Oleh: Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Perkataan-perkataan kenabian yang sahih dari beliau ﷺ—baik yang panjang maupun yang pendek—mewakili puncak ekspresi manusia, dan puncak kefasihan insani, baik dari segi bentuk maupun makna, isi maupun gaya, gagasan maupun metode.
Karena di dalamnya terkandung:
Jawami’ al-kalim,
Jawahir al-hikam,
Haqa’iq al-ma’rifah,
Rawa’i’ at-tasyri’,
Bada’i’ at-taujih,
Ghara’ib al-amtsal,
Nawadir at-tasybih,
…yang tidak terkandung dalam perkataan orang fasih mana pun, tidak pula dalam perkataan orang bijak mana pun—disertai dengan kemudahan yang luar biasa, kemanisan yang mengagumkan, dan vitalitas yang sangat kuat—yang menjadikan dalam kata-kata itu ruh yang mengalir, sebagaimana sari pati mengalir di dahan-dahan yang hidup.
Perkataan-perkataan ini lebih pantas untuk digambarkan sebagai “tanzil dari at-tanzil” dan “qabas dari nur al-adz-dzikr al-hakim“. Dan inilah yang telah ditegaskan oleh para sastrawan dan ahli kefasihan besar di berbagai zaman.
Mari kita simak Al-Jahiz mendeskripsikan perkataan beliau ﷺ dalam kitabnya Al-Bayan wa At-Tabyin:
“Perkataan beliau adalah perkataan yang:
Sedikit jumlah hurufnya,
Banyak jumlah maknanya,
Agung dari unsur rekayasa,
Terjauh dari kepalsuan atau kepura-puraan,
Menggunakan bentuk panjang pada tempatnya yang tepat untuk panjang,
Dan bentuk pendek pada tempatnya yang tepat untuk pendek,
Menjauhi kata-kata asing yang tidak dikenal,
Dan tidak menyukai kata-kata rendahan pasar.
Beliau tidak berbicara kecuali dari warisan hikmah, dan tidak berkata-kata kecuali dengan perkataan yang diliputi oleh penjagaan, diperkuat dengan pertolongan, dan dimudahkan dengan taufik.
Inilah perkataan yang Allah limpahkan rasa cinta kepadanya, menyelimutinya dengan penerimaan, dan mengumpulkan baginya antara kewibawaan dan kelezatan, serta antara kebaikan dalam pemahaman dan sedikitnya jumlah kata.
Dan dengan ketidakbutuhannya terhadap pengulangan, serta sedikitnya kebutuhan untuk kembali mengulanginya, tidak ada satu kata pun yang gugur, tidak ada satu langkah pun yang tergelincir, tidak ada satu hujjah pun yang menjadi basi, tidak pernah berdiri melawannya seorang lawan, tidak pernah seorang khatib pun yang membuatnya bungkam.
Sebaliknya, ia mengalahkan khutbah-khutbah panjang dengan perkataan yang pendek.
Ia tidak menginginkan membungkam lawan kecuali dengan sesuatu yang diketahui oleh lawannya sendiri.
Ia tidak berhujjah kecuali dengan kebenaran.
Ia tidak menuntut kemenangan kecuali dengan kebenaran.
Ia tidak menggunakan bujukan,
Tidak menggunakan penipuan,
Tidak mencela dan tidak mengejek,
Tidak lamban dan tidak tergesa-gesa,
Tidak bertele-tele dan tidak terbata-bata.
Kemudian, tidak pernah manusia mendengar perkataan yang lebih umum manfaatnya, lebih benar lafaznya, lebih adil timbangannya, lebih indah tujuannya, lebih mulia yang dituju, lebih baik tempatnya, lebih mudah keluar, lebih jelas makna yang dimaksud, dan lebih terang isinya daripada perkataan beliau.” (2)
Dan Musthafa Shadiq Ar-Rafi’i, sastrawan Arab dan Islam di abad ini, berkata dalam kitabnya I’jaz Al-Qur’an:
“Apabila engkau melihat pada apa yang sahih dari perkataan Nabi ﷺ—dari sudut dua bidang: kebahasaan dan kefasihan—maka engkau dapati perkataan beliau, di bidang pertama:
Lafaznya tepat sasaran,
Susunannya kuat,
Konstruksinya kokoh,
Bagian-bagiannya proporsional dalam penyusunan kata-kata,
Kalimatnya megah,
Hubungan antara lafaz dan maknanya jelas,
Juga hubungan antara lafaz dan padanannya dalam penyusunan dan keteraturan jelas.
Kemudian engkau tidak melihat di dalamnya:
Huruf yang kacau,
Lafaz yang dipaksakan untuk maknanya atau dipaksa di atasnya,
Kata yang ada kata lain yang lebih sempurna darinya dalam menunaikan makna dan lebih pas dalam penggunaannya.
Dan engkau dapati perkataan beliau:
Indah penampilannya,
Jelas kalimatnya,
Terang perincinya,
Tampak batas-batasnya,
Baik penggambarannya,
Kuat maknanya,
Luas akalnya dalam pengolahannya,
Indah isyaratnya,
Unik tinjauannya,
Bening penjelasannya.
Kemudian engkau tidak melihat di dalamnya:
Kekeliruan,
Pemaksaan,
Kekacauan,
Keburukan,
Permintaan tolong dari sesuatu yang lemah,
Perluasan dari sesuatu yang sempit,
Dan kelemahan dalam satu segi apa pun.” (3)
Dan Al-Ustadz Mahmud Muhammad Syakir, seorang ahli sastra, ahli bahasa, dan otoritas, berkata dalam artikel Al-Muqtathaf (4):
“Sesungguhnya keluasan gagasan di zaman ini,
Kemudian kesederhanaannya,
Kemudian tersembunyinya letak filsafat tinggi di dalamnya,
Kemudian kemampuan pandangan filosofis yang meresap hingga ke kedalaman realitas yang hidup di alam semesta,
Inilah puncak keistimewaan para tokoh besar yang jenius di zaman kita ini, dan ini adalah tipe yang tidak dikenal oleh bahasa Arab kecuali pada sedikit penyairnya, dan pada sedikit syair dari penyair-penyair tersebut.
Dan tidak ada dalam bahasa Arab dari tipe ini kecuali dua mukjizat:
Salah satunya: Al-Qur’an,
Dan lainnya: apa yang sahih dari hadis Rasulullah ﷺ.
Karena hanya pada keduanyalah gagasan mencapai puncaknya:
Dalam dirinya sendiri,
Kemudian dalam pengungkapannya dan lafaz-lafaznya,
Kemudian dalam keluasan makna-maknanya terhadap semua fakta yang terkait,
Kemudian dalam hembusannya dalam lafaz-lafaz dan kata-katanya seperti hembusan roh yang harum di suasana sihir,
Kemudian di atas semua itu: kesederhanaan dan kelembutan serta kedekatan dan keselarasan antara semua makna ini …
Kami katakan: Semua ini mencapai tingkatan yang:
Sebagiannya bagaikan hembusan surga dalam kebaikannya dan kenikmatannya,
Dan sebagiannya bagaikan silet yang memotong ikatan-ikatan hati,
Dan sebagiannya bagaikan api yang menyala-nyala dan membakar,
Dan darinya ada yang menata bangunan insani yang fasih lagi dapat dipahami lalu mengguncangnya dengan goncangan yang dahsyat sebagaimana guncangan itu mengguncang saraf-saraf bumi.
Dan dengan keadaan inilah Al-Qur’an menjadi mukjizat—tidak didatangi kebatilan baik dari depan maupun dari belakang.
Dan dengan yang serupa itulah hadis Rasulullah ﷺ menjadi mukjizat pula—dan hadis adalah puncak kefasihan manusia yang leher-leher para lelaki terputus di hadapannya.” (5)
Sumber: “Madkhal li Dirāsah as-Sunnah” karya Yang Mulia Syekh Al-Qardhawi.
Catatan Kaki:
(2) Al-Bayan wa At-Tabyin: (2/13), Dar wa Maktabah Al-Hilal, Beirut.
(3) I’jaz Al-Qur’an karya Ar-Rafi’i: (hlm. 422-424).
(4) Edisi Juli tahun 1934, hlm. 114, 115.
(5) Dari mukadimah Syaikh Ahmad Muhammad Syakir untuk kitab “Miftah Kunuz as-Sunnah”.





