Antara Bimbingan dan Doa — Dari Mana Seorang Pendidik Sejati Memulai?
Sesungguhnya di antara akhlak para dai yang jujur dan di antara sifat para pendidik yang sungguh-sungguh adalah bahwa mereka sibuk dengan orang-orang yang mereka dakwahi dan yang mereka tanggung pendidikannya, dengan kesibukan yang membuat mereka menghabiskan waktu-waktu untuk merawat dan memelihara mereka, serta merendahkan diri kepada Allah dengan doa-doa demi kebaikan dan petunjuk mereka.
Lihatlah Imam Hasan Al-Banna –semoga Allah merahmatinya– berkata: “Wahai saudaraku, bersungguh-sungguhlah semampumu untuk mengambil bekal dari khazanah malam yang akan engkau bagikan kepada saudara-saudaramu di siang hari.”
Suatu hari Imam Al-Banna –semoga Allah merahmatinya– ditanya tentang rahasia orang-orang yang terkesan dengannya dan penerimaan mereka yang mengagumkan kepadanya. Beliau menjawab: “Aku menyeru mereka di siang hari dan aku mendoakan mereka di malam hari.”
Saksi dari Al-Qur’an dan As-Sunnah
Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi kita ﷺ terdapat sebaik-baik saksi, pendorong, dan bukti tentang terwujudnya akhlak ini:
Allah Ta’ala berfirman:
وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَـٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّۭا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌۭ رَّحِيمٌۭ
“Dan orang-orang yang datang setelah mereka, mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Lembut lagi Maha Penyayang.'” (QS. Al-Hasyr: 10)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَٱسْتَغْفِرْ لِذَنۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتِ
“Dan mohonkanlah ampunan untuk dosamu dan untuk dosa orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19)
Dan Dia berfirman mengabarkan tentang Bapak kita Ibrahim ‘alaihis salam:
رَبَّنَا ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ ٱلْحِسَابُ
“Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan ampunilah orang-orang yang beriman pada hari perhitungan itu.” (QS. Ibrahim: 41)
Rasulullah ﷺ bersabda:
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Doa seorang muslim untuk saudaranya di saat saudaranya tidak hadir adalah mustajab. Di sisi saudaranya itu ada malaikat yang ditugaskan. Setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat yang ditugaskan itu berkata, ‘Amin, dan bagimu yang semisal dengan apa yang engkau doakan untuk saudaramu.'” (HR. Muslim)
Teladan dari Salafus Shalih
Atas petunjuk Al-Qur’an al-Karim dan Sunnah Nabi Al-‘Adnān ﷺ, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan salaf umat yang saleh berjalan hingga Allah mewarisi bumi dan seisinya. Berikut beberapa contoh praktis dan perbuatan nyata yang menunjukkan hal ini:
Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Mushannaf-nya dari Abu Darda’ –radhiyallahu ‘anhu– bahwa ia berkata: “Sungguh, aku mendoakan tujuh puluh dari saudara-saudaraku dalam keadaan aku sujud.” Dalam riwayat lain dari Abu Darda’, ia berkata: “Sungguh, aku mendoakan tujuh puluh dari saudara-saudaraku dalam sujudku. Aku menyebut nama-nama mereka satu per satu.”
Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan: “Tidaklah aku melaksanakan salat sejak empat puluh tahun yang lalu melainkan aku selalu mendoakan Asy-Syafi’i –semoga Allah merahmatinya.”
Abu Hamdun Al-Qassash memiliki sebuah catatan yang di dalamnya tertulis tiga ratus nama dari teman-temannya. Disebutkan bahwa beliau setiap malam mendoakan mereka. Suatu malam ia meninggalkan mereka lalu ia tertidur. Maka dikatakan kepadanya dalam tidurnya, “Wahai Abu Hamdun, mengapa engkau tidak menyalakan lampu-lampumu pada malam ini?” Ia berkata, “Maka ia pun duduk, lalu menyalakannya, mengambil catatan itu, lalu mendoakan satu per satu hingga selesai.” (1)
Telah sampai kepadaku tentang sebagian saudara-saudaraku bahwa mereka mengkhususkan waktu-waktu selama ibadah haji atau umrah mereka –di tempat-tempat suci dan waktu-waktu yang diberkahi– untuk berdoa bagi saudara-saudara mereka yang menjadi objek dakwah dan yang dididik. Di antara mereka ada yang menghitung kebutuhan-kebutuhan saudara-saudaranya yang memerlukan doa dan membuat daftar untuk itu, lalu mengkhususkan waktu untuk mendoakan mereka dengan memilih waktu-waktu mustajab dan mengambil sebab-sebab diterimanya doa. Perkara ini benar-benar memiliki pengaruh yang besar di antara mereka berupa rasa cinta, penerimaan, keharmonisan, dan saling mendukung.
Sebagian dari mereka telah mencoba mendoakan saudara-saudaranya untuk mendapatkan kebaikan dan petunjuk dalam berbagai urusan yang mereka alami bersama, dan juga bersungguh-sungguh bersama mereka dalam memperbaiki dan meluruskan urusan-urusan tersebut. Sungguh, doanya untuk mereka di saat mereka tidak hadir memiliki pengaruh besar dalam melampaui urusan-urusan ini dan memperbaiki keadaan-keadaan tersebut.
Pelajaran yang Kita Petik di Jalan Dakwah, Intinya:
Bahwa membukakan pintu hati orang-orang yang kita dakwahi dengan bimbingan dan arahan saja tidak cukup. Kita harus mendoakan mereka dan sibuk memikirkan mereka, terutama pada waktu-waktu malam yang sangat berharga. Karena menghadap yang tulus kepada Allah mengandung rahasia diterimanya dari manusia. Barang siapa yang menghadap kepada Allah dengan hatinya, niscaya Allah akan menghadapkan hati-hati para hamba kepadanya.
Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim: “Cukuplah sebagai pahala segera bagi orang yang menghadap kepada Allah Ta’ala bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghadapkan hati-hati hamba-hamba-Nya kepada siapa yang menghadap kepada-Nya, sebagaimana Dia akan memalingkan hati-hati mereka dari siapa yang berpaling dari-Nya. Karena hati-hati para hamba berada di tangan Allah, bukan di tangan mereka sendiri.” (2)
Dan perkataan Harm bin Hayyan: “Tidaklah seorang hamba menghadap kepada Allah dengan hatinya, melainkan Allah ‘Azza wa Jalla akan menghadapkan hati-hati orang-orang yang beriman kepadanya, sehingga dia dikaruniai kasih sayang dan rahmat mereka.”
Kita memohon kepada Allah Subhanahu taufik, pertolongan, dan penerimaan.
Ditulis oleh: Dr. Muhammad Hamid ‘Aliwah
Sumber: Tarbiyaa
Catatan Kaki:
(1) Sumber: Tarikh Baghdad – Al-Khatib Al-Baghdadi – Jilid 9 – halaman 367.
(2) Al-Majmu’ul Qayyim min Kalami Ibnil Qayyim fid Da’wati wat Tarbiyati wa A’malil Qulub, hlm. 668-669.
(*) Beliau adalah Ath-Thayyib bin Isma’il bin Ibrahim bin Abit Turāb, dikenal dengan Abu Hamdun Al-Qassash, salah seorang qari’ yang terkenal, dan beliau adalah orang yang saleh lagi zuhud.





