punya keperluan denganmu.’ Beliau menjawab, ‘Duduklah, wahai ibu Fulan, di jalan Madinah mana pun yang engkau kehendaki, aku akan duduk bersamamu hingga keperluanmu selesai.’ Anas berkata, ‘Maka ia pun duduk, lalu Nabi duduk bersamanya hingga ia menyelesaikan keperluannya.'” Dalam riwayat lain: “Seorang budak perempuan dari penduduk Madinah biasa memegang tangan Rasulullah dan pergi bersamanya ke mana pun ia mau hingga ia menyelesaikan keperluannya.”

Seorang laki-laki masuk menemui beliau, lalu ia gemetar karena rasa hormatnya. Rasulullah bersabda kepadanya: هَوِّنْ عَلَيْكَ، فَإِنِّي لَسْتُ بِمَلِكٍ، إِنَّمَا أَنَا ابْنُ امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ كَانَتْ تَأْكُلُ الْقَدِيدَ “Tenanglah, aku bukanlah seorang raja. Aku hanyalah anak seorang wanita dari Quraisy yang biasa makan daging kering.” (HR. Ibnu Majah)

Dengan gaya dan kerendahan hati serta kelembutan inilah Rasulullah memasuki relung hati orang-orang di sekitarnya.

Adapun menampilkan sikap sok guru dan memandang rendah kaum muslimin adalah sifat setan yang hanya melahirkan kebencian dan perpecahan. Allah berfirman tentang Iblis:

قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌۭ مِّنْهُ ۖ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍۢ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍۢ

“Ia menjawab, ‘Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Engkau ciptakan dia dari tanah.'” (QS. Al-A’raf: 12)

Dan Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ رَفَقَ وَرَفُهَ وَسَهُلَ، حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

“Barangsiapa bersikap lembut, lunak, dan mudah, Allah akan mengharamkannya dari api neraka.” (HR. Al-Hakim)

Cara Kesembilan: Kedermawanan dan Kemurahan Hati

Wahai saudaraku yang terkasih, inilah kedermawanan dan kemurahan hati yang dapat menawan hati dan menyenangkan jiwa. Anas berkata: “Seorang laki-laki meminta sesuatu kepada Rasulullah, lalu beliau memberinya kambing sebanyak antara dua bukit. Laki-laki itu kembali ke kaumnya dan berkata, ‘Masuk Islamlah kalian, karena Muhammad memberi dengan pemberian orang yang tidak takut miskin.'” Perhatikanlah, semoga Allah membimbingmu, bagaimana kedermawanan kenabian ini mempengaruhi hati laki-laki itu, sehingga setelah sebelumnya memerangi Islam, ia menjadi pendakwah bagi agamanya.

Jabir juga berkata: “Rasulullah tidak pernah dimintai sesuatu pun lalu ia berkata, ‘Tidak.'” Termasuk kedermawanan adalah hadiah. Rasulullah ﷺ bersabda:

تَهَادُوا تَحَابُّوا

“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al-Bukhari)

Hadiah adalah salah satu pintu untuk meraih hati dan mengembangkan rasa saling kasih sayang di antara mereka.

Cara Kesepuluh: Kelembutan

Dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ

“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Bahkan kelembutan lebih utama daripada banyak akhlak lainnya. Karena itu, apa yang Allah berikan kepada pelakunya berupa pujian yang baik di dunia dan pahala yang besar di akhirat lebih banyak daripada yang diberikan kepada selainnya. Sebagaimana sabda beliau:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, mencintai kelembutan, dan memberi melalui kelembutan apa yang tidak Dia berikan melalui kekerasan dan tidak melalui selainnya.” (HR. Muslim)

Di antara situasi yang sangat ditekankan untuk bersikap lembut adalah ketika mengoreksi kesalahan orang yang tidak tahu. Perhatikanlah gambaran ekspresif dalam mengoreksi kesalahan orang dengan penuh kelembutan dan kasih sayang ini.

Dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, ia berkata: “Ketika aku sedang shalat bersama Rasulullah, tiba-tiba seorang laki-laki di antara kaum itu bersin, lalu aku mengucapkan, ‘Yarhamukallah.’ Orang-orang itu menatapku dengan pandangan tajam. Aku berkata, ‘Celaka aku, kenapa kalian memandangiku?’ Mereka mulai memukul paha mereka dengan tangan. Aku melihat mereka berusaha membuatku diam, tetapi aku tetap diam. Setelah Rasulullah selesai shalat, –maka sungguh, ayah-ibu sebagai tebusannya, aku belum pernah melihat guru sebelum atau sesudahnya yang lebih baik pengajarannya darinya– demi Allah, beliau tidak membentakku, tidak memukulku, dan tidak memakiku. Beliau hanya bersabda:

إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ، إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ

‘Sesungguhnya shalat ini tidak pantas dimasuki dengan sesuatu dari ucapan manusia. Shalat itu hanyalah tasbih, takbir, dan membaca Al-Qur’an.’ –atau sebagaimana sabda Rasulullah– Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, aku baru saja keluar dari masa Jahiliyah. Sungguh, Allah telah membawa Islam. Di antara kami ada orang-orang yang mendatangi dukun.’ Beliau bersabda: لَا تَأْتِهِمْ ‘Janganlah engkau mendatangi mereka.’ Aku bertanya, ‘Di antara kami ada orang-orang yang menganggap sial.’ Beliau bersabda: ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُونَهُ فِي صُدُورِهِمْ، فَلَا يَصُدَّنَّهُمْ ‘Itu adalah sesuatu yang mereka temukan dalam diri mereka, janganlah hal itu menghalangi mereka.'” (HR. Muslim)

Contoh-contoh tentang hal ini banyak, seperti hadis tentang seorang Arab Badui yang kencing di masjid, dan perlakuan Rasulullah terhadap seorang pemuda yang meminta izin untuk berzina, serta sikap baik beliau terhadapnya.

Singkatnya, orang yang melihat cara-cara ini akan mendapati bahwa semuanya hampir tidak keluar dari lingkaran akhlak. Mengamalkannya berarti mengamalkan akhlak mulia yang tentangnya Rasulullah bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)

Sebelum, selama, dan sesudah semua ini, kita harus ingat bahwa inti dari semuanya adalah menghadap kepada Allah, menghadap kepada Tuhan hati, dan meraih kecintaan-Nya. Berdasarkan hadis dari Nabi, beliau bersabda:

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ

“Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia menyeru Jibril, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Jibril pun mencintainya, lalu Jibril menyeru penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Penduduk langit pun mencintainya, kemudian dia diberi penerimaan di muka bumi.” (HR. Al-Bukhari)

Yang dimaksud dengan penerimaan adalah: diterimanya hamba itu di hati penduduk bumi dengan cinta dan kecenderungan karena rida kepadanya. Dalam riwayat lain ditambahkan: “Dan jika Allah membenci seorang hamba…”

Hal-Hal yang Menimbulkan Keterasingan

Tidak diragukan bahwa akhlak yang buruk secara umum adalah hal yang paling kuat dalam membuat orang lari dari seorang dai, jika ia memiliki salah satu darinya. Namun, kami akan mengkhususkan beberapa hal yang menimbulkan keterasingan karena pengaruhnya yang besar dalam membuat orang lari dan berpaling darinya. Di antara hal-hal yang menimbulkan penolakan tersebut adalah:

Pertama: Tidak Memperhatikan Keadaan dan Kondisi Manusia

Rasulullah telah menekankan hal ini dengan sabdanya kepada para dai:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ مِنْهُمُ الضَّعِيفَ وَالسَّقِيمَ وَالْكَبِيرَ، وَإِذَا صَلَّى لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ

“Jika salah seorang di antara kalian shalat mengimami manusia, maka hendaklah ia meringankan shalatnya, karena di antara mereka ada yang lemah, sakit, dan lanjut usia. Jika ia shalat sendirian, maka panjangkanlah semaunya.” (HR. Al-Bukhari)

Ini adalah wasiat dari dai umat ini kepada semua dai tentang pentingnya memperhatikan keadaan manusia dalam salah satu rukun terpenting agama ini. Maka, memperhatikan manusia dalam hal-hal selain itu, dalam ibadah dan muamalah, lebih utama lagi.

Perhatikan peristiwa ini yang menunjukkan bahwa mengabaikan wasiat ini dapat menyebabkan orang lari dari kebaikan dan bahkan mungkin menyebabkan mereka meninggalkan amal saleh atau menundanya. Mu’adz biasa shalat bersama Nabi, lalu datang mengimami kaumnya. Suatu malam, ia shalat Isya bersama Nabi, lalu mendatangi kaumnya dan mengimami mereka dengan membaca surat Al-Baqarah. Seorang laki-laki mengundurkan diri dari shalat berjamaah, lalu salam, kemudian shalat sendiri dan pergi. Mereka berkata, “Wahai Fulan, apakah engkau munafik?” Ia menjawab, “Tidak, demi Allah. Aku akan menemui Rasulullah dan menceritakan hal ini.” Ia pun menemui Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, kami adalah pekerja yang mengairi kebun. Kami bekerja di siang hari. Mu’adz shalat Isya bersamamu, lalu datang dan membaca surat Al-Baqarah.” Maka Rasulullah menghadap Mu’adz dan bersabda: أَفَتَّانٌ أَنْتَ؟ “Apakah engkau seorang yang suka mempersulit?” Dalam riwayat lain: أَفَتَّانٌ أَنْتَ يَا مُعَاذُ؟ “Apakah engkau seorang yang suka mempersulit, wahai Mu’adz?” – beliau mengucapkannya tiga kali – اقْرَأْ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَنَحْوِهَا “Bacalah surat Sabbihisma Rabbika al-A’lā, Asy-Syamsi wa Ḍuḥāhā, dan yang semisalnya.” (HR. Al-Bukhari)

Kedua: Terikat dengan Kenikmatan dan Kemewahan Dunia

Sumber penolakan ini adalah sabda Rasulullah ﷺ:

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ

“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah)

Rasulullah mengajarkan kita bagaimana meraih manusia dan mendapatkan cinta mereka, yaitu dengan zuhud terhadap apa yang ada di tangan mereka. Karena jika kita tinggalkan apa yang mereka cintai, mereka akan mencintai kita. Hati kebanyakan manusia diciptakan dengan kecintaan kepada dunia. Barangsiapa menyaingi seseorang dalam hal yang dicintainya, ia akan dibenci. Barangsiapa tidak menentangnya dalam hal itu, ia akan dicintainya dan dipilihnya. Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Seseorang akan selalu mulia di mata manusia selama ia tidak tamak terhadap apa yang ada di tangan mereka. Jika ia tamak, mereka akan merendahkannya, membenci pembicaraannya, dan memusuhinya.”

Seorang Arab Badui berkata kepada penduduk Bashrah, “Siapa pemimpin kalian?” Mereka menjawab, “Al-Hasan.” Ia bertanya, “Dengan apa ia memimpin kalian?” Mereka menjawab, “Manusia membutuhkan ilmunya, dan ia tidak membutuhkan dunia mereka.” Ia berkata, “Alangkah indahnya ini!”

Ketiga: Kekasaran dan Kekerasan

Sumber penolakan ini adalah firman Allah kepada pemimpin para dai:

فَبِمَا رَحْمَةٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Tidak ada sesuatu yang lebih membuat orang lari dari kebenaran dan kebaikan selain ajakan kepada keduanya dengan kekerasan dan kekasaran.

Pengaruh beberapa dai yang ikhlas terkadang surut di tengah manusia, dan mereka tidak berhasil menyampaikan kebenaran yang mereka miliki kepada kaum muslimin dan lainnya, karena mereka salah dalam memilih metode untuk membuka hati dan pikiran manusia; mereka lebih sering berdebat dengan cara yang paling kasar dan menghadapi dengan kekerasan dan ketajaman.

Keempat: Perbuatan yang Bertentangan dengan Perkataan

Betapa besar kebencian manusia terhadap seorang dai yang perbuatannya bertentangan dengan perkataannya. Betapa besar penolakan mereka, bahkan betapa besar kemurkaan Allah terhadap sifat hina ini. Allah berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ * كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu perbuat? Sangatlah besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat.” (QS. Ash-Shaff: 2-3)

Allah juga mengingkari kaum yang memerintahkan manusia berbuat baik tetapi melupakan diri mereka sendiri:

أَتَأْمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ ٱلْكِتَـٰبَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44)

Karena itu, Syu’aib berkata kepada kaumnya seperti yang diinformasikan Allah melalui lisannya:

وَمَآ أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَآ أَنْهَىٰكُمْ عَنْهُ ۚ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا ٱلْإِصْلَـٰحَ مَا ٱسْتَطَعْتُ

“Dan aku tidak bermaksud untuk menyelisihi melakukan apa yang aku larang dari kalian. Aku tidak bermaksud selain melakukan perbaikan semampuku.” (QS. Hud: 88)

Namun, kita harus menjawab sebuah keraguan yang sering dilontarkan sebagian orang, yang akan kami sajikan dalam bentuk pertanyaan: Apakah seorang dai boleh meninggalkan amar makruf nahi mungkar jika ia belum mampu melakukannya?

Ibnu Katsir berkata: “Memerintahkan kebaikan dan melakukannya, masing-masing adalah wajib. Salah satunya tidak gugur karena ditinggalkannya yang lain, menurut pendapat yang paling shahih di antara para ulama salaf dan khalaf. Sebagian ulama berpendapat bahwa pelaku maksiat tidak boleh melarang orang lain dari maksiat. Ini adalah pendapat yang lemah. Yang benar adalah bahwa seorang alim harus memerintahkan kebaikan meskipun ia tidak melakukannya, dan harus melarang kemungkaran meskipun ia melakukannya.” Sa’id bin Jubair berkata: “Jika seseorang tidak boleh memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran sampai tidak ada lagi cela pada dirinya, maka tidak akan ada seorang pun yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran.” Saya (Ibnu Katsir) berkata: “Namun, dalam kondisi seperti ini, ia tercela karena meninggalkan ketaatan dan melakukan kemaksiatan, karena ia mengetahui dan melanggarnya dengan sadar. Karena orang yang mengetahui tidak sama dengan orang yang tidak mengetahui.”

Kelima: Mempersulit dan Berbelit-belit

Ada sekelompok orang yang mencari segala sesuatu yang sulit dan rumit untuk disajikan kepada manusia sebagai Islam, tanpa memperhatikan kemudahan Islam dan penghapusan kesulitan dari manusia. Ini bertentangan dengan kebiasaan Rasulullah. Aisyah berkata tentangnya:

مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بَيْنَ أَمْرَيْنِ قَطُّ إِلَّا اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا، مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ

“Rasulullah tidak pernah diberi pilihan antara dua perkara, melainkan ia memilih yang paling mudah, selama bukan dosa. Jika itu dosa, maka ia adalah orang yang paling jauh darinya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Karena kemudahan –dalam batas syariat– memiliki pengaruh dalam meluluhkan hati dan meningkatkan keterikatan mereka dengan agama ini, Rasulullah berseru kepada para dai:

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

“Permudahlah, jangan mempersulit. Sampaikan kabar gembira, jangan membuat orang lari.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

An-Nawawi berkata: “Jika beliau hanya bersabda ‘Permudahlah’, itu sudah mencakup orang yang memudahkan sekali tetapi sering mempersulit. Maka beliau bersabda ‘Jangan mempersulit’ untuk meniadakan segala bentuk kesulitan dalam segala keadaan. Demikian pula dalam sabdanya ‘Jangan membuat orang lari’. Yang dimaksud adalah untuk meluluhkan hati orang yang baru masuk Islam, dan tidak memberatkannya di awal. Demikian pula dalam mencegah kemaksiatan, hendaknya dilakukan dengan cara yang lembut agar diterima. Demikian pula dalam mengajarkan ilmu, hendaknya dilakukan secara bertahap, karena jika sesuatu di awal mudah, ia akan dicintai oleh orang yang memasukinya, diterima dengan lapang dada, dan pada akhirnya biasanya akan meningkat. Berbeda dengan kebalikannya.”

Penutup

Kemudian, sesungguhnya meraih hati manusia bukanlah tugas yang mudah, kecuali bagi orang yang dimudahkan oleh Allah. Oleh karena itu, kita harus selalu berdoa kepada Allah agar Dia membuka hati kita dan hati mereka kepada kebenaran, dan menjadikan kita dan mereka sebagai pembela agama-Nya dan pembawa dakwah-Nya. Bersamaan dengan doa ini, kita harus mengambil sebab-sebab yang, dengan izin Allah, akan mengantarkan kita meraih hati-hati yang lari. Semoga dengan mengamalkan apa yang telah kita sebutkan dari cara-cara dan menjauhi apa yang telah kita paparkan dari hal-hal yang menimbulkan penolakan, dapat membantu mengembalikan hati-hati yang lari itu kepada petunjuk dengan pengembalian yang indah.

Terakhir, saya memohon kepada Allah agar menolong agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya, dan menjadikan kami sebagai pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk, bukan orang yang sesat dan tidak pula menyesatkan. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan seluruh sahabatnya.

Sumber: Tarbiyaa.com

Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Share 0
Share 0
Topik berkaitan
  • akhlak Islam
Anda Mungkin Juga Menyukai
Yy4
View Post
  • Akhlak

Perkataan Ibnu Rajab tentang Amal yang Tercampur (Riya’)

Istock
View Post
  • Akhlak
  • Fiqih

Perkataan Sia-sia Dalam Sumpah

4e60a
View Post
  • Akhlak
  • Aqidah

Ikhlas Diperlukan Untuk Kebaikan Hidup

Dome putra mosque malaysia sunset 181624
View Post
  • Akhlak
  • Al-Qur'an

Allah Azza wa Jalla Menggambarkan Rasul-Nya sebagai Pembawa Berita Gembira dan Pemberi Peringatan

View Post
  • Akhlak

Sikap Pilih-pilih dan Dua Wajah dalam Beragama

طريقة كتابة رسالة ادارية
View Post
  • Akhlak
  • Fiqih

Kecurangan dalam Ujian Sekolah atau Ujian Kerja

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk Anda Para Pembina Umat!
Iklan PPMT
Trending
  • Ap 6971847a1bb35 1
    • Akhbar Dauliyah
    KTT NATO 2026: Transformasi Aliansi dan Diplomasi Donald Trump
    • 06.07.26
  • 2284304248 2
    • Akhbar Dauliyah
    Seruan Balas Dendam Menggema di Teheran pada Prosesi Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei
    • 06.07.26
  • AFP 20260706 B9CZ8LV v1 HighRes PalestinianIsraelConflictGaza 3
    • Akhbar Dauliyah
    Hamas Umumkan Pembubaran Badan Pemerintahan Gaza
    • 07-07-2026
  • 62014211719 4
    • Akhbar Dauliyah
    Penulis Arab Soroti Narasi Politik Mesir: “Tidak Ada Tempat bagi Ikhwanul Muslimin”
    • 07-07-2026
  • WhatsApp Image 2026 07 07 at 3.30.19 PM (1) 5
    • Kabar Umat
    Kemenag Integrasikan Edukasi Pencegahan Penyebaran Budaya LGBTQ ke Pendidikan Agama
    • 08.07.26
  • 42e1161e72ec8f17f03eca12b8c65c2e 6
    • Kabar Umat
    Ketua BAZNAS: Dunia Menanti Sistem Ekonomi Syariah sebagai Alternatif Kapitalisme
    • 08.07.26

Forum Dakwah & Tarbiyah Islamiyah adalah Perkumpulan yang didirikan untuk menggalakan kegiatan dakwah dan pembinaan kepada masyarakat secara jelas, utuh, dan menyeluruh.

Forum ini berupaya menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat melalui berbagai macam kegiatan dakwah.

Kegiatan dakwah FDTI dilandasi keyakinan bahwa peningkatan iman dan taqwa tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan melakukan aktivitas nasyrul hidayah (penyebaran petunjuk agama), nasyrul fikrah (penyebaran pemahaman agama), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran).

Tag
Afghanistan Al-Aqsha Amerika Arab Saudi Arbain Nawawiyah AS covid-19 Dr. Yusuf Al-Qaradhawi Erdogan Gaza hadits arbain haji Hamas hizbullah Ikhwanul Muslimin india Irak Iran Israel Kemenag Lebanon Ma'rifatul Islam materi tarbiyah Mesir Muhammadiyah MUI Nahdlatul Ulama Pakistan Palestina Penjajah Israel Persis pks qawaidud da'wah Ramadhan Rusia Saudi Arabia Sudan Suriah Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi Taliban trump Tunisia Turki ushulul Islam Wasathiyah
Komentar Terbaru
  • Ghusni Darodjatun pada Ahdafut Tarbiyah
  • Susi pada Hadits 12: Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat
  • Supriadi pada Al-Ihsan
  • Tata pada Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam
  • Halimah Ayu Lestari pada Ahammiyatus Syahadatain (Pentingnya Dua Kalimat Syahadat)
  • Zidnialkelisa pada Al-Mukhtashar fi Tafsir Al-Qur’anul Karim: QS. Al-Baqarah ayat 6 – 20

Input your search keywords and press Enter.