Dr. Yusuf Qaradhawi
Saya merasa senang untuk mencatat apa yang disebutkan oleh Imam Ibnu Al-Qayyim dalam kitabnya Uddah as-Shabirin wa Dzakhirah asy-Syakirin pada kesempatan pembahasan tentang sekelompok orang yang menggunakan sirah dan sunnah beliau sebagai argumen untuk keutamaan orang fakir yang sabar, dan juga lawan mereka yang menggunakan keduanya sebagai argumen untuk keutamaan orang kaya yang bersyukur.
Ibnu Al-Qayyim berkata:
“Tidak sepantasnya terlewatkan untuk diketahui bahwa setiap sifat dari sifat-sifat keutamaan, Allah telah menempatkan Rasulullah pada puncaknya yang tertinggi, dan mengkhususkan beliau dengan inti dan puncaknya. Maka jika suatu golongan dari umat yang mengenal sifat-sifat tersebut dan mengklaim keutamaannya atas yang lain berargumen dengan keadaan beliau, maka golongan yang lain juga dapat berargumen dengan beliau atas keutamaan mereka juga.
Jika para pejuang dan mujahid berargumen dengan beliau bahwa mereka adalah golongan yang paling utama, maka para ulama juga dapat berargumen dengan beliau sebagaimana argumen-argumen mereka.
Jika para zahid dan orang-orang yang menjauhi dunia berargumen dengan beliau tentang keutamaan mereka, maka orang-orang yang terjun ke dalam urusan dunia, kepemimpinan, dan mengatur rakyat untuk menegakkan agama Allah dan melaksanakan perintah-Nya juga dapat berargumen dengan beliau.
Jika orang fakir yang sabar berargumen dengan beliau, maka orang kaya yang bersyukur juga dapat berargumen dengan beliau.
Jika para ahli ibadah berargumen dengan beliau tentang keutamaan amalan-amalan sunnah dan mengunggulkannya, maka para ‘arif juga dapat berargumen dengan beliau tentang keutamaan makrifat.
Jika para pemilik sifat rendah hati dan santun berargumen dengan beliau, maka para pemilik sifat kekuatan, kekerasan terhadap orang-orang yang membatalkan, ketegasan terhadap mereka, dan tindakan tegas terhadap mereka juga dapat berargumen dengan beliau.
Jika para pemilik sifat wibawa, disegani, dan keteguhan hati berargumen dengan beliau, maka para pemilik akhlak mulia, canda yang mubah yang tidak keluar dari kebenaran, dan pergaulan yang baik dengan keluarga dan sahabat juga dapat berargumen dengan beliau.
Jika para penegak kebenaran secara terang-terangan yang mengatakannya baik di hadapan umum maupun di tempat sepi berargumen dengan beliau, maka para pemilik sikap lunak, rasa malu, dan kemurahan hati yang tidak ingin menyakiti seseorang dengan sesuatu yang tidak disukainya di depan wajahnya juga dapat berargumen dengan beliau.
Jika orang-orang yang sangat berhati-hati berargumen dengan beliau tentang kehati-hatian yang terpuji, maka orang-orang yang memudahkan dan melonggarkan yang tidak keluar dari keluasan, kemudahan, dan kelapangan syariatnya juga dapat berargumen dengan beliau.
Jika orang yang memfokuskan perhatiannya untuk memperbaiki agama dan hatinya berargumen dengan beliau, maka orang yang memperhatikan perbaikan fisik, kehidupannya, dan dunianya juga dapat berargumen dengan beliau, karena beliau diutus untuk memperbaiki dunia dan agama.
Jika orang yang hatinya tidak terikat dengan sebab-sebab dan tidak bersandar kepadanya berargumen dengan beliau, maka orang yang melaksanakan sebab-sebab, menempatkannya pada posisinya, dan memberikan haknya juga dapat berargumen dengan beliau.
Jika orang yang lapar dan sabar atas kelaparan berargumen dengan beliau, maka orang yang kenyang dan bersyukur kepada Tuhannya atas kekenyangan juga dapat berargumen dengan beliau.
Jika orang yang mengambil sikap memaafkan, melapangkan dada, dan bersabar berargumen dengan beliau, maka orang yang membalas pada tempat-tempat pembalasan juga dapat berargumen dengan beliau.
Jika orang yang memberi karena Allah dan loyal karena Allah berargumen dengan beliau, maka orang yang mencegah karena Allah dan memusuhi karena Allah juga dapat berargumen dengan beliau.
Jika orang yang tidak menyimpan sesuatu untuk hari esok berargumen dengan beliau, maka orang yang menyimpan untuk keluarganya makanan setahun juga dapat berargumen dengan beliau.
Jika orang yang memakan makanan kasar dari roti gandum dan cuka berargumen dengan beliau, maka orang yang memakan makanan yang lezat dan baik seperti daging panggang, manisan, buah-buahan, semangka, dan sejenisnya juga dapat berargumen dengan beliau.
Jika orang yang terus-menerus berpuasa berargumen dengan beliau, maka orang yang terus-menerus berbuka –di mana beliau berpuasa hingga dikatakan tidak berbuka, dan berbuka hingga dikatakan tidak berpuasa– juga dapat berargumen dengan beliau.
Jika orang yang tidak menyukai hal-hal yang baik dan yang disukai berargumen dengan beliau, maka orang yang mencintai sebaik-baik hal di dunia, yaitu wanita dan wewangian, juga dapat berargumen dengan beliau.
Jika orang yang melunakkan sisi dan merendahkan sayapnya kepada para istrinya berargumen dengan beliau, maka orang yang mendidik mereka, menyakiti mereka, menceraikan, memboikot, dan memberi pilihan kepada mereka juga dapat berargumen dengan beliau.
Jika orang yang meninggalkan penanganan langsung terhadap sebab-sebab penghidupan dengan tangannya sendiri berargumen dengan beliau, maka orang yang menangani langsung, lalu menyewa dan disewa, menjual dan membeli, meminjam, memberi utang, dan menggadaikan juga dapat berargumen dengan beliau.
Jika orang yang benar-benar menjauhi wanita saat haid dan saat berpuasa berargumen dengan beliau, maka orang yang menyentuh istrinya saat haid tanpa bersetubuh, dan mencium istrinya saat berpuasa juga dapat berargumen dengan beliau.
Jika orang yang menyayangi ahli maksiat secara umum berargumen dengan beliau, maka orang yang menegakkan hukum-hukum Allah atas mereka, seperti memotong tangan pencuri, merajam pezina, dan mencambuk peminum khamr, juga dapat berargumen dengan beliau.
Jika para pemilik hukum berdasarkan lahiriah berargumen dengan beliau, maka para pemilik kebijakan yang adil yang dibangun berdasarkan indikasi-indikasi lahiriah juga dapat berargumen dengan beliau. Sungguh, beliau pernah menahan seseorang karena tuduhan dan menghukum seseorang karena tuduhan.”
Hingga ia berkata: “Kesimpulan dari bab ini adalah bahwasannya orang-orang fakir yang sabar tidak lebih berhak atas klaim mengikuti beliau daripada orang-orang kaya yang bersyukur. Dan orang yang paling berhak dengan beliau adalah orang yang paling mengetahui sunnahnya dan paling mengikutinya.”
Sumber: Al-Hayatur Rabbaniyyah wal ‘Ilm (Kehidupan Rabbani dan Ilmu) oleh Yang Mulia Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi.





