GAZA, PALESTINA – Di tengah gemuruh rudal dan pesawat tempur yang mengguncang Iran dan Irak, sebuah krisis kemanusiaan yang lebih senyap namun tak kalah mematikan kembali mengancam di Jalur Gaza. Israel pada Sabtu (28/2/2026) mengumumkan penutupan semua perbatasan di wilayah Palestina, termasuk Perlintasan Rafah yang vital, mulai hari Minggu (1/3) hingga pemberitahuan lebih lanjut. Keputusan ini langsung membangkitkan hantu kelaparan yang nyaris membekap lebih dari dua juta penduduk Gaza.
Keputusan sepihak itu diumumkan oleh Unit Koordinasi Kegiatan Pemerintah Israel di Wilayah Palestina (COGAT). Dalam pernyataannya, alasan penutupan dikaitkan dengan “operasi yang dimulai oleh militer Israel dan Amerika melawan Iran” pada Sabtu pagi. Dengan kata lain, konflik jarak jauh di Timur Tengah kini berdampak langsung pada perut dan kehidupan warga sipil di tepi Laut Tengah.
Ancaman Matinya Kehidupan
Penutupan ini bukan sekadar menghentikan lalu lintas orang dan barang. Di Gaza, yang telah menjalani bulan-bulan kelam di bawah blokade dan kelaparan selama perang sebelumnya, keputusan ini berarti penghentian total pasokan makanan, obat-obatan, air bersih, dan bahan bakar yang masuk. Wilayah yang infrastrukturnya sudah hancur ini hampir sepenuhnya bergantung pada apa yang masuk melalui perbatasan yang dikuasai Israel.
Di media sosial, gelombang kepanikan dan kemarahan warga Gaza pun merebak. Banyak yang melihat keputusan Israel ini sebagai upaya memanfaatkan kesibukan dunia yang tengah terfokus pada eskalasi di Iran. “Mereka mencari alasan apa pun untuk membuat kami kelaparan lagi,” tulis seorang pengguna. “Gaza terluka, dan setiap hari pendudukan memperdalam lukanya dengan penargetan dan pembunuhan, dan hari ini dengan menutup perbatasan sampai kehidupan di dalamnya mati.”
Seorang pengamat lain menyoroti ironi pahit ini. Sementara dunia menyoroti pergerakan militer dan jatuhnya para pemimpin, warga Gaza hanya bisa bertanya: Akankah hantu kelaparan kembali menyelimuti kami?
Ketika Gencatan Senjata Tak Lagi Berarti
Yang membuat situasi ini semakin mengerikan adalah fakta bahwa Gaza secara teknis masih dalam masa gencatan senjata. Kesepakatan yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025 lalu memang belum mampu memperbaiki kondisi kehidupan secara signifikan. Israel dituding kerap mengingkari komitmennya, termasuk dalam hal memasukkan jumlah makanan, bantuan medis, dan rumah kontainer yang disepakati. Kini, penutupan total menjadi pukulan telak yang membatalkan sisa-sisa harapan itu.
Kekhawatiran utama warga adalah: berapa lama ini akan berlangsung? Dengan tidak adanya kepastian dan dunia yang teralihkan perhatiannya, penutupan ini bisa berlarut-larut. Tumpukan kebutuhan pokok akan segera menipis, harga-harga akan melambung tak terjangkau, dan sistem kesehatan yang sudah sekarat akan kehabisan pasokan vital.
Bagi lebih dari dua juta jiwa yang terperangkap di wilayah sempit itu, perang antara Israel dan Iran yang terjadi ribuan kilometer jauhnya, telah secara diam-diam dan kejam mengubah hidup mereka menjadi perang baru: perang melawan kelaparan yang kembali mendekat.
Sumber: Al Jazeera





1 comment
Ditengah sibuknya isriwil perang melawan Iran, asa baiknya Ham*$ masuk menyerang isriwil