Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata:
اعْلَمْ أَنَّ الصَّبْرَ عَلَى ضَرْبَيْنِ: أَحَدُهُمَا: بَدَنِيٌّ، كَتَحَمُّلِ الْمَشَاقِّ بِالْبَدَنِ، وَكَتِعَاطِي الْأَعْمَالِ الشَّاقَّةِ مِنَ الْعِبَادَاتِ أَوْ مِنْ غَيْرِهَا. الضَّرْبُ الْآخَرُ: هُوَ الصَّبْرُ النَّفْسَانِيُّ عَلَى مُشْتَهَيَاتِ الطَّبْعِ وَمُقْتَضَيَاتِ الْهَوَى. وَهَذَا الضَّرْبُ إِنْ كَانَ صَبْرًا عَنْ شَهْوَةِ الْبَطْنِ وَالْفَرْجِ، سُمِّيَ عِفَّةً، وَإِنْ كَانَ الصَّبْرُ فِي قِتَالٍ، سُمِّيَ شَجَاعَةً، وَإِنْ كَانَ فِي كَظْمِ غَيْظٍ سُمِّيَ حِلْمًا، وَإِنْ كَانَ فِي نَائِبَةٍ مُضْجِرَةٍ، سُمِّيَ سَعَةَ صَدْرٍ، وَإِنْ كَانَ فِي إِخْفَاءِ أَمْرٍ سُمِّيَ كِتْمَانَ سِرٍّ، وَإِنْ كَانَ فِي فُضُولِ عَيْشٍ سُمِّيَ زُهْدًا، وَإِنْ كَانَ صَبْرًا عَلَى قَدْرٍ يَسِيرٍ مِنَ الْحُظُوظِ سُمِّيَ قَنَاعَةً. وَأَمَّا الْمُصِيبَةُ، فَإِنَّهُ يَقْتَصِرُ فِيهَا عَلَى اسْمِ الصَّبْرِ، فَقَدْ بَانَ بِمَا ذَكَرْنَا أَنَّ أَكْثَرَ أَخْلَاقِ الْإِيمَانِ دَاخِلَةٌ فِي الصَّبْرِ، وَإِنِ اخْتَلَفَتِ الْأَسْمَاءُ بِاخْتِلَافِ الْمُتَعَلِّقَاتِ
“Ketahuilah bahwa sabar itu memiliki dua bentuk:
- Sabar yang terkait dengan fisik. Contohnya adalah ketabahan dalam memikul beban yang berat bagi badan, melakukan amal-amal yang berat di berbagai macam ibadah, atau lain-lainnya.*
- Sabar yang terkait dengan psikis dalam hal-hal yang diinginkan oleh tabiat dan hawa nafsu.*
Jika kesabaran itu menghadapi nafsu perut dan kemaluan, maka disebut ‘iffah (menjaga diri dari yang haram).
Kesabaran dalam perang disebut syajā’ah (keberanian).
Kesabaran dalam menahan amarah disebut ḥilm (murah hati).
Sabar dalam menghadapi kasus yang mengguncangkan disebut sa’atu shadr (lapang dada).
Sabar dalam menyimpan sesuatu disebut kitmānu sirrin (menyembunyikan rahasia).
Sabar dalam urusan kelebihan kehidupan disebut zuhud (tidak rakus dunia).
Sabar dalam menerima bagian yang sedikit disebut qanā’ah (puas dengan apa yang ada).
Adapun musibah, maka padanya hanya disebut dengan nama sabar (saja). Apa yang kami sebutkan telah menjelaskan bahwa mayoritas akhlak keimanan tercakup dalam kesabaran, walaupun berbeda nama karena perbedaan hal yang terkait dengannya.”
(Imam Ibnu Qudamah, Mukhtaṣar Minhājul Qāṣidīn, Rub’ur Rābi’: Rub’ul Munjiyāt, 4/24)
Sumber: Alfahmu.id – Website Resmi Ustadz Farid Nu’man





