Oleh: Prof. Dr. Ragheb As-Sirjani
Ringkasan Artikel
Kitab-kitab Sunan meriwayatkan beberapa situasi di mana Rasulullah ﷺ marah kepada sebagian sahabat beliau. Apa yang Anda ketahui tentang hal itu?
Sebab Kemarahan Rasulullah ﷺ kepada Seorang Sahabat di Makkah
Kitab-kitab Sunan mencatat beberapa peristiwa di mana Rasulullah ﷺ marah kepada sebagian sahabatnya. Semua kemarahan itu terjadi karena adanya pelanggaran terhadap syariat. Berikut beberapa contohnya:
1. Kemarahan beliau ﷺ kepada Abu Dzar ketika ia berkata kepada Bilal: “Wahai anak perempuan kulit hitam.”
Imam Bukhari meriwayatkan dari Al-Ma’rur, ia berkata: “Aku bertemu Abu Dzar di Rabadzah. Ia mengenakan pakaian yang bagus (hullah), begitu pula budaknya. Aku pun bertanya tentang hal itu. Ia berkata: ‘Aku pernah mencela seseorang dan menjelek-jelekkan ibunya.’ Maka Nabi ﷺ bersabda kepadaku:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «يَا أَبَا ذَرٍّ أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ، إِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمْ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ»
“Wahai Abu Dzar, apakah engkau mencela ibunya? Sungguh, dalam dirimu masih ada sifat jahiliah. Mereka (budak-budak) adalah saudara-saudaramu yang Allah jadikan di bawah kekuasaanmu. Maka barang siapa yang saudaranya berada di bawah kekuasaannya, berilah makan dari apa yang ia makan, berilah pakaian dari apa yang ia pakai, dan janganlah membebani mereka dengan pekerjaan yang berat. Jika kamu membebani mereka, maka bantulah mereka.” (HR. Bukhari, Kitab Iman, Bab 22, no. 30)
2. Kemarahan Nabi ﷺ kepada tiga orang yang ingin menambah-nambah ibadah melebihi sunnah.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik: “Seseorang berkata: ‘Aku akan shalat malam selamanya.’ Yang lain berkata: ‘Aku akan berpuasa sepanjang masa tanpa berbuka.’ Yang lain lagi berkata: ‘Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya.’ Maka Rasulullah ﷺ mendatangi mereka dan bersabda:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ ﷺ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ، فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا، فَقَالُوا: أَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ؟ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. قَالَ أَحَدُهُمْ: أَمَّا أَنَا فَأُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا. وَقَالَ آخَرُ: أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ. وَقَالَ آخَرُ: أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ وَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا. فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: «أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا؟ أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي»
“Kaliankah yang mengatakan begini dan begitu? Demi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya di antara kalian. Namun, aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan aku tidur, aku juga menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan dari golonganku.” (HR. Bukhari, Kitab Nikah, Bab 1, no. 4776)
3. Kemarahan beliau ﷺ kepada Umar bin Khaththab karena berselisih dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Darda`: “Rasulullah ﷺ marah, lalu Abu Bakar mulai berkata: ‘Demi Allah, wahai Rasulullah, sungguh akulah yang lebih zalim.’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: لَمَّا مَرِضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَرَضَهُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ، قَالَ: «هَلْ أَنْتُمْ تَارِكُونَ لِي صَاحِبِي، هَلْ أَنْتُمْ تَارِكُونَ لِي صَاحِبِي، إِنِّي قُلْتُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا، فَقُلْتُمْ: كَذَبْتَ، وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: صَدَقْتَ»
“Tidakkah kalian tinggalkan untukku sahabatku? Tidakkah kalian tinggalkan untukku sahabatku? Aku berkata: ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua.’ Lalu kalian berkata: ‘Engkau dusta.’ Tetapi Abu Bakar berkata: ‘Engkau benar.'” (HR. Bukhari, Kitab Tafsir, Bab Surat Al-A’raf, no. 4364)
4. Kemarahan beliau ﷺ kepada Aisyah ketika ia mengikuti beliau ke Baqi’ karena mengira beliau pergi ke tempat lain di malam gilirannya.
Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah: Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَظَنَنْتِ أَنْ يَحِيفَ اللهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ؟»
“Apakah engkau menyangka bahwa Allah dan Rasul-Nya akan berlaku tidak adil kepadamu?” (HR. Bukhari, Kitab Jenazah, Bab 77, no. 974)
5. Kemarahan beliau ﷺ kepada Mu’adz bin Jabal karena memanjangkan shalat berjamaah.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Mas’ud: “Seseorang berkata: ‘Demi Allah, wahai Rasulullah, aku benar-benar terlambat dari shalat subuh karena Fulan yang memanjangkan shalat bersama kami.’ Maka aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ dalam suatu nasihat yang lebih keras kemarahannya daripada hari itu. Kemudian beliau bersabda:
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: إِنِّي لَأَتَأَخَّرُ عَنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ مِمَّا يُطِيلُ بِنَا فُلَانٌ. فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَطُّ فِي مَوْعِظَةٍ أَشَدَّ غَضَبًا مِنْ يَوْمِئِذٍ. ثُمَّ قَالَ: «إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ، فَأَيُّكُمْ مَا صَلَّى بِالنَّاسِ فَلْيَتَجَوَّزْ، فَإِنَّ فِيهِمُ الضَّعِيفَ وَالكَبِيرَ وَذَا الحَاجَةِ»
“Sungguh di antara kalian ada orang yang membuat orang lain lari (dari kebaikan). Maka siapa pun di antara kalian yang shalat mengimami orang lain, hendaklah ia meringankan. Karena di antara mereka ada yang lemah, tua, dan memiliki keperluan.” (HR. Bukhari, Kitab Adzan, Bab 62, no. 670)
Sebagian besar peristiwa ini terjadi di Madinah pada masa turunnya wahyu (tasyri’) dan berdirinya negara, ketika terjadi pelanggaran dari sebagian orang.
Namun, ada satu peristiwa langka yang terjadi di Makkah, di sekitar Ka’bah. Ini adalah salah satu peristiwa langka di mana Rasulullah ﷺ marah kepada seorang sahabat di Makkah. Padahal, Rasulullah ﷺ sangat lemah lembut kepada para sahabatnya dalam kondisi seperti itu.
Yang menakjubkan bukanlah kemarahannya kepada sebagian sahabat di Makkah, tetapi yang menakjubkan adalah penyebab kemarahan itu sendiri. Sebab, penyebab kemarahan beliau adalah permintaan pertolongan kepada Allah dan permintaan doa untuk para sahabat!
Khabbab bin Al-Arat radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Kami mengadu kepada Rasulullah ﷺ, saat beliau sedang bersandar pada selendang (burdah)-nya di bawah naungan Ka’bah. Kami berkata kepadanya: ‘Tidakkah engkau memohonkan pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami?’ Maka beliau bersabda:
عَنْ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ، فَقُلْنَا: أَلَا تَسْتَنْصِرُ لَنَا؟ أَلَا تَدْعُو اللَّهَ لَنَا؟ قَالَ: «كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهِ، فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخَافُ إِلَّا اللهَ أَوِ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ»
“Sungguh, orang sebelum kalian ada yang digali lubang untuknya di tanah lalu ia dimasukkan ke dalamnya. Kemudian dibawa gergaji dan diletakkan di atas kepalanya, lalu kepalanya dibelah menjadi dua. Namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Dan ada yang disisir dengan sisir besi hingga mengenai daging, tulang, atau uratnya. Namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Demi Allah, sungguh urusan (agama) ini akan sempurna hingga seorang pengendara dari Shan’a menuju Hadhramaut tidak takut kecuali kepada Allah, atau serigala yang mengintai kambingnya. Tetapi kalian terburu-buru!” (HR. Bukhari, Kitab Manaqib, Bab 23, no. 3416)
Dalam riwayat lain:
“Aku mendatangi Nabi ﷺ saat beliau bersandar pada selendangnya di bawah naungan Ka’bah. Kami telah merasakan siksaan yang berat dari orang-orang musyrik. Maka aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, tidakkah engkau berdoa kepada Allah?’ Maka beliau duduk dengan wajah yang memerah, lalu bersabda:
عَنْ خَبَّابٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ، وَقَدْ لَقِينَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ شِدَّةً، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَا تَدْعُو اللَّهَ؟ فَجَلَسَ مُحْمَرًّا وَجْهُهُ، فَقَالَ: «لَقَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ لَيُمْشَطُ بِمِشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ عِظَامِهِ مِنْ لَحْمٍ أَوْ عَصَبٍ، مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَيُوضَعُ الْمِنْشَارُ عَلَى مَفْرِقِ رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَيْنِ، مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَلَيُتِمَّنَّ اللَّهُ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، مَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ»
“Sungguh, orang sebelum kalian ada yang disisir dengan sisir besi hingga mengenai daging, tulang, atau uratnya, namun hal itu tidak memalingkannya dari agamanya. Dan ada yang diletakkan gergaji di atas kepalanya lalu dibelah menjadi dua, namun hal itu tidak memalingkannya dari agamanya. Dan sungguh, Allah akan menyempurnakan urusan ini hingga seorang pengendara dari Shan’a menuju Hadhramaut tidak takut kecuali kepada Allah.” (HR. Bukhari, Kitab Fadhail Ash-Shahabah, Bab 3, no. 3639)
Bentuk Kemarahan Rasulullah ﷺ
Bentuk kemarahan Rasulullah ﷺ dalam peristiwa ini beragam:
Beliau mengubah posisi duduknya.
Wajah beliau memerah.
Beliau memberikan perumpamaan dengan orang-orang yang mengalami kondisi lebih berat daripada yang dialami para sahabat.
Beliau bersumpah bahwa urusan ini akan sempurna—padahal beliau tidak perlu bersumpah.
Beliau menyatakan dengan tegas bahwa para sahabat terburu-buru (tidak sabar).
Mengapa Nabi ﷺ Marah?
Kemarahan Nabi ﷺ dalam peristiwa ini disebabkan oleh beberapa hal:
Pertama: Beliau mencium aroma putus asa dalam perkataan Khabbab radhiyallahu ‘anhu. Padahal, putus asa adalah penyakit yang membinasakan dan tidak pernah diterima dari orang-orang mukmin.
Allah Ta’ala berfirman menceritakan perkataan Nabi Ibrahim:
وَمَن يَقْنَطُ مِن رَّحْمَةِ رَبِّهِ إِلاَّ الضَّالُّونَ
“Ibrahim berkata: ‘Dan tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat.'” (Q.S. Al-Hijr: 56)
Allah juga berfirman:
يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“Wahai anak-anakku, pergilah kalian, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali orang-orang kafir.” (Q.S. Yusuf: 87)
Kedua: Putus asa adalah penyakit menular yang dapat dengan mudah berpindah dari satu orang ke orang lain, dan dampaknya bisa sangat buruk. Dari riwayat pertama, jelas bahwa ini telah menyebar di antara beberapa sahabat, bukan hanya Khabbab. Ia berkata: “Kami mengadu… Kami berkata…” Ini berarti mereka adalah kelompok, dan Khabbab berbicara mewakili mereka.
Ketiga: Kita tidak boleh menentukan cara beribadah kepada Allah sesuka kita. Sebaliknya, Dialah yang menentukan bagaimana kita beribadah kepada-Nya. Dia mengajarkan kita beribadah dalam kesulitan dengan sabar, dan dalam kesenangan dengan syukur. Dia tidak tergesa-gesa seperti tergesa-gesanya hamba-hamba-Nya. Dia melakukan apa yang Dia lihat terbaik bagi mereka, dan Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, sedangkan merekalah yang akan ditanya.
Apa yang Dilakukan Rasulullah ﷺ dalam Peristiwa Ini?
Menanamkan harapan tanpa menentukan waktu → “Demi Allah, sungguh urusan ini akan sempurna.”
Mengagungkan kekuasaan Allah dalam hati → “Tidak takut kecuali kepada Allah.”
Tetap mengambil sebab dan menghindari bahaya → “Atau serigala yang mengintai kambingnya.”
Menggunakan sumpah → untuk menenangkan hati para sahabat dengan kabar gembira.
Menggunakan sejarah dalam pendidikan → dan memberikan perumpamaan yang serupa.
Berbagi penderitaan dengan para sahabat → dan mengalami sendiri apa yang mereka alami.
Dua Hal yang Perlu Diingat
Pertama: Khabbab bukanlah orang yang lemah dalam menghadapi siksaan. Ia mungkin termasuk sahabat yang paling berat siksaan yang dialaminya.
Asy-Sya’bi berkata: “Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Khabbab tentang apa yang ia alami dari orang-orang musyrik. Maka Khabbab berkata: ‘Wahai Amirul Mukminin, lihatlah punggungku.’ Umar berkata: ‘Aku belum pernah melihat seperti hari ini.’ Khabbab berkata: ‘Mereka menyalakan api untukku, dan tidak ada yang memadamkannya kecuali lemak dari punggungku.'” (HR. Abu Nu’aim Al-Ashbahani)
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ melihat sarang semut yang telah kami bakar. Beliau bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي سَفَرٍ فَانْطَلَقَ لِحَاجَتِهِ، فَرَأَيْنَا حُمَرَةً مَعَهَا فَرْخَانِ، فَأَخَذْنَا فَرْخَيْهَا، فَجَاءَتِ الْحُمَرَةُ فَجَعَلَتْ تَفْرِشُ، فَجَاءَ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ: «مَنْ فَجَعَ هَذِهِ بِوَلَدِهَا؟ رُدُّوا وَلَدَهَا إِلَيْهَا». وَرَأَى قَرْيَةَ نَمْلٍ قَدْ حَرَّقْنَاهَا، فَقَالَ: «مَنْ حَرَّقَ هَذِهِ؟» قُلْنَا: نَحْنُ. قَالَ: «إِنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَذِّبَ بِالنَّارِ إِلَّا رَبُّ النَّارِ»
“Siapa yang membakar ini?” Kami menjawab: “Kami.” Beliau bersabda: “Tidak sepantasnya menyiksa dengan api kecuali Tuhan Pemilik api.” (HR. Abu Dawud, Kitab Jihad, Bab 94, no. 2675, dishahihkan Al-Albani)
Kedua: Tidak berarti larangan putus asa berarti seseorang tidak boleh bersedih atas musibah yang menimpanya. Namun, kesedihan ini tidak boleh menjerumuskannya ke dalam keputusasaan atau menghentikannya dari beramal.
Sumber: Islam Story





