Oleh: Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Sirah Nabawiyah yang harum semerbak adalah sirah yang istimewa, yang memiliki karakteristik yang telah dijelaskan oleh para ulama peneliti.
Ia adalah:
Sirah ilmiah yang terdokumentasi dengan baik,
Sirah historis yang tetap valid,
Sirah yang lengkap rangkaiannya, dari kelahiran hingga wafat.
Sirah yang menyeluruh lagi komprehensif, yang mewujudkan kehidupan Nabi ﷺ dalam peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang berbicara dan ekspresif.
Kehidupan yang terintegrasi dan seimbang ini—di mana kita menemukan Islam dalam keadaan hidup, Al-Qur’an dalam keadaan ditafsirkan, dan nilai-nilai Islam berjalan di antara manusia dengan kedua kaki tegak.
Kehidupan ini adalah penerapan praktis dari Al-Qur’an al-Karim.
Sebagaimana yang dikatakan Aisyah radhiyallahu ‘anha—ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ—ia menjawab:
عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامٍ قَالَ: قُلْتُ لِعَائِشَةَ: أَخْبِرِينِي عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ. قَالَتْ: «كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ»
“Akhlaknya adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim)
Kehidupan ini adalah kehidupan yang di dalamnya setiap muslim menemukan teladan yang sempurna dan panutan yang tertinggi baginya.
Allah Ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, bagi siapa yang mengharap Allah dan hari akhir, dan banyak berzikir kepada Allah.” (Q.S. Al-Ahzab: 21)
Dan Dia juga berfirman tentang nikmat-Nya mengutus Rasul:
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Dia mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul dari jenis mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Ali ‘Imran: 164)
Tidak ada pada orang-orang Yahudi dan Nasrani—tidak pula pada selain mereka dari para pemilik agama-agama lain—sirah seperti sirah yang hidup, berdenyut, menyeluruh untuk setiap tahapan kehidupan dan setiap aspek kehidupan—sebagaimana yang digambarkan oleh kitab-kitab Asy-Syamā’il an-Nabawiyyah dan kitab-kitab Al-Hady an-Nabawi:
Dalam makanan dan minuman,
Dalam pakaian dan perhiasan,
Dalam tidur dan bangun,
Dalam kondisi bermukim dan bepergian,
Dalam tertawa dan menangis,
Dalam keseriusan dan hiburan,
Dalam ibadah dan muamalah,
Dalam urusan agama dan dunia,
Dalam damai dan perang,
Dalam berinteraksi dengan kerabat dan orang jauh,
Dengan para pendukung dan lawan,
Bahkan aspek-aspek yang disebut manusia sebagai “pribadi” dalam bergaul dengan istri-istri—semuanya diriwayatkan dan terpelihara dalam sirah yang sempurna ini.
Sumber: “Al-Ḥayāh ar-Rabbāniyyah wa al-‘Ilm” (Kehidupan yang Bersifat Ketuhanan dan Ilmu) karya Yang Mulia Syekh Al-Qardhawi.





