1. Definisi Hasad
Al-Jurjani mendefinisikan hasad sebagai berikut:
الْحَسَدُ تَمَنِّي زَوَالِ نِعْمَةِ الْمَحْسُودِ إِلَى الْحَاسِدِ
*Artinya: “Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat dari orang yang didengki agar berpindah kepada orang yang dengki.” (At-Ta’rifat, hal. 87)*
Sedangkan As-Suyuthi mengatakan:
الْحَسَدُ تَمَنِّي خَيْرٍ يَصِلُ إِلَى غَيْرِهِ مَعَ زَوَالِهِ عَنْهُ
*Artinya: “Mengharapkan kebaikan yang sampai kepada orang lain, dengan disertai hilangnya kebaikan itu dari diri orang tersebut.” (Mu’jam Maqalid Al-‘Ulum fil Hudud war Rusum, hal. 207)*
Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menjelaskan:
الْحَسَدُ تَمَنِّي الشَّخْصِ زَوَالَ النِّعْمَةِ عَنْ مُسْتَحِقٍّ لَهَا
*Artinya: “Hasad adalah keinginan seseorang agar nikmat hilang dari orang yang memang berhak atas nikmat tersebut.” (Fathul Bari, 10/482)*
Jadi, hasad adalah menginginkan nikmat (baik itu harta, kedudukan, maupun keutamaan) yang ada pada seseorang, disertai harapan agar nikmat itu hilang dari orang tersebut.
2. Celaan terhadap Penyakit Hasad dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah
Penyakit ini mendapatkan perhatian khusus dalam Al-Qur’an karena dialami oleh banyak manusia dalam berbagai kasus.
Allah Ta’ala berfirman tentang kedengkian saudara-saudara Nabi Yusuf ‘Alaihissalam kepadanya:
إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰ أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ * اقْتُلُوا يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ
*Artinya: “(Ingatlah) ketika mereka berkata, ‘Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita, padahal kita adalah satu kelompok (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kesesatan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat agar perhatian ayahmu tertumpah kepadamu, dan setelah itu kamu menjadi orang-orang yang baik.'” (QS. Yusuf [12]: 8-9)*
Kedengkian Ahli Kitab kepada para sahabat Nabi:
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ
*Artinya: “Banyak dari Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian menjadi kafir setelah kalian beriman, karena dengki dari diri mereka sendiri, setelah jelas bagi mereka kebenaran.” (QS. Al-Baqarah [2]: 109)*
Kedengkian Yahudi Madinah kepada Rasulullah ﷺ:
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
*Artinya: “Apakah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang Allah berikan kepadanya?” (QS. An-Nisa’ [4]: 54)*
Adapun dalam hadis:
لَا تَحَاسَدُوا
Artinya: “Janganlah kalian saling mendengki.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)
Dalam hadis lain:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ! أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ، صَدُوقِ اللِّسَانِ، قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ: هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ
*Artinya: “Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu ‘Anhuma, ia berkata, ‘Dikatakan, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling utama?” Beliau menjawab, “Setiap orang yang bersih hatinya (makhmum al-qalb) dan jujur lisannya.” Mereka berkata, “Orang yang jujur lisannya kami tahu, lalu apa itu hati yang bersih?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang bertakwa lagi suci (bersih), tidak ada dosa padanya, tidak ada kezaliman, tidak ada ghill (kebencian halus di hati), dan tidak pula hasad.”‘” (HR. Ibnu Majah No. 4216, dinyatakan sahih oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib wat Tarhib, 4/33)*
3. Hasad adalah Kejahatan Tertua
Dalam sejarah, hasad adalah kejahatan sekaligus penyakit hati tertua yang dialami makhluk Allah Ta’ala, baik di langit maupun di bumi.
Pertama, hasadnya Iblis kepada penciptaan dan kedudukan Adam ‘Alaihissalam.
Kedua, hasadnya Qabil terhadap Habil, yang menjadi penyebab ia membunuhnya.
4. Bahaya Hasad
Hasad memiliki banyak bahaya, baik bagi pelakunya maupun bagi orang lain. Oleh karena itu, Allah Ta’ala mengajarkan perlindungan darinya:
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
*Artinya: “Dan (perlindungan) dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (QS. Al-Falaq [113]: 5)*
Apa saja bahayanya?
A. Penghapus Kebaikan
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ أَوْ قَالَ الْعُشْبَ
Artinya: “Jauhilah hasad (dengki), karena hasad dapat memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Daud No. 4903, hadis hasan)
B. Penyakit Umat Terdahulu
Dari Zubair bin Awwam Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمُ الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ
*Artinya: “Penyakit umat-umat sebelum kalian merayap mendatangi kalian: hasad dan kebencian.” (HR. At-Tirmidzi No. 2510, hadis hasan)*
C. Penghancur Agama Seseorang
Yaitu keberagamaan seseorang rusak karena hasad. Walaupun ia seorang ulama atau ahli ibadah, jika ia memiliki sifat hasad, maka rusaklah keislamannya. Rasulullah ﷺ bersabda (lanjutan hadis di atas):
هِيَ الْحَالِقَةُ، لَا أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعَرَ، وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ
*Artinya: “Itu (hasad) memangkas. Aku tidak mengatakan memangkas rambut, tetapi memangkas agama.” (HR. At-Tirmidzi No. 2510, hadis hasan)*
Maka, hasad itu menghapus pahala, merusak hati, menghancurkan hubungan, bahkan dapat merusak agama. Karena itu, hati yang selamat adalah yang disebutkan oleh Nabi ﷺ: tidak ada hasad dan tidak ada ghill di dalamnya.
5. Hasad yang Diperbolehkan
Imam An-Nawawi mengatakan bahwa hasad ada yang haram, mubah, dan mustahab (sunnah). Beliau berkata:
قَالَ الْعُلَمَاءُ: الْحَسَدُ قِسْمَانِ: حَقِيقِيٌّ وَمَجَازِيٌّ. فَالْحَقِيقِيُّ: تَمَنِّي زَوَالِ النِّعْمَةِ عَنْ صَاحِبِهَا، وَهَذَا حَرَامٌ بِإِجْمَاعِ الْأُمَّةِ مَعَ النُّصُوصِ الصَّحِيحَةِ. وَأَمَّا الْمَجَازِيُّ: فَهُوَ الْغِبْطَةُ، وَهُوَ أَنْ يَتَمَنَّى مِثْلَ النِّعْمَةِ الَّتِي عَلَى غَيْرِهِ مِنْ غَيْرِ زَوَالِهَا عَنْ صَاحِبِهَا. فَإِنْ كَانَتْ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا كَانَتْ مُبَاحَةً، وَإِنْ كَانَتْ طَاعَةً فَهِيَ مُسْتَحَبَّةٌ
*Artinya: “Para ulama berkata: Hasad ada dua bagian: hakiki dan majazi. Hasad hakiki adalah berharap lenyapnya nikmat dari seseorang, maka ini haram menurut ijma’ umat dan dalil-dalil yang sahih. Adapun hasad majazi adalah ghibthah (iri yang positif), yaitu mengharapkan nikmat yang sama seperti yang ada pada orang lain tanpa menginginkan nikmat itu lenyap dari orang tersebut. Jika hal itu pada urusan dunia, maka hukumnya mubah. Jika pada urusan ketaatan, maka hukumnya mustahab (sunnah).” (Syarh Shahih Muslim, 10/98)*
Inilah yang dimaksud dalam hadis:
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
Artinya: “Tidak boleh hasad (yang dibolehkan) kecuali dalam dua hal: (1) seseorang yang Allah berikan harta, lalu ia menghabiskan hartanya di atas kebenaran; (2) seseorang yang Allah berikan hikmah (ilmu), lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari No. 73, dari Abdullah bin Mas’ud)
Dalam hadis lain:
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ
*Artinya: “Tidak ada hasad (yang dibolehkan) kecuali pada dua hal: (1) seseorang yang Allah beri Al-Qur’an, lalu ia membacanya dan mengamalkannya pada waktu malam dan siang; (2) seseorang yang Allah beri harta, lalu ia menginfakkannya pada waktu malam dan siang.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)*
Kesimpulannya, hasad yang dibolehkan adalah kepada:
Orang yang diberi harta dan ia habiskan harta itu di atas kebenaran.
Orang yang diberi ilmu lalu ia ajarkan dan amalkan.
Orang yang diberi kemampuan membaca Al-Qur’an lalu ia membacanya pada pagi dan siang hari serta mengamalkan isinya.
6. Obat dari Hasad
Ada beberapa obat untuk penyakit hasad yang dapat diupayakan:
A. Menguatkan Rela (Rida) atas Takdir Allah Ta’ala
Sadari bahwa pembagian nikmat adalah ketetapan Allah Ta’ala. Apa yang orang lain dapatkan bukanlah mengurangi bagian kita. Tanamkan keyakinan bahwa Allah Maha Adil dalam memberi rezeki dan kelebihan. Keyakinan ini dapat mematikan akar hasad sejak dalam hati.
B. Melatih Hati dengan Mendoakan dan Berbuat Baik kepada Orang yang Dihasadi
Ini memang terasa berat, tetapi sangat efektif. Oleh karena itu, biasakanlah mendoakan kebaikan untuknya, memujinya tanpa berlebihan, dan berbuat baik kepadanya jika mampu. Perlahan-lahan, hasad akan berubah menjadi ghibthah (iri positif), bahkan menjadi cinta karena Allah Ta’ala.
Wallahu A’lam. Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam.
Sumber: Alfahmu.id





