Oleh: Dr. Yusuf Al-Qaradhawi
Di antara manusia ada yang hampir-hampir tidak mementingkan dari Islam kecuali bentuk penampilan lahiriah bukan hakikatnya, dan gambaran bukan realitasnya. Yang terpenting baginya dalam agamanya adalah: memanjangkan jenggot, memendekkan kain, membawa siwak, merapatkan telapak kaki dalam salat, atau meletakkan tangan ketika berdiri di dada atau di atas pusar, minum sambil duduk tidak berdiri, mengharamkan semua jenis nyanyian dan musik, mewajibkan cadar bagi wanita, dan lain sebagainya.
Semua ini adalah perkara yang berkaitan dengan penampilan lebih daripada berkaitan dengan hakikatnya. Saya berharap kepada saudara-saudaraku ini, sekiranya mereka mengarahkan perhatian terbesar mereka kepada hakikat dan ruh dalam ajaran Islam, sebagai ganti dari bentuk dan materi.
Karena Islam adalah akidah: hakikatnya adalah tauhid, ibadah: hakikatnya adalah ikhlas, muamalah: hakikatnya adalah kejujuran, akhlak: hakikatnya adalah rahmat, syariat: hakikatnya adalah keadilan, amal: hakikatnya adalah profesionalisme, adab: hakikatnya adalah rasa, hubungan sosial: hakikatnya adalah persaudaraan, peradaban: hakikatnya adalah keseimbangan.
Maka barang siapa yang menyia-nyiakan tauhid dalam akidah, ikhlas dalam ibadah, kejujuran dalam muamalah, rahmat dalam akhlak, keadilan dalam syariat, profesionalisme dalam amal, rasa dalam adab, persaudaraan dalam hubungan sosial, dan keseimbangan dalam peradaban; sungguh dia telah menyia-nyiakan hakikat Islam, meskipun dia berpegang teguh pada hal-hal lahiriah berupa gambaran dan bentuk-bentuk.
Bukanlah perkataan ini sekadar klaim tanpa bukti. Bahkan bukti-bukti atas perkataan ini dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sangat banyak. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
“Empat perkara, barang siapa yang terdapat padanya maka dia adalah munafik murni. Dan barang siapa yang terdapat padanya satu sifat saja dari padanya, maka padanya terdapat satu cabang kemunafikan hingga dia meninggalkannya: apabila berbicara dia berdusta, apabila diberi amanah dia berkhianat, apabila berjanji dia mengingkari, dan apabila berselisih dia berlaku curang.” (Muttafaq ‘alaih)
Iman antara Pengetahuan dan Penerapan
Sebagian orang mengira bahwa iman yang menyelamatkan manusia dari neraka, dan membuatnya layak masuk surga di akhirat, serta menjadikannya layak untuk mendapatkan pertolongan dan pembelaan Allah Ta’ala di dunia, hanyalah pengetahuan mental, yang sering ditanamkan ke dalam akalnya. Dengan kata lain, disimpan dalam memorinya pada masa remaja dan diajarkan secara hafalan bahwa Allah Ta’ala itu Esa tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Dia disifati dengan segala kesempurnaan, Maha Suci dari setiap kekurangan, dan bahwa Dia memiliki sifat-sifat yang tinggi sekian dan sekian.
Saya masih ingat bagaimana mereka mengajarkan kepada kami – ketika kami di kuttab – akidah, menurut mazhab Asy’ariyah yang belakangan, yaitu: bahwa Allah Ta’ala memiliki 20 sifat, yaitu: al-wujud, al-qidam, al-baqa’, mukhālafatuhu ta’ālā lil ḥawādits, qiyāmuhu ta’ālā bi nafsihi, al-waḥdāniyyah, al-‘ilm, al-irādah, al-qudrah, al-ḥayāh, as-sam’u, al-baṣar, al-kalām, dan kawnuhu ta’ālā ‘āliman, murīdan, qādiran, hayyan, samī’an, baṣīran, mutakalliman. Kami menghafal sifat-sifat ini dengan urutannya begini, dan kami tidak mengetahui sedikit pun dari maknanya sesuatu. Setelah aku dewasa dan mengerti, aku mencoba untuk memahami perbedaan antara al-‘ilm dan kawnuhu ta’ālā ‘āliman, dan antara al-qudrah dan kawnuhu ta’ālā qādiran, dan seterusnya. Aku tidak mampu memahaminya, dan aku tidak mendapati orang yang mampu membuatku memahaminya, meskipun kami mempelajari sifat-sifat ini pada tingkat dasar, menengah, dan tinggi, selama masa studi kami di Al-Azhar Asy-Syarif.
Yang lebih penting dari itu adalah bahwa pembelajaran akidah ini tidak menyentuh satu urat pun dalam ruhani manusia, atau menggerakkan hatinya, atau menghidupkan nuraninya. Ia adalah pembelajaran yang kering, kosong dari sari iman yang hakiki yang menjadi landasan manhaj Al-Qur’an dalam membentuk iman dan memantapkannya.
Ia adalah manhaj yang didasarkan pada perenungan dan pemikiran pada tanda-tanda Allah Ta’ala dalam jiwa-jiwa manusia dan di cakrawala alam:
أَوَلَمْ يَنظُرُوا۟ فِى مَلَكُوتِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَىْءٍ
“Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah?” (QS. Al-A’raf: 185)
وَفِى ٱلْأَرْضِ ءَايَـٰتٌۭ لِّلْمُوقِنِينَ * وَفِىٓ أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang yakin. Dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 20-21)
إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran: 190)
Saya kagum dengan manhaj salaf; karena perhatiannya untuk kembali kepada Al-Qur’an al-Karim dan As-Sunnah al-Mutahharah dalam menetapkan dan memantapkan akidah, dengan mengunggulkan metode Al-Qur’an di atas metode filsafat Yunani, menurut ungkapan Al-‘Allamah Ibnu Al-Wazir Al-Yamani. Juga dari manhaj ini adalah pemusatannya pada pemurnian tauhid dari segala kotoran kemusyrikan; yang besar dan yang kecil, yang jelas dan yang tersembunyi, dan pembebasan manusia dari perbudakan kepada manusia, dan pemurnian ibadah hanya untuk Allah semata.
Akan tetapi, kecenderungan salaf kontemporer tenggelam dalam pusaran perdebatan dalam masalah-masalah akidah, dan menjadi kesibukannya yang paling menyita perhatian, adalah apa yang berkaitan dengan apa yang disebutnya “Ayat-ayat sifat” dan “Hadis-hadis sifat”. Yang dimaksud dengannya adalah sifat-sifat khabariyyah yang terjadi perselisihan antara salaf dan khalaf tentang menakwilkannya atau tidak. Seolah-olah sifat-sifat itu adalah inti akidah dan hakikat tauhid.
Tanggapanku terhadap kecenderungan ini –sebagaimana diajarkan sekarang– ada dua hal:
Pertama: Pemusatannya pada masalah yang diperselisihkan ini, dengan mengorbankan apa yang disepakati, yang merupakan pokok dalam akidah, yaitu: penetapan adanya Allah Ta’ala, keesaan-Nya dalam dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya, pemurnian ibadah hanya untuk-Nya, penyifatan-Nya dengan segala kesempurnaan yang layak bagi-Nya, dan penafian segala kekurangan dari-Nya, berupa sekutu, anak, tandingan, dan serupa dengan-Nya. “Laisa kamitslihi syai’un” (Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia), (QS. Asy-Syura: 11). “Lam yalid wa lam yūlad, wa lam yakun lahu kufuwan aḥad” (Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia), (QS. Al-Ikhlas: 3-4).
Kewajibannya adalah mengajarkan hal-hal yang diperselisihkan ini, sebagaimana ia datang dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan menggabungkan sebagiannya dengan sebagian yang lain dalam satu konteks yang memberikan kesan yang tidak diberikan oleh konteksnya di tempat-tempatnya yang tersebar dari Al-Kitab dan As-Sunnah.
Kedua: Bahwa kecenderungan ini jatuh pada apa yang terjadi padanya kecenderungan rasional Asy’ariyyah lainnya, yaitu menganggap iman sebagai persoalan pengetahuan mental, dengan kata lain: menyerap ungkapan-ungkapan yang tersusun rapi, dan menghafal kalimat-kalimat dan istilah-istilah yang dituangkan dalam cetakan yang kaku. Maka barang siapa yang menghafal ungkapan-ungkapan atau istilah-istilah ini, maka selamatlah akidahnya, sah imannya, dan murnilah tauhidnya dari hal-hal yang menyekutukan dan kekufuran.
Aku pernah menghadiri sebuah majelis yang berisi beberapa ulama. Maka di antara yang dikatakan salah seorang dari mereka dalam mengingkari seseorang: “Ia orang yang akidahnya kacau, tauhidnya tercampur, dia tidak memahami makna ‘ar-Rabb’, tidak memahami makna ‘aṭ-Ṭāghūt’, tidak memahami makna ‘tauḥīd al-asmā’ wa aṣ-ṣifāt’.” Seolah-olah semua yang dituntut dari manusia agar bahagia di dunia, dan beruntung di akhirat adalah menghafal definisi-definisi atau istilah-istilah ini di luar kepala, dan mendemonstrasikannya ketika diminta darinya. Ini bukanlah iman yang disebut dalam Al-Qur’an, dan disebutkan oleh As-Sunnah, dan kemudian Allah dan Rasul-Nya mengaitkan konsekuensi dan buahnya di dunia dan akhirat.
Iman Al-Qur’an dan As-Sunnah
Sesungguhnya iman Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah sesuatu yang lain. Ia adalah cahaya yang menerangi setiap sisi jiwa; menerangi akal, menyegarkan perasaan, menggerakkan perasaan, dan merangsang kemauan. Ia adalah kekuatan pemberi petunjuk, kekuatan penggerak, kekuatan pengendali, dan kekuatan penenteram.
1. Kekuatan Pemberi Petunjuk
Iman adalah kekuatan pemberi petunjuk; karena ia menentukan bagi manusia arah tujuannya, dan memperkenalkan tujuannya dan manhajnya. Maka ia hidup di atas cahaya, dan berjalan di atas bashirah…
وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ
“Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)
وَمَن يَعْتَصِم بِٱللَّهِ فَقَدْ هُدِىَ إِلَىٰ صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ
“Dan barang siapa yang berpegang teguh kepada Allah, sungguh dia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus.” (QS. Ali ‘Imran: 101)
أَوَمَن كَانَ مَيْتًۭا فَأَحْيَيْنَـٰهُ وَجَعَلْنَا لَهُۥ نُورًۭا يَمْشِى بِهِۦ فِى ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِى ٱلظُّلُمَـٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍۢ مِّنْهَا
“Apakah orang yang sudah mati, lalu Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang dia dapat berjalan dengan cahaya itu di tengah-tengah manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan yang tidak dapat keluar darinya?” (QS. Al-An’am: 122)
Kekuatan inilah yang menjadikan Ibrahim Al-Khalil ‘alaihis salam menolak rububiyah bintang, bulan, dan matahari; karena dia berkata:
إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ حَنِيفًۭا ۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada yang telah menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS. Al-An’am: 79)
2. Kekuatan Pendorong
Iman adalah kekuatan penggerak, yang memotivasi manusia untuk berkorban, membangun, beramal saleh, dan berlomba dalam kebaikan. Oleh karena itu, Al-Qur’an menggandengkan iman dengan amal di hampir sembilan puluh tempat. Karena ini pula, para salaf berkata: “Bukanlah iman itu dengan angan-angan, tetapi apa yang tertanam dalam hati dan dibenarkan oleh amal.”
Ketika orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata: “Tidak akan masuk surga kecuali orang yang beragama Yahudi atau Nasrani,” Al-Qur’an menjawab dengan firman-Nya:
تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۚ قُلْ هَاتُوا۟ بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَـٰدِقِينَ * بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌۭ فَلَهُۥٓ أَجْرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Itu adalah angan-angan mereka. Katakanlah: ‘Tunjukkanlah bukti jika kamu orang-orang yang benar.’ Sebenarnya tidak, barang siapa yang berserah diri kepada Allah, sedang dia berbuat baik, maka baginya pahala di sisi Tuhannya, dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 111-112)
Inilah bukti atas kebenaran iman: menyerahkan wajah kepada Allah disertai dengan ihsan dalam beramal.
Al-Qur’an memvisualisasikan iman dalam akhlak, perasaan, dan amal perbuatan, bukan dalam kalimat-kalimat dan ungkapan-ungkapan. Dia berfirman:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَـٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَـٰنًۭا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ * ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ يُنفِقُونَ * أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ حَقًّۭا ۚ لَّهُمْ دَرَجَـٰتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌۭ وَرِزْقٌۭ كَرِيمٌۭ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambahlah iman mereka, dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (Yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat-derajat di sisi Tuhannya, ampunan dan rezeki yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 2-4)
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا۟ وَجَـٰهَدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّـٰدِقُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 15)
Hal ini ditegaskan oleh hadis-hadis Rasulullah ﷺ yang menjadikan iman menjadi sekitar 60 atau sekitar 70 cabang. Telah disusun dalam hal itu kitab-kitab yang menghimpun, untuk menjelaskannya, menghitungnya, dan menguraikannya. Dalam Shahihain:
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ أَوْ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
“Iman itu sekitar 60 atau sekitar 70 cabang. Yang paling tinggi: ‘Lā ilāha illā Allāh’, dan yang paling rendah: menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Imanlah yang menjadikan Ibrahim Al-Khalil ‘alaihis salam bersedia untuk menyembelih putranya dan buah hatinya karena taat kepada Allah, dan menjadikan putranya yang masih muda belia berkata kepada ayahnya ketika dia berkata kepadanya:
يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَـٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka lihatlah apa yang kamu lihat.” Dia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)
3. Kekuatan Pengendali
Iman, selain sebagai kekuatan pendorong untuk berbuat kebaikan, dia juga merupakan kekuatan pengendali yang mencegah pemiliknya dari kejahatan, dan mengendalikannya dengan kendali ketakwaan, dan menghalanginya dari dosa, dan dari perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Imanlah yang menempatkan di depan mata orang mukmin selalu pengawasan Allah Ta’ala, hisab akhirat, dan keyakinan akan pahala dan hukuman, surga dan neraka. Dengan demikian dia menjadi pengawas atas dirinya sendiri. Dia mengondisikannya sebelum beramal, dan menghisabnya setelah beramal, dan mencela ketika lalai, dan mungkin menghukumnya dengan teguran dan celaan, dan dengan cara-cara pendisiplinan lainnya, sebagaimana sifat “an-nafs al-lawwāmah”.
Imanlah yang menjadikan putra Adam yang baik berkata kepada saudaranya yang jahat:
لَئِنۢ بَسَطتَ إِلَىَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِى مَآ أَنَا۠ بِبَاسِطٍۢ يَدِىَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ ۖ إِنِّىٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلْعَـٰلَمِينَ
“Sungguh, jika engkau menghulurkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menghulurkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Ma’idah: 28)
Imanlah yang menjadikan Yusuf bin Ya’qub ‘alaihis salam menolak syahwat yang haram, pada saat masa mudanya, dan kejantanan kekuatan laki-lakinya, sementara wanita itu yang berusaha kepadanya, dan dia tidak berusaha kepadanya. Dia berkata kepada wanita yang di rumahnya, dan yang menguasai urusannya, dan yang merayunya dengan terus terang bukan dengan sindiran:
وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ رَبِّىٓ أَحْسَنَ مَثْوَاىَ ۖ إِنَّهُۥ لَا يُفْلِحُ ٱلظَّـٰلِمُونَ
“Dan wanita itu berkata: ‘Marilah mendekat engkau!’ Dia berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah! Sesungguhnya Tuhanku telah memuliakan tempat tinggalku. Sesungguhnya tidak akan beruntung orang-orang yang zalim.'” (QS. Yusuf: 23)
Ketika bujukan tidak berhasil dengannya, dia mencoba dengan ancaman kepadanya. Maka orang yang tidak dihalangi oleh janji, mungkin ancaman dapat meluluhkannya. Dia berkata di hadapan para wanita:
فَذَٰلِكُنَّ ٱلَّذِى لُمْتُنَّنِى فِيهِ ۖ وَلَقَدْ رَٰوَدتُّهُۥ عَن نَّفْسِهِۦ فَٱسْتَعْصَمَ ۖ وَلَئِن لَّمْ يَفْعَلْ مَآ ءَامُرُهُۥ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُونًۭا مِّنَ ٱلصَّـٰغِرِينَ
“Maka itulah dia yang kamu cela aku karenanya. Dan sungguh, aku telah merayunya untuk menundukkannya, maka dia mempertahankan diri. Dan sungguh, jika dia tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan, dan niscaya dia akan menjadi termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Yusuf: 32)
Maka apa yang dilakukan oleh pemuda yang beriman ini selain melindungi diri ke pilar yang kokoh, benteng yang kukuh; melindungi diri kepada Tuhannya, seraya berkata:
رَبِّ ٱلسِّجْنُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا يَدْعُونَنِىٓ إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّى كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلْجَـٰهِلِينَ
“Ya Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak aku kepadanya. Dan jika Engkau tidak menghindarkan tipu daya mereka dari padaku, niscaya aku akan cenderung kepada mereka dan aku akan termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf: 33)
4. Sumber Ketenangan
Setelah itu, iman adalah kekuatan yang menanamkan dalam jiwa ketenangan, dan dalam hati keamanan dan ketenteraman. Keduanya merupakan sumber kebahagiaan sejati yang memancar dari dalam, dan tidak didatangkan dari luar. Allah Ta’ala berfirman:
هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَـٰنًۭا مَّعَ إِيمَـٰنِهِمْ
“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin, supaya iman mereka bertambah di samping iman mereka.” (QS. Al-Fath: 4)
Al-Qur’an menceritakan kepada kita tentang Ibrahim; ketika kaumnya membantahnya dan berdebat dengannya, dan menakut-nakutinya dari berhala-berhala mereka bahwa akan menimpanya dengan keburukan. Maka Ibrahim berkata:
أَفَتُحَـٰٓجُّونِّى فِى ٱللَّهِ وَقَدْ هَدَىٰنِ ۚ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِۦٓ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّى شَيْـًۭٔا ۗ وَسِعَ رَبِّى كُلَّ شَىْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ * وَكَيْفَ أَخَافُ مَآ أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُم بِٱللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِۦ عَلَيْكُمْ سُلْطَـٰنًۭا ۚ فَأَىُّ ٱلْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِٱلْأَمْنِ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ * ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يَلْبِسُوٓا۟ إِيمَـٰنَهُم بِظُلْمٍ أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
“Apakah kamu memperdebatkan dengan aku tentang Allah, padahal Dia telah memberi petunjuk kepadaku? Dan aku tidak takut kepada apa yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali jika Tuhanku menghendaki sesuatu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran? Bagaimana aku takut kepada yang kamu persekutukan, padahal kamu tidak takut bahwa kamu telah mempersekutukan Allah dengan apa yang tidak diturunkan-Nya kepadamu hujjah untuk itu? Maka manakah dari dua golongan itu yang lebih berhak terhadap keamanan, jika kamu mengetahui? (Yaitu) orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman. Mereka itulah yang mendapatkan keamanan dan mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 80-82)
Makna ‘lam yalbisū īmānahum bi ẓulmin’ adalah mereka tidak mencampuradukkan tauhid mereka dengan kemusyrikan. Mereka tidak beragama kecuali kepada Allah, tidak bersujud kecuali kepada Allah, dan tidak berharap atau takut kecuali kepada Allah.
Tauhid murni inilah yang menganugerahkan mereka keamanan psikologis yang diharamkan bagi selain mereka, yang takut dari segala sesuatu, bahkan dari khayalan-khayalan, sebagaimana keadaan orang-orang musyrik yang Allah berfirman tentang mereka:
سَنُلْقِى فِى قُلُوبِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلرُّعْبَ بِمَآ أَشْرَكُوا۟ بِٱللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِۦ سُلْطَـٰنًۭا
“Kami akan menjatuhkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak diturunkan-Nya hujjah untuk itu.” (QS. Ali ‘Imran: 151)
Oleh karena itu, kita dapati orang mukmin laksana gunung yang kokoh menjulang; dunia bergolak di sekelilingnya, badai bertiup kencang, guntur menggelegar, kilat menyambar, pepohonan tercabut, sungai-sungai meluap, ombak-ombak laut meninggi. Dan dia tetap: tidak bergeser, kokoh tidak bergoyang. Dia telah meletakkan kakinya di pintu Allah, dan meletakkan tangannya di tangan Allah, dan menghubungkan talinya dengan tali Allah Ta’ala. Dengannya ia berpegang teguh, darinya ia mendapatkan kekuatan, kepadanya ia menghadap, dan kepada-Nya ia bertawakal:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌۭ
“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka sungguh Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 49)
Semboyannya adalah apa yang Allah firmankan kepada Rasul-Nya:
قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ
“Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.'” (QS. At-Taubah: 51)
Bencana tidaklah menambahnya kecuali iman dan ketenteraman, seperti emas murni, api tidak menambahnya kecuali kemurnian dan kilauan.
Demikianlah Allah ‘Azza wa Jalla menggambarkan orang-orang mukmin dari kalangan sahabat Rasul-Nya ﷺ, pada saat keadaan yang paling gelap dan pekat, dan saat yang paling genting dan mencemaskan, sebagaimana dalam Perang Ahzab, ketika pasukan para perusuh mengepung Madinah dengan kepungan seperti gelombang mengelilingi kapal, dan manusia menyangka dengan Allah berbagai prasangka, dan orang-orang mukmin diuji dan diguncang dengan goncangan yang hebat. Di sini peran iman menonjol untuk membangkitkan harapan, menghidupkan kepercayaan, dan memberikan kekuatan, sebagaimana kita lihat dalam gambaran Al-Qur’an terhadap jamaah orang-orang mukmin:
وَلَمَّا رَءَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلْأَحْزَابَ قَالُوا۟ هَـٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّآ إِيمَـٰنًۭا وَتَسْلِيمًۭا
“Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan hal itu tidak menambah bagi mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)
Saya tidak dapat menyebutkan di sini –sekali pun secara ringkas– buah-buahan iman Qur’ani, dalam jiwa dan dalam kehidupan. Sungguh saya telah menulis dalam hal itu sebuah buku lengkap yang berjudul “Al-Īmān wal Ḥayāh”. Saya menjelaskan di dalamnya pengaruh iman dalam kehidupan individu, dan dalam kehidupan masyarakat, dan bahwa ia adalah kebutuhan bagi individu agar bahagia dan menyucikan diri, dan kebutuhan bagi masyarakat agar tetap kokoh dan maju.
Yang penting adalah bahwa iman ini adalah iman yang hakiki, yang dengannya dibawa oleh Kitabullah, dan dijelaskan oleh Sunnah Rasulullah ﷺ, dan yang diketahui dan dihayati oleh para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dan diketahui oleh para ulama rabbani dari kalangan anak-anak umat ini. Maka mereka hidup dengannya di dalam surga ruhaniah yang mereka masuki di dunia sebelum akhirat, dan merasakan bersamanya kebahagiaan yang tentangnya, salah seorang dari mereka berkata: “Seandainya para raja mengetahui nilai kebahagiaan ini, niscaya mereka akan memperebutkannya dengan kami dengan pedang!”
Adapun bencana kaum muslimin di zaman kemunduran –dan juga kaum muslimin hari ini demikian pula– adalah ketiadaan iman positif ini yang tidak dapat digantikan oleh apa pun dari ilmu pengetahuan, sastra dan sopan santun, atau hukum, atau filsafat.
Benar… Sesungguhnya tidak adanya nilai-nilai iman yang menghubungkan hati-hati dengan ketentraman keyakinan, dan menyegarkan ruh-ruh dengan hembusan cinta dan kerinduan kepada Allah, dan memanjangkan tekad dengan pendorong harapan akan rahmat Allah Ta’ala, dan rasa takut akan azab-Nya, adalah celah yang paling menonjol dalam kehidupan manusia muslim, yang membutuhkan untuk ditambal. Maka ia pun mencari perlindungan ke ruang lingkup tasawuf, mencoba untuk menemukan di dalamnya apa yang dicarinya yang tidak ditemukannya pada mereka yang menenggelamkan manusia dengan cabang-cabang fikih dan perbedaan-perbedaannya, tidak pula pada para ahli debat dalam masalah akidah dari kalangan teolog skolastik, yang menyibukkan manusia dari Allah dengan perdebatan yang terus-menerus seputar nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya.
Dan jika seorang muslim menemukan seorang sufi yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, jauh dari hal-hal yang menyekutukan dalam akidah, dan bid’ah dalam ibadah, dan penyimpangan dalam perilaku; maka itu adalah bagian dari keberuntungan nasibnya, dan dari karunia Allah kepadanya.
Akan tetapi, bahayanya terletak pada mereka yang merusak dan menyimpang dari kalangan orang-orang yang mengaku bertasawuf, dari mereka yang menjadikannya sebagai mata pencaharian, atau dari mereka yang tidak memahami hakikat tasawuf; karena mereka tidak memahami hakikat Islam. Dan mereka adalah mayoritas yang ada di pentas dengan nama tasawuf, padahal mereka tidak dari tasawuf, baik banyak maupun sedikit.
Sumber: Al-Qaradawi





