Seorang dai wajib mengetahui bahwa risalah yang diembannya untuk seluruh manusia ini adalah risalah rahmah (kasih sayang), sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran yang ditujukan kepada Rasulullah Saw.,
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ١٠٧
“Dan tidaklah kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat untuk alam semesta” (Al-Anbiya’: 107).
Rahmah (kasih sayang) itu meliputi kasih sayang dalam akidah, syariat, dan akhlak Kamu bisa melihat kasih sayang Islam itu ada dalam seluruh aspek kehidupan, sehingga kasih sayang itu telah menjadi ciri khas masyarakat Isları, baik terhadap sesama manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, bahkan terhadap
benda mati sekalipun. Bukankah ada seorang wanita yang dimasukkan neraka karena kucing yang disiksanya? Sebaliknya, ada seorang pelacur masuk surga karena belas kasihannya pada seekor anjing, sebagaimana pernah diberitakan oleh Rasulullah Saw
Allah Swt. berkehendak mengingatkan kita tentang masalah kasih sayang ni dalam sehari sebanyak tujuh belas kali, yakni ketika kita menunaikan shalat fardhu. Yaitu yang terdapat dalam surat Al-Fatihah. Jika kamu baca surat Al-Fatihah tersebut, kamu akan memperoleh beberapa manfaat yang besar, antara lain sebagai berikut:
1. Sesungguhnya orang yang berada di jalan dakwah dan memulainya dengan asma Allah harus berakhlak dengan akhlak Ar-Rahman dan Ar-Rahim, karena risalah Islam itu merupakan rahmat bagi alam semesta. Rahmat dalam struktur dan nilainya yang dapat menghilangkan kesulitan dan beban, yaitu dengan akidahnya. Juga rahmat dalam menyebarkan keadilan dan kebajikan serta memenuhi hajat kerabat, yaitu dengan syariatnya. Juga menyempurnakan akhlak mulia dengan segala keutamaannya. Jika Rasulullah Saw. merupakan rahmat yang mendapat petunjuk, maka demikian juga dengan para sahabatnya dan pengikut beliau setelahnya. Allah berfirman,
{مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِۗ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًاۖ}
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafır, tetapi berkasih sayang sesama mereka….” (Al-Fath: 29)
Barangsiapa ingin mendakwahi manusia ke jalan itu, yaitu jalan rahmah, hendaklah ia bersikap kasih sayang terhadap objek dakwah. Karena orang-orang yang bersikap kasih sayang itu akan mendapat kasih sayang dari Allah yang Maharahman, dan barangsiapa bersikap kasih sayang terhadap orang-orang yang ada di bumi, dia akan dikasihi oleh yang ada di langit. Allah Swt. berfirman,
{فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ}
“Lalu, disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu….” (Ali Imran: 159) Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa tidak berkasih sayang, maka dia tidak diberi kasih sayang.”
2. Rahmah (kasih sayang) tidak akan terwujud kecuali dengan memperhatikan orang yang kalian dakwahi. Oleh sebab itu, janganlah kalian membenci mereka, tetapi tuoamkan sifat kasih terhadap mereka, sehingga kamu bisa melihat apa yang mereka tidak bisa melihatnya, dan kamu dapat membawa mereka ke arah kebaikan. Allah Swt. berfirman,
لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ١٢٨
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendırı, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (kermanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah: 128)
3. Hendaknya seorang dai menjadikan usahanya untuk memberikan kasih sayang itu berdasarkan dua cara:
- Beribadah dengan ikhlas karena Allah.
- Memohon pertolongan hanya kepada-Nya.
Allah Swt. berfirman, Iyaka na’budu wa iyaka nasta’in. Semakin dekat seorang dai dengan Rabbnya, semakin banyak dia akan memperoleh limpahan rahmat dari pada-Nya.
4. Hendaklah seorang dai mengetahui bahwa jika ia berbuat demikian, berarti ia telah mengikuti jejak orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shuddiqin, syuhada’ dan orang-orang saleh. Oleh karena itu, dia selalu memohon kepada Allah agar Allah berkenan memberi nikmat kepadanya dengan kenikmatan tersebut.
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ٦ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَࣖ ٧
“Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.” (Al-Fatihah: 6-7)
اَللّٰهُ نَزَّلَ اَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتٰبًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَۙ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْۚ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ هُدَى اللّٰهِ يَهْدِيْ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ هَادٍ ٢٣
“Allah telah menurunkan perkataan yang terbaik, (yaitu) Kitab (Al-Qur’an) yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang. Oleh karena itu, kulit orang yang takut kepada Tuhannya gemetar. Kemudian, kulit dan hati mereka menjadi lunak ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang dibiarkan sesat oleh Allah tidak ada yang dapat memberi petunjuk.” (Az-Zumar: 23)
Demikianlah, pada tiap rakaat seorang dai mengingat sifat-sifat yang wajib dimiliki. Yakni sıfat-sifat yang melekat pada diri Rasulullah Saw sebagai sumber keteladanan.
Sumber : Fiqih Dakwah Prinsip dan Kaidah Asasi Dakwah Islam, Jum’ah Amin Abdul ‘Aziz,





