RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
Kategori
  • Akhbar Dauliyah (1,063)
  • Akhlak (135)
  • Al-Qur'an (80)
  • Aqidah (169)
  • Dakwah (35)
  • Fikrah (1)
  • Fikrul Islami (43)
  • Fiqih (193)
  • Fiqih Dakwah (76)
  • Gerakan Pembaharu (23)
  • Hadits (107)
  • Ibadah (13)
  • Kabar Umat (444)
  • Kaifa Ihtadaitu (6)
  • Keakhwatan (7)
  • Kisah Nabi (12)
  • Kisah Sahabat (4)
  • Masyarakat Muslim (14)
  • Materi Khutbah dan Ceramah (78)
  • Musthalah Hadits (3)
  • Rumah Tangga Muslim (12)
  • Sejarah Islam (199)
  • Senyum (2)
  • Taujihat (25)
  • Tazkiyah (45)
  • Tokoh Islam (20)
  • Ulumul Qur'an (7)
  • Uncategorized (5)
  • Wasathiyah (138)
0
2K
RISALAH
Subscribe
RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
  • Akhlak

Islam dan Ilmu-Ilmu Kehidupan

  • 06-05-2026
  • No comments
Life is strange 2 life is strange games pc games wallpaper preview

Keterpisahan antara Ilmu Syariat dan Ilmu Kehidupan

Tidak tersembunyi bagi siapa pun ketimpangan besar dalam tingkat keilmuan sebagian besar umat Islam. Terkadang ketimpangan ini justru terjadi pada mereka yang berkomitmen tinggi terhadap ajaran agama, padahal tingkat keilmuan syariat mereka biasanya sangat baik. Ini mencerminkan perhatian yang berlebihan pada aspek syariat—hingga mengesampingkan aspek kehidupan dalam masalah ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Pemisahan perhatian antara ilmu syariat dan ilmu kehidupan ini adalah sesuatu yang asing bagi syariat Islam dan merupakan hal asing yang masuk ke dalam umat kita. Ini sangat berbahaya; karena sebagaimana bangunan umat Islam tidak akan kokoh tanpa ilmu syariat, demikian pula tidak akan kokoh tanpa ilmu kehidupan. Memisahkan keduanya—tanpa keraguan—akan memperlambat perjalanan umat, bahkan hampir menghentikannya. Umat Islam tidak pernah mengenal kejayaan, kekuatan, kemuliaan, dan kepemimpinan kecuali ketika ilmu kehidupannya kuat dan unggul. Dan umat Islam tidak pernah mengenal kelemahan, keterbelakangan, dan kemunduran kecuali ketika ilmu kehidupannya lemah dan terabaikan. Sejarah adalah saksi terbaik atas hal ini, di banyak tempat.

Lalu, mengapa terjadi keterpisahan yang tidak masuk akal ini?

Tampaknya masalah ini pada dasarnya adalah masalah pemahaman. Meskipun musuh-musuh memiliki perencanaan dan siasat, namun kelemahan sejatinya bersumber dari dalam diri kita sendiri. Selama tahun-tahun terakhir, pemahaman umat Islam—baik karena faktor eksternal maupun internal—tentang makna “ilmu yang bermanfaat” menjadi kacau. Mereka membatasinya hanya pada ilmu syariat, padahal dalil-dalil yang menunjukkan sebaliknya sangat banyak.

Hal ini berangkat dari pemahaman bahwa medan mendekatkan diri kepada Allah hanya terbatas pada ritual ibadah murni seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Sementara medan duniawi beserta pembangunan, perbaikan, dan pemanfaatan potensinya, menjadi jauh dari niat mencari wajah Allah.

Dalam dekade-dekade terakhir yang dialami umat kita, banyak muslim memandang ilmu-ilmu kehidupan dengan pandangan abai, bahkan meremehkan dan menghina. Pemahaman keliru ini diperkuat oleh sebagian ulama yang membagi ilmu menjadi: ilmu agama dan ilmu dunia. Maka jadilah ilmu kedokteran, teknik, kimia, dan sejenisnya sebagai “ilmu duniawi”, sementara ilmu syariat seperti fikih, tafsir, akidah dan lainnya sebagai “ilmu agama” atau “ilmu akhirat”!

Akibatnya, seorang muslim yang taat (komitmen) segera merasa sangat canggung ketika mempelajari ilmu duniawi ini; karena dia mengira telah berpaling dari ilmu akhirat. Ini berarti baginya meninggalkan sebagian urusan “agama” menuju urusan “dunia”!!

Mengapa Ilmu-Ilmu Kehidupan?

Dunia secara umum tercela dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Begitu banyak ayat dan hadits yang mendorong muslim untuk zuhud terhadap dunia, tidak terlalu peduli padanya maupun pada kebesarannya. Cukuplah sebagai bukti firman Allah:

إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْأَنْعَامُ…
“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu seperti air yang Kami turunkan dari langit, lalu bercampurlah ia dengan tumbuh-tumbuhan di bumi yang dimakan manusia dan hewan…” (QS. Yunus [10]: 24)

Allah juga merendahkan dunia:

أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
“Apakah kalian rela dengan kehidupan dunia sebagai ganti dari akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia dibanding akhirat hanyalah sedikit.” (QS. At-Taubah [9]: 38)

Al-Mustawrid bin Syaddad Al-Fihri radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“مَا مَثَلُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَثَلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ”
“Perumpamaan dunia dibanding akhirat hanyalah seperti jari seseorang yang dicelupkan ke lautan; lihatlah apa yang dibawanya ketika kembali.” [HR Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dll]

Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ”
“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai sayap nyamuk saja, niscaya Dia tidak akan memberi seteguk air pun kepada orang kafir.” [HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim (sahih), dan dishahihkan Albani]

Akibat mengaitkan ilmu-ilmu alam dan kehidupan dengan “dunia” yang tercela ini, kaum yang taat (komitmen) memandangnya sebagai sesuatu yang menjauhkan dari agama Islam. Mereka menganggap sibuk dengannya adalah tercela, dan bahwa seorang peneliti teknik—misalnya—kimia, atau ilmu atom, adalah orang yang melupakan agamanya dan hanya peduli pada dunianya!!

Padahal semua ini adalah kebatilan belaka tanpa landasan. Ilmu kedokteran, teknik, dan lainnya adalah jalan-jalan yang jelas menuju surga jika niatnya baik dan ikhlas karena Allah. Ilmu-ilmu itu adalah ilmu akhirat jika seorang hamba menggunakannya untuk mencari pahala akhirat. Dan ilmu-ilmu itu adalah ilmu agama jika seorang muslim menggunakannya untuk menolong agamanya dan mengangkat martabat umatnya.

Faktanya, para sahabat Rasulullah ﷺ adalah pedagang, petani, dan pengrajin. Sebelum mereka, para nabi ‘alaihimus salam—masing-masing memiliki profesi dan keahlian di samping tugas utama mereka. Adam adalah petani, Daud pandai besi, Nuh tukang kayu, Idris penjahit, Musa penggembala, Zakaria tukang kayu. Kesibukan mereka dengan akhirat, beramal untuknya, dan mengajarkan ilmunya, tidak membuat mereka tidak bekerja untuk dunia, membangunnya, memanfaatkannya, dan mengajarkan ilmunya…

Bahkan Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ketika melihat seorang laki-laki dengan penampilan yang baik, beliau bertanya: “Apakah dia punya profesi?” Jika dijawab “Tidak”, maka gugurlah harga dirinya di mata Umar! [Lihat: Fairul Qadir, 2/290]

Lalu apa makna sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

“إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ”
“Jika kiamat tiba dan di tangan salah seorang dari kalian ada setek pohon kurma, maka jika ia mampu untuk tidak berdiri hingga menanamnya, lakukanlah.” [HR Ahmad, Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan dishahihkan Albani]

Mengapa ia harus menanamnya padahal itu manfaat duniawi, terlebih ia sama sekali tidak akan menikmati hasilnya secara duniawi?!

Yang dapat dipahami dari semua ini—seperti diungkapkan Dr. Abdul Baqi Abdul Kabir—adalah: dalam upaya kita memenuhi kebutuhan dan menjalankan tanggung jawab memakmurkan bumi serta fungsi kekhalifahan di dalamnya dengan niat yang tulus, itu adalah upaya untuk meraih ridha Allah. Bahkan, upaya kita memakmurkan bumi, mengajarkan ilmu-ilmunya, memahami celah-celah pembangunannya, dan mengeluarkan masyarakat dari ketergantungan—masing-masing sesuai bidang dan kemampuannya—pada dasarnya adalah upaya meninggikan kalimat Allah dan mengangkat bendera Islam.

Karenanya, jika masalahnya—seperti kita lihat—adalah masalah pemahaman dan kekeliruan fikih, maka kita perlu berdiri di atas landasan yang kokoh dan lurus yang merupakan inti agama dan keyakinan kita.

Di awal jalan ini, saya sangat tidak setuju dengan penyebutan “ilmu duniawi” untuk ilmu-ilmu ini. Lebih tepat kita menyebutnya “ilmu-ilmu kehidupan”. Karena itu adalah ilmu yang Allah kehendaki untuk kita pelajari agar kita memperbaiki kehidupan kita di bumi. Kehidupan secara umum tidak tercela seperti “dunia” (ad-dunya), bahkan ia adalah nikmat dari Allah.

Perhatikan firman-Nya yang menghubungkan antara menjalankan hukum syariat dengan kehidupan yang baik:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
“Barang siapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl [16]: 97)

Maka, ilmu-ilmu “kehidupan” dari perspektif ini memiliki makna yang agung, lebih tinggi dan lebih besar dari ilmu-ilmu “dunia” yang mengandung makna rendah dan hina. Hal ini diperjelas oleh firman-Nya:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ
“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan kembali…” (QS. Al-An’am [6]: 122)

Banyak ayat dan hadits berjalan di atas prinsip ini, memberikan kekayaan makna pada kata “kehidupan”.

Mungkinkah Umat Islam Mengabaikan Ilmu-Ilmu Kehidupan?

Marilah kita berdialog dan berdiskusi dengan mereka yang mencurahkan sebagian besar waktu dan perhatiannya pada ilmu syariat, namun tidak mau mencurahkan sebagian upaya, pemikiran, harta, dan waktu mereka untuk ilmu kehidupan. Kita jawab bersama pertanyaan penting: Mungkinkah umat Islam mengabaikan ilmu-ilmu kehidupan?

Dalam rangka menjawab TIDAK secara tegas, kami kemukakan dalil-dalil dan bukti-bukti pasti akan kemuliaan ilmu-ilmu ini jika diarahkan untuk kebaikan bumi, kemanfaatan manusia, kemuliaan agama ini, dan kehormatan umat ini.

Dalil Pertama: Apakah Manusia Lupa Bahwa Allah Menjadikannya “Khalifah” di Bumi?

Karena jawabannya pasti “Tidak”, mari kita renungkan bersama: Bagaimana mungkin manusia dijadikan khalifah di bumi sementara ia tidak tahu apa pun tentang ilmu-ilmu bumi?

Fakta yang tak terbantahkan: orang yang dijadikan khalifah di bumi harus mengenal Tuhannya, tahu cara beribadah kepada-Nya, dan juga harus mengetahui sifat tempat di mana ia dijadikan khalifah, serta bagaimana memanfaatkannya untuk beribadah kepada Allah, Rabb semesta alam. Allah berfirman:

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا
“Dia yang menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya.” (QS. Hud [11]: 61)

Syarat kekhalifahan dan kewajiban dasarnya adalah manusia mengetahui bagaimana memakmurkan bumi, menggali kekayaannya, memanfaatkan sumber dayanya, dan bagaimana memanfaatkan segala yang dapat memperbaiki “kehidupan” di muka bumi ini. Ketika Allah menciptakan Adam ‘alaihis salam, mengagungkannya, meninggikan derajatnya, dan memerintahkan malaikat bersujud kepadanya, itu semua tidak lain karena ilmu yang Allah berikan kepadanya:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا
“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 31)

Pertanyaannya: Ilmu apakah yang diajarkan Allah kepada Adam sehingga ia lebih unggul dari para malaikat?

Menurut riwayat Ibnu Abbas, Allah mengajarinya nama-nama segala sesuatu: gunung, pohon, laut, pohon kurma, nama-nama manusia dan hewan. Artinya, Allah mengajarinya ilmu-ilmu “alamiah” yang akan ia butuhkan untuk kehidupan di bumi dan memakmurkannya. Adapun malaikat, mereka tidak mengetahui nama-nama dan ilmu-ilmu itu karena mereka tidak akan dijadikan khalifah di bumi, sehingga tidak membutuhkannya.

Sangat jelas: jika Allah mengajarkan Adam ibadah dalam pengertian terbatas pada shalat, puasa, dzikir, dan doa, tentu malaikat akan lebih unggul dari Adam. Tidak akan ada alasan manusia dijadikan khalifah di bumi; ia akan hidup di langit seperti malaikat, melakukan perbuatan mereka, dan cukup dengan ilmu mereka:

يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ
“Mereka bertasbih malam dan siang tanpa henti.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 20)

Maka, ilmu Adam bukan hanya ilmu syariat, tetapi juga ilmu kehidupan. Karena itu, jika manusia mengabaikan ilmu-ilmu alam atau ilmu-ilmu “kehidupan”, berarti ia mengabaikan komponen terpenting kekhalifahannya di bumi. Ini tidak boleh terjadi pada muslim yang sadar, memahami agamanya, dan menyadari hakikat kekhalifahannya di bumi.

Dalil Kedua: Apakah Ilmu-Ilmu Kehidupan Telah Sempurna?

Allah telah menyempurnakan ilmu-ilmu syariat sebelum wafatnya Rasulullah ﷺ:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Aku ridha Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah [5]: 3)

Tidak ada wahyu setelah Rasulullah ﷺ. Maka ilmu syariat secara prinsip akan tetap seperti adanya. Memang, ulama syariat boleh berijtihad dalam beberapa hal sesuai perubahan lingkungan, zaman, dan tempat, tetapi prinsip-prinsipnya tetap dan ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Itulah untuk ilmu syariat. Adapun ilmu kehidupan, ceritanya berbeda. Ilmu-ilmu ini belum sempurna dan tidak akan pernah sempurna. Setiap hari yang berlalu, terbuka bagi kita penemuan baru dalam ilmu-ilmu ini. Ilmu kedokteran hari ini berbeda dengan apa yang akan ada besok, dan keduanya berbeda dengan apa yang ada kemarin, begitu seterusnya.

Ilmu kehidupan terus berkembang dan berubah. Apa yang dianggap sebagai fakta ilmiah hari ini, bisa saja besok terbukti sebagai ilusi, atau ada yang melampauinya. Betapa banyak keyakinan ilmiah yang diwariskan selama ratusan tahun, dan baru berubah beberapa tahun lalu setelah ditemukan kesalahannya.

Allah berfirman:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ…
“Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar…” (QS. Fussilat [41]: 53)

Ayat ini turun dalam bentuk masa depan (سنريهم) dan akan terus dibaca hingga hari kiamat dalam bentuk masa depan. Masa depan hingga hari kiamat akan selalu membawa hal baru dalam ilmu kehidupan, baik di alam semesta (di ufuk-ufuk) maupun dalam diri manusia. Kerja keras di bidang ini sangat diperlukan dan penting. Jika tidak, kita akan tertinggal kereta kencang, dan sulit untuk menyusul!

Dalil Ketiga: Ketergantungan Ilmu Syariat pada Ilmu Kehidupan

Banyak persoalan syariat dan fikih yang tidak dapat diputuskan oleh ahli fikih muslim dengan pendapat yang benar, menjelaskan hukum halal atau haram, kecuali dengan bantuan ilmuwan muslim di bidang ilmu kehidupan yang ahli dalam profesinya dan kompeten dalam spesialisasinya.

Ambil contoh ilmu ekonomi dan perdagangan. Mampukah seorang ahli fikih muslim non-spesialis menyimpulkan pendapat fikih yang benar dalam setiap transaksi ekonomi dan perdagangan? Mampukah ia memutuskan halal atau haram dalam suatu persoalan perdagangan dan ilmu ekonomi tanpa mengetahui secara utuh seluk-beluk transaksi dan spekulasi yang terjadi di bank, bursa, perusahaan, pasar, dan lain-lain?

Tentu jawabannya tidak mampu, terlebih ilmu pengetahuan telah sangat bercabang. Di dalam setiap ilmu, ada banyak ilmu lain yang bercabang darinya. Setiap cabang memiliki spesialis, peneliti, dan pengkaji.

Jika kita anggap pun seorang ahli fikih bisa berpendapat tanpa rujukan ke spesialis—yang mustahil dan tidak dibenarkan—bagaimana jika ditemukan pelanggaran syariat dalam ilmu-ilmu ini? Bagaimana memperbaikinya dan mengislamkannya sesuai manhaj Islam? Bagaimana kita menghadapi sistem ekonomi global di sekitar kita yang sarat pelanggaran, tanpa terjerumus ke dalam pelanggaran syariat?

Bukankah kita semua membutuhkan ahli ekonomi yang spesialis? Yang mempelajari ilmu ekonomi dengan segala cabang dan ilmunya, menguasai setiap detailnya, lalu ia mempelajari fikih Islam terkait ekonomi dan perdagangan, kemudian mulai merumuskan ekonomi Islam dalam bentuk yang sesuai dengan zaman kita, tanpa terjatuh pada pelanggaran syariat sedikit pun?

Kita bisa mengambil contoh nyata di bidang hukum dan perundang-undangan. Almarhum syahid, Hakim Abdul Qadir ‘Audah, adalah lulusan fakultas hukum. Ia menulis kitabnya “At-Tasyri’ Al-Jinai Al-Islami” (Legislasi Pidana Islam). Dalam kitab itu, ia mampu menyajikan kajian fikih tentang legislasi pidana dalam Islam, filosofinya, dan perbandingannya dengan hukum positif. Ia juga mampu membuktikan dengan dalil, bukti, dan argumen kuat akan keindahan syariat Islam dan keunggulannya atas hukum positif, serta mendahuluinya dalam menetapkan semua prinsip kemanusiaan, teori ilmiah, dan sosial yang baru dikenal dunia belakangan.

Bukankah umat dalam kehidupannya sangat membutuhkan hal seperti itu? Bukankah ini adalah celah Islami yang perlu ditutup dan dijaga? Bukankah orang yang melakukannya akan mendapat pahala dari Allah atas ilmu dan amalnya? Apakah umat Islam yang mengagungkan agama mereka tidak akan berdosa jika membiarkan bidang ini tanpa spesialis? Tidakkah mereka meyakini bahwa mempelajari ekonomi dari perspektif ini adalah jalan langsung menuju surga?

Jawabannya tidak tersembunyi bagi akal sehat. Hendaknya semua tahu bahwa agama ini tidak akan tegak dengan benar kecuali dengan para inovator di berbagai bidang ilmu kehidupan!

Contoh lain: Ilmu Kedokteran. Kita menemukan hal yang sama. Seorang ahli fikih saat ini sangat membutuhkan dokter muslim spesialis yang membantunya dalam menetapkan fatwa yang berkaitan dengan aspek-aspek kedokteran.

Bagaimana seorang ulama syariat dapat memberi pendapat dalam persoalan rumit yang terkait erat dengan kedokteran tanpa bantuan dokter muslim mahir yang menjelaskan secara detail hakikat persoalan yang dibutuhkan oleh sang ahli fikih? Bagaimana kita mengetahui hukum syariat dalam persoalan baru yang terkait erat dengan kedokteran? Bagaimana kita mengetahui hukum syariat misalnya tentang kloning, transplantasi organ, operasi plastik, bayi taburung, pengobatan dengan sesuatu yang mengandung yang diharamkan, dan lain-lain?

Semua ini dan lainnya yang baru muncul dalam kehidupan kita sehari-hari, tanpa keraguan, membutuhkan dokter-dokter yang mahir dalam spesialisasi mereka. Kemudian mereka juga mempelajari dalil-dalil syariat yang berkaitan dengan cabang yang mereka kuasai. Dengan begitu, mereka memiliki kemampuan memberi pendapat yang benar, yang selaras antara pandangan medis dan pandangan syariat.

Tidakkah kedokteran dari perspektif ini menjadi jalan menuju surga? Apakah umat Islam bisa dimaafkan jika mereka tidak melahirkan bagi umatnya para dokter yang menjelaskan persoalan ini kepada mereka dan menjabarkannya kepada para ahli fikih, sehingga para ahli fikih mampu memberi fatwa halal atau haram terkait masalah-masalah ini? Ini—tanpa ragu—adalah pintu yang harus dikuasai oleh umat Islam, agar mereka dapat menegakkan agama mereka dan menerapkannya sebagaimana dikehendaki Allah.

Atas dasar ini, semua ilmu ini—ekonomi, politik, kedokteran, teknik, atau lainnya yang serupa dan bermanfaat bagi umat serta memperbaiki kehidupan manusia di bumi—semuanya adalah ilmu akhirat, dengan syarat niat yang baik dan ikhlas karena Allah.

Dalil Keempat: Kebutuhan Islam akan Keunggulan dalam Ilmu-Ilmu Kehidupan

Apakah kepentingan dakwah menghendaki para pembawa dakwah berada di barisan paling belakang dari para ahli spesialis? Baik di tingkat individu, masyarakat, maupun tingkat umat secara keseluruhan?

Dengan lebih jelas: Jika seorang mahasiswa muslim yang taat beragama tidak unggul dalam studinya, tidak menjadi yang terdepan dalam ilmunya di antara teman-temannya, apakah ia akan menjadi teladan bagi mahasiswa lain? Apakah mereka akan meniru metode hidupnya dan mengikutinya dalam dakwahnya? Apakah para orang tua akan merasa tenang dengan anak-anak mereka jika bergaul dengannya?

Salah satu hal yang paling berbahaya adalah: seorang pelajar atau spesialis memiliki ciri khas Islami dan dakwah yang tampak, tetapi jika ia dalam bidang studi, spesialisasi, atau profesinya terlihat memiliki ilmu yang sedikit, level yang lemah, atau kinerja lambat—maka ini adalah dakwah negatif. Ini adalah ajakan untuk meninggalkan agama yang dipegang oleh orang yang tertinggal dan lemah tersebut. Entah karena takut menjadi seperti dia yang tertinggal dan lemah, atau takut ilmu pengetahuan akan terhambat atau tersendat.

Para ulama menafsirkan firman Allah:

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim.” (QS. Yunus [10]: 85)

Mereka mengatakan: Makna doa dalam ayat ini adalah: jangan biarkan orang-orang kafir lebih tinggi dan lebih besar daripada orang-orang mukmin, sehingga orang-orang kafir itu menjadi fitnah (terjebak) dan berkata: “Jika mereka (umat Islam) berada di atas kebenaran, tentu kami tidak akan dimenangkan atas mereka. Jika mereka di atas kebenaran, tentu mereka tidak akan lebih lemah dan lebih hina dari kami.” [Lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/563]

Saya pernah mendengar seorang mualaf Amerika yang baru masuk Islam memuji Allah karena ia membaca tentang Islam sebelum melihat keadaan umat Islam. Jika tidak, peluangnya untuk masuk Islam akan lemah. Sebab bisa jadi ia tidak akan mendapatkan kesempatan yakin dengan agama yang para pemeluknya—sebagaimana keadaan mereka—tidak mendorong pada ilmu, kemajuan, dan amal. Namun berkat Allah, ia telah membaca tentang Islam sebelum melihat umat Islam, dan mengetahui bahwa Islam menyeru pada amal, mendorong pada ilmu, mengajak pada kebajikan, makna-makna indah, dan memakmurkan bumi. Ia juga tahu bahwa umat Islam yang dilihatnya tidak mewakili hakikat agama Islam, bahkan mereka menyalahi prinsip-prinsipnya dan jauh dari menerapkan hukum-hukumnya.

Pada akhirnya, ini menjadi fitnah. Betapa banyak manusia yang terhalang dari jalan Allah hanya karena melihat keterbelakangan, kemunduran, dan kelemahan umat Islam ini?! Tidakkah semua ini mendorong umat Islam untuk berprestasi unggul dalam bidang ilmu-ilmu kehidupan, sebagaimana mereka juga harus unggul dalam ilmu-ilmu syariat? Demi Allah, inilah kebenaran yang tak diragukan.

Dalil Kelima: Islam Menyeru pada Pemikiran dan Kreativitas

Islam secara umum mendorong terbentuknya pola pikir ilmiah yang objektif, yang membangun gagasannya di atas penalaran dan penyimpulan. Islam sangat mengingkari taklid buta yang tidak melihat argumen, tidak peduli logika, dan tidak memerlukan bukti.

Allah mengingkari orang-orang kafir atas ketergantungan buta mereka pada nenek moyang:

إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ
“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mendapat petunjuk mengikuti jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 22)

Rasulullah ﷺ mengingkari seorang muslim menjadi pengekor tidak punya pendirian. Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda:

“لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً، تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا”
“Janganlah kalian menjadi pengekor yang mengatakan: ‘Jika orang berbuat baik, kami pun berbuat baik; jika mereka berbuat zalim, kami pun berbuat zalim.’ Tetapi biasakanlah diri kalian: jika orang berbuat baik, berbuat baiklah; jika mereka berbuat jelek, janganlah kalian berbuat zalim.” [HR Tirmidzi, hasan]

Allah meminta bukti dari orang kafir atas kekafiran dan kedurhakaan mereka:

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Katakanlah: ‘Tunjukkanlah bukti-bukti kalian jika kalian orang yang benar.'” (QS. An-Naml [27]: 64)

ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Bawalah kepada-Ku sebuah kitab sebelum (Al-Qur’an) ini atau peninggalan pengetahuan (yang kuno), jika kalian orang yang benar.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 4)

Allah membuktikan keesaan-Nya dengan logika:

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا
“Seandainya di langit dan bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah rusak binasa.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 22)

Tentang kebangkitan, Allah merinci argumen dan bukti-bukti rasional hingga ayat 78-81 dari Surat Yasin.

Islam mendorong penggunaan akal, pemikiran yang matang, dan fikih yang sadar. Bahkan, Islam menganggap orang yang melumpuhkan akalnya seperti binatang, bahkan lebih rendah:

أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ
“Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat.” (QS. Al-A’raf [7]: 179)

Maka, Islam adalah agama yang menyeru pada pengaktifan akal, pembebasannya dari belenggu taklid, kebekuan, dan peniruan. Memberinya kebebasan untuk menjalankan fungsinya sesuai aturan dan kerangka tertentu.

Karena itu, siapa yang melumpuhkan akalnya dari bekerja, berpikir, dan berkreasi, berarti ia telah menyalahi manhaj Islam secara besar, merugikan dirinya sendiri, dan merugikan umat setelahnya.

Sumber: Islam Story

Catatan Kaki:

[1] HR Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban, Thabrani
[2] HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim (sahih), dishahihkan Albani
[3] Fairul Qadir, 2/290
[4] HR Ahmad, Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dishahihkan Albani
[5] Dr. Abdul Baqi Abdul Kabir Abdul Wahid (Afghanistan, lahir 1970)
[6] Islam Online: I’marud Dunya Fariḍhah wa Ḍarurah
[7] Tafsir Ibnu Katsir 1/109
[8] Tafsir Ibnu Katsir 2/563 (diringkas)
[9] HR Tirmidzi, hasan

Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Share 0
Share 0
Anda Mungkin Juga Menyukai
Yy4
View Post
  • Akhlak

Perkataan Ibnu Rajab tentang Amal yang Tercampur (Riya’)

Istock
View Post
  • Akhlak
  • Fiqih

Perkataan Sia-sia Dalam Sumpah

4e60a
View Post
  • Akhlak
  • Aqidah

Ikhlas Diperlukan Untuk Kebaikan Hidup

Dome putra mosque malaysia sunset 181624
View Post
  • Akhlak
  • Al-Qur'an

Allah Azza wa Jalla Menggambarkan Rasul-Nya sebagai Pembawa Berita Gembira dan Pemberi Peringatan

View Post
  • Akhlak

Sikap Pilih-pilih dan Dua Wajah dalam Beragama

طريقة كتابة رسالة ادارية
View Post
  • Akhlak
  • Fiqih

Kecurangan dalam Ujian Sekolah atau Ujian Kerja

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk Anda Para Pembina Umat!
Iklan PPMT
Trending
  • Ap 6971847a1bb35 1
    • Akhbar Dauliyah
    KTT NATO 2026: Transformasi Aliansi dan Diplomasi Donald Trump
    • 06.07.26
  • 2284304248 2
    • Akhbar Dauliyah
    Seruan Balas Dendam Menggema di Teheran pada Prosesi Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei
    • 06.07.26
  • AFP 20260706 B9CZ8LV v1 HighRes PalestinianIsraelConflictGaza 3
    • Akhbar Dauliyah
    Hamas Umumkan Pembubaran Badan Pemerintahan Gaza
    • 07-07-2026
  • 62014211719 4
    • Akhbar Dauliyah
    Penulis Arab Soroti Narasi Politik Mesir: “Tidak Ada Tempat bagi Ikhwanul Muslimin”
    • 07-07-2026
  • WhatsApp Image 2026 07 07 at 3.30.19 PM (1) 5
    • Kabar Umat
    Kemenag Integrasikan Edukasi Pencegahan Penyebaran Budaya LGBTQ ke Pendidikan Agama
    • 08.07.26
  • 42e1161e72ec8f17f03eca12b8c65c2e 6
    • Kabar Umat
    Ketua BAZNAS: Dunia Menanti Sistem Ekonomi Syariah sebagai Alternatif Kapitalisme
    • 08.07.26

Forum Dakwah & Tarbiyah Islamiyah adalah Perkumpulan yang didirikan untuk menggalakan kegiatan dakwah dan pembinaan kepada masyarakat secara jelas, utuh, dan menyeluruh.

Forum ini berupaya menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat melalui berbagai macam kegiatan dakwah.

Kegiatan dakwah FDTI dilandasi keyakinan bahwa peningkatan iman dan taqwa tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan melakukan aktivitas nasyrul hidayah (penyebaran petunjuk agama), nasyrul fikrah (penyebaran pemahaman agama), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran).

Tag
Afghanistan Al-Aqsha Amerika Arab Saudi Arbain Nawawiyah AS covid-19 Dr. Yusuf Al-Qaradhawi Erdogan Gaza hadits arbain haji Hamas hizbullah Ikhwanul Muslimin india Irak Iran Israel Kemenag Lebanon Ma'rifatul Islam materi tarbiyah Mesir Muhammadiyah MUI Nahdlatul Ulama Pakistan Palestina Penjajah Israel Persis pks qawaidud da'wah Ramadhan Rusia Saudi Arabia Sudan Suriah Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi Taliban trump Tunisia Turki ushulul Islam Wasathiyah
Komentar Terbaru
  • Ghusni Darodjatun pada Ahdafut Tarbiyah
  • Susi pada Hadits 12: Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat
  • Supriadi pada Al-Ihsan
  • Tata pada Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam
  • Halimah Ayu Lestari pada Ahammiyatus Syahadatain (Pentingnya Dua Kalimat Syahadat)
  • Zidnialkelisa pada Al-Mukhtashar fi Tafsir Al-Qur’anul Karim: QS. Al-Baqarah ayat 6 – 20

Input your search keywords and press Enter.