Al-Hayya, mantan wakil ketua Hamas dan satu dari lima anggota dewan kepemimpinan, memenangkan pemungutan suara internal tersebut, sebagaimana disampaikan Hamas dalam sebuah pernyataan resmi pada hari Senin. Peran Al-Hayya kian sentral pasca-terbunuhnya jajaran pimpinan tertinggi Hamas pada tahun 2024, termasuk Yahya Sinwar, komandan militer Mohammed Deif di Gaza, serta Ismail Haniyeh yang dibunuh saat berkunjung ke Tehran di tahun yang sama.
Menyusul gugurnya para pimpinan tersebut, al-Hayya menjadi satu dari lima tokoh yang memimpin dewan kepemimpinan Hamas, yaitu komite darurat beranggotakan lima orang yang dibentuk pada akhir 2024 untuk menjalankan roda organisasi di Gaza di tengah serangan brutal Israel.
Ia juga bertindak sebagai ketua negosiasi dari pihak Hamas saat kesepakatan gencatan senjata dengan Israel dicapai pada Oktober 2025. Kendati demikian, kesepakatan tersebut belum mampu menghentikan rentetan serangan mematikan dari pihak Israel di Gaza.
Al-Hayya sendiri sedikitnya telah dua kali menjadi sasaran upaya pembunuhan oleh pasukan Israel.
“Pemerintah Israel belum memberikan tanggapan resmi atas terpilihnya al-Hayya. Namun, di dalam negeri Israel, ia dijuluki sebagai sosok ‘garis keras’ yang secara garis politik lebih dekat ke Iran dibandingkan ke negara-negara Arab maupun Turki. Hal ini tentu memberi gambaran tentang ke mana arah pergerakan Hamas ke depannya,” laporkan Nour Odeh dari Al Jazeera di dekat Ramallah, Tepi Barat.
“Proses pemilihan ini sangat rumit. Butuh waktu berbulan-bulan hingga seluruh tahapan pemilu di internal Hamas selesai, mulai dari Tepi Barat, Gaza, di dalam penjara-penjara Israel, hingga di pengasingan, sebelum akhirnya berujung pada keputusan ini,” tambahnya.
Lahir di Jalur Gaza pada tahun 1960, al-Hayya telah menjadi bagian dari Hamas sejak organisasi ini berdiri pada 1987. Ia kemudian terpilih sebagai anggota parlemen Otoritas Palestina pada tahun 2006.
Perannya menjadi kian krusial di lini diplomasi, di mana ia banyak beroperasi dari Qatar, yang merupakan pusat mediasi utama dengan berbagai negara, termasuk Israel, Mesir, dan Amerika Serikat.
Keberadaannya di luar Gaza memungkinkannya untuk bergerak bebas dan berkoordinasi antarnegara tetangga tanpa terhalang blokade Israel. Al-Hayya juga memimpin delegasi Hamas dalam perundingan yang dimediasi pihak luar guna mengupayakan kesepakatan gencatan senjata di Gaza.
Keluarga al-Hayya turut menjadi korban berat dari serangan-serangan Israel. Empat anaknya tewas dalam rentetan serangan Israel selama bertahun-tahun. Pada perang 2014, serangan udara Israel meratakan rumah putra sulungnya, Osama, yang gugur bersama istri dan tiga anak mereka.
Sementara pada September tahun lalu, serangan Israel ke sebuah kompleks pemukiman di pusat kota Doha, Qatar, menewaskan lima orang, termasuk putranya yang bernama Humam.
Sumber: Al Jazeera



