Pendahuluan
Gelombang baru dari kebangkitan melanda dunia Islam saat ini. Negeri-negeri Islam menyaksikan tanda-tanda kebangkitan yang dinanti-nantikan, setelah umat Islam tersadar dari keterlenaan mereka, berdiri menghadapi para tiran penguasa mereka, menjatuhkan singgasana yang telah lama diduduki, dan menyingkirkan segelintir orang yang menghalangi mereka dari kemajuan. Mereka mencium semilir angin kebebasan dan mulai mencari jalan yang lurus untuk ditempuh guna mewujudkan cita-cita umat yang telah lama dinanti dan tertunda pencapaiannya. Sekarang, ketika jiwa-jiwa sangat mendambakan untuk menutup lembaran kezaliman, kebodohan, dan kemiskinan, para penganut seruan-seruan asing kembali mengintai umat Islam kita. Mereka menyerukan metode-metode yang tidak pernah menuai selain kegagalan dan tidak pernah mendatangkan selain azab bagi umat kita. Seorang dari mereka berseru menyerukan sosialisme atau komunisme, sementara yang lain menjawab dengan menyerukan liberalisme. Keduanya lupa bahwa dalam Islam yang mencakup segalanya terdapat apa yang membuat kita tidak butuh pada ketergantungan dan peniruan.
Sungguh, hari ini sangat mirip dengan kemarin. Ini hanyalah pengulangan dari apa yang terjadi di dunia Islam ketika mereka keluar dari medan pertempuran kemerdekaan nasional menuju pertempuran yang lebih dahsyat, yaitu pertempuran menentukan identitas. Identitas yang telah diupayakan Barat untuk dihapuskan ciri-cirinya, dibantu dalam hal ini oleh para antek-anteknya dari kalangan yang secara kelahiran berasal dari Timur, namun jiwa mereka melayang-layang di Barat dan terobsesi dengan budayanya. Mereka adalah orang-orang yang terpesona oleh kemajuan material Barat dan menginginkan kita untuk mengganti peradaban material Barat dengan peradaban Islam kita, dengan dugaan bahwa mencapai peradaban modern tergantung pada mengikuti dan meniru Barat.
Seruan Imam Hasan Al-Banna (2) muncul pada paruh pertama abad kedua puluh dengan tujuan untuk mereformasi dunia Islam yang saat itu dilanda bencana, membangunkannya dari kelengahan, dan bekerja untuk kebangkitannya. Imam telah meyakini sejak awal bahwa setiap kebangkitan harus diikuti oleh kebangkitan, setiap kebangkitan harus memiliki proyek yang diusung dan jalan yang ditempuh, dan proyek ini harus berlandaskan pada ketetapan umat serta sesuai dengan keyakinannya. Karena itulah, seruannya merupakan teriakan di hadapan proyek westernisasi yang pemiliknya ingin mengupas umat dari sejarahnya yang gemilang, menghapus ciri-cirinya yang unik, dan melenyapkan titik-titik kekuatan yang ada padanya.
Westernisasi: Definisi, Alat, dan Bidangnya
1. Definisi Westernisasi
Westernisasi adalah istilah yang memaksakan dirinya di dunia Islam kita setelah gerakan hubungan antara Timur dan Barat di era modern kita. Ia adalah “upaya untuk mengubah konsep-konsep di dunia Arab dan Islam, memisahkan umat dari masa lalu dan nilai-nilainya, serta berupaya menghancurkan nilai-nilai ini dengan menimbulkan keraguan terhadapnya dan melontarkan syubhat tentang agama, bahasa, sejarah, ciri-ciri pemikiran, konsep-konsep pendapat, dan semua keyakinan” (3). Ia adalah “seruan yang utuh, memiliki sistem, tujuan, dan pilar-pilarnya sendiri, serta memiliki pemimpin-pemimpinnya yang mengawasinya. Ia adalah bagian dari rencana luas untuk memperkuat kolonialisme dan mendukungnya, yang intinya adalah kerja kolonialisme pemikiran jangka panjang, yang bertujuan untuk menghapus ciri-ciri kepribadian umat ini dan mengubahnya menjadi gambaran yang asing ciri-cirinya, untuk membersihkannya dari nilai-nilai, teladan, dan warisan yang terkait dengannya dan yang menjadi faktor pembentuknya selama generasi-generasi panjang” (4).
Ada istilah-istilah lain yang menunjukkan fenomena ini, di antaranya “keterasingan budaya”, dengan implikasi yang dikandung istilah ini tentang adanya entitas yang tidak selaras dengan realitasnya dan merasa terasing secara psikologis, religius, atau filosofis. Hal ini membuatnya siap untuk terpengaruh oleh westernisasi dalam arti jatuh ke dalam perangkap ‘yang lain’, lalu ia melupakan semua karakteristik dan ciri khasnya hingga ia menjadi ‘yang lain’ itu, dan setelah itu ia tampak seolah-olah tidak pernah memiliki eksistensi sebelumnya (5). Istilah lain juga digunakan untuk fenomena ini, seperti konflik budaya, penetrasi budaya, invasi budaya, pengasingan budaya, modernisasi, perubahan bentuk, dan seterusnya. Semua istilah ini menunjukkan upaya untuk menghancurkan suatu kondisi budaya dan menggantinya dengan kondisi baru.
Sebagian orang mengembalikan akar pertama gerakan westernisasi ke era Perang Salib, ketika Barat yang Salibis menyadari bahwa ia tidak akan menang atas kaum muslimin kecuali setelah memalsukan akidah mereka yang kokoh, yang bercirikan jihad dan perlawanan serta menghalangi ekspansi Eropa Kristen di negeri-negeri Timur (6). Namun, gerakan ini menjadi lebih teratur dan berpengaruh seiring dengan fase invasi militer Eropa ke dunia Islam dan awal kolonialisme Barat modern. Ia adalah salah satu senjata penjajah, yang bekerja untuk mengosongkan benak kaum muslimin dari warisan dan karakteristik mereka untuk memastikan penguasaan atas bangsa-bangsa Islam tanpa perlawanan.
2. Alat-Alat Westernisasi
Kolonialisme militer bukanlah satu-satunya alat westernisasi di negeri-negeri Islam. Bahkan, ia mungkin adalah alat yang paling lemah. Barat menyadari bahwa tidak ada jalan untuk mengalahkan kaum muslimin melalui peperangan, karena keberagamaan mereka mendorong mereka untuk melakukan perlawanan, jihad, dan mengorbankan jiwa di jalan Allah. Karena itu, ia mencari jalan lain, yaitu mengubah pemikiran Islam dan menjinakkan kaum muslimin melalui invasi pemikiran. Dari sinilah ketergantungan pada misionaris Kristen dan orientalis dimulai.
Misionaris Kristen:
Misionaris Kristen adalah istilah Kristen yang berarti menyebarkan agama Kristen di antara orang-orang yang tidak beriman kepadanya dengan tujuan menkristenkan mereka. Proses ini diawasi oleh organisasi-organisasi keagamaan. Kemudian, gerakan ini terkait dengan politik kolonial dan menjadi alat untuk menkristenkan bangsa-bangsa dan menghubungkan mereka dengan dunia Kristen, terutama bangsa-bangsa Islam.
Misionaris Kristen memiliki banyak metode dan aktivitas, semuanya berada di bawah naungan kerja kemanusiaan dan membantu orang miskin. Di antaranya adalah mendirikan sekolah-sekolah di dunia Islam. Sekolah-sekolah ini mempengaruhi anak-anak dan pemuda muslim. Para misionaris juga menggunakan misi medis, membuka rumah sakit, dan pekerjaan bantuan dalam upaya menkristenkan orang miskin di dunia Islam. Mereka juga menggunakan ceramah, seminar, buku, majalah, surat kabar, dan buletin (7).
Orientalis:
Adapun orientalis adalah istilah yang diberikan kepada gerakan yang muncul di antara ilmuwan Eropa untuk mempelajari peradaban Islam, agar mereka mengambil darinya senjata untuk menyerang pemikiran Islam (8). Gerakan ini bertujuan untuk mendistorsi Islam, menutupi keindahannya, melontarkan syubhat dan kebatilan tentangnya untuk meyakinkan bangsa-bangsa Kristen bahwa ia tidak layak sebagai sistem kehidupan di satu sisi, dan untuk mendukung invasi kolonial ke negeri-negeri Islam di sisi lain. Hal ini dilakukan dengan cara berupaya menghancurkan perlawanan dengan menakwilkan jihad, menghancurkan persatuan umat Islam, memisahkan syariat Islam dari penerapannya dalam masyarakat, menggantikan sistem hukum, ekonomi, politik, dan pendidikan Barat dengan Islam, serta memisahkan kaum muslimin dari akar-akar mereka dengan mendistorsi pokok-pokok tersebut, mengasingkannya dari sumber-sumbernya, dan meruntuhkan komponen-komponen fundamental keberadaan individu, sosial, psikologis, dan akal budi kaum muslimin (9).
Pengaruh gerakan orientalis tampak dalam kurikulum pendidikan, budaya, dan pemikiran di dunia Islam melalui para pengikut dan pendukung yang dibesarkan dengan pemikiran orientalis dan mulai mengulang-ulangnya, menyerukannya, serta mengada-adakan pertempuran untuk menimbulkan keraguan terhadap akidah dan adab umat (10).
Misionaris Kristen dan orientalis saling membantu dalam mendistorsi Islam di benak orang Eropa dan melemahkan pengaruhnya di kalangan anak-anaknya. Keduanya juga berhasil menjadi senjata tajam di tangan kolonialisme, sehingga mempersiapkan jalan sebaik-baiknya bagi kolonialisme untuk menjalankan misi militer, politik, dan budayanya. Bahkan, keduanya menciptakan kantong-kantong keagamaan dan pemikiran yang loyal kepada kolonialisme, yang berkontribusi dalam memantapkan fondasi kekuasaannya (11).
3. Bidang-Bidang Westernisasi
Westernisasi bergerak dalam banyak jalur dan bekerja pada berbagai level untuk menghapus ciri-ciri kepribadian Islam. Pengaruhnya tampak di semua bidang kehidupan di dunia Islam: dalam budaya, politik, ekonomi, pendidikan, perilaku, akhlak, dan seterusnya.
Westernisasi Budaya: Ini adalah aspek terberbahaya dari westernisasi. Budaya adalah istilah yang menunjukkan “kemajuan intelektual, sastra, dan sosial individu dan kelompok, yang mencakup akidah, bahasa, nilai-nilai, prinsip-prinsip, perilaku, dan hal-hal sakral. Peradaban suatu bangsa tidak akan muncul kecuali di belakangnya ada budaya yang kuat, yang memiliki agama, nilai-nilai, dan akhlak yang meninggikannya di atas bangsa-bangsa lain” (12). Karena itu, kolonialisme menargetkan budaya Islam dan mulai mendistorsinya untuk mempersiapkan jalan bagi invasi pemikiran dan penyebaran pola Barat. Hal ini dilakukan dengan cara menimbulkan keraguan terhadap sumber pertama budaya Islam, yaitu Al-Qur’an, mendorong penggunaan bahasa ‘amiyah dalam menghadapi bahasa Arab fusha yang merupakan wadah pemikiran dan budaya, mengingkari orisinalitas intelektual bangsa Arab dan muslim, serta mengklaim bahwa mereka hanya menyalin ilmu bangsa-bangsa kuno dan tidak memiliki kontribusi dalam peradaban manusia (13).
Westernisasi Politik: Gerakannya terpusat di sekitar pemisahan agama dari negara, dengan dalih bahwa pemisahan ini akan mewujudkan kemajuan, perkembangan, dan kesejahteraan seperti yang terjadi di Eropa dan Amerika (14), padahal tujuan sebenarnya adalah untuk menjauhkan kaum muslimin dari sumber yang mendorong mereka untuk peduli pada urusan politik, jihad, dan berdiri menghadapi penjajah, yaitu sumber agama.
Westernisasi Ekonomi: Gerakannya terpusat di sekitar membelenggu ekonomi di dunia Islam dan menghubungkannya dengan roda ekonomi Barat untuk mempertahankan Timur dalam keadaan miskin dan melarat, tidak memiliki alat-alat industri dan perdagangan. Karena itu, “mereka membujuk para pembesar muslim untuk berutang kepada mereka dan bertransaksi dengan mereka, memudahkan hal itu bagi mereka, dan meremehkannya. Dengan demikian, mereka berhasil mendapatkan hak intervensi ekonomi, membanjiri negeri-negeri dengan modal, bank, dan perusahaan mereka, menggerakkan roda kerja ekonomi sesuai keinginan mereka, dan menguasai sendiri keuntungan besar dan kekayaan yang melimpah tanpa penduduk asli” (15).
Westernisasi Pendidikan: Gerakannya terpusat di sekitar mengubah pikiran. Karena itu, “Barat mendirikan sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga ilmiah serta budaya di jantung negeri-negeri Islam, yang melemparkan keraguan dan ateisme ke dalam jiwa anak-anaknya, mengajari mereka bagaimana merendahkan diri sendiri, menghina agama dan tanah air mereka, melepaskan diri dari tradisi dan keyakinan mereka, mengagungkan segala sesuatu yang Barat, dan meyakini bahwa apa yang berasal dari Eropa sendirilah teladan tertinggi dalam kehidupan ini. Sekolah-sekolah ini hanya menampung kelas atas dan menjadi milik mereka. Anak-anak kelas atas inilah yang menjadi orang-orang besar dan penguasa, serta yang akan memegang kendali urusan bangsa-bangsa dan rakyat ini tidak lama lagi. Dan bagi mereka yang belum matang di lembaga-lembaga lokal ini, maka misi-misi belajar yang berturut-turut akan menyempurnakannya” (16).
Westernisasi Perilaku dan Akhlak: Gerakannya terpusat di sekitar mentransfer perilaku dan akhlak Barat ke negeri-negeri Islam. Karena itu, “mereka membawa ke negeri-negeri ini perempuan-perempuan mereka yang berpakaian tapi telanjang, minuman keras, teater, tempat dansa, tempat hiburan, cerita-cerita, surat kabar, novel-novel, khayalan-khayalan, main-main, dan perbuatan cabul. Mereka membolehkan di negeri-negeri ini kejahatan-kejahatan yang tidak mereka perbolehkan di negeri mereka sendiri. Mereka menghiasi dunia yang ramai dan suka bermain-main ini, yang dipenuhi dengan dosa dan meluap dengan kefasikan, di mata orang-orang kaya muslim yang lugu dan polos, para petinggi di antara mereka, dan para pemilik kedudukan serta kekuasaan” (17). Pengaruh peniruan terhadap perilaku Barat tampak di rumah-rumah kaum bangsawan dan pembesar umat, di mana tidak terlihat di dalamnya kecuali kemewahan Eropa, kebiasaan Barat, bahasa asing, dan para pelayan yang tidak memiliki hubungan dengan Mesir dan tidak dinisbatkan kepadanya melalui nasab, serta anak-anak laki-laki dan perempuan di sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga orang asing. Merekalah yang akan memimpin negeri di masa depannya, dan menjadi tumpuan mata para peniru dari kalangan rakyat lainnya (18).
Sumber: Tarbiyaa
Catatan:
(1) Makalah ini dipresentasikan dalam Konferensi Kebangkitan Islam di Iran, tahun 2012 M.
(2) Hasan Ahmad Abdurrahman Al-Banna, pendiri jama’ah Ikhwanul Muslimin dan mursyid pertamanya. Lahir di Provinsi Beheira pada tahun 1906 M, menghafal Al-Qur’an di masa kecilnya, menempuh berbagai jenjang pendidikan hingga lulus dari Fakultas Dar al-‘Ulum pada tahun 1927 M dan menjadi peringkat pertama di angkatannya. Mendirikan jama’ah Ikhwanul Muslimin pada tahun 1928 M. Seruannya menyebar di Mesir dan seluruh dunia. Jama’ah ini masih menjalankan peran reformisnya di semua level di dunia Islam. Imam Al-Banna mengirim ribuan mujahid dari jama’ah Ikhwanul Muslimin untuk memerangi Yahudi di tanah Palestina, dan berdiri kuat melawan kolonialisme Eropa di negeri-negeri Islam. Imam syahid pada tahun 1949 M setelah peristiwa pembunuhan keji yang direncanakan oleh sistem kerajaan di Mesir bekerja sama dengan kekuatan kolonial yang takut terhadap kebangkitan Islam yang dipimpinnya dan pengaruhnya yang tampak dalam memerangi Yahudi dan berjihad melawan Inggris.
(3) Al-Jundi, Anwar. Taghrīb asy-Syarq, Minbar al-Islām, edisi 6, tahun ke-22, Jumadil Akhir 1384 H, hlm. 94.
(4) Sumber yang sama, hlm. 93.
(5) ‘Abbud, Syaltagh. Ats-Tsaqāfah al-Islāmiyyah baina at-Taghrib wa at-Ta’shīl, cetakan pertama, Beirut, Dar al-Hadi, 2001 M, hlm. 31.
(6) An-Nashir, Muhammad Hamid. Al-‘Ashriyūn baina Mazā’imi at-Tajdīd wa Mayādīni at-Taghrib, cetakan kedua, Riyadh, Maktabah al-Kautsar, 2001 M, hlm. 95.
(7) Sumber yang sama, hlm. 96-97.
(8) Jarisyah, ‘Ali Muhammad. Asālīb al-Ghazw al-Fikri li al-‘Ālam al-Islāmi, cetakan ketiga, Kairo, Dar al-I’tisham, 1979 M, hlm. 19.
(9) Sumber yang sama, hlm. 22.
(10) Sumber yang sama, hlm. 23.
(11) ‘Abbud, Syaltagh. Sumber yang sama, hlm. 49.
(12) ‘Allawah, Muhammad. Siyāsah Taghrīb al-‘Ālam al-Islāmi, Risālah at-Taqrīb, edisi 26, Dzulhijjah 1420 H, hlm. 160.
(13) Sumber yang sama, hlm. 161-163.
(14) Sumber yang sama, hlm. 158.
(15) Al-Banna, Hasan. Majmū’ah Rasā’il al-Imām asy-Syahīd Hasan al-Banna, Kairo, Dar ad-Da’wah li ath-Thab’ wa an-Nasyr wa at-Tauzī’, 2002 M, hlm. 151.
(16) Sumber yang sama, hlm. 151-152.
(17) Sumber yang sama, hlm. 151.
(18) Al-Banna, Hasan. Lā budda min an Naktamil Istiqlālanā, Jarīdah al-Ikhwān al-Muslimīn al-Usbū’iyyah, edisi 7, tahun ke-5, 2 Juli 1937 M, hlm. 1.





