Oleh: Prof. Dr. Raghib As-Sirjani
Ringkasan Artikel:
Kesabaran dalam menuntut dan memperoleh ilmu adalah sifat yang melekat pada diri para ulama. Memperoleh ilmu tidak akan datang kecuali dengan usaha yang besar, kepayahan, dan pengorbanan.
Kesabaran dalam Menuntut Ilmu
Karena ilmu adalah nikmat yang paling mulia, kedudukan dan derajat yang paling tinggi, dan juga karena ia adalah warisan para nabi serta jalan yang mengantarkan ke surga, maka sudah seharusnya perolehannya membutuhkan usaha yang besar dan pengorbanan yang berharga. Bukankah kemuliaan dikaitkan dengan kesulitan, dan kebahagiaan tidak dapat dicapai kecuali di atas jembatan kelelahan?
Kepayahan dan Pengorbanan dalam Memperoleh Ilmu
Rasulullah ﷺ telah menunjukkan bahwa menempuh jalan akhirat secara umum itu sulit, dan bahwa memperoleh akhirat itu sukar, tidak dapat dicapai kecuali dengan kesungguhan yang gigih. Beliau bersabda –sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu–:
أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ
“Ingatlah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ingatlah, sesungguhnya barang dagangan Allah adalah surga.” (HR. Tirmidzi dan lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani) [1]
Dalam konteks yang sama, Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Yahya bin Abi Katsir –semoga Allah merahmatinya– bahwa ia berkata:
لَا يُسْتَطَاعُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجِسْمِ
“Ilmu tidak akan dapat dicapai dengan kenyamanan badan.” [2]
Imam An-Nawawi –semoga Allah merahmatinya– berkata dalam menggambarkan seorang penuntut ilmu: “Hendaknya ia bersemangat untuk belajar, tekun di dalamnya pada sepanjang waktunya, malam dan siang, bepergian dan bermukim. Janganlah ia menyia-nyiakan sedikit pun dari waktunya dalam hal selain ilmu, kecuali sekedar kebutuhan, seperti makan, tidur seperlunya yang mutlak diperlukan, dan yang serupa, seperti istirahat sejenak untuk menghilangkan kebosanan, dan yang semisal dari hal-hal yang darurat. Tidaklah berakal orang yang dimudahkan derajat pewaris para nabi lalu ia menyia-nyiakannya!!” [3]
Ibnu Qayyim –semoga Allah merahmatinya– berkata: “Adapun kebahagiaan ilmu, ia tidak akan mewariskan kepadamu kecuali dengan mencurahkan kemampuan, kesungguhan dalam menuntut, dan kebenaran niat.” [4]
Ibnu Al-Jauzi –semoga Allah merahmatinya– menegaskan hal itu dengan berkata: “Aku merenungkan suatu keajaiban, yaitu bahwa setiap sesuatu yang berharga dan penting, jalannya panjang, dan kepayahan dalam memperolehnya banyak. Karena ilmu, ketika ia adalah yang paling mulia dari segala sesuatu, ia tidak dapat diperoleh kecuali dengan kepayahan, begadang, pengulangan, meninggalkan kesenangan, dan kenyamanan…” [5]
Dan beliau juga berkata: “Sebagian fuqaha’ berkata: ‘Aku bertahun-tahun mengidamkan al-harisah tetapi aku tidak mampu membelinya; karena waktu penjualannya adalah waktu mendengarkan pelajaran!!'” [6]
Kesabaran Imam Ahmad dalam Menuntut Ilmu
Ketika salah seorang sahabat Imam Ahmad bin Hanbal –semoga Allah merahmatinya– melihat usaha dan kegigihannya, ia bertanya kepadanya seraya berkata: “Sampai kapan engkau akan terus dalam menuntut ilmu, padahal engkau telah menjadi imam bagi kaum muslimin dan seorang ulama besar?” Beliau menjawab:
مَعَ الْمِحْبَرَةِ إِلَى الْمَقْبَرَةِ
“Bersama wadah tinta hingga ke kuburan.” [7]
Maknanya adalah bahwa ia akan terus menuntut ilmu hingga ia mati dan masuk kubur, meskipun tidak ada di zamannya orang yang lebih hafal darinya tentang hadits Rasulullah ﷺ, sehingga mereka menjulukinya: “Imam Sunnah dan Faqih para ahli hadits.”
Ibnu Rafi’ berkata tentangnya: Aku melihat Ahmad bin Hanbal di Mekah setelah kepulangannya dari Yaman, dan kedua kakinya telah pecah-pecah dan kepayahan telah sampai kepadanya. Ia berkata kepadaku: “Wahai Abu Abdillah, aku rasa bahwa setelah ini aku tidak akan bepergian lagi untuk mencari hadits.” Kemudian beliau berkata: “Kemudian sampai berita kepadaku bahwa ia pergi kepada Abū Al-Yaman setelah Yaman, yaitu ke Homs!!” [8]
Imam Ahmad pernah keluar ke Tarsus dengan berjalan kaki karena ketidakmampuannya membayar biaya perjalanan!! Beliau juga berkata: “Seandainya aku memiliki lima puluh dirham, niscaya aku akan keluar menemui Jarīr bin ‘Abdul Ḥamīd di Rayy –dia adalah imam dalam periwayatan. Maka beberapa sahabat kami keluar, tetapi aku tidak bisa karena aku tidak memilikinya!!” [9]
Kesabaran dalam Menuntut Ilmu
Asy-Syafi’i –semoga Allah merahmatinya– berkata: “Merupakan kewajiban bagi para penuntut ilmu untuk mencapai target maksimal dalam memperbanyak ilmu, bersabar terhadap setiap penghalang yang menghadang tanpa mencari ilmu, mengikhlaskan niat kepada Allah Ta’ala dalam meraih ilmu-Nya baik secara teks maupun penalaran, dan memohon kepada Allah Ta’ala pertolongan di atasnya.” [10]
Imam Ibnu Hisyam An-Nahwi berkata dalam syair:
Wa man yaṣṭabir lil ‘ilmi yaẓfar binaylihi
Wa man yakhtubil ḥasnā’a yaṣbir ‘alā al-badzl
“Dan barang siapa bersabar untuk ilmu, ia akan berhasil meraihnya … Dan barang siapa meminang wanita cantik, ia akan bersabar untuk memberikan mahar.”
An-Naẓẓām berkata: “Ilmu adalah sesuatu yang tidak akan memberimu sebagiannya sampai engkau memberikan seluruh dirimu. Maka jika engkau telah memberikan seluruh dirimu, maka engkau terhadap pemberian-Nya sebagian dalam bahaya.” [11]
Dan benarlah Ḥawṭ bin Ri’āb al-Asadī ketika berkata dalam syair:
Lā taḥsabanna al-majda tamran anta ākiluhu
Lan tablugha al-majda ḥattā tal’aqa aṣ-ṣabarā
“Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa kemuliaan itu seperti kurma yang engkau makan … Engkau tidak akan mencapai kemuliaan hingga engkau menjilat kesabaran.” [12]
Catatan Kaki:
[1] At-Tirmidzi: Kitab Sifat Qiyamah, ar-Raqa’iq, wa al-Wara’ (2450), Al-Hakim (7851), dan ia berkata: “Sanadnya shahih dan mereka (Al-Bukhari dan Muslim) tidak mengeluarkannya”, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (881), Abu Nu’aim dalam Ḥilyat al-Auliyā’ 8/377, dan Al-Albani berkata: “Hadits shahih”, (6222) Shahīh al-Jāmi’.
[2] Muslim: Kitab Masjid-masjid dan Tempat Shalat, Bab Waktu-waktu Shalat (612). Al-Qadhi ‘Iyadh menceritakan dari sebagian imam bahwa ia berkata: “Penyebabnya adalah bahwa Muslim mengagumi bagusnya rangkaian jalur-jalur yang disebutkan dalam hadits Abdullah bin Umar ini, banyaknya faedah-faedahnya, ringkasnya tujuannya, dan apa yang terkandung di dalamnya berupa faedah-faedah dalam hukum dan lainnya. Dan kami tidak mengetahui seorang pun yang menyertainya dalam hal itu. Maka ketika ia melihat hal itu, ia ingin memperingatkan orang yang bersemangat untuk memperoleh kedudukan yang dengannya ia dapat mencapai pengetahuan tentang hal seperti ini. Maka ia berkata: Caranya adalah agar ia memperbanyak kesibukannya dan melelahkan tubuhnya dengan perhatian untuk memperoleh ilmu. Ini adalah penjelasan tentang apa yang diceritakan oleh Al-Qadhi.” (Syarah An-Nawawi 5/114)
[3] An-Nawawi: At-Tibyān fī Ādābi Ḥamalati al-Qur’ān 1/13.
[4] Ibnul Qayyim: Miftāḥ Dāri as-Sa’ādah 1/108.
[5] Ibnu Al-Jauzi: Ṣayd al-Khāṭir, hlm. 266.
[6] Ibnu Al-Jauzi: Talbīs Iblīs, hlm. 399.
[7] Ibnu ‘Asākir: Tārīkh Dimasyq 5/267.
[8] Abul Ḥajjaj Al-Mizzi: Tahdzīb al-Kamāl 1/447.
[9] Abul Ḥajjaj Al-Mizzi: Tahdzīb al-Kamāl 1/447.
[10] Badruddīn bin Jamā’ah: Tadzkirat as-Sāmi’ wa al-Mutakallim, hlm. 27.
[11] Al-Khaṭīb Al-Baghdādi: Tārīkh Baghdād 6/97.
[12] Ḥawṭ bin Ri’āb al-Asadī, dikenal dengan Abū Al-Mahausy: seorang penyair yang hidup pada masa dua zaman, hidup dan terkenal di masa Jahiliah dan mendapati masa Islam. Syairnya sedikit dan tersebar. Al-A’lām 2/289.
Sumber: Islam Story





