Oleh: Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Di antara konsekuensi logis dari persaudaraan dalam Islam adalah: tolong-menolong, saling mengasihi, dan saling membela. Sebab, apa artinya persaudaraan jika engkau tidak menolong saudaramu saat ia membutuhkan, tidak membelanya saat ia dalam kesulitan, dan tidak mengasihinya saat ia lemah?
Rasulullah yang mulia ﷺ telah menggambarkan betapa eratnya hubungan tolong-menolong dan keterikatan antaranggota masyarakat Muslim satu sama lain dengan gambaran yang sangat jelas dan penuh makna. Beliau bersabda:
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»، ثُمَّ شَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ
“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” Lalu beliau mengaitkan jari-jarinya. (HR. Bukhari & Muslim) [Muttafaqun ‘alaih]
Satu batu bata saja, betapa pun kokohnya, tetaplah lemah. Ribuan batu bata yang berserakan dan tidak teratur tidak akan menghasilkan apa pun, juga tidak akan membentuk sebuah bangunan. Sesungguhnya bangunan yang kokoh terbentuk dari batu-bata yang saling menguatkan dan tersusun rapi dalam barisan yang teratur menurut aturan yang jelas. Pada saat itulah batu-bata membentuk dinding yang kuat, dan dari kumpulan dinding tersebut terbentuklah rumah yang kokoh, yang sulit dijangkau oleh tangan-tangan perusak.
Beliau juga menggambarkan betapa eratnya rasa kasih sayang, keterpaduan, dan simpati sebagian masyarakat terhadap sebagian yang lain dengan sabda beliau:
عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْأَعْضَاءِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ»
“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari & Muslim) [Muttafaqun ‘alaih]
Ini adalah keterikatan yang bersifat sistemik (seperti infeksi), di mana satu bagian tidak bisa berdiri sendiri tanpa bagian lain, tidak bisa terpisah darinya, dan tidak bisa hidup tanpanya. Sistem pernapasan tidak bisa lepas dari sistem pencernaan, dan keduanya tidak bisa lepas dari sistem peredaran darah atau saraf. Setiap bagian saling melengkapi satu sama lain. Dengan tolong-menolong serta keterpaduan antar bagian itulah seluruh tubuh hidup, serta pertumbuhan dan produktivitasnya terus berlangsung.
Beliau juga bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «الْمُسْلِمُونَ تَتَكَافَأُ دِمَاؤُهُمْ، يَسْعَى بِذِمَّتِهِمْ أَدْنَاهُمْ، وَيُجِيرُ عَلَيْهِمْ أَقْصَاهُمْ، وَهُمْ يَدٌ عَلَى مَنْ سِوَاهُمْ، يَرُدُّ مُشِدُّهُمْ عَلَى مُضْعِفِهِمْ، وَمُسْرِعُهُمْ عَلَى قَاعِدِهِمْ»
“Kaum Muslimin itu darah mereka setara (sama nilai darahnya). Orang yang paling rendah di antara mereka pun dapat memberikan jaminan keamanan (atas nama mereka), dan orang yang paling jauh sekalipun dapat memberikan perlindungan kepada mereka. Mereka bersatu padu menghadapi musuh di luar mereka. Orang yang kuat (cepat) di antara mereka membantu yang lemah (lambat), dan yang cepat membantu yang tidak bergerak.” (HR. Abu Dawud & Ahmad)
Termasuk dalam bab pembelaan seorang Muslim terhadap Muslim lainnya, beliau ﷺ bersabda:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا» فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا، أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ؟ قَالَ: «تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ، أَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ فَذَلِكَ نَصْرٌ لَهُ»
“Tolonglah saudaramu, baik ia yang zalim maupun yang dizalimi.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kami bisa membelanya jika ia dizalimi, tetapi bagaimana membelanya jika ia justru menjadi zalim?” Beliau menjawab: “Engkau cegah tangannya (dari berbuat zalim), atau engkau cegah dia dari kezaliman, maka itulah bentuk pertolonganmu kepadanya.” (HR. Bukhari)
Al-Qur’anul Karim mewajibkan tolong-menolong dan memerintahkannya dengan satu syarat: tolong-menolong di atas kebajikan dan ketakwaan. Al-Qur’an mengharamkan serta melarang tolong-menolong jika di atas dosa dan permusuhan. Allah Ta’ala berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Q.S. Al-Ma’idah: 2)
Allah menjadikan orang-orang mukmin sebagai pelindung dan penolong satu sama lain berdasarkan ikatan iman, sebagaimana firman-Nya:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (Q.S. At-Taubah: 71)
Ini berbanding terbalik dengan sifat masyarakat munafik, di mana Allah berfirman:
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ
“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian mereka dengan sebagian yang lain adalah sama (saling membiarkan). Mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma’ruf, dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir).” (Q.S. At-Taubah: 67)
Allah juga menggambarkan masyarakat para sahabat dengan firman-Nya:
أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“(Mereka) keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Q.S. Al-Fath: 29)
Maka rasa kasih sayang adalah ciri utama di antara ciri-ciri masyarakat Muslim. Konsekuensi dari hal ini adalah: orang yang kuat menguatkan yang lemah, orang kaya memegang tangan orang miskin, orang berilmu menerangi jalan bagi orang bodoh, orang dewasa menyayangi yang muda, yang muda menghormati yang tua, serta orang bodoh mengakui hak orang alim. Semua berdiri dalam satu barisan dalam menghadapi kesulitan dan peperangan, baik militer maupun non-militer, sebagaimana firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Q.S. Ash-Shaff: 4)
Gambaran Hidup dari Tolong-Menolong dalam Kisah Al-Qur’an
Di antara gambaran nyata tentang tolong-menolong yang membuahkan hasil dan konstruktif dalam kisah-kisah Al-Qur’an adalah sebagai berikut:
1. Kerja sama antara Musa dan saudaranya Harun
Musa memohon kepada Allah agar menguatkan posisinya dengan saudaranya dalam menjalankan misi kenabian. Allah berfirman menceritakan doa Musa:
وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي * هَارُونَ أَخِي * اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي * وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي * كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيرًا * وَنَذْكُرَكَ كَثِيرًا * إِنَّكَ كُنْتَ بِنَا بَصِيرًا
“Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun saudaraku, kuatkanlah kekuatanku dengan (keberadaan)nya, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, agar kami banyak bertasbih kepada-Mu dan banyak berzikir kepada-Mu. Sungguh, Engkau Maha Melihat (keadaan) kami.” (Q.S. Thaha: 29-35)
Dan jawaban Allah:
قَالَ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجْعَلُ لَكُمَا سُلْطَانًا
“Allah berfirman: ‘Kami akan kuatkan otot-otot (kekuatan)mu dengan (bantuan) saudaramu, dan Kami akan berikan kepadamu berdua kekuasaan.'” (Q.S. Al-Qashash: 35)
Dengan demikian, Harun menjadi mitra dan pembantu Musa saat ia hadir, serta menjadi pengganti beliau di tengah kaumnya saat Musa pergi.
2. Pembangunan Bendungan Dzul Qarnain yang Agung
Bendungan ini dibangun sebagai penghalang untuk menahan serangan Ya’juj dan Ma’juj yang berbuat kerusakan di bumi. Ini adalah buah dari kerja sama antara penguasa yang saleh dan rakyat yang khawatir terhadap kezaliman orang-orang kuat. Allah berfirman:
قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰ أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا * قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا * آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا سَاوَىٰ بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا * فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا
“Mereka berkata: ‘Wahai Dzul Qarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu berbuat kerusakan di bumi. Maka bolehkah kami memberikan sesuatu upah kepadamu, sebagai imbalan agar engkau membuatkan dinding penghalang antara kami dan mereka?’ Dia berkata: ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku lebih baik (dari upahmu). Maka bantulah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku dapat membuatkan dinding penghalang antara kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi.’ Hingga ketika besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah ia: ‘Tiuplah (api itu).’ Hingga ketika besi itu menjadi merah (seperti api), dia pun berkata: ‘Berilah aku tembaga (yang dicairkan) supaya aku tuangkan ke atasnya (besi panas itu).’ Maka mereka (Ya’juj dan Ma’juj) tidak dapat memanjatnya dan tidak dapat melubanginya.” (Q.S. Al-Kahf: 94-97)
Sumber: “Malamah Al-Mujtama’ Al-Muslim Alladzi Nansyuduh” (Karakter Masyarakat Muslim yang Kita Idamkan) karya Yang Mulia Syekh Al-Qardhawi.





