Oleh: Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Ketegasan Islam dalam menuntut keikhlasan (al-ikhlas), penekanannya pada memurnikan niat hanya untuk Allah, dan meluruskan orientasi hanya kepada-Nya semata—bukanlah bentuk ketaksuban (ta’assub) atau kesia-siaan. Karena hidup itu sendiri tidak akan lurus dan tidak akan maju kecuali dengan orang-orang yang ikhlas.
Sebagian besar musibah dan bencana yang menghancurkan yang menimpa bangsa-bangsa dan komunitas, sesungguhnya disebabkan oleh orang-orang yang tidak mengharapkan (pertemuan dengan) Allah dan negeri akhirat—yaitu:
Para budak dunia,
Pencinta kekayaan (harta),
Orang-orang yang tidak peduli—demi mengejar urusan dunia mereka dan syahwat jiwa mereka—untuk menghancurkan dunia orang lain dan agama mereka sekaligus,
Mengubah bangunan-bangunan menjadi reruntuhan,
Rumah-rumah menjadi kuburan,
Dan kehidupan menjadi kematian (kebinasaan).
Atau (musibah itu disebabkan oleh) orang-orang dari kalangan pencari kepemimpinan dan kekuasaan (as-sulthan), budak-budak popularitas (asy-syuhrah) dan kedudukan (al-jah), pencinta kemuliaan pribadi, dan keberanian tanpa hak. Demi mendapatkan kemuliaan dan kekuasaan, atau demi mempertahankan apa yang telah mereka raih darinya, mereka tidak peduli untuk:
Menghancurkan negeri-negeri,
Membinasakan satu umat—bahkan seluruh bangsa.
Tidak lain (semua itu mereka lakukan) hanya agar:
Tangan-tangan bertepuk sorak untuk mereka,
Tenggorokan-tenggorokan berseru memuji mereka,
Pena-pena meluncur (menulis) untuk memuji mereka,
Massa (jamaah) yang miskin dan tertipu bertasbih dengan memuji mereka,
Dan kenikmatan mereka menduduki kursi-kursi kekuasaan yang empuk tetap lestari.
Slogan setiap dari mereka adalah: “Akulah (yang berkuasa), atau biarlah dunia hancur setelahku!”
Islam tidak meridai seorang muslim hidup dengan dua wajah: wajah untuk Allah, dan wajah untuk sekutu-sekutu-Nya. Tidak pula hidupnya terbagi menjadi dua bagian: bagian untuk Allah dan bagian untuk thaghut.
Islam menolak dikotomi (dualisme) yang keji dan dualitas (gandaan) yang dibenci—yang kita saksikan dalam kehidupan kaum muslimin dewasa ini.
Kita dapati seseorang:
Muslim di masjid atau di bulan Ramadhan,
Namun dalam kehidupannya sehari-hari, atau dalam muamalah (transaksi)-nya, atau dalam sikap-sikapnya, ia adalah manusia lain (yang berbeda).
Sesungguhnya keikhlasan (al-ikhlas)-lah yang memersatukan kehidupan seorang muslim, dan menjadikan seluruh hidupnya untuk Allah. Sebagaimana ia menjadikan dirinya secara total untuk Allah—salatnya, ibadahnya (nusuk), hidupnya, dan matinya semata-mata untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
“Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).” (Q.S. Al-An’am: 162-163)
Sumber: “An-Niyyah wal Ikhlas” (Niat dan Keikhlasan) karya Yang Mulia Syekh Al-Qardhawi.





