Oleh: Prof. Dr. Ragheb As-Sirjani
Ringkasan Artikel
Kabilah Bani Umayyah merupakan salah satu kabilah yang sangat penting di kalangan Quraisy. Para pemberontak beserta pengikut mereka menjadikan pengangkatan empat orang dari Bani Umayyah sebagai gubernur oleh Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu selama masa pemerintahannya sebagai bahan tuduhan, padahal jumlah gubernur yang diangkat beliau mencapai 31 orang.
Keempat orang tersebut adalah: Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Sa’id bin Al-‘Ash, Al-Walid bin ‘Uqbah, dan Abdullah bin Amir. Gubernur dari Bani Umayyah sepanjang sejarah kekhalifahan Utsman hanya mewakili 13% dari total gubernur selama 12 tahun! Apakah mungkin beliau mengabaikan Bani Umayyah hanya karena beliau sendiri berasal dari Bani Umayyah?
Pertama: Sejarah Bani Umayyah dalam Kepemimpinan di Makkah dan Kalangan Arab
Kepemimpinan Makkah saat itu dipegang oleh Hasyim bin Abdi Manaf. Antara beliau dan saudaranya, Abdus Syams, terjadi persaingan dan permusuhan. Setelah wafatnya Hasyim, kepemimpinan beralih kepada saudaranya yang lain, Al-Muththalib bin Abdi Manaf. Kemudian sepeninggal Al-Muththalib, pimpinan Makkah beralih kepada sang rival, Harb bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf.
Setelah wafatnya Harb bin Umayyah, Quraisy tidak lagi dipimpin oleh satu orang, melainkan oleh sebuah dewan. Namun demikian, pasca Perang Badar dan kekalahan yang mereka alami, Quraisy memberikan seluruh kepemimpinan mereka kepada Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu. Ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan Bani Umayyah di mata Quraisy dan bangsa Arab.
Kedua: Gubernur dari Bani Umayyah di Masa Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ memilih tujuh orang gubernur dari kalangan Bani Umayyah, meskipun jumlah wilayah pemerintahan di masa beliau ﷺ relatif sedikit dibandingkan masa Utsman radhiyallahu ‘anhu. Negara Islam saat itu masih terbatas di Jazirah Arab, belum mencakup Syam (Suriah), Irak, atau Mesir.
Beliau ﷺ memberikan jabatan gubernur Makkah—dengan segala kemuliaan, kepentingan, serta banyaknya tokoh senior dan pembesar di dalamnya—kepada seorang pemuda dari Bani Umayyah yang masih muda, yaitu “Attab bin Usaid radhiyallahu ‘anhu. Saat itu usianya 25 tahun, atau bahkan ada yang mengatakan kurang dari 20 tahun. Beliau mempertahankannya sebagai gubernur hingga wafatnya ﷺ.
Beliau ﷺ juga mengangkat Abu Sufyan bin Harb radhiyallahu ‘anhu sebagai gubernur di Najran, dan Yazid bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhuma sebagai gubernur di Taima’. Beliau juga mengangkat empat saudara dari Bani Umayyah, putra-putra Sa’id bin Al-‘Ash, untuk memimpin empat wilayah:
Khalid bin Sa’id bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu sebagai gubernur di Shan’a,
Al-Hakam bin Sa’id bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu sebagai gubernur di desa-desa ‘Urainah (termasuk Fadak dan sekitarnya),
Abu bin Sa’id bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu sebagai gubernur di kota Al-Khath di Bahrain,
Amr bin Sa’id bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu sebagai gubernur di Wadi Al-Qura.
Dengan demikian, jumlah dan proporsi gubernur dari Bani Umayyah di masa Rasulullah ﷺ justru lebih tinggi dibandingkan di masa Utsman radhiyallahu ‘anhu!
Selain itu, beliau ﷺ mengangkat Al-‘Ala’ bin Al-Hadhrami radhiyallahu ‘anhu—seorang sekutu (kafil) Bani Umayyah—sebagai gubernur di kota Al-Qathif, Bahrain. Beliau juga menjadikan Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhuma sebagai juru tulis wahyu. Beliau menikahkan dua putrinya, Ruqayyah kemudian Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anhuma, dengan seorang pemuda dari Bani Umayyah, yaitu Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Beliau juga bersemangat untuk menikahi wanita dari Bani Umayyah, sehingga beliau menikahi Ummu Habibah binti Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhuma.
Perhatian yang intensif kepada Bani Umayyah ini kemungkinan besar disebabkan oleh besarnya ukuran kabilah tersebut, serta untuk mengalihkan perhatian dari persaingan lama yang terjadi antara Hasyim—kakek buyut Rasulullah ﷺ—dengan Umayyah bin Abdi Syams (keponakan Hasyim). Persaingan ini telah menimbulkan rivalitas antara kedua kabilah sepanjang sejarah Makkah pada masa-masa sebelumnya. Persaingan ini memang ada dan tidak bisa diingkari—karena kita berhadapan dengan jiwa manusia yang wajar.
Gubernur dari Bani Umayyah di Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu
Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu meneruskan gubernur-gubernur yang diangkat oleh beliau ﷺ dari kalangan Bani Umayyah. Namun putra-putra Sa’id bin Al-‘Ash meminta dibebaskan dari jabatan gubernur, menyatakan ketidaktertarikan mereka melanjutkan jabatan tersebut sepeninggal Rasulullah ﷺ. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pun menerima permohonan mereka. Setelah itu, beliau memberikan komando seperempat pasukan Syam kepada Yazid bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhuma.
Gubernur dari Bani Umayyah di Masa Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu
Sepeninggal Abu Bakar, Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengumpulkan wilayah Syam di bawah kekuasaan Yazid bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhuma. Beliau juga mengangkat Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, saudara Yazid, sebagai gubernur di Qaisariyah. Ketika Yazid radhiyallahu ‘anhu wafat, Umar menjadikan Mu’awiyah bin Abu Sufyan sebagai gubernur atas seluruh wilayah Syam.
Jadi, tidak ada dalam jumlah gubernur dari Bani Umayyah di masa Utsman radhiyallahu ‘anhu sesuatu yang dapat mencela pilihan beliau. Bahkan saya berpendapat beliau justru sedikit dalam memilih mereka. Seandainya beliau lebih longgar dalam memilih, seharusnya beliau tidak perlu dicela—karena Bani Umayyah adalah pemilik kedudukan dan kemuliaan, serta termasuk cabang Quraisy yang sangat besar jumlahnya. Jika menjaga proporsi keterwakilan kabilah diperlukan untuk menghindari fitnah, maka pemilihan dari Bani Umayyah seharusnya justru lebih banyak lagi.[1]
Catatan Kaki:
[1] Lihat: Dr. Ragheb As-Sirjani, Bani Umayyah: Qira’ah fi Siyasatihim wa Hadharatihim, Dar At-Tauqi li ath-Thiba’ah wan Nasyr, Kairo, cetakan pertama, 1443 H / 2022 M.
Sumber: Islam Story





