Ratusan ribu warga memadati jalan-jalan di Teheran pada Senin (6/7) untuk mengikuti prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran. Pemerintah Iran menyebut kehadiran masyarakat dalam acara tersebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah penyelenggaraan acara publik di negara itu.
Prosesi pemakaman ini menjadi puncak dari rangkaian masa berkabung selama enam hari. Sebelumnya, masyarakat telah memberikan penghormatan terakhir selama dua hari di Imam Khomeini Mosalla, Teheran. Setelah prosesi di ibu kota selesai, jenazah Khamenei akan dibawa ke Kota Suci Qom, kemudian melanjutkan perjalanan ke Najaf dan Karbala di Irak, sebelum akhirnya dimakamkan di Mashhad.
Menurut media pemerintah Iran, iring-iringan jenazah menempuh perjalanan sekitar 18 kilometer melintasi Teheran, mulai dari Jalan Damavand di bagian timur hingga Lapangan Azadi di bagian barat kota. Perjalanan tersebut diperkirakan berlangsung selama 12 jam karena besarnya jumlah pelayat yang memenuhi sepanjang rute.
Rekaman udara yang ditayangkan televisi pemerintah memperlihatkan lautan manusia memadati jalan-jalan yang dilalui iring-iringan jenazah. Sebuah truk yang membawa peti jenazah Ayatollah Ali Khamenei beserta empat anggota keluarganya bergerak perlahan di tengah kerumunan. Untuk mengurangi dampak suhu musim panas yang cukup tinggi, mobil pemadam kebakaran turut menyemprotkan air ke arah para pelayat.
Di sepanjang prosesi, terdengar seruan yang mengecam Amerika Serikat dan Israel. Banyak pelayat membawa bendera Iran, potret Ayatollah Ali Khamenei, serta spanduk yang menyerukan pembalasan atas pembunuhan Khamenei pada awal konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel tahun ini.
Sejumlah demonstran juga membawa poster berbahasa Inggris bertuliskan “Kill Trump” dan “There Will Be Blood”. Beberapa di antaranya melempari papan reklame bergambar Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan batu. Selain itu, sejumlah bendera Amerika Serikat, Britania Raya, dan Israel dibakar sebagai bentuk protes.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa prosesi pemakaman ini bukan sekadar momen perpisahan dengan pemimpin yang telah wafat, melainkan juga bentuk komitmen untuk meneruskan perjuangan dan cita-citanya.
“Dunia telah menyaksikan besarnya partisipasi masyarakat dalam acara ini. Air mata ini tidak dapat dipaksakan. Semua berasal dari kesedihan dan duka yang tulus,” ujar Pezeshkian kepada televisi pemerintah Iran.
Pemerintah Iran menyampaikan bahwa dua hari pertama masa berkabung berlangsung dengan aman tanpa adanya korban jiwa maupun cedera serius. Lebih dari 2.500 tenaga medis dikerahkan untuk memberikan layanan kesehatan kepada para peserta, dengan hampir 16.000 layanan telah diberikan selama prosesi berlangsung.
Setelah rangkaian upacara di Teheran berakhir, jenazah Ayatollah Ali Khamenei akan dibawa ke Qom, kemudian ke Najaf dan Karbala, sebelum kembali ke Iran untuk dimakamkan di Kompleks Makam Imam Reza, Mashhad.
Lebih dari sekadar upacara pemakaman, rangkaian prosesi ini menjadi simbol persatuan nasional sekaligus menunjukkan pengaruh politik dan keagamaan Iran. Di tengah situasi yang masih dibayangi gencatan senjata pascakonflik dengan Israel dan Amerika Serikat, pemerintah Iran memanfaatkan momentum tersebut untuk memperlihatkan ketahanan bangsa serta solidaritas masyarakat dalam menghadapi berbagai tekanan dari luar.
Sumber: The New Arab





