TEHERAN, 12 Maret 2026 — Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengeluarkan pernyataan resmi pertamanya pada hari Kamis, mengancam akan membuka front baru yang belum pernah dihadapi musuh jika situasi perang saat ini berlanjut. Pernyataan ini disampaikan di tengah eskalasi konflik terbuka dengan koalisi Amerika Serikat-Israel yang telah memasuki minggu ketiga.
Dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa Iran “tidak akan ragu untuk membalas kejahatan yang dilakukan musuh,” secara khusus menyebut serangan terhadap Sekolah Minab yang menewaskan puluhan siswi sebagai salah satu alasan pembalasan.
Seruan Tutup Pangkalan AS dan Ancaman Selat Hormuz
Pemimpin baru Iran mengeluarkan serangkaian pernyataan keras yang menargetkan kehadiran militer AS di kawasan:
Penutupan Pangkalan AS: Khamenei merekomendasikan negara-negara tetangga untuk “segera menutup pangkalan-pangkalan Amerika” karena, menurutnya, dari sanalah “anak-anak rakyat kami terbunuh.”
Mobilisasi Semua Potensi: Ia menyerukan pengerahan semua kemampuan untuk menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi sepertiga perdagangan minyak dunia.
Penentuan Sikap Negara Tetangga: Khamenei meminta negara-negara di kawasan untuk menentukan sikap mereka terhadap para agresor dan “pembunuh anak-anak rakyat kami.”
“Front Perlawanan” dan Solidaritas Regional
Dalam pernyataannya, Khamenei menegaskan bahwa “front perlawanan adalah bagian tak terpisahkan dari nilai-nilai Revolusi Islam.” Ia berterima kasih kepada para pejuang front perlawanan dan menyatakan bahwa negara-negara dalam front tersebut adalah “sahabat terbaik” Iran.
Secara khusus, ia menyebut Hizbullah Lebanon sebagai pihak yang berkorban untuk membela Republik Islam meskipun menghadapi berbagai rintangan, dan memuji “Perlawanan Irak” yang dengan berani memilih jalan membela Iran.
Ancaman Front Baru dan Pesan ke Negara Tetangga
Ancaman paling signifikan dalam pernyataan tersebut adalah peringatan bahwa “jika situasi perang berlanjut, front-front akan diaktifkan di mana musuh tidak memiliki pengalaman.” Ini mengindikasikan kemungkinan perluasan konflik ke wilayah atau dimensi baru yang selama ini belum tersentuh.
Meskipun mengeluarkan ancaman keras, Khamenei juga menyatakan komitmen Iran untuk menjalin hubungan konstruktif dengan negara-negara tetangga. “Kami memiliki perbatasan dengan 15 negara dan kami selalu, dan masih, menginginkan hubungan yang konstruktif dengan mereka,” katanya. Ia menambahkan bahwa Iran siap sepenuhnya untuk membangun hubungan berdasarkan persahabatan dengan semua negara tetangga.
Pernyataan ini menandai awal era baru di bawah kepemimpinan Mojtaba Khamenei, yang mewarisi konflik terbuka dengan AS-Israel dan tantangan untuk menjaga persatuan internal serta aliansi regional di tengah tekanan perang yang semakin intensif.
Sumber: Al Jazeera




