GAZA, 21 April 2026 — Lima warga Palestina tewas sebagai syahid dan lainnya terluka dalam serangan udara Israel pada hari Senin di berbagai wilayah Jalur Gaza. Sementara itu, Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) menegaskan bahwa mereka akan menyampaikan tanggapan mereka atas proposal para mediator setelah menyelesaikan konsultasi dengan kepemimpinan gerakan dan faksi-faksi Palestina.
Koresponden Al Jazeera mengutip sumber medis di Rumah Sakit Nasser yang melaporkan bahwa tiga warga Palestina tewas sebagai syahid dan lainnya terluka dalam serangan drone Israel di barat Kota Khan Younis. Reuters mengutip petugas medis yang melaporkan bahwa seorang pria tewas sebagai syahid dalam serangan udara Israel di Kamp Bureij, Gaza tengah, sementara serangan lain mengakibatkan satu orang tewas sebagai syahid dan lainnya terluka di Kota Gaza.
Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, jumlah korban tewas sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober lalu telah meningkat menjadi 776 syahid, selain 2.171 lainnya terluka.
Pertemuan dan Konsultasi
Secara politis, Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa mereka telah mengadakan beberapa pertemuan dan konsultasi di Kairo dengan para mediator dan faksi-faksi Palestina mengenai penerapan sisa komitmen fase pertama perjanjian gencatan senjata di Gaza, dan persiapan untuk diskusi tentang pengaturan fase kedua, berdasarkan rencana Presiden AS Donald Trump.
Gerakan tersebut menegaskan bahwa mereka dan faksi-faksi Palestina telah menangani proposal yang diajukan dengan tanggung jawab dan sikap positif yang tinggi, dan bahwa mereka tertarik untuk melanjutkan negosiasi dengan para mediator untuk mengatasi semua hambatan. Hamas berkomitmen untuk menyampaikan tanggapannya atas proposal yang diajukan setelah menyelesaikan konsultasi dengan kepemimpinan gerakan dan faksi-faksi Palestina.
Meskipun perjanjian gencatan senjata secara teoritis masih berlaku, Israel terus melakukan pelanggaran harian melalui pemboman dan tembakan, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka. Pada pertengahan Januari lalu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan dimulainya fase kedua dalam kerangka rencananya yang diadopsi oleh Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 2803 yang dikeluarkan pada 17 November 2025.
Fase pertama—yang mulai berlaku pada Oktober 2025—mencakup gencatan senjata dan pertukaran tahanan Israel dengan tahanan Palestina. Sejak perjanjian gencatan senjata mulai berlaku, Israel telah mengingkari komitmennya yang ditetapkan dalam perjanjian, terutama menghentikan operasi militer, serta memasuki jumlah bantuan makanan, bantuan medis, dan bahan penampungan yang disepakati, menurut data resmi Palestina.
Sumber: Al Jazeera




