Oleh: Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Cinta terhadap dunia terwujud dalam dua bentuk: cinta terhadap harta dan kekayaan, serta cinta terhadap kedudukan, status, dan kehormatan. Ketika seseorang begitu rakus terhadap keduanya, ia rela mengorbankan nilai-nilai dan prinsip-prinsipnya demi meraihnya. Dan di situlah letak kehancuran agama dan keimanan.
Tentang hal ini, Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ»
“Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepaskan ke tengah kawanan domba lebih merusak daripada kerakusan seseorang terhadap harta dan kedudukan terhadap agamanya.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani)
Manusia memang membutuhkan sikap rakus (ambisi) dalam batas tertentu. Namun, jika kerakusan itu tidak terkendali dan anginnya bertiup kencang, maka jiwa akan terpacu melampaui batas kebutuhan sehingga justru merusak—sebagaimana dua ekor serigala lapar merusak kawanan domba yang tidak dijaga pemiliknya. Hal ini karena kerakusan semacam itu mengundang sikap tinggi hati (keangkuhan) dan kerusakan yang tercela dalam syariat.
Allah Ta’ala berfirman:
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di bumi dan tidak berbuat kerusakan. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Qashash: 83)
Cinta Jabatan dan Kekuasaan
Di antara manifestasi cinta dunia dan menghendakinya adalah: rakus terhadap jabatan, berlomba-lomba mengejar kekuasaan (imarah), dan keinginan untuk tampil menonjol (popularitas). Sungguh, hal-hal inilah yang sering menghancurkan “tampilnya” seseorang—atau dengan kata lain, keinginan tampil itulah yang justru menghancurkan pelakunya.
Rasulullah ﷺ telah memperingatkan umatnya dengan keras tentang hal ini. Beliau bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ، وَإِنَّهَا سَتَكُونُ نَدَامَةً وَحَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ، وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ»
“Sungguh kalian akan sangat rakus terhadap kekuasaan (imarah). Dan kelak kekuasaan itu akan menjadi penyesalan dan penyesalan (yang mendalam) pada hari kiamat. Maka sebaik-baik pemberi susuan (di awal) dan seburuk-buruk pemutus susuan (di akhir).” (HR. Bukhari)
Hadis ini mengumpamakan manfaat yang diperoleh dari kekuasaan selama seseorang menjabat dengan proses menyusu (secara kiasan), sedangkan memisahkan diri dari kekuasaan ketika dicopot atau meninggal dunia diumpamakan dengan proses sapih (cerai susu). Kekuasaan mengalirkan kepada pemiliknya beberapa manfaat dan kenikmatan duniawi yang segera, tetapi cepat putus dan berakhir. Yang tersisa hanyalah penyesalan dan beban tanggung jawab. Maka tidak pantas bagi orang yang berakal untuk begitu rakus pada kenikmatan yang akan diikuti oleh penyesalan yang berkepanjangan.
Dosa-Dosa Besar Hati (Selain Cinta Dunia)
Di antara dosa-dosa besar yang membinasakan (al-kaba’ir al-mubiqat) yang terkait dengan penyakit hati—yang sering dilalaikan banyak orang—adalah:
1. Putus asa dan berputus asa (qanuth) dari rahmat Allah
Allah Ta’ala berfirman menceritakan perkataan Nabi Ya’qub ‘alaihis salam:
وَلاَ تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لاَ يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali orang-orang kafir.” (Q.S. Yusuf: 87)
Dan firman Allah menceritakan perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam:
وَمَن يَقْنَطُ مِن رَّحْمَةِ رَبِّهِ إِلاَّ الضَّالُّونَ
“Dan tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat.” (Q.S. Al-Hijr: 56)
2. Merasa aman dari makar (rencana siksa) Allah
Allah Ta’ala berfirman:
أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
“Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Q.S. Al-A’raf: 99)
3. Suka tersebarnya perbuatan keji (fahisyah) di kalangan orang-orang yang beriman
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang suka (memberitakan) tersebarnya perbuatan keji di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (Q.S. An-Nur: 19)
Inilah sebagian dari dosa-dosa besar yang membinasakan (al-kaba’ir al-mubiqat) atau kebinasaan (al-muhlikaat) yang berkaitan dengan maksiat hati—yang sering dilalaikan oleh kebanyakan orang. Mereka memfokuskan perhatian terbesar mereka pada amal-amal lahiriah, baik berupa ketaatan yang dianjurkan maupun maksiat yang diperingatkan.
Dosa-dosa hati inilah yang oleh Imam Al-Ghazali disebut sebagai “Al-Muhlikaat” (hal-hal yang membinasakan). Beliau mengkhususkan untuknya seperempat ketiga dari ensiklopedianya yang monumental, Ihya’ ‘Ulumiddin.
Sudah sepantasnya bagi ahli agama dan para dai untuk memberikan perhatian kepada dosa-dosa hati ini, sebagaimana syariat telah memberikannya perhatian. Mereka seharusnya mengarahkan akal dan hati nurani kepadanya, serta menjadikannya sebagai poros utama dalam penyadaran, pendidikan, dan pembinaan.
Sumber: “Fi Fiqhil Aulawiyat: Dirasah Jadidah fi Dhau’il Qur’an was Sunnah” (Dalam Fikih Prioritas: Studi Baru dalam Cahaya Al-Qur’an dan Sunnah) karya Yang Mulia Syekh Al-Qardhawi.





