(الإيمانُ: أنْ تؤمنَ باللهِ وملائكتِه وكتبِه ورسلِه واليومِ الآخرِ والقدرِ كلِّه خيرِه وشرِّه)
“Keyakinan (iman) adalah: engkau percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, utusan-utusan-Nya, hari akhir, dan takdir seluruhnya, baik yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim)
Al-Qur’an yang agung ini memperkenalkan kita kepada diri kita sendiri, sejarah kita, dan tentang makhluk yang menghuni alam semesta ini bersama kita. Ia membekali kita dengan limpahan perasaan yang meluap-luap, informasi yang meyakinkan, serta pelajaran dan petunjuk yang menerangi jalan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat; yang apabila semua ini hilang dari umat manusia, maka mereka akan masuk ke dalam labirin kesesatan dan keterbelakangan, serta kehidupan manusia menjadi kacau balau.
Ketika Al-Qur’an memberitahukan kepada kita dari mana kita berasal, mengapa kita datang, ke mana tujuan akhir kita, bagaimana kita hidup, siapa saja makhluk yang hidup di sekitar dan bersama kita, dan apa hubungan antara semua makhluk ini, maka jiwa akan menjadi tenang dan menyatu dengan seluruh alam semesta dalam harmoni yang menebarkan kedamaian dan ketenteraman dalam jiwa, serta kembali kepada manusia dengan kehidupan yang baik dan menyenangkan.
Oleh karena itu, keyakinan terhadap akidah Islam –sebagaimana firman Allah:
إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَـٰمُ
“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah berserah diri (kepada-Nya).” (QS. Ali ‘Imran: 19)
– adalah permulaan kehidupan yang baik di bumi, kemudian kehidupan abadi di akhirat, sebagaimana firman-Nya:
مَنْ عَمِلَ صَـٰلِحًۭا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌۭ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةًۭ طَيِّبَةًۭ ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia seorang mukmin (yang beriman), maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Iman adalah segalanya bagi manusia, bahkan ia adalah kehidupan yang sejati, sebagai bukti firman Allah Ta’ala:
أَوَمَن كَانَ مَيْتًۭا فَأَحْيَيْنَـٰهُ وَجَعَلْنَا لَهُۥ نُورًۭا يَمْشِى بِهِۦ فِى ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِى ٱلظُّلُمَـٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍۢ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَـٰفِرِينَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
“Apakah orang yang sudah mati (hatinya), lalu Kami hidupkan dan Kami berikan cahaya (petunjuk) yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah manusia, sama seperti orang yang berada dalam kegelapan yang tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 122)
Dan firman-Nya:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَجِيبُوا۟ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ ٱلْمَرْءِ وَقَلْبِهِۦ وَأَنَّهُۥٓ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu. Ketahuilah bahwa Allah membatasi antara seseorang dengan hatinya, dan sungguh, kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 24)
Manusia yang tidak beriman kepada Allah seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat. Allah berfirman:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌۭ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌۭ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌۭ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَـٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَـٰفِلُونَ
“Sungguh, banyak dari kalangan jin dan manusia yang Kami jadikan untuk neraka Jahanam. Mereka memiliki hati, tetapi tidak memahaminya; mereka memiliki mata, tetapi tidak melihatnya; mereka memiliki telinga, tetapi tidak mendengarnya. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Merekalah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179)
Adapun orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan tuhan-tuhan lain, Allah gambarkan keadaan mereka dalam firman-Nya:
وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَتَخْطَفُهُ ٱلطَّيْرُ أَوْ تَهْوِى بِهِ ٱلرِّيحُ فِى مَكَانٍۢ سَحِيقٍۢ
“Dan barang siapa mempersekutukan Allah, maka seolah-olah dia jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 31)
Demikian itu adalah kiasan tentang kegelisahan, keterpecahan jiwa, kebingungan, dan kehancuran.” (1)
Keyakinan (Iman): ucapan dengan lisan, pembenaran dengan hati, dan amal dengan anggota tubuh.
Akidah Islam sangat sederhana rukun-rukunnya; dipahami oleh orang awam maupun orang terpelajar, oleh pelajar maupun ulama. Akidah ini diimani oleh orang-orang yang berakal sehat dan berjiwa baik, sebagaimana firman Allah:
وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِٱلْـَٔاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
“Dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu dan (kitab-kitab) yang diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 4)
Dan Allah Ta’ala berfirman:
ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَـٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍۢ مِّن رُّسُلِهِۦ ۚ وَقَالُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ
“Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), ‘Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka berkata, ‘Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada-Mulah tempat kembali.'” (QS. Al-Baqarah: 285)
Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
الإيمانُ: أنْ تؤمنَ باللهِ وملائكتِه وكتبِه ورسلِه واليومِ الآخرِ والقدرِ كلِّه خيرِه وشرِّه
“Keyakinan (iman) adalah engkau percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, utusan-utusan-Nya, hari akhir, dan takdir seluruhnya, baik yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim)
Iman bukanlah semata pengetahuan akal, tetapi juga pembenaran hati. “Akidah adalah hal-hal yang wajib engkau benarkan dengan hatimu, hatimu menjadi tenteram karenanya, dan menjadi keyakinan bagimu yang tidak tercampuri keraguan serta tidak disertai kecurigaan.” (2) “Dan bagi iman yang tulus, ibadah yang benar, dan perjuangan, ada cahaya dan manisnya yang dianugerahkan Allah ke dalam hati siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” (3)
Jika akal telah menerima akidah, dan hati telah beriman serta menyatu dengannya, maka anggota tubuh harus bergerak. “Sesungguhnya iman adalah pembenaran hati kepada Allah dan rasul-Nya; pembenaran yang tidak disertai keraguan dan kecurigaan; pembenaran yang tenang, mantap, dan meyakinkan, tidak goyah dan tidak terguncang, tidak ada bisikan di dalamnya, dan hati serta perasaan tidak ragu-ragu. Dan dari pembenaran ini lahir jihad (perjuangan) dengan harta dan jiwa di jalan Allah. Karena ketika hati telah merasakan manisnya iman ini, tenteram kepadanya, dan mantap di atasnya, pasti ia akan terdorong untuk mewujudkan hakikatnya ke luar hati, dalam realitas kehidupan, di dunia manusia.” (4)
Demikianlah kita dapati Imam Syafi’i berkata: “Telah menjadi kesepakatan (ijma’) para sahabat, para tabi’in setelah mereka, dan orang-orang yang kita jumpai, bahwa iman itu adalah ucapan, amal, dan niat; salah satu dari ketiganya tidak dapat menggantikan yang lainnya.” (5) Dengan kata lain, iman adalah ucapan dengan lisan, pembenaran dengan hati, dan amal dengan anggota tubuh.
Bagian-Bagian Akidah:
Para ulama syariat membaginya menjadi empat bagian. Mereka berkata: Akidah Islam terbagi menjadi empat bagian pokok, di mana di bawah setiap bagian terdapat beberapa cabang. Sebagaimana dijelaskan dengan baik oleh Ustadz Hasan Al-Banna dalam “Risalah Akidah”:
Bagian Pertama: Ketuhanan: Membahas hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, seperti sifat-sifat, nama-nama, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Dan disertakan pula apa yang diperlukan dari keyakinan seorang hamba kepada Tuhannya.
Bagian Kedua: Kenabian: Membahas segala hal yang berkaitan dengan para nabi, seperti sifat-sifat mereka, keterjagaan mereka dari dosa, tugas mereka, dan kebutuhan akan risalah mereka. Dan disertakan pula dalam bagian ini hal-hal yang berkaitan dengan para wali, mukjizat, karomah, dan kitab-kitab samawi.
Bagian Ketiga: Kerohanian: Membahas hal-hal yang berkaitan dengan alam non-materi, seperti malaikat, jin, dan ruh.
Bagian Keempat: Hal-Hal yang Didengar: Membahas hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan alam kubur dan kehidupan akhirat, seperti keadaan kubur, tanda-tanda hari kiamat, kebangkitan, padang mahsyar, perhitungan amal, dan balasan.” (6)
Metode Para Rasul dalam Menanamkan Akidah Ini
“Para rasul menyampaikan akidah ini kepada manusia dengan penyampaian yang penuh kemudahan, kesederhanaan, dan logika; maka ia mengarahkan pandangan mereka kepada kerajaan langit dan bumi; membangkitkan akal mereka untuk merenungkan tanda-tanda (kebesaran) Allah; dan menyadarkan fitrah mereka yang telah ditanamkan di dalamnya perasaan beragama dan kesadaran akan adanya alam di balik alam materi ini.
Dan di atas jalan inilah Rasulullah ﷺ berjalan menanamkan akidah ini ke dalam jiwa umatnya dengan mengarahkan pandangan, membimbing pikiran, membangkitkan akal, menyadarkan fitrah, dan terus-menerus memelihara tanaman ini dengan pendidikan dan pengembangan hingga mencapai puncak kesuksesan. Beliau mampu memindahkan umat dari paganisme dan kemusyrikan kepada akidah tauhid, memenuhi hati mereka dengan iman dan keyakinan, sebagaimana beliau mampu menjadikan para sahabatnya sebagai pemimpin dalam reformasi dan teladan dalam kebaikan, serta menciptakan generasi yang bangga dengan iman dan berpegang teguh pada kebenaran. Maka jadilah generasi ini seperti matahari bagi dunia dan keselamatan bagi manusia, sebagaimana firman Allah:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110) (7)
Beberapa Buah Iman
Akidah dan iman yang dianugerahkan Allah Subhanahu kepada kita ini, pada hakikatnya –seperti seluruh agama– adalah agar manusia hidup kehidupan yang baik dan tenang di dunia dan akhirat, sebagaimana firman-Nya:
مَنْ عَمِلَ صَـٰلِحًۭا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌۭ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةًۭ طَيِّبَةًۭ ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia seorang mukmin, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Para ulama berusaha menggali beberapa buah iman, dan kami sebutkan sebagiannya:
1. Ketaatan kepada Allah dan Rasulullah ﷺ:
Allah berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ * قُلْ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْكَـٰفِرِينَ
“Katakanlah, ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, maka sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang kafir.'” (QS. Ali ‘Imran: 31-32)
2. Akhlak yang Kukuh:
Ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya ini melahirkan akhlak mulia yang mencakup seluruh perilaku kehidupan. Rasulullah sebagai teladan telah mewujudkannya dalam perbuatan, ucapan, dan ketetapan beliau. Allah berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍۢ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)
سُئِلَتْ عَائِشَةُ عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ, maka ia menjawab, ‘Akhlaknya adalah Al-Qur’an.'” (HR. Muslim)
3. Ketenangan dan Kesejukan:
Ini adalah salah satu sebab akhlak yang baik, demikian pula dengan mengambil sebab dan tidak bergantung sepenuhnya padanya, serta bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal. Allah berfirman:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Dan Allah Ta’ala berfirman:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَـٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍۢ قَدْرًۭا
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 3)
4. Persatuan, Cinta karena Allah, Persaudaraan, dan Itsar:
Allah berfirman:
وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلْإِيمَـٰنَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِى صُدُورِهِمْ حَاجَةًۭ مِّمَّآ أُوتُوا۟ وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌۭ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka, mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak merasa di hati mereka kebutuhan terhadap apa yang diberikan kepada mereka, dan mereka mengutamakan (orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga membutuhkan. Dan barang siapa menjaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًۭا مَّآ أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُۥ عَزِيزٌ حَكِيمٌۭ
“Dan Dia (Allah) mempersatukan hati mereka. Seandainya engkau membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah mempersatukan mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 63)
5. Melepaskan Segala Potensi Kebaikan dan Amal Saleh dalam Jiwa Manusia:
Allah berfirman memerintahkan Nabi-Nya:
وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًۭا
“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.'” (QS. Thaha: 114)
6. Keberanian, Menyuarakan Kebenaran, Jihad di Jalan Allah, Sabar, Teguh, Menanggung Gangguan di Jalan Allah, dan Membantu Agama-Nya:
Allah berfirman menceritakan doa orang-orang yang beriman:
وَلَمَّا بَرَزُوا۟ لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ قَالُوا۟ رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًۭا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَـٰفِرِينَ
“Dan ketika mereka maju melawan Jalut dan bala tentaranya, mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, teguhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami menghadapi orang-orang yang kafir.'” (QS. Al-Baqarah: 250)
Dan dalam hadis:
سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ، فَقَتَلَهُ
“Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan seorang laki-laki yang berdiri di hadapan pemimpin yang zalim, lalu ia menyuruh dan melarangnya, kemudian pemimpin itu membunuhnya.” (HR. Al-Hakim)
7. Kebaikan bagi Umat dan Dunia:
Segala hal yang telah disebutkan, meskipun berkaitan dengan individu, akan kembali kepada keluarga dan masyarakat dengan ditegakkannya syariat, terjalinnya hubungan, cinta, persatuan, kerja sama, toleransi, penjagaan, dan pembelaan. Demikian pula akan kembali kepada seluruh umat manusia dengan perdamaian dan kesejahteraan.
Akidah dan Iman tanpa Ilmu adalah Kerusakan
“Akidah adalah membenarkan sesuatu dan meyakininya tanpa keraguan atau kecurigaan. Ia bermakna iman. Dikatakan, ‘saya meyakini ini’ artinya saya beriman kepadanya. Dan iman berarti pembenaran. Dikatakan, ‘saya beriman kepada sesuatu’ artinya saya membenarkannya dengan pembenaran yang tidak ada keraguan dan kecurigaan di dalamnya.” (8)
“Sangat penting bagi seorang muslim untuk mempelajari akidahnya. Bagaimana mungkin seorang muslim mempelajari iman atau mencapai iman tanpa akidah, tanpa mempelajari akidah di atas jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan tanpa dibina di atasnya?!” (9)
“Sesungguhnya ilmu ini adalah ilmu yang paling penting bagi seorang muslim secara mutlak, karena ia adalah ilmu tentang akidah Islam. Akidah dalam Islam adalah pokok-pokok yang di atasnya dibangun cabang-cabang, fondasi yang di atasnya berdiri bangunannya, serta benteng-benteng yang mutlak diperlukan untuk melindungi pemikiran muslim dari bahaya keraguan dan badai penyesatan dan pemalsuan.
Dan sungguh sering kita dengar dan saksikan berbagai macam penyimpangan dalam pemikiran, ucapan, dan perilaku yang tidak disebabkan kecuali oleh jauhnya (seseorang) dari memahami pokok-pokok agama ini dan pilar-pilar yang di atasnya agama ini berdiri, yang wajib diimani agar agama ini dipahami dan agar dengannya dapat dijawab semua pertanyaan yang penyebabnya tidak lain adalah kebodohan terhadap persoalan-persoalan iman dan masalah-masalahnya.” (10)
“Maka sangat penting untuk menarik perhatian bahwa akidah tanpa ilmu adalah kerusakan. Dan di sini harus diingatkan bahwa energi-energi luar biasa yang dipancarkan oleh akidah dalam kehidupan haruslah berada di atas petunjuk dari ilmu tentang agama Allah dan bimbingan Allah. Karena beragama dalam kebodohan adalah bahaya besar; ia melahirkan upaya-upaya buta dan kekuatan brutal yang melampaui batas-batas tatanan sosial seperti banjir bandang yang menghancurkan kehidupan, sementara pelakunya mengira mereka sedang berbuat perbaikan dan menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (11)
“Maka selama fondasi-fondasi dan tiang-tiang ini tidak ada, bagaimana mungkin bangunan kehidupan Islam yang menyeluruh dapat ditegakkan di sana? Apakah manusia mengira bahwa mungkin untuk menegakkan bangunan akhlak Islam tanpa memperluas, menyempurnakan, mematangkan, dan memantapkan fondasi-fondasi ini?” (12)
Oleh karena itu, wajib bagi para ayah, guru, pendidik, juru dakwah, penceramah, dan seluruh lembaga pendidikan untuk mengajarkan akidah dan pendidikan iman kepada anak-anak, remaja putra dan putri, pemuda, orang dewasa, kecil, wanita, dan pria; melalui metode pengajaran langsung, ceramah, khutbah, pelajaran, program audio dan visual, serta lainnya.
Karena itu, saya sarankan kepada pembaca untuk melihat salah satu buku yang disederhanakan dalam bidang ini:
“Risalah Al-Aqa’id” (Risalah Akidah): Hasan Al-Banna
“Al-Iman: Fara’idhuhu wa Nawaqidhuhu” (Iman: Kewajiban dan Hal-Hal yang Membatalkannya): Dr. Muhammad Na’im Yasin
“Tabsith Al-Aqa’id” (Penyederhanaan Akidah): Syekh Hasan Ayyub
“Al-Aqidah Al-Islamiyyah” (Akidah Islam): Syekh Sayid Sabiq
Catatan Kaki:
Rijal Al-‘Aqidah: Ustadz Mushthafa Musyhur.
Risalah Al-‘Aqa’id: Ustadz Hasan Al-Banna.
Risalah At-Ta’lim, Al-Ashl Ats-Tsalits: Ustadz Hasan Al-Banna.
Az-Zhilal: Sayyid Quthb.
Al-Lalika’i: Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah.
Risalah Al-‘Aqa’id: Ustadz Hasan Al-Banna.
Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah: Syekh Sayid Sabiq.
Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah: Syekh Sayid Sabiq.
Al-‘Aqidah Asas Al-Iman wa Lubuhu: Abdul Karim bin Hasyim Sultan.
Tabsith Al-‘Aqa’id: Syekh Hasan Ayyub.
Rijal Al-‘Aqidah: Ustadz Mushthafa Musyhur.
Al-Usus Al-Akhlaqiyyah lil Harakah Al-Islamiyyah: Ustadz Abu Al-A’la Al-Maududi.
Sumber: Tarbiyaa





