Oleh: Dr. Yusuf Al-Qaradhawi
Seorang mukmin adalah manusia yang paling dalam perasaannya terhadap nilai waktu. Sesungguhnya Allah akan menanyainya pada hari pembalasan tentang umurnya: untuk apa ia habiskan? Dan tentang masa mudanya: untuk apa ia gunakan? Oleh karena itu, ia sangat menjaga waktunya agar tidak terbuang dalam kesia-siaan, atau tercerai-berai ke angin ribut.
Waktu adalah satu-satunya modal baginya. Maka bagaimana mungkin ia menyia-nyiakannya dan tetap menjadi orang yang hampa tangannya? Sesungguhnya waktu adalah nikmat yang wajib disyukuri dengan memanfaatkannya, dan tidak dikufuri dengan menyia-nyiakannya. Umar bin Abdul Aziz berkata: “Sesungguhnya malam dan siang bekerja padamu, maka bekerjalah kamu pada keduanya.”
Seorang mukmin merasakan seolah-olah setiap hari yang mataharinya terbit atau fajarnya menyingsing, menyerunya dengan suara lantang: “Wahai manusia, aku adalah ciptaan baru, dan terhadap amalmu aku menjadi saksi. Maka bekalilah dirimu dariku dan manfaatkanlah aku dengan mengerjakan amal-amal saleh. Karena jika aku telah berlalu, aku tidak akan pernah kembali lagi.”
Dia juga takut bahwa hari-hari akan lepas dari tangannya dalam keadaan kosong dari amal dan produktivitas. Maka ia tidak menunda amalan hari ini ke esok hari, karena esok hari memiliki amalannya sendiri yang akan memadatinya, sehingga tidak akan cukup untuk amalan hari lainnya.
Demikian pula, ia sangat berkeinginan agar harinya lebih baik dari kemarin, dan esoknya lebih baik dari harinya. Ia ingin memperpanjang hidupnya –setelah kematiannya– dengan panjangnya amal perbuatannya, dan memperpanjang usianya dengan melimpahnya efek baik yang ditinggalkannya. Ia ingin meninggalkan di belakangnya ilmu yang bermanfaat, atau amal yang baik, atau proyek yang produktif, atau sedekah jariyah, atau keturunan yang saleh. Seberapa panjang dan kekal efek yang ditinggalkannya, dan seberapa besar manusia mengambil manfaat darinya, maka demikian pula pahalanya di sisi Allah.
Roh inilah yang menjadikan seseorang seperti Abu Darda’ –sahabat Rasulullah– menanam sebatang pohon kenari di putaran terakhir perjalanan hidupnya. Lalu beberapa orang berkata kepadanya: “Apakah engkau menanam pohon kenari ini, sementara engkau sudah tua renta, dan pohon ini tidak berbuah kecuali setelah sekian dan sekian tahun?” Maka Abu Darda’ berkata kepadanya: “Dan apa ruginya bagiku jika pahalanya untukku, dan buahnya untuk orang lain?” Roh inilah juga yang menjadikan orang lain menanam pohon zaitun dan berkata: “Telah menanam untuk kita orang-orang sebelum kita, lalu kita makan; dan kita menanam agar dimakan oleh orang-orang setelah kita.”
Sumber: “Al-Iman wal Hayah” (Iman dan Kehidupan) karya Yang Mulia Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi.





