Sebuah kelompok aktivis memproyeksikan foto dan slogan terkait pemimpin politik Palestina yang dipenjara, Marwan Barghouti, di dekat Menara Eiffel, Paris, pada Sabtu malam. Aksi ini digelar untuk mendesak pembebasannya sekaligus menyoroti kondisi memprihatinkan yang dialami para tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.
Kampanye yang diprakarsai oleh para aktivis solidaritas di Prancis ini ditujukan langsung kepada Presiden Emmanuel Macron. Selain Barghouti, aksi tersebut juga menyuarakan nasib puluhan tahanan Palestina lainnya. Meskipun menyambut baik langkah Prancis yang mengakui negara Palestina pada September 2025 lalu, para aktivis menegaskan bahwa “pendudukan belum berakhir dan perdamaian masih jauh dari kenyataan.”
“Mari bersatu menyerukan pembebasan ‘Mandela-nya Palestina’—sosok pemimpin paling populer di Palestina yang menjadi simbol harapan bagi kemerdekaan dan perdamaian,” bunyi pesan dalam video kampanye berbahasa Prancis tersebut.
Aksi terbaru ini merupakan bagian dari gerakan berkelanjutan bertajuk “Freedom for Marwan, Freedom for Palestine”. Gerakan ini kian mendapat simpati serta dukungan luas dari berbagai tokoh internasional, pemimpin politik, hingga publik dunia, termasuk di Prancis sendiri.
Siapa Marwan Barghouti?
Barghouti (66 tahun), yang merupakan petinggi gerakan Fatah pimpinan Presiden Mahmoud Abbas, adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam kancah politik Palestina. Ia telah menjalani hukuman lima penjara seumur hidup sejak 2002 setelah dijatuhi vonis atas keterlibatannya dalam peristiwa Intifada Kedua yang bermula pada tahun 2000.
Pada hari Sabtu, mantan Duta Besar Israel untuk Prancis, Elie Barnavi, turut menyuarakan pembebasan Barghouti melalui kolom opini di surat kabar Prancis, Le Monde. Barnavi mengkritik keras perlakuan buruk terhadap Barghouti di bawah wewenang Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir.
Barnavi mengutip berbagai laporan yang menyebutkan bahwa Barghouti mengalami kelaparan, penyiksaan, penganiayaan fisik secara berkala, hingga penolakan akses medis secara sistematis.
“Di luar mobilisasi dukungan masyarakat, gerakan pembebasan yang kini dimulai di Prancis harus diwujudkan dalam tindakan diplomatik yang nyata. Waktu kita tidak banyak, karena nyawanya benar-benar terancam,” tulis Barnavi.
Dugaan Penyiksaan dan Isolasi Ketat
Media The New Arab melaporkan awal pekan ini bahwa Barghouti mengalami luka-luka dan pendarahan setelah seorang sipir penjara Israel diduga menembak kakinya dari jarak dekat menggunakan peluru karet, menurut keterangan pihak keluarga.
Awal bulan ini, kantor perwakilan Barghouti menyatakan bahwa otoritas Israel semakin memperketat kondisi sel isolasinya. Anggota Komite Sentral Fatah tersebut telah diasingkan di sel isolasi sejak November 2023 dan berulang kali dipindahkan ke berbagai fasilitas penjara lainnya.
Perkembangan ini terjadi di tengah ribuan warga Palestina yang masih mendekam di penjara-penjara Israel. Pihak penyelenggara kampanye menilai situasi ini diwarnai pelanggaran hak asasi manusia yang meluas—mulai dari penyiksaan, penahanan tanpa proses hukum (administrative detention), hingga kebijakan yang dinilai sebagai bagian dari sistem apartheid.
Berdasarkan data dari Israel Prison Service dan lembaga HAM seperti HaMoked, Israel menahan sekitar 9.300 tahanan politik dan keamanan Palestina per Juli 2026. Angka tersebut mencakup:
- 3.314 tahanan titipan yang masih menunggu proses peradilan.
- 3.244 tahanan administratif (ditahan tanpa dakwaan maupun persidangan).
- 1.320 orang yang dikategorikan oleh Israel sebagai “kombatan ilegal”.
Sumber: New Arab



