Dari Budak yang Disiksa hingga Muadzin Rasulullah
Pagi itu di Madinah, saat fajar menyingsing, Rasulullah ﷺ menegur Bilal dengan pertanyaan yang tak biasa. “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amalan paling utama yang engkau lakukan dalam Islam, karena aku mendengar suara terompahmu di depanku di surga!”
Subhanallah. Seorang budak hitam yang dahulu disiksa di padang pasir Mekkah, kini suara langkahnya terdengar di surga mendahului para nabi. Siapakah Bilal bin Rabah hingga ia mendapat kemuliaan setinggi ini?
Dari Kegelapan Menuju Cahaya
Bilal bin Rabah lahir dalam kegelapan perbudakan. Ia adalah hamba sahaya Bani Jumah, sebuah kabilah Quraisy yang berdomisili di Mekkah. Ibunya juga seorang budak perempuan mereka. Tak ada yang istimewa dari dirinya di mata masyarakat jahiliah—ia hanya setitik hitam di tengah gurun yang luas.
Namun, takdir berkata lain. Setiap hari, Bilal mendengar tuannya, Umayyah bin Khalaf, menyebut nama “Muhammad” dengan penuh kemarahan. Umayyah dan teman-temannya kerap membicarakan pria yang mengaku nabi itu dengan nada mencerca. Bilal diam-diam mendengarkan dengan saksama. Hatinya yang suci mulai tertambat pada sosok yang dibenci tuannya itu.
Akhirnya, tanpa ragu, Bilal menemui Rasulullah ﷺ dan menyatakan keislamannya. Sebuah keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya—dan sejarah Islam selamanya.
Tujuh Orang Pertama yang Menyatakan Islam secara Terang-terangan
Bilal termasuk dalam tujuh orang pertama yang berani menjaharkan (menyatakan secara terang-terangan) keislamannya di masa awal dakwah. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan:
أَوَّلُ مَنْ أَظْهَرَ إِسْلَامَهُ سَبْعَةٌ: رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو بَكْرٍ، وَعَمَّارٌ، وَأُمُّهُ سُمَيَّةُ، وَصُهَيْبٌ، وَبِلَالٌ، وَالْمِقْدَادُ، فَأَمَّا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَنَعَهُ اللهُ بِعَمِّهِ أَبِي طَالِبٍ، وَأَمَّا أَبُو بَكْرٍ، فَمَنَعَهُ اللهُ بِقَوْمِهِ، وَأَمَّا سَائِرُهُمْ فَأَخَذَهُمُ الْمُشْرِكُونَ، فَأَلْبَسُوهُمْ أَدْرَاعَ الْحَدِيدِ، وَصَهَرُوهُمْ فِي الشَّمْسِ، فَمَا مِنْهُمْ إِنْسَانٌ إِلَّا وَقَدْ وَاتَاهُمْ عَلَى مَا أَرَادُوا، إِلَّا بِلَالٌ، فَإِنَّهُ هَانَتْ عَلَيْهِ نَفْسُهُ فِي اللهِ، وَهَانَ عَلَى قَوْمِهِ، فَأَعْطَوْهُ الْوِلْدَانَ، وَأَخَذُوا يَطُوفُونَ بِهِ شِعَابَ مَكَّةَ، وَهُوَ يَقُولُ: أَحَدٌ أَحَدٌ
“Orang pertama yang menampakkan keislamannya ada tujuh: Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, Ammar, ibunya Sumayyah, Shuhaib, Bilal, dan Miqdad. Adapun Rasulullah ﷺ, Allah melindunginya dengan pamannya Abu Thalib. Adapun Abu Bakar, Allah melindunginya dengan kaumnya. Adapun yang lainnya, orang-orang musyrik menangkap mereka, mengenakan baju besi, dan menjemur mereka di bawah terik matahari. Tidak seorang pun dari mereka yang selamat dari siksaan kecuali Bilal. Ia begitu menghinakan dirinya karena Allah, dan ia pun hina di mata kaumnya. Mereka menyerahkannya kepada anak-anak, lalu anak-anak itu membawanya berkeliling di celah-celah bukit Mekkah, sementara Bilal terus mengucapkan: ‘Ahad, Ahad’ (Allah Maha Esa).” (H.R. Ahmad)
Siksaan yang Menggetarkan Jiwa
Umayyah bin Khalaf, tuan Bilal, adalah orang yang paling kejam dalam menyiksanya. Ibnu Ishaq meriwayatkan:
وَكَانَ أُمَيَّةُ بْنُ خَلَفٍ يُخْرِجُهُ إِذَا حَمِيَتِ الظَّهِيرَةُ، فَيَطْرَحُهُ عَلَى ظَهْرِهِ فِي بَطْحَاءِ مَكَّةَ، ثُمَّ يَأْمُرُ بِالصَّخْرَةِ الْعَظِيمَةِ فَتُوضَعُ عَلَى صَدْرِهِ، ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: لَا وَاَللَّهِ لَا تَزَالُ هَكَذَا حَتَّى تَمُوتَ، أَوْ تَكْفُرَ بِمُحَمَّدٍ، وَتَعْبُدَ اللَّاتَ وَالْعُزَّى، فَيَقُولُ وَهُوَ فِي ذَلِكَ الْبَلَاءِ: أَحَدٌ أَحَدٌ
“Umayyah bin Khalaf mengeluarkan Bilal saat terik matahari memuncak, lalu membaringkannya telentang di lembah Mekkah. Kemudian ia memerintahkan agar batu besar diletakkan di dada Bilal. Lalu ia berkata kepadanya: ‘Demi Allah, engkau akan terus begini hingga mati, atau kafir kepada Muhammad dan menyembah Latta dan Uzza.’ Maka Bilal dalam siksaan itu terus berkata: ‘Ahad, Ahad’ (Allah Maha Esa).” (Sirah Ibnu Hisyam 1/317-318)
Bilal diseret ke padang pasir yang membara. Batu besar di dadanya, namun lisannya tak henti mengucap “Ahad… Ahad…” Sebutir mutiara keimanan yang tak mungkin hancur oleh batu seberat apa pun.
Abu Bakar Sang Penyelamat
Suatu hari, Abu Bakar Ash-Shiddiq melewati tempat Bilal disiksa. Rumah Abu Bakar berada di kawasan Bani Jumah, sehingga ia kerap melihat kekejaman itu. Hatinya tersayat. Ia berkata kepada Umayyah bin Khalaf:
أَلَا تَتَّقِي اللَّهَ فِي هَذَا الْمِسْكِينِ؟ حَتَّى مَتَى؟
“Tidakkah engkau takut kepada Allah pada diri orang miskin ini? Sampai kapan?”
Umayyah yang licik menjawab, “Engkaulah yang merusaknya. Selamatkan dia dari siksaan ini jika kau mampu!”
Abu Bakar berkata, “Akan kulakukan. Aku punya budak hitam yang lebih kuat dan lebih teguh di atas agamanya daripada dia. Aku akan memberikannya kepadamu sebagai ganti Bilal.”
Umayyah menerima tawaran itu. Maka, Abu Bakar memberikan budaknya kepada Umayyah, lalu mengambil Bilal dan memerdekakannya. (Sirah Ibnu Hisyam, 1/318)
Kemuliaan yang Diakui Langit
Peristiwa pembebasan Bilal ini diabadikan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Lail ayat 17-21:
وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى ﴿١٧﴾ الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّىٰ ﴿١٨﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَىٰ ﴿١٩﴾ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ ﴿٢٠﴾ وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ ﴿٢١﴾
“Dan akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang bertakwa, yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (dirinya), dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya yang Mahatinggi. Dan niscaya kelak dia akan mendapat kesenangan (yang sempurna).”
Menurut sebagian mufasir, ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika ia membeli dan memerdekakan Bilal. Orang-orang kafir Quraisy berkata, “Sesungguhnya Abu Bakar melakukan itu karena Bilal pernah berjasa kepadanya.” Maka, Allah menurunkan ayat ini membantah tuduhan mereka, menegaskan bahwa Abu Bakar melakukannya semata-mata karena Allah.
Allah juga menegur sikap kaum musyrikin yang menghina para sahabat miskin seperti Bilal:
وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لِّيَقُولُوٓا۟ أَهَـٰٓؤُلَآءِ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنۢ بَيْنِنَآ ۗ أَلَيْسَ ٱللَّهُ بِأَعْلَمَ بِٱلشَّـٰكِرِينَ
“Demikianlah Kami telah menguji sebagian mereka (yang kaya dan berkuasa) dengan sebagian yang lain (yang miskin dan menderita), sehingga mereka (yang kaya dan kufur itu) berkata, ‘Orang-orang semacam inikah (yang status sosialnya rendah) di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah?’ (Allah berfirman,) ‘Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang mereka yang bersyukur (kepada-Nya)?'” (QS. Al-An’am: 53)
Ayat ini turun berkenaan dengan musyrikin yang menghina Bilal, Abdullah bin Mas’ud, dan sahabat lainnya yang dipandang rendah status sosialnya. (H.R. Muslim)
Kemuliaan di Mata Umar
Suatu hari, Umar bin Khattab berkata tentang Bilal:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَبُو بَكْرٍ سَيِّدُنَا، وَأَعْتَقَ سَيِّدَنَا – يَعْنِي: بِلَالًا
“Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Abu Bakar adalah pemimpin kami, dan dia telah memerdekakan pemimpin kami – yaitu Bilal.'” (H.R. Al-Bukhari)
Perhatikan: Umar, seorang pemimpin besar Quraisy, menyebut Bilal—mantan budak Habsyi—sebagai “pemimpin kami”. Inilah Islam yang mengajarkan bahwa kemuliaan bukan karena keturunan atau warna kulit, melainkan karena ketakwaan.
Allah Marah Jika Mereka Marah
Kisah lain menunjukkan betapa tingginya kedudukan Bilal di sisi Allah. Suatu hari, Abu Sufyan (saat itu belum masuk Islam) melewati Salman, Shuhaib, dan Bilal. Mereka bertiga berkata kepadanya:
وَاللَّهِ مَا أَخَذَتْ سُيُوفُ اللَّهِ مِنْ عُنُقِ عَدُوِّ اللَّهِ مَأْخَذَهَا
“Demi Allah, pedang-pedang Allah belum menyentuh leher musuh Allah (dengan semestinya).”
Abu Bakar yang mendengar spontan menegur, “Apakah kalian berkata demikian kepada sesepuh Quraisy dan pemimpin mereka?”
Lalu, Abu Bakar menemui Nabi ﷺ dan menceritakan hal itu. Maka, Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا أَبَا بَكْرٍ، لَعَلَّكَ أَغْضَبْتَهُمْ! لَئِنْ كُنْتَ أَغْضَبْتَهُمْ لَقَدْ أَغْضَبْتَ رَبَّكَ
“Wahai Abu Bakar, mungkin engkau telah membuat mereka marah! Jika engkau benar-benar membuat mereka marah, maka sungguh engkau telah membuat Tuhanmu marah.”
Abu Bakar segera mendatangi mereka dan berkata, “Wahai saudaraku, apakah aku telah membuat kalian marah?”
Mereka menjawab, “Tidak, semoga Allah mengampunimu, wahai saudaraku.” (Musnad Ahmad, No. 3619; Shahih Ibnu Hibban, No. 7264)
Betapa agungnya kedudukan mereka di mata Allah. Kemarahan mereka diperhitungkan, bahkan Abu Bakar—orang yang paling dicintai Nabi—ditegur karena menegur mereka.
Suara Terompah di Surga
Itulah Bilal. Ia terus meningkatkan amalnya. Suatu pagi setelah salat Subuh, Rasulullah ﷺ bertanya:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ: يَا بِلَالُ، حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ، فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ!
“Rasulullah ﷺ berkata kepada Bilal saat salat Subuh: ‘Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amalan paling utama yang engkau lakukan dalam Islam, karena aku mendengar suara terompahmu di depanku di surga!'”
Bilal menjawab dengan rendah hati:
مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ
“Tidak ada amalan yang lebih kuharapkan (pahalanya) daripada aku berwudu (bersuci) pada malam atau siang hari, lalu aku salat dengan wudu itu sebanyak yang ditakdirkan untukku.” (H.R. Al-Bukhari)
Subhanallah. Amalan sederhana namun konsisten: menjaga wudu dan salat sunah setiap kali bersuci. Itulah yang mengantarkan langkahnya terdengar di surga.
Bilal dan Adzan: Suara yang Menggetarkan Dunia
Bilal terpilih menjadi muadzin Rasulullah. Suaranya yang merdu dan lantang menjadi ciri khas Madinah. Tentang awal mula pensyariatan azan, terdapat hadis dari Abdullah bin Zaid:
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَمَّا أَصْبَحْنَا أَتَيْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ بِالرُّؤْيَا فَقَالَ إِنَّ هَذِهِ لَرُؤْيَا حَقٍّ فَقُمْ مَعَ بِلَالٍ فَإِنَّهُ أَنْدَى وَأَمَدُّ صَوْتًا مِنْكَ فَأَلْقِ عَلَيْهِ مَا قِيلَ لَكَ وَلْيُنَادِ بِذَلِكَ قَالَ فَلَمَّا سَمِعَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ نِدَاءَ بِلَالٍ بِالصَّلَاةِ خَرَجَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَجُرُّ إِزَارَهُ وَهُوَ يَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَقَدْ رَأَيْتُ مِثْلَ الَّذِي قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلِلَّهِ الْحَمْدُ فَذَلِكَ أَثْبَتُ
“Dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid dari ayahnya, ia berkata: ‘Ketika pagi tiba, kami mendatangi Rasulullah ﷺ dan aku menceritakan mimpiku (tentang azan). Beliau bersabda: “Sungguh ini mimpi yang benar. Berdirilah bersama Bilal, karena suaranya lebih lantang dan panjang darimu. Sampaikanlah apa yang diajarkan kepadamu, dan hendaklah dia menyerukan azan dengan itu.” Perawi berkata: “Ketika Umar bin Khattab mendengar seruan Bilal untuk salat, ia keluar menemui Rasulullah ﷺ sambil menyeret kainnya (karena tergesa-gesa) seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah, demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, sungguh aku bermimpi seperti yang ia katakan!’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Segala puji bagi Allah, itu lebih menguatkan.'” (H.R. At-Tirmidzi)
Saat Berhala Hancur dan Suara Azan Berkumandang di Ka’bah
Puncak kemenangan tiba. Saat Fathu Makkah, Rasulullah ﷺ memasuki kota suci dengan 360 berhala mengelilingi Ka’bah. Beliau menusuk berhala-berhala itu dengan tongkatnya seraya bersabda:
جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ
“Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap.”
Kemudian beliau memerintahkan Bilal untuk naik ke atas Ka’bah dan mengumandangkan azan. Seorang budak hitam yang dahulu disiksa di lembah Mekkah, kini berdiri di atas rumah suci Allah, suaranya menggema di seluruh penjuru kota. Sebuah pemandangan yang tak pernah terbayangkan oleh para pembesar Quraisy.
Balasan untuk Umayyah bin Khalaf
Di medan Perang Badar, keadilan Allah berlaku. Bilal bertemu kembali dengan tuannya yang dulu, Umayyah bin Khalaf. Ketika itu Umayyah tertawan oleh Abdurrahman bin Auf—sahabat karibnya di masa jahiliah. Abdurrahman berusaha melindunginya.
Namun, Bilal melihat Umayyah. Ia berteriak, “Ini adalah pemimpin kaum musyrikin, Umayyah bin Khalaf! Aku tidak akan selamat jika ia selamat!”
Ibnu Ishaq meriwayatkan:
أَنَّ عُمَيَّةَ بْنَ خَلَفٍ كَانَ صَدِيقًا لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ أَسَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ، فَقَالَ: يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، أَنَا صَدِيقُكَ! فَجَعَلَ يَجُرُّهُ إِلَى الصَّفِّ، فَلَحِقَهُ بِلالٌ وَكَانَ عُمَيَّةُ يُعَذِّبُ بِلالًا فِي اللَّهِ، فَقَالَ: يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، هَذَا أَوَّلُ الْقَوْمِ بِاللَّهِ! (يَعْنِي بِلالًا) فَضَرَبَ بِلالٌ عُمَيَّةَ بِالسَّيْفِ فَقَتَلَهُ
“Umayyah bin Khalaf adalah teman Abdurrahman bin Auf di masa jahiliah. Pada Perang Badar, Abdurrahman menawannya. Umayyah berkata, ‘Wahai Abdurrahman, aku temanmu!’ Abdurrahman berusaha menariknya ke barisan tawanan. Namun, Bilal yang dahulu disiksa Umayyah karena Allah, melihatnya. Bilal berkata, ‘Wahai Abdurrahman, inilah musuh Allah!’ Maka Bilal memukul Umayyah dengan pedang hingga membunuhnya.” (H.R. Al-Bukhari)
Keadilan sejarah telah ditegakkan. Tangan yang dulu menyiksa kini binasa oleh tangan yang tersiksa.
Kesedihan Setelah Kepergian Nabi
Setelah Rasulullah ﷺ wafat, dunia terasa gelap bagi Bilal. Ia hanya mampu bertahan tiga hari menjadi muadzin. Setiap kali sampai pada kalimat “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”, suaranya tersendat, air matanya tumpah, ia tak kuasa menahan kepiluan. Rasa rindu yang membuncah membuatnya tak mampu lagi melantunkan kalimat itu tanpa menangis.
Akhirnya, Bilal memutuskan pergi ke Syam untuk berjihad. Ia tinggalkan Madinah, kota yang penuh kenangan bersama kekasihnya.
Azan Terakhir yang Membuat Madinah Menangis
Tahun 20 Hijriah, di masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Bilal berkunjung ke Madinah. Para sahabat yang merindukan suaranya memohon agar ia mau mengumandangkan azan sekali lagi.
Bilal pun naik ke tempat yang dulu. Ia mulai azan:
Allāhu Akbar, Allāhu Akbar…
Asyhadu allā ilāha illallāh…
Asyhadu anna Muhammadar… Rasūlullāh…
Sampai di situ, suaranya pecah. Ia tak sanggup melanjutkan. Seluruh Madinah yang mendengar ikut menangis. Mereka teringat pada sosok yang telah tiada, pada masa-masa indah bersama Nabi yang kini hanya tinggal kenangan.
Wafatnya Sang Muadzin
Bilal bin Rabah wafat di Desa Darayya, Syam, pada tahun 20 Hijriah (641 Masehi). Ia pergi meninggalkan dunia fana, namun suaranya tetap abadi. Setiap hari, lima kali sehari, dari menara-menara masjid di seluruh dunia, namanya dikenang melalui azan yang ia kumandangkan pertama kali.
Seorang budak hitam dari negeri jauh, yang tak punya pangkat dan keturunan, namun karena keimanannya, langkahnya terdengar di surga mendahului para nabi. Ia telah mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan sejati bukan pada warna kulit, bukan pada status sosial, bukan pada harta dan keturunan.
Kemuliaan sejati hanya satu: ketakwaan kepada Allah.
Bilal bin Rabah, suaramu akan terus bergema hingga akhir zaman.
Sumber bacaan: Ensiklopedi Sahabat, Mahmud Al-Mishri, Pustaka Imam As-Syafi’i.





