Ketentuan ini berlaku bagi siapa saja. Menafsirkan Al-Qur’an tanpa ilmu, bukan hanya merusak pemahaman terhadap agama, membawa absurditas, serta membawa kerusakan bagi manusia karena Al-Qur’an dijadikan bahan permainan akal manusia dan hawa nafsunya. Melainkan juga pelakunya mendapatkan ancaman dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»
“Barang siapa yang berkata tentang (isi) Al-Qur’an dengan tanpa ilmu, maka disediakan baginya tempat duduk di neraka.” (HR. Tirmidzi No. 4022, beliau mengatakan: hasan sahih)
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «وَمَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»
“Barang siapa yang berkata tentang (isi) Al-Qur’an dengan akal pikirannya semata, maka disediakan baginya tempat duduk di neraka.” (HR. Tirmidzi No. 4023, beliau mengatakan: hasan)
Bagaimana maksud hadis yang mulia ini?
Berkata Syaikh Abdurrahman Al-Mubarakfuri Rahimahullah:
«مَنْ قَالَ» أَيْ مَنْ تَكَلَّمَ «فِي الْقُرْآنِ» أَيْ فِي مَعْنَاهُ أَوْ قِرَاءَتِهِ «بِرَأْيِهِ» أَيْ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِهِ مِنْ غَيْرِ تَتَبُّعِ أَقْوَالِ الْأَئِمَّةِ مِنْ أَهْلِ اللُّغَةِ وَالْعَرَبِيَّةِ الْمُطَابِقَةِ لِلْقَوَاعِدِ الشَّرْعِيَّةِ، بَلْ بِحَسَبِ مَا يَقْتَضِيهِ عَقْلُهُ، وَهُوَ مِمَّا يَتَوَقَّفُ عَلَى النَّقْلِ بِأَنَّهُ لَا مَجَالَ لِلْعَقْلِ فِيهِ، كَأَسْبَابِ النُّزُولِ وَالنَّاسِخِ وَالْمَنْسُوخِ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِالْقِصَصِ وَالْأَحْكَامِ
“Wa man qāla (barang siapa yang berkata), fil Qur’an (tentang makna Al-Qur’an atau bacaannya), bi ra’yihi (dengan akal pikirannya semata) —yaitu dari dirinya sendiri tanpa mengikuti perkataan para imam ahli bahasa dan Arab yang sesuai dengan kaidah-kaidah syariat, bahkan berdasarkan apa yang dituntut oleh akalnya—padahal hal itu termasuk perkara yang bergantung pada naql (teks), karena tidak ada tempat bagi akal di dalamnya, seperti masalah asbabun nuzul, nasikh dan mansukh, dan hal yang terkait dengan kisah dan hukum.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 8/278–279)
Oleh karena itu, Imam Ibnu Katsir Rahimahullah dengan tegas mengharamkan tafsir bir ra’yi (tafsir dengan akal atau rasio), dengan ucapannya:
فَأَمَّا تَفْسِيرُ الْقُرْآنِ بِمُجَرَّدِ الرَّأْيِ فَحَرَامٌ
“Adapun tafsir Al-Qur’an semata-mata dengan ra’yu, maka itu haram.”
Lalu beliau menyebutkan hadis-hadis di atas. (Tafsir Al-Qur’an Al ‘Azhim, 1/10)
Menafsirkan Al-Qur’an dengan akal—yakni tafsir bir ra’yi—tidak selamanya terlarang, selama orang tersebut melakukannya dengan ijtihad yang benar, memahami seluk-beluk bahasa Arab dengan baik, dan memiliki niat yang bersih. Dan ini jelas tidak semua orang mampu melakukannya. Hendaknya dikembalikan kepada spesialisnya.
Wallahu A’lam.
✍ Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah
Sumber: Alfahmu.id





