RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
Kategori
  • Akhbar Dauliyah (1,057)
  • Akhlak (135)
  • Al-Qur'an (80)
  • Aqidah (169)
  • Dakwah (35)
  • Fikrah (1)
  • Fikrul Islami (43)
  • Fiqih (193)
  • Fiqih Dakwah (76)
  • Gerakan Pembaharu (23)
  • Hadits (107)
  • Ibadah (13)
  • Kabar Umat (442)
  • Kaifa Ihtadaitu (6)
  • Keakhwatan (7)
  • Kisah Nabi (12)
  • Kisah Sahabat (4)
  • Masyarakat Muslim (14)
  • Materi Khutbah dan Ceramah (78)
  • Musthalah Hadits (3)
  • Rumah Tangga Muslim (12)
  • Sejarah Islam (199)
  • Senyum (2)
  • Taujihat (25)
  • Tazkiyah (45)
  • Tokoh Islam (20)
  • Ulumul Qur'an (7)
  • Uncategorized (5)
  • Wasathiyah (138)
0
2K
RISALAH
Subscribe
RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
  • Akhlak
  • Sejarah Islam
  • Tokoh Islam

Rabiah Al-Adawiyah dan Pengasingan Dirinya dari Manusia

  • 25-05-2026
  • No comments
Tokoh rabiah

Oleh: Prof. Dr. Ragheb As-Sirjani

Ringkasan Artikel

Rabiah Al-Adawiyah adalah salah satu wanita paling terkenal dalam sejarah Islam setelah para Ummahatul Mukminin (ibu-ibu kaum mukminin) dan para sahabat wanita mulia. Beliau adalah seorang ahli ibadah, alim, dan fakih dari kalangan wanita pada abad kedua Hijriyah.

Rabiah Al-Adawiyah dan Pengasingan Dirinya dari Manusia

Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang salah satu wanita paling terkenal dalam sejarah Islam setelah para Ummahatul Mukminin dan sahabat wanita mulia. Beliau adalah Rabiah binti Ismail Al-Adawiyah Al-Bashriyyah, kunyahnya Ummul Khair, mantan budak (mawla) keluarga Atik.[1]

Rabiah Al-Adawiyah termasuk ahli ibadah, alim, dan fakih dari kalangan wanita pada abad kedua Hijriyah. Beliau lahir sekitar tahun 100 H dan wafat tahun 180 atau 185 H—artinya, beliau hidup sekitar 80 tahun atau lebih.

Dikatakan bahwa beliau dinamakan “Rabiah” (yang berarti “keempat”) karena ia adalah anak keempat (perempuan) di antara saudara-saudaranya. Namun, tidak diketahui secara pasti mengapa beliau dinisbatkan kepada “Al-Adawiyah”. Kemungkinan besar keluarga Atik adalah cabang dari Bani Adwah.

Catatan Penting tentang Sirah (Riwayat Hidup) Beliau

Sirah Rabiah mengandung banyak pelebihan (mubalaghah), dan pelebihan ini tampak dalam karya-karya seni dan sastra. Beliau tidaklah menyimpang sebagaimana yang tersiar tentang awal kehidupannya. Beliau sejak awal tumbuh—pada umumnya—di atas Al-Qur’an dan ilmu. Beliau juga tidak memiliki pelebihan-pelebihan gaya kaum sufi, karena tasawuf dengan makna-makna yang keluar dari sunnah belum muncul pada tahap awal sejarah Islam yang maju ini. Sebagian orang sezamannya melebih-lebihkan dengan mengaku-ngaku adanya karomah-karomah tertentu, tetapi Rabiah sendiri menyangkal hal itu.

Yang Menarik Perhatian: Menjauhi Popularitas (Ketenaran)

Sesuatu yang menarik perhatian dalam kehidupan Rabiah Al-Adawiyah adalah sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh kebanyakan manusia: yaitu menjauhi popularitas (asy-syuhrah).

Kebanyakan manusia ingin dikenal oleh sebanyak mungkin orang. Media sosial pada zaman ini telah menjadi fitnah zaman (fitnatul ‘ashr) karena masalah popularitas dan meraih keuntungan-keuntungan duniawi dari popularitas ini. Di dalamnya terdapat bahaya-bahaya serius, seperti:

  1. Popularitas karena perbuatan-perbuatan remeh atau tidak berarti.

  2. Popularitas karena perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan akhlak dan agama, atau karena kebohongan.

  3. Popularitas bagi orang yang tidak memiliki kapasitas atau kemampuan sejati.

Dengan demikian, terbukalah pintu kompetisi (tanafus) di antara semua makhluk. Popularitas dalam skala besar yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh siapa pun telah menjadi fitnah bagi manusia.

Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ»

“Barang siapa yang mengenakan pakaian popularitas (untuk mencari ketenaran), maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah; Al-Albani: hasan)[2][3]

Muslim meriwayatkan dari Jundab Al-‘Alaqi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ جُنْدَبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْعَلاَقِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ يُسَمِّعْ يُسَمِّعِ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِ يُرَائِ اللَّهُ بِهِ»

“Barang siapa yang memperdengarkan (amalnya kepada orang lain), maka Allah akan memperdengarkan (keburukannya). Dan barang siapa yang riya’ (pamer amal), maka Allah akan memamerkan (keburukannya).” (HR. Muslim)[4]

Dari Al-A’masy, ia berkata: *“Ibrahim bin Adham[5] sangat menjaga diri dari popularitas (asy-syuhrah). Ia tidak mau duduk di dekat tiang (tempat terhormat). Dan ia biasa berkata: ‘Barang siapa yang ingin bertobat, maka hendaknya ia keluar dari kezaliman-kezaliman dan meninggalkan campur baur (bergaul) dengan manusia. Jika tidak, ia tidak akan mendapatkan apa yang ia inginkan.'”* [6]

Ad-Darimi meriwayatkan dari Khaitsamah, ia berkata: *“Al-Harits bin Qais Al-Ju’fi[7]—dan ia termasuk sahabat Abdullah (bin Mas’ud), dan mereka sangat mengaguminya—adalah jika hanya satu atau dua orang yang duduk bersamanya, ia berbincang dengan mereka. Tetapi jika jumlah mereka banyak, ia pun bangkit dan meninggalkan mereka.”* [8]

Rabiah Memilih Mengasingkan Diri (I’tizal)

Rabiah Al-Adawiyah lebih memilih mengasingkan diri (al-i’tizal) dan tidak bercampur baur (ikhtilath) dengan manusia, meskipun beliau adalah seorang alim yang seharusnya bisa memiliki pengikut dan penuntut ilmu.

Benar, beliau meninggalkan pintu mengajar—meskipun mengajar itu mulia—tetapi beliau memilih jalan yang lebih selamat dan paling sedikit fitnahnya.

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata: “Dikatakan: ‘Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling utama?’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ» قَالُوا: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «مُؤْمِنٌ فِي شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ يَتَّقِي اللَّهَ، وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ»

“Mukmin yang berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya.” Para sahabat bertanya: ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau bersabda: “Mukmin yang berada di sebuah lembah (terpencil), yang bertakwa kepada Allah dan membiarkan manusia (tidak diganggu) dari kejahatannya.” (HR. Bukhari)[9]

Di sisi lain, dalam riwayat Ahmad (dan sanadnya sahih) dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ، أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ»

“Mukmin yang bercampur baur (bergaul) dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka, lebih besar pahalanya daripada mukmin yang tidak bercampur baur dengan manusia dan tidak sabar atas gangguan mereka.” (HR. Ahmad; Syu’aib Al-Arna’uth: sanad sahih)[10]

Setiap orang lebih tahu tentang kondisinya (mana yang lebih baik baginya)!

Sikap Rabiah terhadap Sufyan Ats-Tsauri

Suatu hari Rabiah berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri[11]: “Sebaik-baik lelaki engkau, andai saja engkau tidak mencintai dunia!”

Padahal, Sufyan dikenal sebagai zahid (ahli zuhud) dan alim. Namun, Rabiah menganggap bahwa lebih mengutamakan kitab-kitab hadis dan lebih suka bergaul dengan manusia termasuk bagian dari pintu-pintu dunia.[12]

Abbas Ad-Duri berkata: “Aku melihat Yahya bin Ma’in—dia tidak mendahulukan seorang pun atas Sufyan pada zamannya dalam fikih, hadis, zuhud, dan segala hal.”

Ja’far bin Sulaiman berkata: “Sufyan Ats-Tsauri memegang tanganku dan berkata: ‘Bawalah aku menemui “guru kecil” (al-mu’adzdzibah—maksudnya Rabiah) yang aku tidak merasakan ketenangan jika berpisah dengannya.'”

Ketika kami masuk menemui Rabiah, Sufyan mengangkat tangannya dan berdoa: “Ya Allah, aku memohon keselamatan (as-salamah) kepada-Mu.” Maka Rabiah pun menangis. Sufyan bertanya: “Apa yang membuatmu menangis?” Rabiah menjawab: “Engkau membuatku menangis.” Sufyan: “Bagaimana?” Rabiah berkata: “Tidakkah engkau tahu bahwa keselamatan dari dunia adalah dengan meninggalkan apa yang ada di dalamnya? Lalu, bagaimana mungkin (engkau memohon keselamatan) sementara engkau masih tercela (terlumuri) olehnya?!” [13]

Suatu hari Sufyan Ats-Tsauri menemui Rabiah—dan kondisi Rabiah sangat sederhana (zariyyatul hal). Sufyan berkata: “Wahai Ummu Amr, aku melihat keadaan yang sangat sederhana. Sekiranya engkau menemui tetanggamu si Fulan, niscaya ia akan mengubah sebagian dari yang aku lihat ini.”

Maka Rabiah berkata kepadanya: “Wahai Sufyan, apa yang engkau lihat dari keburukan keadaanku? Bukankah aku masih di atas Islam? Islam adalah kemuliaan yang tidak disertai kehinaan, kekayaan yang tidak disertai kemiskinan, dan keakraban yang tidak disertai keterasingan. Demi Allah, aku sungguh malu untuk meminta dunia dari Pemilik dunia (Allah), lalu bagaimana aku memintanya dari yang tidak memiliki dunia?!”

Maka Sufyan berkata: “Aku belum pernah mendengar perkataan seperti ini!”

Bisyr bin Shalih Al-‘Ataki berkata: “Beberapa orang meminta izin menemui Rabiah, dan bersama mereka Sufyan Ats-Tsauri. Mereka berbincang-bincang di sisinya sebentar, dan mereka menyebut-nyebut sesuatu tentang dunia. Ketika mereka bangkit (pulang), Rabiah berkata kepada pembantunya: ‘Jika orang tua ini (Sufyan) dan teman-temannya datang, jangan kau izinkan mereka masuk. Sesungguhnya aku melihat mereka mencintai dunia.'” [14]

Rabiah juga pernah berkata kepada Sufyan: “Sesungguhnya engkau hanyalah hari-hari yang terhitung. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dirimu telah berlalu. Hampir saja jika sebagian dirimu telah berlalu, maka seluruh dirimu akan ikut berlalu. Dan engkau mengetahui (hal ini), maka beramallah!” [15]

Ini menjelaskan penolakan Rabiah terhadap pernikahan. Pada kenyataannya, itu adalah hal yang baik (keputusan yang tepat) bahwa ia tidak menikah. Karena hidup bersamanya dengan kecenderungan zuhud yang ekstrem akan terasa sulit. Dan mungkin ia akan lalai dalam memenuhi hak suami, hak anak-anak, dan hak rumah tangga—dan ini sudah menjadi watak alami (bahwa orang dengan zuhud ekstrem akan sulit memenuhi hak-hak keluarga). Rasulullah ﷺ telah memerintahkan Abu Dzar untuk mengasingkan diri dari manusia jika bangunan (peradaban) telah mencapai (ketinggian) tertentu—karena manusia tidak akan mampu menanggung zuhudnya yang berlebihan melebihi kemampuan mereka. Namun demikian, beliau tidak mengingkari zuhud Abu Dzar.

Penolakan Rabiah terhadap Lamaran Seorang Saudagar Kaya

Rabiah Al-Adawiyah menolak lamaran pernikahan dari seorang saudagar besar dan terkenal, Abu Sulaiman Al-Hasyimi. Ia menjawab tawaran menarik dengan mahar besar tersebut dengan sepucuk surat yang isinya:

“Amma ba’du. Sesungguhnya zuhud di dunia adalah ketenangan hati dan tubuh, sedangkan keinginan terhadap dunia mewariskan kegundahan dan kesedihan. Maka apabila suratku ini sampai kepadamu, siapkanlah bekalmu dan persiapkanlah untuk hari kembali (akhirat)mu. Jadilah dirimu sendiri sebagai wasiat (pelaksana wasiat)-mu, dan jangan kau jadikan wasiatmu kepada selain dirimu. Berpuasalah sepanjang masa (dunia)mu, dan jadikanlah kematian sebagai waktu berbukamu. Maka sungguh tidak ada yang menggembirakanku seandainya Allah melimpahkan kepadaku berlipat-lipat kali lipat dari apa yang telah Dia limpahkan kepadamu, lalu hal itu menyibukkanku dari-Nya walau hanya sekejap mata. Wassalam.“

Filosofi Rabiah dalam Mengasingkan Diri

Rabiah menjelaskan filosofinya dalam mengasingkan diri:

  1. Ia tidak ingin terkenal (populer) di antara manusia, yang pada akhirnya akan membuatnya beramal karena mereka (ingin dilihat manusia), bukan karena Allah.

  2. Ia tidak ingin mereka mengetahui amal-amalnya.

Zulfa binti Abdul Wahid berkata: Aku bertanya kepada Rabiah: “Wahai bibi, mengapa engkau tidak mengizinkan manusia masuk menemuimu?”

Maka Rabiah menjawab: “Apa yang aku harapkan dari manusia? Jika mereka mendatangiku, mereka akan menceritakan tentang diriku apa yang tidak aku katakan dan tidak aku lakukan—hal-hal yang jika aku melihatnya sendiri, aku akan sangat terkejut dan merasa aneh. Telah sampai kepadaku bahwa mereka mengatakan: ‘Aku mendapatkan uang di bawah sajadahku,’ dan ‘Aku memasak periuk tanpa api’.”

Zulfa berkata: “Aku berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya mereka mengabarkan tentangmu bahwa engkau mendapatkan makanan dan minuman di rumahmu. Apakah engkau benar-benar mendapatkan sesuatu di dalamnya?'”

Rabiah menjawab: “Wahai putri saudaraku, seandainya aku mendapatkan sesuatu di rumahku seperti itu, aku tidak akan menyentuhnya dan tidak akan meletakkan tanganku di atasnya. Tetapi aku kabarkan kepadamu: aku membeli sesuatu, lalu diberkahi untukku di dalamnya.” [16]

Beberapa Perkataan Rabiah

  1. “Apa yang tampak dari amalku, aku tidak menganggapnya (bernilai) sedikit pun!”

  2. “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikan kalian, sebagaimana kalian menyembunyikan keburukan-keburukan kalian!” [17]

Shalih Al-Muri[18] berkata di hadapan Rabiah: “Barang siapa yang sering mengetuk pintu, maka pintu akan terbuka baginya!”

Maka Rabiah menjawab: “Pintu sudah terbuka, tetapi persoalannya adalah: siapa yang ingin (berminat) memasukinya?” [19]

Rabiah Tetap pada Pendiriannya Hingga Wafat

Rabiah Al-Adawiyah terus seperti ini hingga wafatnya. Beliau wafat tahun 180 H atau 185 H dalam usia sekitar 80 tahun. Wafatnya di Bashrah[20]—bukan di Yerusalem (al-Quds) seperti yang masyhur. Ia memiliki makam di Bashrah yang diziarahi oleh Ash-Shafadi beberapa kali. Tetapi itu adalah makam Rabiah binti Ismail Asy-Syamiyyah (yang berasal dari Syam), yang sezaman dengan Rabiah Al-Adawiyah. Dari sinilah terjadi kekacauan (identitas).

Ubaid bin Marhum Al-‘Aththar berkata: “Abdah binti Abu Syawal—dan ia termasuk budak wanita Allah yang terbaik, dan ia sering melayani Rabiah—berkata: ‘Rabiah biasa salat sepanjang malam. Jika fajar telah terbit, ia tidur sebentar di tempat salatnya hingga fajar menyingsing. Aku sering mendengarnya—ketika ia bangkit dari tidur singkatnya dengan kaget—berkata:

‘Wahai jiwa, berapa lama lagi engkau tidur? Sampai kapan engkau akan terus terjaga? Hampir saja engkau akan tidur dengan tidur yang tidak akan bangun darinya kecuali untuk teriakan hari kebangkitan (kiamat)!’

‘Abdah berkata: ‘Demikianlah kebiasaannya sepanjang masa hingga ia wafat. Ketika kematian menjemputnya, ia memanggilku dan berkata:

‘Wahai Abdah, janganlah kau kabarkan kematianku kepada siapa pun. Kafanilah aku dengan jubah (jubbah)ku ini—yaitu jubah dari bulu (syair) yang biasa ia kenakan untuk salat ketika mata-mata (manusia) telah terpejam.’

Maka kami pun mengafaninya dengan jubah itu dan kerudung dari wol yang biasa ia kenakan.” [21]

Semoga Allah merahmati Rabiah Al-Adawiyah. Ia telah bersusah payah dengan sangat. Tetapi ia adalah teladan yang baik (qudwah hasanah), baik bagi laki-laki maupun perempuan. Alangkah indahnya jika seseorang dapat menggabungkan antara ilmu dan zuhud, serta kesungguhan yang tulus untuk mencapai keikhlasan (al-ikhlas).[22]

Daftar Pustaka

[1] Ibnu Khallikan: Wafayât Al-A’yân wa Anbâ’ Abnâ’ Az-Zamân, 2/285
[2] Tsawb asy-syuhrah: pakaian yang tidak halal dipakai, atau pakaian yang dipakai untuk tujuan berbangga dan takabur, atau pakaian yang dipakai seseorang untuk menjadikan dirinya bahan tertawaan di antara manusia.
[3] Ibnu Majah: Kitab Al-Libâs, Bab Man Labisa Tsawba Syuhrah min at-Tsiyâb (3606)
[4] Muslim: Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqâ’iq, Bab Man Asyraka fi ‘Amalihi Ghairallâh (2987)
[5] Ibrahim bin Adham: salah satu ulama besar ahli zuhud.
[6] Ibnu ‘Asakir: Tarikh Dimasyq, tahqiq: ‘Amr bin Gharamah Al-‘Amrawi, Dar Al-Fikr, 1415 H/1995 M, 6/288
[7] Adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Ahli ibadah, fakih, pernah bergaul dengan Ali dan Ibnu Mas’ud, dan sangat jarang meriwayatkan hadis.” Lihat: Adz-Dzahabi: Siyar A’lâm An-Nubalâ, 4/75
[8] Ad-Darimi (521); Husain Salim Asad berkata: “Sanadnya sahih.”
[9] Bukhari: Kitab Al-Jihâd wa As-Siyar, Bab Afdlal an-Nâs Mumin Yujâhid bi Nafsihi wa Mâlihi fî Sabîlillâh (2634)
[10] Ahmad (5022); Syu’aib Al-Arna’uth berkata: “Sanadnya sahih, perawi-perawinya tsiqat (terpercaya), termasuk perawi Syaikhain (Bukhari-Muslim).”
[11] Sufyan Ats-Tsauri adalah ulama agung. Syu’bah bin Al-Hajjaj, Sufyan bin ‘Uyainah, dan Yahya bin Ma’in menjulukinya “Amirul Mukminin dalam Hadis”. Adz-Dzahabi berkata: “Ia adalah Syaikhul Islam, Imam Para Penghafal, Sayyid (Penghulu) Para Ulama yang Beramal pada zamannya.” Ia termasuk orang yang belajar adab kepada Rabiah Al-Adawiyah, meskipun usianya lebih tua darinya. Abu Sa’id Al-A’rabi berkata: “Adapun Rabiah, banyak orang meriwayatkan hikmah darinya, dan Sufyan, Syu’bah, dan lainnya meriwayatkan darinya.”
[12] Abu Thalib Al-Makki: Qût Al-Qulûb fî Mu’âmalat Al-Mahbûb wa Washf Tharîq Al-Murîd ilâ Maqâm At-Tauhîd, 2/94
[13] Thabaqât Ash-Shûfiyyah karya As-Sulami dan selanjutnya Dzikr an-Niswah Al-Muta’abbidât Ash-Shûfiyyât (hlm. 387)
[14] Siyar A’lâm An-Nubalâ, tahqiq modern (7/273)
[15] Ini adalah perkataan Al-Hasan Al-Bashri, dan Rabiah berasal dari Bashrah.
[16] Sibth Ibnu Al-Jauzi: Mir’ât Az-Zamân fî Tawârîkh Al-A’yân, 12/31
[17] Ibnu Khallikan: Wafayât Al-A’yân, 2/285
[18] Shalih Al-Muri: salah seorang ahli nasihat (wu”azh) dan zuhud yang besar, tetapi ia daif dalam hadis.
[19] Thabaqât Ash-Shûfiyyah (hlm. 389)
[20] Sibth Ibnu Al-Jauzi: Mir’ât Az-Zamân, 12/33
[21] Shifah Ash-Shafwah (2/245)
[22] Untuk menonton episode di YouTube, klik di sini: Rabiah Al-Adawiyah wa I’tizâl an-Nâs

Sumber: Islam Story

Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Share 0
Share 0
Topik berkaitan
  • Prof. Dr. Ragheb As-Sirjani
  • Rabiah Al-Adawiyah
Anda Mungkin Juga Menyukai
Yy4
View Post
  • Akhlak

Perkataan Ibnu Rajab tentang Amal yang Tercampur (Riya’)

توسعات المسجد النبوي عبر التاريخ
View Post
  • Kisah Nabi
  • Sejarah Islam

Antara Hijrah Para Nabi dan Hijrah Rasulullah ﷺ

Istock
View Post
  • Akhlak
  • Fiqih

Perkataan Sia-sia Dalam Sumpah

4e60a
View Post
  • Akhlak
  • Aqidah

Ikhlas Diperlukan Untuk Kebaikan Hidup

Dome putra mosque malaysia sunset 181624
View Post
  • Akhlak
  • Al-Qur'an

Allah Azza wa Jalla Menggambarkan Rasul-Nya sebagai Pembawa Berita Gembira dan Pemberi Peringatan

View Post
  • Akhlak

Sikap Pilih-pilih dan Dua Wajah dalam Beragama

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk Anda Para Pembina Umat!
Iklan PPMT
Trending
  • 1ts5ut2buv8ks0k4so 800xauto 1
    • Wasathiyah
    Antara Asap Perang dan Harapan Fajar – Pembacaan Atas Pemandangan Dunia dari Teheran hingga Gaza
    • 13.06.26
  • Image 2
    • Akhbar Dauliyah
    Setelah Penggeseran “Garis Kuning” dan Pelanggaran Gencatan Senjata, Akankah Netanyahu Kuburkan Kesepakatan Gaza?
    • 13.06.26
  • K634p0el8iokwgk8c0 800xauto 3
    • Wasathiyah
    Tujuan Syariat tentang Kebebasan (Bagian 2)
    • 13.06.26
  • 4
    • Fiqih
    Dari Fikih Prioritas dalam Kehidupan Seorang Muslim
    • 13.06.26
  • Jj4 5
    • Al-Qur'an
    • Fiqih
    Menafsirkan Al-Qur’an tanpa Ilmu adalah Perbuatan Terlarang
    • 13.06.26
  • توسعات المسجد النبوي عبر التاريخ 6
    • Kisah Nabi
    • Sejarah Islam
    Antara Hijrah Para Nabi dan Hijrah Rasulullah ﷺ
    • 14.06.26

Forum Dakwah & Tarbiyah Islamiyah adalah Perkumpulan yang didirikan untuk menggalakan kegiatan dakwah dan pembinaan kepada masyarakat secara jelas, utuh, dan menyeluruh.

Forum ini berupaya menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat melalui berbagai macam kegiatan dakwah.

Kegiatan dakwah FDTI dilandasi keyakinan bahwa peningkatan iman dan taqwa tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan melakukan aktivitas nasyrul hidayah (penyebaran petunjuk agama), nasyrul fikrah (penyebaran pemahaman agama), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran).

Tag
Afghanistan Al-Aqsha Amerika Arab Saudi Arbain Nawawiyah AS covid-19 Dr. Yusuf Al-Qaradhawi Erdogan Gaza hadits arbain haji Hamas hizbullah Ikhwanul Muslimin india Irak Iran Israel Kemenag Lebanon Ma'rifatul Islam materi tarbiyah Mesir Muhammadiyah MUI Nahdlatul Ulama Pakistan Palestina Penjajah Israel Persis pks qawaidud da'wah Ramadhan Rusia Saudi Arabia Sudan Suriah Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi Taliban trump Tunisia Turki ushulul Islam Wasathiyah
Komentar Terbaru
  • Ghusni Darodjatun pada Ahdafut Tarbiyah
  • Susi pada Hadits 12: Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat
  • Supriadi pada Al-Ihsan
  • Tata pada Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam
  • Halimah Ayu Lestari pada Ahammiyatus Syahadatain (Pentingnya Dua Kalimat Syahadat)
  • Zidnialkelisa pada Al-Mukhtashar fi Tafsir Al-Qur’anul Karim: QS. Al-Baqarah ayat 6 – 20

Input your search keywords and press Enter.