GAZA, 5 Juni 2026 — Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), merilis video yang mendokumentasikan sebagian kisah syahid Ahmad Khamis Abu Yunus (66 tahun), salah satu pejuang Brigade Syahid Muhammad Abu Shamalah yang merupakan bagian dari Brigade Rafah. Ia gugur sebagai syahid selama Pertempuran “Al-Aqsa Flood.” Video itu menampilkan berbagai adegan dari kehidupan “Abu Yunus,” termasuk latihan militernya, putaran-putaran i’tikaf (berdiam diri di masjid untuk ibadah), dan momen-momen dari perjalanannya di dalam barisan Al-Qassam.
Perilisan video ini merupakan bagian dari publikasi berjudul “Qamar al-Thufan” (Bulan Banjir), yang merupakan bagian dari seri “Para Syuhada Al-Qassam dalam Pertempuran Al-Aqsa Flood,” yang mendokumentasikan kisah para pejuang Al-Qassam yang gugur sebagai syahid selama pertempuran. Di antara mereka adalah Ahmad Khamis Abu Yunus, yang gugur sebagai syahid pada Oktober 2023 selama perang Israel di Jalur Gaza.
Kisah “Abu Yunus” mendapat sambutan luas di platform media sosial, setelah ia muncul sebagai salah satu pejuang tertua di Brigade Al-Qassam yang berpartisipasi dalam Pertempuran “Al-Aqsa Flood.” Ia lahir pada tahun 1957 dan merupakan anggota Brigade Syahid Muhammad Abu Shamalah (“Tell al-Sultan”) yang merupakan bagian dari Brigade Rafah.
Penampilannya menarik perhatian yang signifikan di antara para aktivis, karena mencerminkan keterlibatannya yang berkelanjutan dalam aksi militer meskipun usianya sudah lanjut. Adegan-adegan menunjukkan partisipasinya dalam latihan militer dan putaran-putaran i’tikaf bersama para pejuang dari generasi yang lebih muda. Para aktivis juga membagikan klip dan foto dari video tersebut, memuji apa yang mereka anggap sebagai model komitmen dan kelanjutan kerja di dalam barisan Al-Qassam hingga kesyahidannya.
Para aktivis mengingat kembali kisah “Abu Yunus” sebagai salah satu pejuang Al-Qassam tertua yang berpartisipasi dalam pertempuran, menunjukkan bahwa ceritanya mencerminkan model seorang pejuang yang melanjutkan aktivitas lapangannya meskipun usianya sudah lanjut. Beberapa dari mereka menulis “Perlawanan tidak mengenal usia” —merujuk pada kesyahidannya pada usia 66 tahun. Yang lain menggambarkannya sebagai “tentara Al-Qassam tertua,” mengingat kehadirannya di masjid-masjid dan aktivitas dakwah serta sosialnya di Kota Rafah sebelum perang.
Para pengamat juga membagikan catatan tentang perjalanan profesional dan sosialnya, menunjukkan bahwa ia bekerja sebagai seorang insinyur dan dikenal luas di kalangan Persatuan Insinyur di Rafah, sebelum gugur sebagai syahid pada bulan-bulan awal perang akibat serangan Israel yang menargetkan rumahnya di Lingkungan Tell al-Sultan. Menurut apa yang dibagikan, ia gugur sebagai syahid bersama sejumlah anggota keluarganya, termasuk istrinya, anak-anaknya, dan cucu-cucunya.
Komentar lain berfokus pada fakta bahwa “Abu Yunus” menyandang pangkat “Mujahid” di dalam Brigade Al-Qassam meskipun usianya sudah lanjut, dan bahwa ini mencerminkan kelanjutan kerja lapangannya bersama generasi yang lebih muda. Beberapa komentator juga mencatat bahwa adegan latihan di mana ia muncul menunjukkan uban di rambut dan janggutnya, yang semakin meningkatkan interaksi dengan kisahnya.
Para aktivis mengingat makna-makna keagamaan yang terkait dengan perjalanan hidupnya, mengatakan bahwa tahun-tahun panjang hidupnya berakhir—menurut deskripsi mereka—di medan pertempuran. Yang lain membagikan ungkapan yang memuji keteguhannya dan kelanjutan kerjanya hingga kesyahidannya selama perang di Jalur Gaza.
Interaksi dengan kisah “Abu Yunus” ini merupakan bagian dari kampanye dokumentasi yang lebih luas yang diluncurkan oleh Brigade Al-Qassam akhir-akhir ini, yang mencakup penerbitan materi video tentang para pejuang yang gugur sebagai syahid selama perang di Jalur Gaza. Menurut para aktivis, publikasi ini bertujuan untuk mengingat kembali kisah para pejuang ini dan menyajikannya kembali dalam kerangka narasi Pertempuran “Al-Aqsa Flood,” dengan fokus pada peran dan jalur mereka di dalam barisan Al-Qassam.
Sumber: Al Jazeera





