RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
Kategori
  • Akhbar Dauliyah (1,050)
  • Akhlak (135)
  • Al-Qur'an (80)
  • Aqidah (169)
  • Dakwah (35)
  • Fikrah (1)
  • Fikrul Islami (43)
  • Fiqih (193)
  • Fiqih Dakwah (76)
  • Gerakan Pembaharu (23)
  • Hadits (107)
  • Ibadah (13)
  • Kabar Umat (437)
  • Kaifa Ihtadaitu (6)
  • Keakhwatan (7)
  • Kisah Nabi (12)
  • Kisah Sahabat (4)
  • Masyarakat Muslim (14)
  • Materi Khutbah dan Ceramah (78)
  • Musthalah Hadits (3)
  • Rumah Tangga Muslim (12)
  • Sejarah Islam (199)
  • Senyum (2)
  • Taujihat (25)
  • Tazkiyah (45)
  • Tokoh Islam (20)
  • Ulumul Qur'an (7)
  • Uncategorized (5)
  • Wasathiyah (138)
0
2K
RISALAH
Subscribe
RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
  • Wasathiyah

Imam Hasan Al-Banna dan Proyek Westernisasi (Bagian 3)

  • 02-05-2026
  • No comments
Wm77819nefkc44k00w 800xauto

Ketiga: Proyek Islam

Imam Al-Banna –semoga Allah merahmatinya– tidak berhenti dalam menghadapi gerakan westernisasi pada mengungkap dan mengupas tujuannya, memperingatkan dari bahayanya, dan memberi peringatan akan keburukan-keburukannya. Akan tetapi, di sisi lain, beliau menyajikan proyek alternatif, yaitu proyek Islam yang beliau tegaskan perlunya untuk mengikutinya, memaparkan kelebihan-kelebihannya, menentukan titik-titik kekuatan di dalamnya, dan berusaha untuk mewujudkannya di atas realitas dengan mendirikan jamaah Ikhwan Muslimin dan menyeru anak-anak bangsa umat Islam dan para penguasanya kepadanya. (1)

1 – Metode yang Tepat:

Dakwah Imam Hasan Al-Banna muncul pada periode sejarah di mana umat Islam berada di persimpangan jalan, mencari jalan untuk ditempuh demi mencapai kemerdekaan nasional dan peradaban. Karena itu, beliau menegaskan tentang sifat fase ini dan bahayanya. Beliau berkata: “Masa yang paling berbahaya dalam kehidupan umat dan yang paling utama untuk diteliti dengan cermat adalah masa peralihan dari satu keadaan ke keadaan lain. Pada masa itulah diletakkan manhaj-manhaj era baru dan digariskan rencana-rencana serta kaidah-kaidahnya yang dengannya umat ingin dididik dan diikat. Jika rencana-rencana, kaidah-kaidah, dan manhaj-manhaj ini jelas, baik, dan lurus, maka berbahagialah umat ini dengan kehidupan yang panjang lagi mulia dan amal-amal yang agung lagi terpuji. Dan berilah kabar gembira para pemimpinnya akan kemenangan ini dan petunjuknya dalam kebaikan ini dengan pahala yang besar, kelestarian nama, keadilan sejarah, dan reputasi yang baik.” (2)

Kemudian Imam memperingatkan dari bahaya tidak dimilikinya manhaj yang sesuai. Beliau berkata: “Dan umat yang tidak meletakkan manhaj kebangkitannya, ia akan meraba-raba dalam perjalanannya, sehingga tidak maju satu langkah pun, bahkan mungkin mundur beberapa langkah.” (3)

Imam Al-Banna telah menentukan syarat-syarat manhaj yang harus diikuti oleh umat yang bangkit untuk mencapai derajat bangsa-bangsa maju melalui jalan yang paling dekat dan paling singkat. Beliau menegaskan bahwa: “Jika suatu umat mampu meletakkan manhaj yang di dalamnya tersedia syarat-syarat ini, maka ia akan sampai kepada apa yang dicita-citakannya melalui jalan dan cara yang paling dekat dan paling singkat.” (4) Syarat-syarat ini adalah sebagai berikut:

  • Ia harus jelas, mudah, terbatas tujuan dan sasarannya.

  • Ia harus praktis yang tidak bergantung pada khayalan.

  • Ia harus komprehensif yang mengungkapkan angan-angan umat, perasaannya, dan getaran jiwanya, serta menggambarkan harapan-harapannya dan tuntutan-tuntutannya.

  • Ia harus dilindungi dengan sifat sakralitas yang mendorong untuk menjaganya dan berkorban di jalannya.

  • Ia harus setelah itu menjadi pengumpul kata sepakatnya, pembantu dalam menyatukan barisannya, dan penyatu arahnya. (5)

Semua syarat yang diperlukan untuk kesuksesan telah terpenuhi dalam manhaj Islam. Inilah yang membedakan proyek Islam dari proyek-proyek lainnya yang telah dicoba sebelumnya oleh dunia, dan yang ditiru oleh umat Islam di negeri-negeri mereka dan terbukti kekurangannya atau kegagalan totalnya. Imam Al-Banna telah menentukan kelebihan-kelebihan manhaj ini dalam poin-poin tertentu. Kelebihan-kelebihan itu adalah sebagai berikut:

  • Manhaj Islam jelas dan terbatas, sehingga kita tidak menyia-nyiakan waktu dalam menciptakan eksperimen dan menemukan sistem.

  • Ia praktis, tidak bergantung pada khayalan dan tidak peduli dengan penyusunan teori-teori yang ilusif, tetapi ia menyeru manusia dengan lantang:

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ

“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, demikian pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.'” (QS. At-Taubah: 105)

Dan ia mengobati jiwa-jiwa dan masalah-masalah dengan perbuatan, bukan dengan perkataan, dan dengan kewajiban-kewajiban, bukan dengan mimpi-mimpi.

  • Ia juga telah dicoba sebelumnya dan sejarah menyaksikan kesahihannya, dan melahirkan bagi manusia sebuah umat dari umat yang paling kuat, paling utama, paling penyayang, paling berbakti, dan paling memberkahi bagi seluruh umat manusia.

  • Ia memiliki kesakralan dan kemantapan dalam jiwa manusia yang memudahkan bagi semua orang untuk menelaahnya, memahaminya, meresponnya, dan berjalan di atasnya kapan pun mereka diarahkan kepadanya.

  • Manhaj ini adalah manhaj yang paling dekat dengan ruh kita dan paling melekat dengan jiwa kita. Kita telah menyertainya selama empat belas abad, di mana ia telah mengakar dalam jiwa dan ditebus dengan darah dan ruh.

  • Ia komprehensif bagi semua angan-angan umat. Ia memberikan kepada umat rasa akan keperkasaannya dan kemuliaannya dalam firman Allah Ta’ala:

وَلِلَّهِ ٱلْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَـٰكِنَّ ٱلْمُنَـٰفِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan hanya milik Allah-lah keperkasaan, dan bagi Rasul-Nya, serta bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui.” (QS. Al-Munafiqun: 8)

Dan ia meninggikan umat ke derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia. Allah berfirman:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَـٰكُمْ أُمَّةًۭ وَسَطًۭا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًۭا

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu umat pertengahan, agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas perbuatan kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Kedudukan ini adalah kedudukan ke-guruan secara universal di seluruh dunia, di mana ia mengajari penduduknya, menegakkan neraca keadilan di dalamnya, dan menghancurkan bangunan-bangunan kezaliman dan kemungkaran.

  • Ia menjaga bagi umat unsur-unsur pembentuk, kekhususan, dan keistimewaannya secara utuh tanpa kurang. Ia memperingatkan umat agar jangan mengurangi darinya karena loyalitas kepada orang yang merusak urusannya. Allah berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ بِطَانَةًۭ مِّن دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًۭا وَدُّوا۟ مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ ٱلْبَغْضَآءُ مِنْ أَفْوَٰهِهِمْ وَمَا تُخْفِى صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang yang di luar kalanganmu sebagai kepercayaanmu, mereka tidak henti-hentinya menimbulkan keburukan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkanmu. Sungguh, kebencian telah tampak dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar.” (QS. Ali ‘Imran: 118)

  • Di dalamnya terdapat kebanggaan terhadap nasionalisme dan pengagungan terhadap patriotisme yang murni. Karena kita membangun kehidupan kita di atas fondasi kita dan akar kita, dan tidak mengambil dari selain kita. Di dalamnya terdapat makna-makna kemerdekaan sosial dan vital yang paling baik setelah kemerdekaan politik.

  • Di dalam berjalan di atasnya terdapat penguatan persatuan Arab terlebih dahulu, kemudian persatuan Islam kedua. Maka seluruh dunia Islam akan memberikan ruhnya, perasaannya, kasih sayangnya, dan dukungannya. Dan mereka akan melihat pada diri kita saudara-saudara yang akan mereka tolong dan mereka akan menolong, dan mereka akan berikan bantuan dan mereka akan membantu. Dan dalam hal itu terdapat keuntungan moral yang besar yang tidak akan diabaikan oleh orang yang lengah.

  • Ia menyatukan antara elemen-elemen umat dan melunakkan hati antara golongan-golongannya. Ia meletakkan untuk umat neraca yang mantap dan teliti ini:

لَا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَـٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَـٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ * إِنَّمَا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ قَـٰتَلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَـٰرِكُمْ وَظَـٰهَرُوا۟ عَلَىٰٓ إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai teman setia, yaitu orang-orang yang memerangimu karena agama, mengusir kamu dari negerimu, dan membantu orang lain untuk mengusirmu. Barang siapa menjadikan mereka sebagai teman setia, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah: 8-9)

  • Ia meletakkan bagi umat kaidah-kaidah dalam ibadah, transaksi, undang-undang, akhlak, kesehatan, sosial, ilmu, dan pembelajaran, bahkan dalam makanan dan minuman, bahkan dalam segala urusan kehidupan.

  • Ia juga sempurna dan komprehensif yang mampu untuk menetapkan sistem terbaik untuk kehidupan umum umat, baik praktis maupun spiritual. Dan inilah keistimewaan yang membuat Islam unggul. Ia meletakkan sistem kehidupan bagi umat di atas dua dasar penting: mengambil yang baik dan menghindari yang membahayakan.

  • Ia mampu untuk menghindarkan kita dari masalah-masalah vital yang menimpa negara-negara lain yang tidak mengenal jalan ini dan tidak menempuhnya. Bahkan, ia mampu memecahkan banyak dari masalah-masalah rumit yang tidak mampu dipecahkan oleh sistem-sistem saat ini sebelumnya. (6)

2 – Faktor-Faktor Kekuatan dalam Proyek Islam:

Umat dalam masa kebangkitannya membutuhkan emosi, perasaan, sistem, dan kaidah-kaidah yang mendorong putra-putra mereka untuk bekerja memperbaiki keadaan mereka dan beriman dengan keniscayaan mencapai tujuan-tujuan mereka yang dicita-citakan. Imam Al-Banna –semoga Allah merahmatinya– berpendapat bahwa jika keinginan untuk bangkit dan maju adalah sebab dalam meniru dan menyerupai Barat, maka dalam Islam kita terdapat sesuatu yang dapat mengantarkan kita kepada kebangkitan dan peradaban modern, dan mencukupkan kita dari ketergantungan dan peniruan, dan menghindarkan kita dari kesalahan-kesalahan orang lain, dan menghemat waktu dan tenaga yang terbuang dalam mencoba sistem yang terbukti kegagalannya dan meluas bahayanya.

Imam Al-Banna mengeluarkan faktor-faktor kebangkitan dan pijakannya dari Al-Qur’an al-Karim dan As-Sunnah an-Nabawiyyah al-Mutahharah, dan bersaksi atas keberhasilannya dengan bukti-bukti dari sejarah Islam. Faktor-faktor ini memperhatikan sisi spiritual dan sisi material secara bersama-sama. Faktor-faktor itu adalah sebagai berikut:

a. Kekuatan Psikologis:

Ada hal-hal yang harus tersedia ketika membentuk umat, mendidik bangsa, mewujudkan harapan, dan meraih kemenangan untuk suatu manhaj. Totalitas hal-hal ini adalah apa yang disebut Imam Al-Banna sebagai “kekuatan psikologis”, yang ia jelaskan dan tentukan rukun-rukunnya dalam perkataannya: “Kehendak yang kuat yang tidak dimasuki kelemahan, loyalitas yang teguh yang tidak diatasi perubahan atau pengkhianatan, pengorbanan yang berharga yang tidak dihalangi ketamakan atau kebakhilan, serta pengetahuan dengan prinsip, iman kepadanya, dan penghargaan terhadapnya yang memelihara dari kesalahan di dalamnya, penyimpangan darinya, tawar-menawar tentangnya, dan tertipu oleh selainnya.” (7)

Kemudian setelah itu datanglah harapan yang luas akan kemungkinan perubahan dan transformasi dari kelemahan menuju pemberdayaan, dan dari kehinaan menuju keperkasaan. Harapan ini menjadi kuat dengan iman akan terwujudnya janji Allah kepada umat muslim. Inilah yang ditegaskan oleh Al-Qur’an al-Karim ketika menjadikan keputusasaan sebagai jalan menuju kekafiran, dan menanamkan pada kaum muslimin semangat dari harapan yang mengeluarkan dari umat yang mati suatu umat yang penuh dengan kehidupan, semangat, dan tekad. (8) Allah Ta’ala berfirman:

وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى ٱلَّذِينَ ٱسْتُضْعِفُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةًۭ وَنَجْعَلَهُمُ ٱلْوَٰرِثِينَ * وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang dilemahkan di bumi, dan Kami akan menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi, dan Kami akan memberikan kedudukan bagi mereka di bumi.” (QS. Al-Qashash: 5-6)

Imam Al-Banna berpendapat bahwa rukun-rukun dasar ini dikhususkan untuk jiwa, dan bahwa kekuatan spiritual ini adalah fondasi yang di atasnya dibangun prinsip-prinsip, dididik umat yang bangkit, terbentuk bangsa-bangsa muda, dan diperbarui kehidupan bagi mereka yang diharamkan kehidupan untuk waktu yang lama (9). Dan bahwa bangsa yang kehilangan –atau para pemimpinnya dan seruan perbaikan di dalamnya yang kehilangannya– maka ia adalah bangsa yang main-main dan malang, tidak akan mencapai kebaikan, dan tidak akan mewujudkan harapan. Cukuplah baginya untuk hidup dalam suasana mimpi, dugaan, dan khayalan. (10)

b. Akhlak:

Umat yang bangkit membutuhkan akhlak yang mulia yang mampu menghadapi tuntutan-tuntutan zaman baru dan hal-hal baru yang terjadi. Akhlak ini tidak dapat digantikan oleh undang-undang positif dalam menghadapi kemungkinan dampak negatif dari kemajuan material.

Imam Al-Banna mengakui akan pentingnya kekuatan material dalam melahirkan kebangkitan dan mewujudkan kemajuan. Akan tetapi, beliau menjadikannya di peringkat kedua setelah akhlak. Beliau berkata: “Banyak orang menyangka bahwa Timur kekurangan kekuatan material berupa harta, perlengkapan, alat-alat perang, dan perjuangan untuk bangkit dan menyamai bangsa-bangsa yang merampas haknya dan menindas bangsanya. Itu benar dan penting, tetapi yang lebih penting darinya dan lebih wajib adalah: kekuatan spiritual yang terdiri dari akhlak yang mulia, jiwa yang mulia, iman kepada hak-hak dan pengetahuannya, kehendak yang kuat, pengorbanan dalam jalan kewajiban, dan loyalitas yang di atasnya dibangun kepercayaan dan persatuan, dan dari keduanya akan terwujud kekuatan.” (11)

Imam Al-Banna mendasarkan dalam memperkuat pendapatnya ini kepada Al-Qur’an yang menjadikan kebaikan diri dan penyuciannya sebagai fondasi bagi keberuntungan dan kesuksesan. Allah Ta’ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا * وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)

Dan Dia menegaskan bahwa perubahan keadaan umat bergantung pada perubahan akhlak mereka dan kebaikan jiwa-jiwa mereka. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Adapun sumber akhlak yang mulia adalah Islam yang menghidupkan hati nurani, membangkitkan perasaan, memberi peringatan kepada hati, meninggalkan bersama setiap jiwa pengawas yang tidak lengah, mendorongnya kepada kebaikan secara berkelanjutan, menghalanginya dari perbuatan dosa dengan tegas, menjauhkannya dari jalan kehinaan, mencerahkannya tentang jalan kebaikan dan kejahatan, mengumpulkan berbagai kebaikan dan kemuliaan, dan menyeru kepada penyucian jiwa, meninggikannya, memurnikan ruh, menjernihkannya, dan berkorban di jalan kebenaran. (12)

c. Keperkasaan Nasional:

Umat yang bangkit membutuhkan kebanggaan terhadap nasionalismenya. Kebanggaan inilah yang mendorong putra-putranya untuk berkorban dengan darah mereka dan jiwa mereka demi itu, bekerja untuk kebaikannya, dan memuliakannya. Imam Al-Banna menegaskan bahwa hal ini akan terwujud ketika putra-putra umat bangga dengan keutamaannya dan berbangga dengan sejarahnya, dan menyadari hakikat pemuliaan yang dikhususkan Tuhan mereka kepada mereka dalam firman-Nya Ta’ala:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 110)

Imam Al-Banna memperhatikan bangsa-bangsa modern, lalu mendapati mereka bekerja untuk memantapkan makna harga diri nasional dalam jiwa putra-putra mereka. Hal ini terbukti dari slogan-slogan yang keluar dari Barat seperti: “Jerman di atas segalanya”, “Italia di atas segalanya”, dan “Bernyanyilah, wahai Inggris, dan berkuasalah”. Imam Al-Banna menyadari bahwa kita harus kembali kepada kebanggaan terhadap nasionalisme kita dan rasa bangga terhadapnya, serta menjadikan sejarah kita, peradaban kita, dan masa lalu kita memiliki bagian dari penghargaan dan pengagungan. Dengan demikian, kita tidak akan hancur di dalam bangsa lain, dan tidak akan mengingkari keutamaan yang dicatat oleh sejarah untuk nenek moyang kita, yang zaman terus menyebutnya, dan seluruh bangsa mengakuinya untuk mereka, dan itu merupakan tiang penyangga dari tiang-tiang peradaban saat ini. (13)

Imam Al-Banna membedakan antara nasionalisme kita dan nasionalisme bangsa lain. Nasionalisme mereka berdiri di atas fanatisme kesukuan yang menguasai hati bangsa dan menggerakkan emosi umat, serta membakar api fanatisme dalam jiwa para penganutnya. Maka yang satu membanggakan rasnya, dan yang lain meninggikan diri dengan asal-usulnya. Itu adalah nasionalisme saling membunuh dan agresi terhadap bangsa-bangsa lemah, yang dicela oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya: “Tinggalkanlah, karena ia busuk.” Adapun nasionalisme kita, maka ia adalah nasionalisme yang didefinisikan oleh Imam Al-Banna bahwa ia tidak berdiri di atas fanatisme ras dan kebanggaan palsu, tetapi memimpin dunia kepada kebaikan (14), dan lingkupnya meluas sehingga mencakup negara secara khusus terlebih dahulu, kemudian meluas untuk mencakup negeri-negeri Islam kedua, kemudian semakin meluas untuk mencakup seluruh umat manusia. Perluasan inilah yang mendorong seorang muslim untuk bekerja demi kebaikan semua manusia. Karena itulah, Allah menentukan alasan mengapa umat Islam menjadi yang terbaik. Dia berfirman:

تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ

“(Kamu adalah umat terbaik karena) kamu menyuruh berbuat yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110) (14)

d. Ilmu:

Ilmu adalah pijakan kebangkitan. Karena ia yang memberinya dengan penemuan-penemuan dan penemuan-penemuan. Imam Al-Banna –semoga Allah merahmatinya– telah menunjukkan kedudukan ilmu dalam Islam. Beliau menegaskan bahwa Islam tidak menentang ilmu, bahkan menjadikannya sebagai kewajiban dari kewajiban-kewajibannya. Imam Al-Banna berkata: “Islam membebaskan akal, mendorong perenungan alam semesta, mengangkat derajat ilmu dan para ilmuwan, menyambut dengan yang baik dan bermanfaat dari segala sesuatu, dan hikmah adalah barang hilang milik orang mukmin, di mana pun ia menemukannya, maka ia adalah manusia yang paling berhak dengannya.” (15)

Imam Al-Banna berpendapat bahwa mengabaikan ilmu-ilmu praktis dan pengetahuan-pengetahuan alam, menyia-nyiakan waktu, dan membuang-buang tenaga dalam filsafat-filsafat teoritis yang mandul dan ilmu-ilmu khayalan yang merusak merupakan salah satu penyebab keterbelakangan umat dan kejatuhannya. (16)

Imam Al-Banna menjelaskan sifat ilmu pada umat Islam. Beliau menyebutkan bahwa Islam yang hanif telah mewajibkan akal manusia suatu jenis pemikiran yang merupakan yang paling sempurna, paling lengkap, paling sesuai dengan realitas kehidupan dan logika alam semesta, dan paling besar manfaatnya bagi anak-anak manusia. Itulah menggabungkan antara iman kepada yang gaib dan mengambil manfaat dari akal. Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi manusia untuk kembali kepada iman kepada Allah, kenabian, ruh, dan kehidupan akhirat. Hal ini terjadi di saat yang sama ketika mereka harus membebaskan akal mereka untuk belajar dan mengetahui, menciptakan dan menemukan, memanfaatkan materi mati ini, dan mengambil manfaat dari apa yang ada di alam semesta berupa kebaikan dan keistimewaan yang ada di dalamnya. (17)

e. Kekuatan Ekonomi:

Ekonomi yang kuat dianggap sebagai pijakan dasar dari pilar-pilar kebangkitan. Imam Al-Bana telah mengingatkan pentingnya aspek ini dalam proyek kebangkitan Islam. Karena seseorang tidak akan merasakan keperkasaan dan kemuliaan kecuali dengan kehidupan yang mulia. Dan kehidupan yang mulia ini tidak akan terwujud kecuali jika kebutuhan-kebutuhan pokok hidup tersedia baginya, dan ia merasakan keadilan sosial dan kesetaraan dalam peluang yang setara.

Imam Al-Banna menyeru untuk menyelamatkan umat dari pertentangan sistem dan pendapat yang datang; baik kapitalis, sosialis, maupun komunis; agar selamat dari kekurangan dan kesalahan-kesalahannya dan memecahkan masalah-masalah ekonominya melalui jalan yang terdekat. (18) Beliau menentukan fondasi-fondasi yang di atasnya ekonomi Islam berdiri. Fondasi-fondasi itu adalah sebagai berikut:

  • Islam tidak meremehkan harta, tidak meragukan kekayaan, tidak mengharamkan yang baik-baik. Bahkan, ia menganggap harta sebagai nikmat dari nikmat-nikmat Allah yang wajib disyukuri. Nabi ﷺ bersabda: “Nikmat itu harta yang baik bagi laki-laki yang saleh.” Beliau berlindung dari kefakiran dan menggandengnya dengan kekafiran. Beliau bersabda: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran.” Kemudian beliau mendorong bekerja dan mencari nafkah, dan menganggap itu sebagai pendekatan diri kepada Allah yang mengantarkan kepada cinta-Nya, pahala-Nya, dan ampunan-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai mukmin yang profesional.” Dan beliau mengharamkan meminta-minta dan mengemis karena kehinaan dan kerendahan yang ada di dalamnya.

  • Islam mewasiatkan untuk menjaga harta, moderat dalam membelanjakannya, dan mencari jalan terbaik dengannya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تُؤْتُوا۟ ٱلسُّفَهَآءَ أَمْوَٰلَكُمُ ٱلَّتِى جَعَلَ ٱللَّهُ لَكُمْ قِيَـٰمًۭا

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya harta-harta mereka yang Allah menjadikannya sebagai pokok kehidupan bagimu.” (QS. An-Nisa’: 5)

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا۟ لَمْ يُسْرِفُوا۟ وَلَمْ يَقْتُرُوا۟ وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًۭا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan, dan tidak pula kikir, dan adalah pembelanjaan itu di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67)

  • Islam mengarahkan perhatian kepada sumber-sumber kekayaan dan akar-akar cara-cara mencari nafkah, seperti perdagangan, pertanian, industri, kekayaan hewani, mineral, air, udara, dan kekuatan kosmik. Ia mendorong umat Islam untuk mengeksploitasinya, mengembangkannya, mengambil manfaat darinya, dan tidak melalaikannya.

  • Islam mengharamkan mencari nafkah yang haram dan apa yang mengarah kepadanya berupa kebencian, permusuhan, dan kerusakan masyarakat. Karena Islam ketika ingin menyediakan bagi individu sarana kehidupan dan kesejahteraan, ia juga ingin menyediakan bagi masyarakat kehidupan solidaritas dan ketenteraman, serta memberantas keburukan mementingkan diri sendiri dan egoisme. Maka ia mengharamkan riba, mengharamkan penipuan, mengharamkan kecurangan, dan menetapkan dalam hal itu kaidah yang terkenal tentang mendahulukan kemaslahatan umum di atas kemaslahatan pribadi selalu untuk mencapai kebaikan bersama.

  • Islam menggambarkan rencana-rencana dasar untuk mendekatkan antar kelas. Ia mengurangi dari harta orang kaya apa yang menyucikannya, membersihkannya, menjernihkannya, dan membuatnya mendapatkan hati dan pujian. Ia menjadikannya zuhud dalam kemewahan dan kesombongan, mendorongnya untuk bersedekah dan berbuat baik, menjanjikannya pahala dan pemberian, menetapkan bagi orang miskin hak yang diketahui, dan menjadikannya dalam tanggungan negara terlebih dahulu, kemudian dalam tanggungan kerabat kedua, dan kemudian dalam tanggungan masyarakat setelahnya. (19)

f. Kesehatan Jasmani:

Umat yang bangkit membutuhkan individu-individu yang mampu menanggung beban kebangkitan dan melindungi hasil-hasil yang dicapai. Karena itu, Islam menyerukan perhatian untuk menguatkan tubuh. Perhatian Imam Al-Banna terhadap kesehatan jasmani sangat besar, sehingga ia mengutamakannya dalam pembahasannya tentang sifat saudara muslim di atas keteguhan akhlak, budaya berpikir, keselamatan akidah, dan ketepatan ibadah (20). Penjelasannya adalah bahwa kesehatan jasmani membantu segala sesuatu yang ada setelahnya. Dan bahwa tubuh yang sakit yang digerogoti penyakit dan dihancurkan oleh rasa sakit tidak akan mampu menanggung konsekuensi kerja dan melindungi kebenaran.

Imam Al-Banna –semoga Allah merahmatinya– bersaksi tentang pentingnya kesehatan jasmani bagi manusia muslim, kemudian bagi umat Muslimnya, dengan sabda Rasulullah ﷺ:

ٱلْمُؤْمِنُ ٱلْقَوِىُّ خَيْرٌۭ وَأَحَبُّ إِلَى ٱللَّهِ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِ ٱلضَّعِيفِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)

Dan sabda beliau juga:

إِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقًّۭا

“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.” (HR. Al-Bukhari)

Kemudian beliau menyebutkan banyak contoh dari ajaran-ajaran Islam di mana Rasulullah yang mulia menjelaskan cara-cara perawatan kesehatan. Ini termasuk dalam bab kedokteran preventif saat ini, seperti: tidak berlebihan dalam makan, larangan mencemari sumber-sumber air, karantina kesehatan untuk negeri yang tertimpa wabah dan penduduknya, peringatan dari penularan dan melarikan diri dari penderita kusta, kemudian penekanan setelahnya pada berolahraga, dan larangan keras terhadap membujang dan mengasingkan diri di biara dan menyiksa tubuh sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Ta’ala (21). Imam Al-Bana menyebutkan bahwa semua ajaran ini menunjukkan “perhatian besar Islam terhadap kesehatan umum umat, ketegasannya dalam menjaganya, dan kelapangan dadanya terhadap semua yang mengandung kebaikannya dan kebahagiaannya dari aspek yang penting ini.” (22)

g. Kemiliteran:

Setiap umat harus memiliki kekuatan yang melindungi kebangkitannya, menangkal musuh, dan mencegah orang-orang yang mengintainya untuk berpikir tentang menghentikan pergerakannya dan menggagalkan kemajuannya. Kekuatan inilah yang diungkapkan oleh Imam Al-Banna dengan istilah “al-Jundiyyah“. Imam Al-Banna menunjukkan pentingnya “al-Jundiyyah” melalui perhatian Islam terhadapnya. Islam “menjadikannya sebagai kewajiban yang kokoh dari kewajiban-kewajibannya, dan tidak membedakan antara shalat dan puasa dalam hal apa pun” (23). Inilah yang kita lihat dalam firman-Nya Ta’ala:

وَأَعِدُّوا۟ لَهُم مَّا ٱسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍۢ وَمِن رِّبَاطِ ٱلْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka segala kemampuan yang kamu miliki, termasuk pasukan berkuda, untuk membuat takut musuh Allah dan musuhmu.” (QS. Al-Anfal: 60)

Imam Al-Banna membedakan antara kemiliteran umat Islam dan umat-umat lain yang menggunakannya untuk menyerang orang lain. Islam yang menyucikan kekuatan adalah yang mengutamakan perdamaian di atasnya. Allah Tabāraka wa Ta’ālā berfirman langsung setelah ayat kekuatan:

وَإِن جَنَحُوا۟ لِلسَّلْمِ فَٱجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah.” (QS. Al-Anfal: 61)

Dan Dialah yang menentukan balasan kemenangan dan manifestasinya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَيَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِىٌّ عَزِيزٌ * ٱلَّذِينَ إِن مَّكَّنَّـٰهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ أَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَمَرُوا۟ بِٱلْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا۟ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَـٰقِبَةُ ٱلْأُمُورِ

“Sungguh, Allah pasti akan menolong orang-orang yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj: 40-41)

Imam Al-Banna berhasil dalam memilih istilah “al-Jundiyyah“. Karena “al-Jundiyyah” tidak berarti kekuatan mentah, tetapi adalah kekuatan yang disiplin dengan akhlak, dan semangat yang meresap ke dalam masyarakat, sehingga mewarnainya dengan keseriusan dan keteraturan. Karena itu, Imam berpendapat bahwa jalan menuju “al-Jundiyyah” yang benar yang diandalkan oleh umat dalam melindungi kebangkitannya dimulai dengan perhatian terhadap generasi muda melalui pasukan pramuka dan penjelajah serta berolahraga. Karena kegiatan-kegiatan ini memainkan peran penting dalam “memperkuat barisan dengan mengembangkan tubuh saudara-saudara, membiasakan mereka dengan ketaatan, keteraturan, akhlak olahraga yang mulia, dan mempersiapkan mereka untuk kemiliteran yang benar yang diwajibkan oleh Islam atas setiap muslim.” (24)

Sumber: Tarbiyaa

Catatan Kaki:

(1) Pada tahun 1948 M, Imam Al-Banna mengirim surat panjang kepada Raja Faruq, Raja Mesir dan Sudan, dan kepada Perdana Menterinya Mustafa An-Nahhas Pasha, dan kepada raja-raja dunia Islam, pangeran-pangerannya, dan para penguasanya, dan kepada sejumlah besar tokoh terkemuka yang memiliki kualitas religius dan duniawi di berbagai negeri Islam. Beliau menyeru mereka di dalamnya untuk beralih kepada manhaj Islam dalam melahirkan kebangkitan Islam yang besar dan meninggalkan manifestasi peniruan dan ketergantungan kepada Barat. Lihat surat “Naḥw an-Nūr” dalam Rasā’il al-Imām Ḥasan al-Bannā.

(2) Al-Banna, Hasan. Fī ‘Ahd al-Intiqāl, Surat kabar mingguan Al-Ikhwān al-Muslimūn, edisi 46, tahun kelima, 2 Maret 1937 M, hlm. 1-2.

(3) Al-Banna, Hasan. Lā budda min hādhā li kulli ummatin turīdu an-nuhūḍ, Surat kabar mingguan Al-Ikhwān al-Muslimūn, edisi 30, tahun pertama, 1 Maret 1934 M, hlm. 1-3.

(4) Al-Banna, Hasan. Al-Manhaj, Surat kabar mingguan Al-Ikhwān al-Muslimūn, edisi 31, tahun pertama, 8 Maret 1934 M, hlm. 1-3.

(5) Sumber yang sama, hlm. 1-3.

(6) Sumber yang sama, hlm. 1-3. Lihat juga: Fī ‘Ahd al-Intiqāl, hlm. 1-2.

(7) Al-Banna, Hasan. Majmū’ah Rasā’il al-Imām asy-Syahīd Ḥasan al-Bannā, hlm. 49.

(8) Sumber yang sama, hlm. 69.

(9) Sumber yang sama, hlm. 49.

(10) Sumber yang sama.

(11) Sumber yang sama, hlm. 50.

(12) Sumber yang sama, hlm. 346.

(13) Sumber yang sama, hlm. 70.

(14) Sumber yang sama.

(15) Sumber yang sama, hlm. 374.

(16) Sumber yang sama, hlm. 144.

(17) Sumber yang sama, hlm. 121-122.

(18) Sumber yang sama, hlm. 249.

(19) Sumber yang sama, hlm. 250-255.

(20) Sumber yang sama, hlm. 375.

(21) Sumber yang sama, hlm. 74.

(22) Sumber yang sama.

(23) Sumber yang sama, hlm. 71.

(24) Sumber yang sama, hlm. 175.

Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Share 0
Share 0
Topik berkaitan
  • Imam Hasan Al-Banna
Anda Mungkin Juga Menyukai
D0wykae7tnkks00og8 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Ketekunan/Profesionalisme dalam Bekerja: Investasi yang Keuntungannya Dipanen Seumur Hidup

K634p0el8iokwgk8c0 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Tujuan Syariat tentang Kebebasan (Bagian 2)

1ts5ut2buv8ks0k4so 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Antara Asap Perang dan Harapan Fajar – Pembacaan Atas Pemandangan Dunia dari Teheran hingga Gaza

1ryknkc3gta8wc8cwo 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Kesetaraan Antara Laki-laki dan Perempuan… Sebuah Pandangan Islam

4r2zb29z5ksg84s08w 800xauto
View Post
  • Aqidah
  • Wasathiyah

Renungan Ketuhanan dan Sentuhan Keimanan

2ph6xu3mz0sgoc0g08 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Menghormati Kehendak Umat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk Anda Para Pembina Umat!
Iklan PPMT
Trending
  • 12sdf21 1779091900 e1779091918502 1
    • Akhbar Dauliyah
    Pertarungan Narasi: Washington Hukum Armada Ketahanan dan Buru Ikhwanul Muslimin
    • 20.05.26
  • تركواز بوست المال 2
    • Akhlak
    Cinta Harta, Kedudukan, dan Jabatan
    • 20.05.26
  • 3e05e8f8 8637 4538 a083 2655c172f41a(4) 3
    • Tokoh Islam
    • Wasathiyah
    Mendengarkan Syekh Al-Banna
    • 20.05.26
  • Profil dan Biografi Al Zahrawi 4
    • Tokoh Islam
    Az-Zahrawi: Ilmuwan Paling Terkenal dari Andalusia
    • 20.05.26
  • MISSILE IRAN 5
    • Akhbar Dauliyah
    Menteri Dalam Negeri Pakistan Kunjungi Iran, IRGC Ancam Perluas Lingkup Perang
    • 20.05.26
  • HIw4hJdWgAA fbg 6
    • Akhbar Dauliyah
    Iran Terima Tanggapan AS, Deklarasikan Zona Kendali di Hormuz, Trump Peringatkan
    • 21.05.26

Forum Dakwah & Tarbiyah Islamiyah adalah Perkumpulan yang didirikan untuk menggalakan kegiatan dakwah dan pembinaan kepada masyarakat secara jelas, utuh, dan menyeluruh.

Forum ini berupaya menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat melalui berbagai macam kegiatan dakwah.

Kegiatan dakwah FDTI dilandasi keyakinan bahwa peningkatan iman dan taqwa tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan melakukan aktivitas nasyrul hidayah (penyebaran petunjuk agama), nasyrul fikrah (penyebaran pemahaman agama), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran).

Tag
Afghanistan Al-Aqsha Amerika Arab Saudi Arbain Nawawiyah AS covid-19 Dr. Yusuf Al-Qaradhawi Erdogan Gaza hadits arbain haji Hamas hizbullah Ikhwanul Muslimin india Irak Iran Israel Kemenag Lebanon Ma'rifatul Islam materi tarbiyah Mesir Muhammadiyah MUI Nahdlatul Ulama Pakistan Palestina Penjajah Israel Persis pks qawaidud da'wah Ramadhan Rusia Saudi Arabia Sudan Suriah Taliban Tunisia Turki ushulul Islam Wasathiyah Yaman Yusuf Al-Qaradhawi
Komentar Terbaru
  • Ghusni Darodjatun pada Ahdafut Tarbiyah
  • Susi pada Hadits 12: Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat
  • Supriadi pada Al-Ihsan
  • Tata pada Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam
  • Halimah Ayu Lestari pada Ahammiyatus Syahadatain (Pentingnya Dua Kalimat Syahadat)
  • Zidnialkelisa pada Al-Mukhtashar fi Tafsir Al-Qur’anul Karim: QS. Al-Baqarah ayat 6 – 20

Input your search keywords and press Enter.