Pendahuluan
Setiap orang yang diuntungkan oleh status quo akan berusaha mati-matian mempertahankannya. Mereka yang menjarah kekayaan bangsa bekerja untuk memalsukan kesadaran rakyat dan mencegah penyebaran ide-ide baru yang menawarkan solusi bagi krisis yang telah terakumulasi—krisis yang telah membentuk tragedi kemanusiaan global. Namun, pertanyaan yang kini mengemuka dengan kuat adalah: dapatkah stabilitas benar-benar dicapai?
Jawaban atas pertanyaan ini dapat membentuk pendekatan baru dalam meramalkan masa depan dan membangun proyek peradaban Islam. Dunia sangat membutuhkan proyek ini, di mana sistem nilai dan etika Islam menjadi fondasi utamanya.
Stabilitas Itu Ilusi, Umat Membutuhkan Perubahan
Sekalipun kita mengakui bahwa kekuatan brutal dapat memaksa bangsa-bangsa di dunia untuk tunduk dan patuh—sehingga tirani terus berkuasa di Selatan yang semakin miskin dan sengsara, sementara perusahaan-perusahaan kapitalis menjarah kekayaannya—apa hasil dari stabilitas semacam itu?
Hasil utamanya adalah terhentinya pemikiran, hilangnya kemampuan umat manusia menghadapi tantangan, terhentinya perjuangan untuk mencapai kemajuan dan membangun peradaban. Itu adalah awal dari kejatuhan dan kebinasaan. Stabilitas juga menyebabkan menurunnya kemampuan bangsa untuk berinovasi, menghasilkan ide-ide, melakukan perencanaan strategis, serta menemukan peluang, potensi, dan kekayaan.
Namun, untunglah bagi umat manusia, stabilitas adalah sesuatu yang mustahil. Peristiwa-peristiwa menunjukkan bahwa dunia akan menyaksikan perubahan yang dapat mempengaruhi setiap aspek kehidupan. Banyak negara bisa kehilangan kekuatan kerasnya, ekonomi mereka runtuh, dan rakyat mereka menghadapi kelaparan serta perang saudara—sementara di saat yang sama, negara-negara lain dapat bangkit membangun kekuatan mereka dengan ide-ide baru.
Dunia Baru… Tapi di Manakah Posisi Kita?
Ada kebenaran yang dapat disadari oleh mereka yang mengikuti peristiwa secara mendalam: bahwa dunia yang terbentuk selama abad ke-20 tidak lagi layak untuk bertahan dan berlanjut, betapapun kerasnya negara-negara besar yang menguasai Dewan Keamanan berusaha mempertahankannya. Peran PBB dalam menjaga perdamaian global semakin berkurang; ia tidak lagi mampu menghentikan perang dunia ketiga yang hampir menyala dan membakar tatanan global beserta seluruh ideologi yang mendasarinya.
Banyak negara yang tenggelam dalam utang. Akan tiba saatnya semua orang menyadari bahwa mereka tidak lagi mampu membayar utang-utang itu. Dengan kebangkrutan negara-negara ini, krisis ekonomi global akan semakin parah, dan mereka yang kelaparan akan bangkit melempari manifestasi kapitalisme dengan batu mereka. Hingga saat ini, tampaknya tidak ada jalan keluar dari menghadapi revolusi kaum lapar.
Oleh karena itu, pertanyaan yang perlu dijawab oleh para intelektual bebas adalah: Mungkinkah dunia terus berlanjut di mana tingkat kemiskinan mencapai lebih dari 80 persen penduduknya, termasuk jutaan orang di negara-negara yang kekayaannya dijarah oleh perusahaan-perusahaan kapitalis?
Kebencian rakyat terhadap Amerika dan Eropa semakin meningkat. Pemandangan di Afrika mengungkapkan fakta-fakta yang membantu kita meramalkan masa depan. Bangsa-bangsa yang menderita kemiskinan dan kelaparan ini tidak lagi begitu peduli dengan bentuk negara-bangsa seperti yang berkembang selama abad ke-20. Mereka tidak peduli untuk mempertahankan institusi-institusi mereka. Bahkan, mereka mulai memandang institusi-institusi tersebut sebagai alat yang digunakan kolonialisme untuk mengendalikan dan menindas rakyat. Karena itu, rakyat dapat mengarahkan batu mereka ke aparat keamanan yang digunakan para tiran untuk menindas yang terkait dengan kemiskinan, dan mungkin kemudian beralih ke lembaga peradilan, parlemen, dan media.
Dunia membutuhkan kepemimpinan baru yang menawarkan visi untuk menyelamatkan negara-negara dari stagnasi, kebekuan, kemiskinan, keterbelakangan, dan tirani. Kepemimpinan yang memimpin revolusi untuk mengubah realitas, membuka ruang bagi rakyat untuk mengekspresikan harapan mereka dengan bebas.
Para pemimpin perubahan menyadari bahwa kekuatan brutal menghancurkan negara-negara ketika digunakan untuk menindas rakyat dan mencegah mereka memilih wakil dan penguasa mereka secara bebas, untuk melindungi hak-hak mereka atas kemerdekaan yang menyeluruh. Namun, Barat yang sombong dan terbuai oleh kekuatannya tidak akan membiarkan kepemimpinan semacam itu ada, dan akan berupaya menjatuhkannya. Namun rakyat membutuhkan pemimpin yang menggunakan kebijaksanaan, prinsip, dan nilai untuk menghadapi risiko dan memanfaatkan kekuatan rakyat dalam membangun masa depan.
Nilai-nilai sebagai Sumber Kekuatan Masyarakat
Ada fenomena yang menarik perhatian Robert Pape, profesor ilmu politik di Universitas Chicago: bagaimana Hamas mampu mempertahankan basis populer-nya di Gaza meskipun menghadapi kerugian dan penderitaan yang dialami rakyat Palestina selama berbulan-bulan?
Dalam artikelnya di jurnal Foreign Affairs berjudul “Hamas Menang,” Pape mencoba membuka bidang ilmiah baru untuk mempelajari kekuatan negara dan membangun tolok ukur baru yang melampaui fokus pada kekuatan material. Ia ingin para perencana strategis menyadari pentingnya pemikiran, nilai-nilai, dan pengaruh terhadap rakyat serta opini publik.
Pape berpendapat bahwa setelah berbulan-bulan, Israel tidak mampu mengalahkan Hamas meskipun menggunakan kekuatan material. Israel menjatuhkan 70.000 ton bom di Gaza, menghancurkan lebih dari separuh bangunan, membunuh 37.000 orang, mencegah warga mendapatkan air, makanan, dan listrik, dan membawa semua penduduknya ke ambang kelaparan. Para pengamat menegaskan bahwa tentara pendudukan Israel tidak berpegang pada etika, tidak peduli dengan kehidupan penduduk Gaza, dan menganggap pembunuhan mereka dapat diterima dengan tujuan menghancurkan kekuatan Hamas.
Namun, berkat agresi Israel, Hamas menjadi lebih kuat, persis seperti gerakan perlawanan Vietnam menjadi lebih kuat karena operasi penghancuran yang dilakukan pasukan AS di Vietnam Selatan pada tahun 1966.
Pape menyajikan banyak bukti yang mendukung kesimpulannya. Meskipun mendapat pukulan keras, Hamas tetap kokoh, mampu mengembangkan taktik perang gerilya, dan para pejuangnya kembali ke sektor utara yang diklaim Israel telah berhasil melenyapkan mereka di sana.
Pape menyatakan, “Terbukti bahwa strategi Israel gagal total, sama seperti kegagalan strategi Amerika dalam Perang Vietnam. Kegagalan ini disebabkan oleh kesalahan dalam memahami sumber kekuatan Hamas. Israel gagal menyadari bahwa penggunaan kekuatan destruktif justru membuat musuhnya lebih kuat.”
Pape menambahkan bahwa selama berbulan-bulan, para analis berfokus pada jumlah pejuang Hamas yang tewas. Israel mengklaim telah membunuh 14.000 pejuang. Namun, fokus pada angka-angka membuat sulit untuk menilai kekuatan Hamas. Meskipun kehilangan jumlah itu, Hamas tetap menguasai Gaza. Ini berarti bahwa Hamas menikmati dukungan luar biasa dari warga yang memungkinkannya bergerak dan dengan mudah kembali ke daerah yang dikuasai tentara Israel.
Bahkan jika kita menerima perkiraan Israel tentang jumlah pejuang Hamas yang tewas, Hamas masih memiliki lebih banyak pejuang untuk merebut kembali daerah-daerah yang telah dikuasai tentara Israel dengan mengorbankan banyak tentaranya. Hamas mampu melanjutkan perang gerilya, mengembangkan senjatanya menggunakan bom yang tidak meledak dan mendaur ulangnya, serta dapat merekrut banyak pejuang baru dan mengandalkan warga untuk mendapatkan informasi intelijen.
Di sini kita harus mencari sumber kekuatan Hamas, yang menurut Pape, yang terpenting adalah kemampuannya untuk mendapatkan pendukung sukarela dari masyarakat lokal di masa depan.
Pape sampai pada kesimpulan terpenting: bahwa kekuatan Hamas tidak terbatas pada faktor material yang digunakan analis untuk menilai negara—seperti ukuran ekonomi, kekuatan militer, dan keunggulan teknologinya. Sumber kekuatan Hamas yang terpenting adalah kemampuannya untuk menarik generasi baru. Para pejuang ini siap mati untuk mencapai tujuannya.
Kemampuan Hamas untuk merekrut pejuang baru sudah mengakar. Ia mendapat dukungan dari masyarakat lokalnya, yang memungkinkannya mengembangkan sumber daya material dan manusianya. Ada banyak sukarelawan yang kehilangan keluarga dan teman-teman mereka, siap bergabung dengan Hamas, karena masyarakat merasa bahwa Hamas melindungi mereka dari agresi Israel.
Masyarakat setempat menganggap para pejuang yang menjadi sukarelawan untuk misi yang sangat berbahaya ini sebagai syuhada. Mereka menghargai, menghormati, dan memuliakan mereka, memberi mereka legitimasi dan bangga pada mereka. Pada saat yang sama, gerakan perlawanan melayani masyarakat lokal mereka dan bekerja di lembaga-lembaga sosial seperti sekolah, universitas, dan organisasi amal. Dengan demikian, gerakan-gerakan ini menjadi terintegrasi dalam masyarakat lokal mereka.
Kekuatan sejati Hamas—menurut Pape—adalah dukungan rakyat Palestina, yang memandang semua operasinya sebagai sah. Faktor ini lebih berpengaruh daripada kekuatan material. Agresi Israel justru menyebabkan peningkatan pendukung dan simpatisan Hamas, yang mengarah pada peningkatan kemampuannya untuk menarik banyak pejuang sukarelawan baru. Hamas menjadi kekuatan politik, sosial, dan militer yang tidak dapat dihilangkan.
Namun Israel tidak menyadari kenyataan ini. Tidak ada akhir untuk konflik di Gaza. Perang akan berlanjut, banyak warga Palestina akan mati, tetapi risiko yang dihadapi Israel akan semakin meningkat.
Pertanyaannya adalah: bagaimana Hamas mampu menjaga kohesi masyarakat Palestina dan menyatukannya di sekitar tujuannya? Mempelajari pengalaman ini menjelaskan kepada kita pentingnya prinsip dan nilai dalam menyatukan masyarakat, membangkitkan imajinasi pemuda, dan meningkatkan kemampuan mereka untuk berinovasi dan berkorban. Sistem nilai Islam yang ditanamkan Hamas dalam pikiran dan hati warga Palestina menjadi fondasi kekuatan dan pengelolaan pertempuran besar, serta pencapaian tujuan jangka panjang.
Oleh karena itu, mempelajari pengalaman ini dapat membuka cakrawala baru bagi kita untuk mengembangkan aspek-aspek kekuatan non-materi, yang terpenting adalah prinsip dan nilai, serta bagaimana menghubungkan nilai-nilai dengan visi, tujuan, dan mimpi. Ini meningkatkan kemampuan orang untuk berkorban, karena semua orang bangga dengan pengorbanan ini dan berpartisipasi dalam mewujudkan mimpi.
Kemampuan Hamas untuk menarik banyak sukarelawan semakin meningkat. Ada ribuan yang menunggu untuk bergabung dengan barisannya, dan mereka tahu betul bahwa ini adalah jalan pengorbanan, penebusan, dan kesyahidan. Sistem nilai Islam tidak diragukan lagi berperan dalam membangun basis populer Hamas dan dukungan rakyat untuknya. Ini adalah salah satu pelajaran terpenting yang dapat membuka cakrawala baru bagi para perencana perubahan dan studi masa depan.
Oleh karena itu, pertanyaan yang harus kita pikirkan jawabannya secara mendalam adalah: bagaimana kita dapat menggunakan budaya, pendidikan, dan pengajaran untuk menanamkan sistem nilai Islam sebagai dasar untuk menyatukan masyarakat dan meningkatkan kemampuannya dalam mencapai perubahan?
Peran Budaya dalam Menanamkan Nilai dan Menyatukan Masyarakat
Hal ini mengajukan pertanyaan baru: bagaimana nilai-nilai dapat ditanamkan dalam jiwa untuk berkontribusi pada peningkatan kekuatan individu dan masyarakat? Pengalaman Hamas menunjukkan pentingnya budaya dalam membangun sistem nilai. Selama bertahun-tahun, Hamas bekerja untuk membebaskan masyarakat Palestina dari ketergantungan budaya pada Barat, menghubungkan orang-orang dengan budaya Islam dan sistem nilainya yang berkontribusi pada pembentukan kepribadian yang khas bagi individu dan umat.
Ini membuka ruang untuk mengembangkan peran intelektual Muslim dalam menanamkan sistem nilai dan berpartisipasi dalam mencapai dan mengelola perubahan. Peristiwa-peristiwa sekarang membuka ruang bagi intelektual Muslim untuk mempresentasikan proyek peradaban mereka kepada dunia, yang sangat membutuhkan ide-ide baru yang berani yang memimpin bangsa menuju pembebasan dari kolonialisme dan tirani.
Intelektual Muslim Palestina yang tangguh telah memberi kita model penting tentang fungsi dan peran historis. Ia mampu memimpin revolusi pikiran, yang merencanakan dan berinovasi dalam menciptakan cara-cara untuk melawan pendudukan Israel, yang mengandalkan penggunaan kekuatan brutalnya untuk memusnahkan rakyat Palestina.
Perlawanan Palestina mengembangkan konsep “intelektual pejuang demi kebebasan” yang memiliki visi dan mimpi. Para pejuang ini mengembangkan budaya dan kemampuan mereka untuk mengekspresikan mimpi umat dalam membebaskan Palestina. Mereka berangkat dari keyakinan Islam mereka untuk mengubah realitas, dan menyerap pelajaran dari sejarah Islam, mengubahnya menjadi sumber kekuatan. Simbol-simbol membangkitkan imajinasi dan melepaskan energi manusia.
Jika kita mempelajari sejarah hidup para pemimpin perlawanan Islam di Palestina, kita akan menemukan bahwa mereka adalah intelektual. Mereka mengekspresikan isu mereka dalam bahasa Arab yang fasih, kuat, dan otentik yang mengagumkan. Pidato mereka menegaskan bahwa mereka adalah pemilik visi, mimpi, keyakinan, harapan, dan kemampuan untuk mencapai tujuan.
Yang terpenting dari model perlawanan Islam di Palestina adalah bahwa intelektual memimpin perubahan. Di dalam penjara Israel, para pejuang kebebasan ini mengembangkan budaya mereka, berinovasi, menghasilkan puisi dan novel, mengekspresikan perasaan kemanusiaan mereka, dan mempresentasikan visi mereka untuk membebaskan Palestina.
Dengan demikian, para pemimpin perlawanan Islam Palestina membuka cakrawala baru bagi intelektual Muslim untuk memimpin perubahan yang akan datang. Intelektual Muslim dapat berkreasi berdasarkan peradaban Islamnya, dan menghasilkan banyak ide baru. Ia adalah pejuang kebebasan yang layak mendapatkan kekaguman masyarakat, terutama mahasiswa universitas yang bercita-cita membangun masa depan.
Karena itu, intelektual Muslim harus bergerak untuk menjalankan fungsinya dalam membangun proyek peradaban baru, di mana membangun masyarakat berbasis pengetahuan menjadi salah satu fondasi terpentingnya. Ia harus menyadari bahwa Barat menggunakan setengah-orang bodoh untuk menghalanginya menjalankan peran ini.
Bisakah intelektual Muslim mengembangkan fungsi dan proyek peradaban mereka sambil menghadapi penjara, pengasingan, perburuan, penganiayaan, dan pemecatan? Intelektual Muslim di Palestina telah memberikan jawaban yang jelas: mereka keluar dari penjara Israel untuk memimpin pertempuran pembebasan.
Ini berarti bahwa salah satu elemen terpenting dari gerakan perubahan yang akan datang adalah pengembangan fungsi peradaban intelektual Muslim yang dapat menanamkan sistem nilai Islam dalam jiwa masyarakat dengan menyajikan kisah-kisah kemanusiaan para pahlawan yang bersikeras berpegang pada nilai-nilai ini, berjuang untuk mewujudkannya, dan menggunakannya untuk mengubah realitas.
Apa Hubungan antara Perubahan dan Ketidakadilan?
Perasaan tidak adil adalah salah satu penyebab terpenting yang mendorong masyarakat untuk melakukan revolusi guna mengubah realitas mereka. Ibnu Khaldun memandang ketidakadilan sebagai salah satu faktor pendorong perubahan yang paling penting. Karena itu, ia memperingatkan penguasa agar tidak menindas rakyatnya, dan menegaskan bahwa ketidakadilan mempengaruhi struktur dan kohesi masyarakat, serta menyebabkan hancurnya tatanannya, karena ketidakadilan adalah pertanda kehancuran pembangunan. Hal ini mendorong anggota masyarakat untuk menuntut perubahan, sementara keadilan adalah fondasi berdirinya negara dan keberhasilan kebijakan penguasa.
Karena ketidakadilan menyebabkan memburuknya kondisi negara dan kemundurannya, yang berdampak negatif pada masyarakat, maka tuntutan perubahan pun dimulai. Ibnu Khaldun berpendapat bahwa kepentingan rakyat terhadap penguasa tidak terletak pada penampilannya yang baik, kebesaran tubuhnya, atau ketampanan wajahnya. Kepentingan rakyat yang sebenarnya terhadap penguasa adalah penegakan hukum, kebijakan dengan keadilan dan kejujuran, serta menjauhi ketidakadilan dan kelaliman.
Ibnu Khaldun menekankan bahwa jika penguasa ingin kebijakannya berhasil, ia harus memikat hati rakyat dengan kelembutan, tidak menjadi pemaksa yang kejam, dan hukuman harus untuk reformasi, bukan balas dendam.
Ada hubungan kuat antara ketidakadilan dan kemewahan. Ibnu Khaldun melukiskan gambaran suram tentang keadaan negara setelah anggota penguasa dan rombongan mereka tenggelam dalam kemewahan. Pengeluaran mereka meningkat, sehingga orang miskin binasa sementara orang yang bermewah-mewahan menghabiskan pemberiannya untuk kemewahan mereka. Dengan cara ini, kemewahan menjadi perusak moral, karena jiwa dengan kemewahan diwarnai dengan warna-warna kejahatan dan kefasikan. Ini tentu saja akan menyebabkan hilangnya keutamaan.
Dengan demikian, kebiasaan berkuasa dan kekayaan menghilangkan banyak kebajikan yang diperlukan, yang mempengaruhi tatanan sosial dalam negara, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
وَإِذَآ أَرَدْنَآ أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا۟ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا ٱلْقَوْلُ فَدَمَّرْنَـٰهَا تَدْمِيرًۭا
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu, tetapi mereka melakukan kedurhakaan di dalamnya, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra’: 16)
Kemewahan menjerumuskan negara ke dalam kemerosotan ekonomi sebagai akibat dari pemborosan kenikmatan. Hal ini memaksa para pengelolanya untuk menggunakan cara-cara ilegal untuk mendapatkan uang, termasuk melipatgandakan pemungutan pajak dan memberlakukan bea masuk untuk menutupi tuntutan kemewahan para elit penguasa. Semua ini berkontribusi untuk menghasut opini publik dan menciptakan alasan untuk memberontak melawan kekuasaan dan memulai perubahan.
Perubahan dan Kekuatan Moral
Apa hubungan antara perubahan, nilai, dan moral? Kita dapat menemukan jawaban atas pertanyaan ini pada Imam Syahid Hasan al-Banna. Ia mengatakan:
“Bangsa yang bangkit sangat membutuhkan akhlak—akhlak yang mulia, kuat, dan kokoh—serta jiwa yang besar, luhur, dan bercita-cita tinggi. Karena mereka akan menghadapi tuntutan zaman baru yang tidak dapat dicapai kecuali dengan akhlak yang kuat dan jujur, yang bersumber dari keimanan yang mendalam, keteguhan yang kokoh, pengorbanan yang besar, dan kesabaran yang luar biasa. Dan hanya Islam yang dapat membentuk jiwa yang sempurna ini. Islam-lah yang menjadikan perbaikan dan penyucian jiwa sebagai fondasi keberuntungan, sebagaimana firman-Nya:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا
‘Sungguh beruntung orang yang menyucikannya’ (QS. Asy-Syams: 9)
Dan Dia menjadikan perubahan kondisi umat tergantung pada perubahan akhlak dan perbaikan jiwa mereka, sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ
‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri’ (QS. Ar-Ra’d: 11).”*
Sayyid Qutb menjelaskan dalam tafsirnya atas ayat “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11), bahwa Allah tidak mengubah kenikmatan atau penderitaan, tidak mengubah kemuliaan atau kehinaan, tidak mengubah kedudukan atau kerendahan, kecuali setelah manusia mengubah perasaan, amal, dan realitas hidup mereka. Maka Allah mengubah keadaan mereka sesuai dengan apa yang terjadi pada jiwa dan amal mereka. Ini adalah kebenaran besar yang menempatkan beban berat pada manusia. Telah menjadi ketetapan kehendak Allah dan sunnah-Nya bahwa kehendak Allah terhadap manusia bergantung pada tindakan manusia itu sendiri.
Sayyid Qutb juga menafsirkan ayat:
ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًۭا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Al-Anfal: 53)
Di satu sisi, ini menetapkan keadilan Allah dalam memperlakukan hamba-Nya; Dia tidak mencabut nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka kecuali setelah mereka mengubah niat, mengganti perilaku, membalikkan keadaan, dan layak untuk diubah keadaannya dari nikmat yang diberikan kepada mereka sebagai ujian dan cobaan, yang tidak mereka hargai dan tidak mereka syukuri. Di sisi lain, ini memuliakan makhluk manusia dengan kemuliaan yang sebesar-besarnya, ketika menjadikan takdir Allah terlaksana dan berjalan melalui gerakan dan amal manusia. Dan menjadikan perubahan takdir dalam kehidupan manusia didasarkan pada perubahan nyata dalam hati, niat, perilaku, amal, dan keadaan yang mereka pilih untuk diri mereka sendiri. Di sisi ketiga, ini menempatkan beban berat—sebanding dengan kemuliaan besar—pada makhluk ini. Ia memiliki kemampuan untuk mempertahankan nikmat Allah atasnya dan untuk menambahnya, jika ia tahu dan bersyukur; dan ia juga memiliki kemampuan untuk menghilangkan nikmat ini darinya jika ia mengingkari dan sombong, serta niatnya menyimpang sehingga langkahnya pun menyimpang.
Konsep Tazkiyah dalam Islam sebagai Fondasi Sistem Nilai
Konsep tazkiyah membentuk fondasi bagi proses perubahan menyeluruh dalam masyarakat Arab. Konsep ini muncul pertama kali dalam Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah:
رَبَّنَا وَٱبْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًۭا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَـٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ
“Ya Tuhan kami, utuslah di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah, dan menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 129)
Mengapa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam doanya menghubungkan antara tazkiyah, tilawah ayat, dan pengajaran Kitab dan Hikmah? Hubungan ini dapat membuka cakrawala baru bagi kita untuk meneliti makna konsep ini dan menggunakannya sebagai dasar untuk membangun masyarakat Islam dan umat Islam, serta mempersiapkan individu untuk menjadi anggota yang aktif dalam masyarakat ini.
Kemudian konsep ini muncul lagi dalam Surah Al-Baqarah (ayat 151):
كَمَآ أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًۭا مِّنكُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْكُمْ ءَايَـٰتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُوا۟ تَعْلَمُونَ
“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul dari kalanganmu sendiri, yang membacakan kepadamu ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah, dan mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 151)
Kemudian dalam Surah Ali Imran (ayat 164):
لَقَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًۭا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَـٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَـٰلٍۢ مُّبِينٍۢ
“Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sungguh, sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imran: 164)
Kemudian dalam Surah Al-Jumu’ah (ayat 2):
هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّـۧنَ رَسُولًۭا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَـٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَـٰلٍۢ مُّبِينٍۢ
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sungguh, sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah: 2)
Dalam cahaya ayat-ayat ini, kita dapat menemukan bahwa hubungan antara konsep tazkiyah dan tilawah ayat-ayat Allah serta pengajaran Kitab dan Hikmah adalah suatu keharusan untuk memahami konsep ini.
Tilawah Ayat-ayat Allah: Fondasi Tazkiyah
Tilawah ayat-ayat Allah bagi seorang mukmin adalah ibadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Ibadah kepada Allah adalah fondasi peradaban Islam; ia adalah peradaban yang menyembah Allah. Karena itu, kreativitas seniman dan arsitek Muslim dalam membangun, menghias, dan membentuk terkait dengan ibadah kepada Allah, bahkan dalam membangun rumah sekalipun.
Ibadah kepada Allah telah mengilhami semua mukmin yang membangun peradaban Islam dengan banyak ide. Para ilmuwan Muslim menggunakan metode ilmiah dengan cara yang meningkatkan keimanan karena mereka bertujuan untuk menemukan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta, dan menggunakan nikmat Allah yang dianugerahkan kepada umat manusia untuk menciptakan sarana dan metode yang mengarah pada kemudahan hidup dan kebahagiaan manusia, sehingga mereka dapat menikmati kebaikan dan nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka dengan kemurahan dan rahmat-Nya. Oleh karena itu, ibadah kepada Allah adalah fondasi pembangunan peradaban Islam.
Tilawah ayat-ayat membuat hati berinteraksi dan merespons, sehingga hati terhubung dengan Allah. Ini adalah kehidupan bagi hati, nurani, dan jiwa. Mukmin hidup dengan ayat-ayat ini; telinga merasakan keindahan suara, dan perasaan mengungkap keindahan makna. Mukmin tidak menerima pengetahuan hanya dengan akalnya; akal memiliki keterbatasan, sehingga hati adalah sumber utama pengetahuan. Hati dapat menemukan makna yang tidak dapat dipahami oleh akal.
Tilawah ayat membangkitkan perasaan dan emosi manusia, yang merupakan sumber pengetahuan, dan yang dapat memberikan keindahan dan daya tarik pada pengetahuan. Suara manusia adalah salah satu sumber keindahan terpenting, sehingga banyak suara-suara indah muncul dalam tilawah Al-Qur’an, dan suara-suara itu membawa kebahagiaan bagi jiwa.
Keindahan suara manusia dalam tilawah terkait dengan apresiasi, yang merupakan bidang luas untuk mengembangkan ilmu-ilmu seperti retorika. Apresiasi adalah sarana penting untuk penemuan. Oleh karena itu, tilawah Al-Qur’an mengarah pada peningkatan apresiasi manusia, dan kemampuan manusia untuk memahami dan menikmati makna.
Dalam cahaya ini, kita dapat memahami apa yang dikatakan Al-Walid bin Al-Mughirah: “Sesungguhnya ia memiliki kemanisan, dan sesungguhnya ia memiliki keindahan, dan sesungguhnya puncaknya berbuah, dan sesungguhnya ia mengungguli dan tidak dapat diungguli.” Orang ini adalah ahli puisi, prosa, dan bahasa Arab. Dengan keahliannya, ia mengetahui bahwa ini bukanlah puisi, bukan prosa, dan bukan perkataan manusia. Orang ini mampu mengapresiasi bahasa Arab; karena itu ia menemukan keindahan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, dan mengetahui kemanisan serta keindahannya.
Mukmin dapat menemukan keindahan bahasa Arab, kemanisannya, dan kemampuannya untuk mengekspresikan makna ketika ia mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan demikian, apresiasi meningkat, kemampuan untuk mengapresiasi dan menemukan keindahan makna meningkat, ia jatuh cinta pada penggunaan kata-kata indah, dan ia enggan menggunakan kata-kata kotor dan rendah yang tidak pantas bagi seorang mukmin. Kelancaran, kefasihan, kemampuan berekspresi, dan penggunaan kata-kata indahnya pun meningkat.
Ayat-ayat Allah mengajarkan kita untuk mengapresiasi keindahan dalam bahasa, di bumi, dan di alam semesta, untuk menikmati keindahan hidup. Apresiasi adalah fondasi terpenting dari kreativitas, inovasi, pembangunan peradaban, dan penemuan keindahan dalam segala sesuatu di alam semesta.
Dalam cahaya ini, kita dapat menjelaskan mengapa Muslim peduli untuk memperindah kota-kota Islam dengan gaya yang didasarkan pada harmoni, dan mengapa penduduk Andalusia, misalnya, peduli untuk membangun taman dan menjadikannya bagian dari rumah. Dengan demikian, kecintaan pada keindahan suara manusia saat melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an terkait dengan kecintaan pada keindahan di alam semesta, dan upaya untuk memperindah kota serta peduli pada kesucian dan kebersihan pakaian dan tubuh.
Tilawah ayat-ayat Al-Qur’an adalah salah satu fondasi terpenting di mana peradaban Islam dibangun, yang mengarah pada peningkatan apresiasi manusia dan kemampuan untuk mengapresiasi di semua bidang, mulai dari bahasa hingga arsitektur.
Tilawah ayat-ayat Al-Qur’an adalah yang mempersiapkan mukmin untuk membawa pengetahuan kepada umat manusia, dan untuk berinteraksi dengan orang lain dengan cinta, kasih sayang, apresiasi, dan kesopanan. Hati yang disucikan oleh tilawah ayat-ayat Al-Qur’an membawa cinta untuk semua manusia, dan bekerja untuk menyelamatkan mereka dari kesesatan dan perbudakan kepada selain Allah. Karena itu, hati menjadi mampu mengajar manusia dan meningkatkan kemampuan mereka untuk memahami. Ini berarti bahwa tilawah ayat-ayat Al-Qur’an adalah fondasi untuk pendidikan dan transfer pengetahuan. Al-Qur’an adalah sumber pengetahuan, dan pada saat yang sama adalah sumber kehidupan hati dan jiwa. Oleh karena itu, Muslim mentransfer pengetahuan kepada umat manusia dengan hati, lisan, dan pena mereka, menggunakan semua sarana dan jenis komunikasi.
Tilawah Al-Qur’an menghidupkan hati nurani yang membuat manusia berkomitmen pada etika. Ada masalah dalam peradaban Barat modern: orang tidak berkomitmen pada etika karena etika secara alami harus dipatuhi oleh manusia secara sukarela dan opsional. Artinya, tidak ada hukuman yang dapat dijatuhkan kepada seseorang jika ia melanggar etika ini, dan tidak ada imbalan yang dapat ia terima ketika ia mematuhinya. Oleh karena itu, tidak ada cara untuk mendorong orang berkomitmen pada etika selain membangkitkan hati nurani untuk mengamati perilaku manusia, dan membuatnya berkomitmen pada etika berdasarkan hati nurani yang mengawasi manusia dan mencegahnya melanggar etika.
Mukmin yang membaca ayat-ayat Al-Qur’an takut kepada Allah dan mengharap keridhaan-Nya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk meridhai Allah dan meraih surga. Karena itu, kerinduan hati kepada surga meningkat ketika mereka mendengarkan ayat-ayat yang menggambarkan surga. Kita dapat mengamati ini dengan jelas di masjid-masjid dan acara-acara: ketika qari sampai pada ayat-ayat tersebut, perhatian dan interaksi pendengar meningkat, karena ayat-ayat itu menggerakkan kerinduan hati dan jiwa mereka kepada surga.
Dalam cahaya ini, kita dapat mencapai solusi untuk masalah ketidakpatuhan terhadap etika, kurangnya imbalan bagi manusia, dan kurangnya rasa takut akan hukuman. Jiwa yang suci yang takut kepada Allah dan bekerja untuk meridhai-Nya tidak membutuhkan imbalan selain dari Allah, dan tidak takut selain dari siksa-Nya. Dalam cahaya ini, kita dapat menjelaskan komitmen mukmin saat mereka membangun peradaban Islam dan mentransfer pengetahuan, ilmu, dan kebijaksanaan kepada umat manusia dengan sistem etika Islam.
Tilawah ayat-ayat Al-Qur’an dengan penuh cinta meningkatkan keberanian mukmin. Keberanian adalah fondasi etika, dan yang mendorong mukmin untuk berkomitmen pada etika. Hati yang kuat dan berani adalah yang mampu menyatakan kebenaran, membelanya, memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran, dan mentransfer pengetahuan yang benar kepada umat manusia, tanpa menyembunyikan perintah Allah, seperti yang dilakukan para ahli kitab Bani Israil.
Ini membuat kita memahami keteguhan dan kekuatan para ilmuwan dalam membela kebenaran, memerangi kebatilan, dan menanggung bahaya, kerusakan, pengasingan, dan pembunuhan untuk menyampaikan pesan mereka kepada manusia. Dengan demikian, cahaya kebenaran bersinar bagi umat manusia dari hati dan jiwa yang disucikan oleh tilawah ayat-ayat Allah, yang dipenuhi dengan kekuatan, kemuliaan, dan keberanian; sehingga mereka menjadi layak untuk membela kebenaran, melindungi manusia dari kesesatan, kepalsuan, dan penyimpangan, serta mentransfer pengetahuan kepada mereka dan mengajari mereka Kitab dan Hikmah.
Dalam cahaya ini, kita dapat memahami makna bahwa tilawah ayat-ayat Allah ditempatkan di peringkat pertama sebagai fondasi untuk tazkiyah jiwa, hati, dan ruh. Ini adalah fondasi untuk tazkiyah perilaku manusia, menghidupkan hati nurani, komitmen mukmin pada sistem etika Islam, dan pelaksanaan hati yang suci, kuat, dan berani dalam mentransfer pengetahuan kepada umat manusia.
Di masjid Rasulullah ﷺ, ribuan mukmin dipersiapkan untuk mentransfer pengetahuan kepada umat manusia, dan mengajar manusia Kitab dan Hikmah. Karena itu, mereka berangkat ke bumi Allah yang luas untuk mengajar manusia Kitab dan Hikmah. Masjid Rasulullah adalah masyarakat berbasis pengetahuan pertama yang dikenal umat manusia, di mana mukmin menganggap pengetahuan sebagai kekayaan terbesar, karena dengan pengetahuan mereka membangun peradaban, dan mempengaruhi jiwa dan hati manusia. Oleh karena itu, ketekunan mukmin untuk belajar, mengajar, berkomunikasi, memahami, dan menerapkan menjadi nyata.
Umat manusia membutuhkan jiwa-jiwa yang disucikan oleh Al-Qur’an, yang apresiasinya meningkat dan keberaniannya bertambah, untuk membangun kembali masyarakat berbasis pengetahuan Islam. Umat manusia juga membutuhkan hati nurani yang dihidupkan oleh tilawah ayat-ayat Al-Qur’an untuk menghidupkan kembali sistem etika Islam sebagai fondasi untuk memerangi kebatilan, kepalsuan, penipuan, dan penyesatan yang telah memenuhi dunia dengan kezaliman, kegelapan, kemiskinan, dan kebodohan.
Pengajaran Kitab dan Hikmah
Konsep tazkiyah dalam ayat-ayat sebelumnya terkait dengan pengajaran Kitab dan Hikmah. Jika tilawah ayat-ayat Al-Qur’an telah memainkan perannya dalam tazkiyah jiwa, maka jiwa, hati, ruh, dan nurani telah menjadi layak untuk belajar, memahami, dan menerapkan. Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada umat manusia dengan mengutus Rasul-Nya yang mengajar ribuan mukmin Kitab dan Hikmah, agar mereka dapat menyampaikan Kitab ini, yang merupakan fondasi pengetahuan, kepada umat manusia. Dengan pengetahuan ini, umat manusia dapat mencapai tingkat hikmah, dan membangun masyarakat hikmah sebagai tahap lanjutan dari masyarakat pengetahuan.
Ini tidak berarti bahwa membangun masyarakat pengetahuan harus mendahului masyarakat hikmah, tetapi itu berarti bahwa dalam masyarakat pengetahuan, manusia meningkat dalam apresiasi, perilaku, pemikiran, dan keputusan mereka ke tingkat hikmah.
Jiwa yang disucikan oleh tilawah ayat-ayat Allah, ibadah kepada Allah, takut kepada Allah, dan yang tujuan utamanya adalah untuk meridhai Allah, telah menjadi mampu untuk mempelajari Kitab, membangun peradaban dengannya, dan memimpin umat manusia untuk mengenal Allah dan menemukan rahasia alam semesta.
Sebagaimana jiwa dan hati meningkat dalam kesucian, pemahaman mereka terhadap Kitab pun meningkat. Allah membukakan pengetahuan bagi mereka, mereka menemukan makna-makna, dan mereka mampu menerapkan hukum-hukum dalam situasi yang berbeda.
Tazkiyah adalah syarat utama untuk memahami Kitab. Ada banyak ilmuwan yang berhasil meraih gelar akademik tinggi, dan banyak ilmuwan mengakui kemampuan mereka dalam menerapkan metode ilmiah, namun Allah tidak membukakan pemahaman makna bagi mereka. Oleh karena itu, kualifikasi akademik adalah suatu keharusan, tetapi ada kebutuhan untuk kualifikasi psikologis, dan mempersiapkan hati, jiwa, dan nurani untuk meluncurkan ayat-ayat Allah dalam kehidupan—pemahaman, amal, dan penerapan—sehingga ayat-ayat ini menjadi fondasi bagi pembangunan kehidupan, peradaban, dan kekuatan.
Oleh karena itu, pemahaman ayat-ayat Allah adalah karunia dan rahmat dari Allah yang dianugerahkan kepada hati yang suci yang menyembah Allah dan tidak takut kepada selain-Nya. Ibadah kepada Allah memenuhi jiwa yang suci dengan keberanian, sehingga kemampuan mereka untuk menyatakan kebenaran dan membelanya meningkat.
Hati dan akal yang suci adalah yang mampu menjelaskan kepada manusia, dan tidak menyembunyikan kebenaran dari mereka. Allah telah memperingatkan kita dari perbuatan ahli kitab:
وَإِذْ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَـٰقَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَـٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهُۥ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُۥ فَنَبَذُوهُ وَرَآءَ ظُهُورِهِمْ وَٱشْتَرَوْا۟ بِهِۦ ثَمَنًۭا قَلِيلًۭا ۖ فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ
“Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari orang-orang yang telah diberi Kitab, ‘Hendaklah kamu menerangkannya kepada umat manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya.’ Lalu mereka melemparkannya ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga yang murah. Maka seburuk-buruknya jual beli yang mereka lakukan.” (QS. Ali ‘Imran: 187)
Oleh karena itu, hati dan akal membutuhkan tazkiyah untuk mampu menjelaskan kebenaran kepada manusia dan tidak menyembunyikannya untuk dijual dengan harga yang murah, seperti yang dilakukan ahli kitab. Dalam cahaya ini, kita dapat memahami bagaimana tilawah Al-Qur’an yang menyucikan jiwa adalah syarat utama untuk pemahaman, penjelasan, deklarasi kebenaran, pembelaannya, dan tidak menyembunyikan pengetahuan.
Umat manusia memiliki hak atas setiap mukmin yang mempelajari Kitab dan Hikmah di masjid Rasulullah untuk memberikan yang terbaik dan terindah yang ia miliki, yaitu pengetahuan. Ini berarti bahwa hak setiap orang atas pengetahuan adalah hak asli dalam Islam yang harus dilakukan oleh setiap Muslim, oleh masyarakat Muslim, dan oleh umat Muslim. Hak ini adalah fondasi peradaban; tanpa pengetahuan, umat manusia tidak dapat maju dan kehidupan mereka tidak akan memiliki makna.
Dalam cahaya ini, tazkiyah adalah awal dari pelaksanaan peran peradaban individu dalam mendidik umat manusia dan mentransfer pengetahuan yang telah kita pelajari kepada manusia. Umat Islam memiliki kekayaan pengetahuan yang luar biasa, dan peran historis, peradaban, dan kemanusiaannya adalah untuk mentransfer pengetahuan ini kepada umat manusia, sehingga mereka dapat memperbaiki kehidupan mereka dan memecahkan masalah mereka.
Islam dan Perubahan yang Akan Datang
Ada banyak indikasi bahwa dunia akan menyaksikan perubahan menyeluruh dalam dekade ini. Namun kita akan fokus di sini pada fakta bahwa peradaban Barat mengalami kebangkrutan moral total yang mendorongnya menuju kejatuhan. Liberalisme sekuler telah memaksa orang untuk memutuskan hubungan mereka dengan moral, terutama yang menjaga institusi keluarga yang merupakan fondasi masyarakat. Liberalisme juga mendorong pornografi, disintegrasi, dan penyimpangan seksual. Biden pun membanggakan bahwa Amerika adalah negara pertama yang mengakui pernikahan sesama jenis.
Banyak peristiwa menunjukkan bahwa ketidakpatuhan terhadap moral dapat mendorong dunia menuju krisis ekonomi global. Perusahaan menipu warga, mendorong mereka ke dalam pemborosan, kemewahan, dan kesombongan, dan menjarah tabungan mereka, yang mengancam penyebaran kemiskinan, penderitaan, dan ketidakbahagiaan.
Di negara-negara Selatan yang miskin, kolonialisme menjarah kekayaan rakyat, dan rezim-rezim Barat bersekutu dengan rezim-rezim otoriter untuk mencegah rakyat menginvestasikan kekayaan mereka dalam mencapai kemajuan. Kemiskinan yang terkait dengan ketidakadilan pun meningkat.
Oleh karena itu, seluruh umat manusia membutuhkan Islam untuk menyelamatkannya dari ketidakadilan yang terkait dengan kemiskinan, penderitaan, kesengsaraan, kelaparan, dan perang saudara. Kita juga dapat menambahkan bahwa Proyek Pencerahan Eropa telah gagal, dan menjadi salah satu penyebab utama keadaan ketidakadilan umum yang diderita masyarakat. Proyek ini adalah penutup ideologis untuk kolonialisme. Komunisme juga runtuh dengan semua aplikasinya, baik yang moderat maupun ekstrem.
Oleh karena itu, tidak ada lagi kemungkinan bagi bangsa-bangsa di dunia kecuali mencari jalan untuk membuka ruang perubahan. Tidak ada ideologi yang dapat menjadi fondasi untuk perubahan ini. Ini merupakan peluang bagi Islam untuk memimpin perjuangan rakyat melawan kolonialisme dan tirani.
Dunia Islam dan Kehendak untuk Berubah
Adapun umat Islam, mereka menderita keadaan ketidakadilan umum yang dimulai pada akhir abad kedelapan belas dan berlanjut hingga sekarang. Salah satu konsekuensi terpentingnya adalah penindasan rakyat, pencegahan mereka dari memilih penguasa dan wakil mereka, dan pendirian sistem demokrasi mereka. Negara-negara kolonial Barat menggunakan semua cara penipuan dan pemalsuan untuk menyesatkan bangsa-bangsa Islam dan memaksakan kolonialisme budaya pada mereka.
Oleh karena itu, seluruh dunia Islam sangat membutuhkan perubahan. Realitas yang dijalani Muslim terkait dengan keterbelakangan dan kemiskinan, meskipun ada banyak kekayaan di tanah negara-negara Islam yang dapat berkontribusi pada pembangunan kekuatan negara-negara Islam di semua bidang.
Perubahan pasti akan dimulai dalam beberapa tahun ke depan. Tetapi bagaimana kita dapat mengelolanya?
Kita harus mendidik masyarakat tentang pentingnya dan perlunya perubahan sebagai dasar untuk membangun masa depan, dan menghadapi propaganda kekuasaan yang didasarkan pada keamanan dan stabilitas. Tidak ada keamanan dan stabilitas di bawah penindasan dan pemiskinan rakyat.
Perubahan terkait dengan harapan dan mimpi, dan pencapaian tujuan-tujuan besar seperti pembebasan Palestina.
Menanamkan sistem nilai Islam dalam jiwa masyarakat adalah salah satu fondasi terpenting yang menjaga kohesi masyarakat selama proses perubahan.
Kita harus menggunakan semua sarana media, budaya, dan dakwah untuk memperkuat sistem nilai Islam, dan meyakinkan orang akan pentingnya nilai-nilai tersebut untuk menjaga kohesi masyarakat.
Dengan demikian, kita dapat membentuk basis populer bagi para pemimpin perubahan, dan mendorong masyarakat untuk melindungi dan membela mereka.
Sistem Nilai Islam
Sistem nilai Islam apa yang harus kita tanamkan dalam jiwa masyarakat, dan gunakan dalam mengelola perubahan, dan dalam meningkatkan kemampuan masyarakat untuk membangun masa depan mereka?
Sebelum kita menyajikan sistem ini, harus ditegaskan bahwa ia terkait dengan pengetahuan. Dari mempelajari pengalaman Rasulullah ﷺ di Madinah, menjadi jelas kekuatan hubungan antara pengetahuan, nilai, dan moral. Muslim berkomitmen pada sistem ini ketika ia tahu, belajar, dan kesadarannya meningkat. Oleh karena itu, harus ditegaskan bahwa hak manusia atas pengetahuan adalah pendahuluan bagi komitmen masyarakat terhadap sistem nilai dan etika ini. Hak untuk memperoleh pengetahuan adalah salah satu hak terpenting yang harus kita perjuangkan untuk dilindungi. Pemalsuan kesadaran dan penyesatan masyarakat terkait dengan ketidaktahuan mereka. Meninjau pengalaman revolusi Mesir dan masa pemerintahan Presiden Muhammad Mursi memperjelas hal ini; mereka yang dimanipulasi emosinya adalah mereka yang menjadi sasaran penyesatan, dan tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Dominasi kekuatan kapitalis yang terkait dengan kolonialisme dan tirani memainkan perannya dalam menyesatkan orang dan memanipulasi emosi dan sikap mereka menggunakan media.
Oleh karena itu, kita harus berpikir untuk mengembangkan sarana untuk menyediakan pengetahuan bagi publik, dan menanamkan sistem nilai Islam dalam jiwa.
Nilai dan Keyakinan akan Kemenangan
Mempelajari sirah Rasulullah ﷺ menunjukkan kepeduliannya untuk menanamkan keyakinan akan kemenangan Allah, perasaan harapan, dan kemampuan untuk mencapai tujuan dalam jiwa para sahabatnya. Keyakinan akan kemenangan Allah adalah salah satu penyebab kemenangan yang paling penting.
Dapat diamati bahwa salah satu tujuan terpenting kolonialisme budaya adalah menghancurkan keyakinan umat pada dirinya sendiri dan pada kemampuannya untuk mencapai kemenangan. Ini adalah salah satu penyebab terpenting kekalahan psikologis yang diderita umat, yang menyebabkan banyak kekalahan dan keterbelakangan. Rezim otoriter juga bekerja untuk menghancurkan keyakinan umat pada dirinya sendiri melalui pembicaraan terus-menerus tentang kekuatan musuh, kekuatan aparat keamanan, dan penggunaan kekuatan brutal.
Oleh karena itu, menanamkan nilai keyakinan akan kemenangan Allah dan kemampuan umat untuk mencapai perubahan membuka ruang bagi masyarakat untuk menghadapi tirani, dan mengurangi ketakutan akan kekuatan brutal. Ada juga kebenaran yang dijelaskan oleh studi sejarah: orang yang putus asa tidak menciptakan masa depan; mereka tunduk pada realitas dan menyerah pada tirani.
Mengembalikan harapan ke dalam jiwa masyarakat meningkatkan kemampuan mereka untuk memilih pemimpin yang menawarkan visi ambisius, yang didasarkan pada pencapaian kemerdekaan menyeluruh.
Kebebasan, Nilai, dan Kehendak untuk Berubah
Pembatasan kebebasan umum adalah salah satu penghalang terpenting bagi perubahan. Perubahan membutuhkan pembukaan ruang publik untuk menyebarkan ide-ide baru dan mengelola diskusi bebas tentang isu-isu masyarakat, dan kesepakatan tentang sistem nilai yang harus dipatuhi semua orang dalam kompetisi elektoral.
Oleh karena itu, ada hubungan kuat antara kebebasan dan perubahan. Orang-orang bebaslah yang bekerja untuk mengubah realitas, dan mengorbankan diri mereka untuk perubahan ini. Juga, orang-orang bebaslah yang berkomitmen pada nilai-nilai, membelanya, dan memberikan teladan dalam kepatuhan terhadap etika.
Masyarakat yang tertindas moralnya memburuk, dan korupsi menyebar di dalamnya. Karena itu, ada hubungan kuat antara kebebasan dan komitmen terhadap nilai-nilai. Namun kita harus mengembalikan kepada manusia konsep kebebasan Islam sebagai alternatif dari konsep Barat. Konsep Islam menghubungkan kebebasan dengan iman, martabat manusia, dan haknya untuk melindungi agama, akal, jiwa, harta, dan kehormatannya.
Konsep kebebasan Islam terkait dengan martabat manusia, kesucian tubuhnya, haknya untuk berkomunikasi dengan orang lain dan menyampaikan pesannya kepada mereka, dan haknya untuk belajar, mengajar, memperoleh pengetahuan, dan mentransfernya kepada orang lain.
Konsep kebebasan Islam memainkan perannya dalam mencapai kemenangan. Karena itu, Imam Syahid Hasan al-Banna mengatakan: “Umat Islam terbebas dari perbudakan materi, disucikan dari kenikmatan nafsu dan keinginan, diangkat di atas hal-hal yang rendah dan tujuan-tujuan yang hina, dan menghadapkan wajah mereka kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi sebagai orang-orang yang hanif, meninggikan kalimat Allah, berjihad di jalan-Nya, dan menyebarkan agama-Nya.”
Dengan demikian, konsep kebebasan Islam mencakup pembebasan dari perbudakan nafsu, keinginan, dan kepentingan. Oleh karena itu, sistem nilai Islam terkait dengan konsep kebebasan Islam yang terhubung dengan iman kepada Allah, dan menjadikan keridhaan-Nya sebagai tujuan. Muslim bukanlah budak dunia; ia bangga menjadi hamba Allah semata.
Keberanian sebagai Fondasi Etika dan Kehendak untuk Berubah
Berpegang teguh pada nilai-nilai dan membelanya membutuhkan keberanian hati, nurani, dan jiwa. Keberanian adalah fondasi kepribadian positif yang menghadapi dan melawan kebatilan, serta membela dan memenangkan kebenaran.
Umat membutuhkan kepemimpinan yang berani. Kepemimpinan inilah yang mengelola proses perubahan. Salah satu penyebab terpenting kekalahan yang diderita umat adalah bahwa ia ditimpa oleh kepemimpinan yang lemah yang takut pada kolonialisme Barat, dan lebih memilih ketergantungan daripada menghadapi kekuatan kolonialisme.
Oleh karena itu, mengelola perubahan membutuhkan kepemimpinan yang berani yang berpegang pada nilai-nilai Islam dan membelanya, berapa pun besar pengorbanannya.
Sistem Nilai Islam dan Kehendak untuk Berubah
Islam menawarkan kepada umat manusia sistem nilai dan etika yang membentuk fondasi peradaban Islam yang menguasai dunia selama berabad-abad, di mana orang-orang menikmati kehidupan yang layak di bawah naungannya. Kita akan membatasi diri di sini pada nilai-nilai dasar yang membuka cakrawala perubahan, dan di atasnya masa depan dibangun. Yang terpenting adalah:
1. Menghormati Martabat Manusia
Allah berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَـٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَـٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ وَفَضَّلْنَـٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍۢ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًۭا
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di daratan dan lautan, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas banyak makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’: 70)
Sayyid Qutb menjelaskan dalam tafsirnya atas ayat ini: “Kemuliaan-Nya dengan kesiapan yang Dia tanamkan dalam fitrahnya; yang membuatnya layak menjadi khalifah di bumi, mengubah dan menggantikan, memproduksi dan menciptakan, merakit dan menganalisis, dan mencapai kesempurnaan kehidupan yang ditakdirkan. Kemuliaan-Nya dengan menundukkan kekuatan kosmik untuknya di bumi. Kemuliaan-Nya dengan sambutan megah yang diberikan alam semesta kepadanya, dan dengan prosesi di mana para malaikat bersujud dan Sang Pencipta menyatakan kemuliaan manusia ini. Kemuliaan-Nya dengan menyatakan semua kemuliaan ini dalam kitab-Nya yang diturunkan dari alam tertinggi.”
Dan dari kemuliaan itu adalah bahwa manusia menjadi penilai atas dirinya sendiri, memikul tanggung jawab atas arah dan amalnya. Inilah sifat pertama yang membuat manusia menjadi manusia: kebebasan arah dan tanggung jawab individu.
2. Keadilan
Keadilan adalah nilai tertinggi dalam Islam, dan fungsi yang harus dijalankan oleh umat Islam. Umat Islam memikul tanggung jawab untuk menegakkan keadilan.
Sayyid Qutb berkata: “Termasuk perjanjian yang diikatkan Allah kepada umat Muslim adalah penegakan keadilan atas umat manusia. Keadilan mutlak yang timbangannya tidak condong karena cinta atau kebencian; tidak terpengaruh oleh kekerabatan, kepentingan, atau hawa nafsu dalam keadaan apa pun. Keadilan yang bersumber dari berdiri karena Allah semata, terbebas dari semua pengaruh lainnya, dan perasaan akan pengawasan Allah dan pengetahuan-Nya tentang rahasia hati.”
Keadilan yang diperintahkan Allah kepada orang-orang beriman:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Ini adalah puncak tertinggi yang sulit dicapai jiwa. Itu adalah tahap di luar tidak berbuat zalim dan berhenti padanya; ia melampauinya untuk menegakkan keadilan sambil merasakan kebencian dan permusuhan. Tidak ada pertimbangan duniawi yang dapat mengangkat jiwa manusia ke cakrawala ini dan menstabilkannya di atasnya, selain berdiri karena Allah, berinteraksi langsung dengan-Nya, dan mengosongkan diri dari pertimbangan lainnya.
Tidak ada akidah atau sistem di bumi ini yang menjamin keadilan mutlak bagi musuh yang dibenci, seperti yang dijamin oleh agama ini, ketika menyeru orang-orang beriman untuk berdiri karena Allah dalam hal ini, dan berinteraksi dengan-Nya, mengosongkan diri dari setiap pertimbangan.
Dengan karakteristik inilah agama ini menjadi agama universal dan kemanusiaan terakhir, yang sistemnya menjamin bagi semua orang—penganutnya dan bukan penganutnya—untuk menikmati keadilan di bawah naungannya; dan bahwa keadilan ini menjadi kewajiban bagi penganutnya, di mana mereka berinteraksi dengan Tuhan mereka, apa pun yang mereka hadapi dari orang-orang dalam bentuk kebencian dan permusuhan.
Ini adalah kewajiban umat yang menegakkan keadilan atas umat manusia, betapa pun beratnya dan sulitnya perjuangan. Umat ini telah memegang penegakan ini dan menjalankan fungsinya ketika ia tegak di atas Islam. Ini bukan hanya wasiat atau cita-cita luhur dalam hidupnya, tetapi itu adalah realitas dalam kehidupannya sehari-hari—realitas yang belum pernah disaksikan oleh umat manusia sebelumnya atau sesudahnya, dan tidak mengetahuinya pada tingkat ini kecuali pada era Islam yang cemerlang. Sejarah di bidang ini menyajikan banyak contoh luas, yang semuanya bersaksi bahwa perintah dan kewajiban ilahi ini telah berubah dalam kehidupan umat ini menjadi metodologi dalam dunia realitas yang dilakukan dengan sederhana, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari umat. Itu bukan cita-cita luhur yang khayalan, atau model individual seperti itu. Itu adalah karakter kehidupan yang tidak dilihat orang sebagai jalan lain selain itu.
Dunia sangat membutuhkan keadilan sekarang. Ia menderita keadaan ketidakadilan umum, dan setiap manusia sekarang menghadapi ketidakadilan. Oleh karena itu, ada kesempatan historis bagi umat Islam untuk memimpin perjuangan rakyat melawan kolonialisme, pendudukan, tirani, kesewenang-wenangan, korupsi, penjarahan, dan eksploitasi. Dengan demikian, umat Islam dapat mengembalikan peradaban Islam ke realitas umat manusia, dan mencapai perubahan.
3. Takwa
Allah menghubungkan keadilan dengan takwa: ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ “Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa” (QS. Al-Ma’idah: 8). Mereka yang menegakkan keadilan adalah orang-orang yang bertakwa. Keadilan lebih dekat kepada takwa. Takwa memecahkan masalah penting: kebanyakan orang tidak berkomitmen pada nilai dan etika karena tidak ada imbalan atau hukuman. Namun takwa membuat Muslim berkomitmen pada nilai-nilai sebagai ibadah kepada Allah, mengharap pahala dari-Nya, yang lebih baik dari semua yang ada di dunia.
Ada juga hubungan antara takwa dan keberanian hati dan nurani. Muslim membuat keputusan berdasarkan imannya kepada Allah dan rasa takutnya kepada-Nya; ia tidak takut kecuali kepada Allah saja. Kita dapat menemukan bukti dalam perilaku para pejuang di Gaza, di mana takwa mereka kepada Allah meningkat, sehingga keberanian, kekuatan, dan kemampuan mereka untuk menghadapi musuh pun meningkat. Pendidikan yang mereka terima di masjid-masjid dari para syekh perlawanan adalah salah satu sumber kekuatan terpenting mereka. Hati yang terhubung dengan Allah menjadi lebih kuat, lebih berani, dan lebih mampu membela kebenaran.
4. Kejujuran
Salah satu hal paling berbahaya yang dihadapi dunia sekarang adalah bahwa orang-orang tenggelam dalam banjir penyesatan, pemalsuan kesadaran, manipulasi sikap dan perasaan, dan pencampuradukan fakta dengan kebohongan. Banyak orang tidak dapat memperoleh kebenaran. Oleh karena itu, salah satu hal terpenting yang dapat dilakukan umat Islam adalah menawarkan kepada manusia pengetahuan yang berkomitmen pada nilai-nilai Islam, yang terpenting adalah kejujuran. Kejujuran terkait dengan takwa, keadilan, dan kesaksian. Oleh karena itu, ia membedakan pengetahuan yang ditransfer Muslim kepada orang lain. Berdasarkan imannya, Muslim menolak kebohongan dan penyesatan, dan bersikeras untuk menyampaikan kebenaran kepada manusia.
5. Ikhlas
Imam Syahid Hasan al-Banna berkata: “Yang saya maksud dengan ikhlas adalah bahwa Muslim dalam perkataan, perbuatan, dan jihadnya semata-mata mengharap wajah Allah, mencari keridhaan-Nya, dan pahala yang baik dari-Nya, tanpa memandang keuntungan, penampilan, jabatan, gelar, kemajuan, atau kemunduran. Dengan demikian, ia menjadi prajurit gagasan dan akidah, bukan prajurit tujuan dan keuntungan. Dengan demikian, saudara Muslim memahami makna seruannya yang abadi: ‘Allah adalah tujuan kita’.”
Umat membutuhkan kepemimpinan yang dibedakan oleh ikhlas, yang dapat membuat pemimpin bekerja untuk Islam, umat, dan pembangunan masa depan.
6. Pengorbanan
Pengorbanan terkait dengan ikhlas. Tidak ada yang berkorban kecuali mereka yang ikhlas untuk akidah, agama, dan tujuan besar mereka. Pengorbanan meliputi—seperti yang dikatakan Imam Syahid Hasan al-Banna—pengorbanan jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segalanya. Tidak ada jihad di dunia ini tanpa pengorbanan, dan tidak ada pengorbanan yang sia-sia di jalan gagasan kita; ia akan mendapat pahala yang besar dan ganjaran yang indah.
Kita dapat melihat dengan jelas sekarang pengorbanan para pejuang di Gaza, yang merupakan hasil dari didikan para lelaki di atas Islam sebagai agama, akidah, akhlak, dan nilai.
7. Keteguhan di Atas Kebenaran
Keteguhan ini terkait dengan prinsip, nilai, keberanian, dan ikhlas. Imam Syahid Hasan al-Banna berkata: “Yang saya maksud dengan keteguhan adalah bahwa saudara tetap bekerja dan berjuang di jalan tujuannya, betapa pun lama waktu berlalu dan tahun-tahun bergulir. Jalan itu panjang, tahapannya jauh, dan rintangannya banyak. Namun hanya jalan itulah yang mengantarkan pada tujuan, dengan pahala yang besar dan ganjaran yang indah.”
Ini adalah beberapa nilai yang komitmen terhadapnya berkontribusi dalam mengelola perubahan dalam jangka waktu yang panjang, yang umat perlu mendidik para lelaki di atasnya.
Kesimpulan
Studi ini menegaskan pentingnya nilai-nilai dalam mengelola perubahan dan memperoleh dukungan populer untuk proses ini. Studi ini juga menjelaskan pentingnya nilai-nilai dalam mencapai kohesi dan persatuan masyarakat. Studi ini berfokus pada pentingnya nilai-nilai Islam dan hubungannya dengan konsep kebebasan Islam, dan menjelaskan bahwa nilai-nilai Islam adalah kekayaan intelektual yang luar biasa. Dunia membutuhkan nilai-nilai ini yang dapat melindunginya dari kejatuhan dan keruntuhan.
Hasil terpenting dari studi ini:
Stabilitas adalah mustahil. Peristiwa-peristiwa menunjukkan bahwa dunia akan menyaksikan perubahan yang dapat mempengaruhi setiap aspek kehidupan. Oleh karena itu, proyek peradaban Islam-lah yang dapat memimpin bangsa-bangsa dalam perjuangan mereka untuk pembebasan dari kolonialisme, tirani, kesewenang-wenangan, dan korupsi.
Nilai-nilai Islam dapat berkontribusi dalam menyatukan masyarakat dalam perjuangan mereka untuk perubahan dan pengelolaannya.
Proses perubahan membutuhkan kepemimpinan yang berkomitmen pada sistem nilai dan etika Islam, yang menginspirasi orang dan mendorong mereka untuk berkomitmen pada nilai-nilai ini melalui teladan dan contoh.
Oleh karena itu, masyarakat perlu mengembangkan proses pendidikan dan pengajaran, dan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai fondasi untuk proses persiapan kepemimpinan.
Menyajikan sistem nilai Islam kepada manusia dapat membuka cakrawala baru untuk penyebaran Islam, yang sangat dibutuhkan dunia untuk menyelamatkannya dari kehancuran dan keruntuhan moral.
Sumber: Tarbiyaa.com





