“Ahlussunnah tetap tidak akan pernah mendukung pihak yang jelas kafirnya.” Kalimat selengkapnya:
لَوْ قُدِّرَ أَنَّ الْمُسْلِمِينَ ظَلَمَةٌ فَسَقَةٌ، وَمُظْهِرُونَ لِأَنْوَاعٍ مِنَ الْبِدَعِ الَّتِي هِيَ أَعْظَمُ مِنْ سَبِّ عَلِيٍّ وَعُثْمَانَ، لَكَانَ الْعَاقِلُ يَنْظُرُ فِي خَيْرِ الْخَيْرَيْنِ وَشَرِّ الشَّرَّيْنِ، أَلَا تَرَى أَنَّ أَهْلَ السُّنَّةِ وَإِنْ كَانُوا يَقُولُونَ فِي الْخَوَارِجِ وَالرَّوَافِضِ وَغَيْرِهِمَا مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ مَا يَقُولُونَ، لَكِنْ لَا يُعَاوِنُونَ الْكُفَّارَ عَلَى دِينِهِمْ، وَلَا يَخْتَارُونَ ظُهُورَ الْكُفْرِ وَأَهْلِهِ عَلَى ظُهُورِ بِدْعَةٍ دُونَ ذَلِكَ
“Seandainya ditakdirkan bahwa kaum muslimin itu adalah orang-orang yang zalim dan fasik, serta menampakkan berbagai macam bid’ah yang lebih besar daripada bid’ahnya mencela ‘Ali dan ‘Utsman, niscaya orang yang berakal akan melihat mana di antara dua kebaikan yang lebih baik dan mana di antara dua keburukan yang lebih ringan. Tidakkah engkau melihat bahwa Ahlussunnah, meskipun mereka mengatakan tentang Khawarij, Rafidhah, dan selain keduanya dari kalangan ahli bid’ah sebagaimana yang mereka katakan, namun mereka tidak membantu orang-orang kafir atas agama mereka, dan tidak memilih pihak yang jelas kekufuran serta para pendukungnya dibandingkan pihak yang tampak bid’ah yang masih di bawah itu.”
Sementara dalam Fatawa Al Kubra, Jilid 3, Hal. 516, Imam Ibnu Taimiyah berkata:
وَسُئِلَ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى -: عَنْ رَجُلٍ يُفَضِّلُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى عَلَى الرَّافِضَةِ؟ فَأَجَابَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ، كُلُّ مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا بِمَا جَاءَ بِهِ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ خَيْرٌ مِنْ كُلِّ مَنْ كَفَرَ بِهِ؛ وَإِنْ كَانَ فِي الْمُؤْمِنِ بِذَلِكَ نَوْعٌ مِنْ الْبِدْعَةِ سَوَاءٌ كَانَتْ بِدْعَةَ الْخَوَارِجِ وَالشِّيعَةِ وَالْمُرْجِئَةِ وَالْقَدَرِيَّةِ أَوْ غَيْرِهِمْ؛ فَإِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى كُفَّارٌ كُفْرًا مَعْلُومًا بِالِاضْطِرَارِ مِنْ دِينِ الْإِسْلَامِ. وَالْمُبْتَدِعُ إذَا كَانَ يَحْسَبُ أَنَّهُ مُوَافِقٌ لِلرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا مُخَالِفٌ لَهُ لَمْ يَكُنْ كَافِرًا بِهِ؛ وَلَوْ قُدِّرَ أَنَّهُ يَكْفُرُ فَلَيْسَ كُفْرُهُ مِثْلَ كُفْرِ مَنْ كَذَّبَ الرَّسُولَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Beliau ditanya –semoga Allah merahmatinya– tentang seorang laki-laki yang lebih mengutamakan Yahudi dan Nasrani daripada Rafidhah. Maka beliau menjawab: Alhamdulillah. Setiap orang yang beriman kepada apa yang dibawa oleh Muhammad ﷺ, maka ia lebih baik daripada setiap orang yang kafir terhadapnya; meskipun pada diri orang mukmin tersebut terdapat suatu bentuk bid’ah, baik bid’ah Khawarij, Syiah, Murji’ah, Qadariyah, ataupun selain mereka. Karena Yahudi dan Nasrani adalah orang-orang kafir dengan kekafiran yang telah diketahui secara pasti dalam agama Islam. Adapun ahli bid’ah, jika ia meyakini bahwa dirinya mengikuti Rasul ﷺ dan bukan menyelisihinya, maka ia tidak dihukumi kafir karenanya. Dan seandainya pun ditakdirkan ia kafir, maka kekafirannya tidaklah seperti kekafiran orang yang secara terang-terangan mendustakan Rasul ﷺ.”
Hukum Memasukkan Pasukan Kafir ke Negeri Muslim untuk Memerangi Umat Islam
Imam Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’ Al Fatawa, Jilid 13, Hal. 219:
فَإِنَّهُ لَيْسَ فِيمَا يَأْمُرُ اللَّهُ بِهِ رَسُولَهُ أَنَّ يَأْتِيَ بِالْكُفَّارِ الْمُشْرِكِينَ وَأَهْلِ الْكِتَابِ لِقَتْلِ الْمُسْلِمِينَ وَسَبْيِهِمْ وَأَخْذِ أَمْوَالِهِمْ لِأَجْلِ ذُنُوبٍ فَعَلُوهَا وَيَجْعَلُ الدَّارَ تُعْبَدُ بِهَا الْأَوْثَانُ وَيُضْرَبُ فِيهَا النَّوَاقِيسُ وَيُقْتَلُ قُرَّاءُ الْقُرْآنِ وَأَهْلُ الْعِلْمِ بِالشَّرْعِ وَيُعَظَّمُ النَّجِسِيَّةَ عُلَمَاءُ الْمُشْرِكِينَ وَقَسَاوِسَةُ النَّصَارَى وَأَمْثَالُ ذَلِكَ ؛ فَإِنَّ هَؤُلَاءِ أَعْظَمُ عَدَاوَةً لِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ مِنْ جِنْسِ مُشْرِكِي الْعَرَبِ الَّذِينَ قَاتَلُوهُ يَوْمَ أُحُدٍ وَأُولَئِكَ عُصَاةٌ مِنْ عُصَاةِ أُمَّتِهِ وَإِنْ كَانَ فِيهِمْ مُنَافِقُونَ كَثِيرُونَ فَالْمُنَافِقُونَ يُبْطِنُونَ نِفَاقَهُمْ
“Sesungguhnya tidak termasuk dalam apa yang Allah perintahkan kepada Rasul-Nya adalah mendatangkan orang-orang kafir musyrik dan Ahlul Kitab untuk membunuh kaum muslimin, menawan mereka, dan mengambil harta mereka karena dosa-dosa yang mereka lakukan; lalu menjadikan negeri itu sebagai tempat penyembahan berhala, dibunyikan lonceng-lonceng gereja, dibunuh para pembaca Al-Qur’an dan para ulama syariat, serta diagungkan para pendeta musyrik dan pastor Nasrani, dan semisalnya. Karena mereka itu adalah musuh yang paling keras terhadap Muhammad ﷺ, dan mereka termasuk jenis musyrikin Arab yang dahulu memerangi beliau pada Perang Uhud. Sedangkan yang berbuat dosa itu hanyalah para pelaku maksiat dari umat beliau, walaupun di antara mereka banyak orang munafik. Adapun orang-orang munafik, mereka menyembunyikan kemunafikan mereka.”
Wallahu A’lam. Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam.
Sumber: Alfahmu.id





