Dr. Yusuf Qaradhawi
Hari raya adalah seperti pos peristirahatan dalam perjalanan hidup, atau seperti oase di padang pasir kehidupan. Oleh karena itu, bangsa-bangsa dari dahulu kala menciptakan berbagai perayaan untuk merayakan, bergembira, dan bersenang-senang. Hal ini ditemukan oleh Islam lalu dibenarkan. Maka Idul Fitri dan Idul Adha adalah dua hari raya Islam. Allah menghubungkan hari raya dalam Islam dengan kewajiban-kewajiban besar dan ibadah-ibadah agung yang menjadi syiar. Idul Fitri dihubungkan dengan kewajiban puasa, dan Idul Adha dihubungkan dengan kewajiban haji.
Hari raya umat Islam terkait dengan dua makna besar: makna ketuhanan dan makna kemanusiaan. Makna ketuhanan adalah agar manusia tidak melupakan Tuhannya pada hari raya. Hari raya bukanlah pelampiasan hawa nafsu semata, tetapi hari raya dimulai dengan takbir, shalat Id, dan mendekatkan diri kepada Allah. Hari raya tidak berarti kebebasan dari ibadah dan ketaatan. Adapun makna kemanusiaan dari hari raya tercermin dalam kegembiraan, kesenangan, bermain, bernyanyi, memakai pakaian baru, dan menjalin silaturahmi dengan sesama muslim.
Ada fenomena yang kita jumpai di masyarakat Islam kita saat ini, sayangnya, yaitu terbatasnya kegembiraan dan hiburan hanya pada anak-anak kecil, padahal kegembiraan dan hiburan disyariatkan baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Dalam sirah Nabi ﷺ terdapat teladan. Pada salah satu hari raya, beliau mengizinkan orang-orang Habasyah untuk menari dan bermain tombak di masjid beliau yang mulia. Beliau memberi semangat kepada mereka dan bersabda:
دُونَكُمْ يَا بَنِي أَرْفِدَةَ
“Mainkanlah, wahai Bani Arfidah.” (HR. Al-Bukhari)
Beliau juga mengizinkan istrinya, Aisyah, untuk memanjat di atas pundak beliau dari belakang, sementara rumah beliau menghadap ke masjid. Beliau membiarkannya melihat orang-orang Habasyah itu hingga ia puas dan merasa bosan. Lalu beliau bertanya: “Cukup?” Aisyah menjawab: “Cukup.” Rasulullah mendorong mereka melakukan hal itu karena beliau mengetahui bahwa orang-orang ini menyukai permainan.
Demikian pula, Abu Bakar r.a. pernah menemui Aisyah r.a. pada salah satu hari raya. Saat itu Aisyah memiliki dua orang budak perempuan yang sedang bernyanyi dan memukul rebana dengan iringan nyanyian Arab dari masa Jahiliyah. Abu Bakar pun menghardik keduanya seraya berkata, “Apakah seruling setan di rumah Rasulullah ﷺ?!” Saat itu Rasulullah ﷺ sedang bersandar dan menutup wajahnya dengan kain. Abu Bakar mengira Rasulullah sedang tidur dan Aisyah melakukan ini tanpa izin beliau. Maka Nabi ﷺ membuka wajahnya dan bersabda:
دَعْهُمَا يَا أَبَا بَكْرٍ، فَإِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا، وَإِنَّ عِيدَنَا هَذَا، لِتَعْلَمَ يَهُودُ أَنَّ فِي دِينِنَا فُسْحَةً، وَإِنِّي بُعِثْتُ بِحَنِيفِيَّةٍ سَمْحَةٍ
“Biarkanlah keduanya, wahai Abu Bakar. Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan inilah hari raya kita; agar orang-orang Yahudi mengetahui bahwa dalam agama kita ada kelapangan, dan sesungguhnya aku diutus dengan agama Hanif yang lagi lapang.” (HR. Ahmad)
Islam bukanlah agama yang kaku dan bukan agama yang mempersempit, melainkan agama fitrah dan kemanusiaan. Islam menyukai hiburan dan permainan, terutama pada momen-momen seperti ini.
Di sisi lain, dalam ibadah, kita mendapati banyak orang yang pergi melaksanakan shalat Id sendirian tanpa membawa anak-anak mereka. Laki-laki pergi, sementara perempuan tidak ikut. Padahal sunnah ini telah dimatikan oleh umat Islam, sayangnya. Padahal Nabi ﷺ mensyariatkan hari raya sebagai festival bagi seluruh umat, bagi orang dewasa dan anak-anak, bagi laki-laki dan perempuan. Bahkan Ummu ‘Athiyah berkata:
كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نُخْرِجَ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فِي الْعِيدَيْنِ، لِيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ وَيَعْتَزِلْنَ حِيضُهُنَّ الْمُصَلَّى
“Kami diperintahkan untuk mengeluarkan para wanita yang masih gadis pada hari raya, agar mereka menyaksikan kebaikan, menghadiri khutbah, dan menyaksikan festival yang agung ini.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Islam menjadikan shalat Id dilaksanakan di lapangan dan tidak di masjid, agar seluruh penduduk satu lingkungan atau satu kota, jika memungkinkan, berkumpul di satu lapangan, saling mengucapkan selamat dan bersalaman.
Sumber: Al-Qaradawi.net





