Dari Budak yang Disiksa hingga Pejuang yang Dirindukan Surga
Di sebuah lorong sempit di Mekkah yang terbakar matahari, seorang pemuda berkulit hitam terbaring di atas bara api. Pakaiannya dilucuti, tubuhnya ditelentangkan di atas batu-batu panas membara. Rambutnya dijambak, lehernya dicekik, dan batu besar diletakkan di dadanya. Namun, dari mulutnya tidak keluar satu kata pun yang mengingkari keimanan.
Ia adalah Khabbab bin Al-Arat. Seorang budak belian yang menjadi guru kesabaran bagi seluruh umat Islam.
Dari Tawanan Perang Menjadi Pandai Besi
Khabbab bin Al-Arat berasal dari kabilah Bani Tamim. Pada suatu masa, kabilahnya diserang oleh kabilah lain. Perang antarsuku di Jazirah Arab adalah hal biasa. Akibatnya, kaum wanita ditawan, harta benda dirampas, dan anak-anak diculik. Khabbab kecil termasuk di antara yang diculik itu.
Ia berpindah dari satu tangan ke tangan lain, diperjualbelikan sebagai barang dagangan, hingga akhirnya tiba di Mekkah. Di kota ini, ia dibeli oleh seorang wanita bernama Ummu Anwar Al-Khuza’iyyah. Wanita itu kemudian menitipkan Khabbab kepada seorang pandai besi agar ia belajar membuat pedang—profesi yang sangat berharga di tengah masyarakat Arab yang gemar berperang.
Khabbab belajar dengan tekun. Tak lama kemudian, ia menguasai teknik pembuatan pedang dengan sempurna. Ummu Anwar kemudian menyewakan sebuah toko agar budaknya itu dapat menekuni profesi ini secara mandiri. Khabbab pun menjadi pandai besi yang terampil. Tangannya lihai menempa besi, mengubahnya menjadi senjata tajam yang diburu para pembesar Quraisy.
Namun, tangan yang lihai menempa besi itu kelak akan menempa sesuatu yang jauh lebih berharga: kesabaran dalam memegang teguh keimanan.
Bertemu dengan Cahaya
Di tengah kesibukannya sebagai pandai besi, Khabbab mendengar seruan seorang lelaki bernama Muhammad ﷺ. Ia memanggil manusia untuk menyembah Allah Yang Esa, meninggalkan penyembahan berhala yang diwarisi dari nenek moyang.
Hati Khabbab yang suci tersentuh. Ia menemui Rasulullah dan menyatakan keislamannya. Bersama dengan Bilal, Ammar, Shuhaib, dan Miqdad, ia termasuk golongan pertama yang masuk Islam. Mereka adalah orang-orang yang dipandang rendah oleh masyarakat Quraisy—para budak dan orang miskin—namun di sisi Allah, merekalah para bintang penunjuk jalan.
Ujian Pertama dari Majikan
Namun, keislaman Khabbab tak bisa disembunyikan lama-lama. Ummu Anwar, majikannya, akhirnya mengetahui bahwa budaknya yang pandai membuat pedang itu kini telah memeluk agama baru yang dibenci kaum Quraisy.
Dengan amarah membara, Ummu Anwar menemui saudaranya, Siba’ bin Abdul Uzza. Tak lama kemudian, sekelompok pemuda dari kabilah Khuza’ah mendatangi Khabbab. Mereka memukulinya dengan brutal, menyiksanya tanpa ampun.
Pada saat terik matahari memuncak, Khabbab dibawa ke padang pasir yang membara. Bajunya dilucuti, lalu mereka memakaikan baju besi yang telah dipanaskan. Tubuhnya ditelentangkan di atas bara api. Rambutnya dijambak, lehernya dicekik, dan badannya ditindih batu besar hingga ia tak bisa bergerak.
Asy-Sya’bi rahimahullah meriwayatkan:
إِنَّ خَبَّابًا صَبَرَ وَلَمْ يُعْطِ الْكُفَّارَ مَا سَأَلُوا، فَجَعَلُوا يُلْزِقُونَ ظَهْرَهُ بِالرَّضْفِ، حَتَّى ذَهَبَ لَحْمُ مَتْنِهِ
“Sesungguhnya Khabbab telah bersabar dan ia tidak memenuhi keinginan orang-orang kafir. Maka mereka pun menempelkan batu yang dipanaskan di atas punggung beliau, hingga hanguslah daging punggungnya.” (Usudul Ghābah, 2/147)
Kulitnya terbakar, dagingnya hangus, namun lisannya tak henti mengucap: “Ahad… Ahad…” Allah Maha Esa.
Saat Al-Qur’an Membela Khabbab
Suatu ketika, Khabbab bekerja sebagai pandai besi untuk Al-‘Ash bin Wa’il, seorang pembesar Quraisy yang sangat kaya dan berpengaruh. Setelah selesai, ternyata Al-‘Ash belum membayar upahnya. Khabbab datang menagih.
Dengan sombongnya Al-‘Ash berkata:
عَنْ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ، قَالَ: كُنْتُ قَيْنًا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ لِي عَلَى الْعَاصِ بْنِ وَائِلٍ دَيْنٌ، فَأَتَيْتُهُ أَتَقَاضَاهُ، فَقَالَ: لَا وَاللَّهِ، لَا أَقْضِيكَ حَتَّى تَكْفُرَ بِمُحَمَّدٍ، فَقُلْتُ: لَا وَاللَّهِ، لَا أَكْفُرُ بِمُحَمَّدٍ حَتَّى يُمِيتَكَ اللَّهُ، ثُمَّ يَبْعَثَكَ، قَالَ: فَإِنِّي إِذَا بُعِثْتُ، فَسَيَكُونُ لِي مَالٌ وَوَلَدٌ، فَأَقْضِيكَ
“Dari Khabbab bin Al-Arat, ia berkata: ‘Aku adalah seorang pandai besi di masa jahiliah. Al-‘Ash bin Wa’il memiliki utang kepadaku. Aku datang menagihnya. Ia berkata: “Demi Allah, aku tidak akan membayarmu hingga engkau kafir kepada Muhammad.” Aku menjawab: “Demi Allah, aku tidak akan kafir kepada Muhammad hingga Allah mematikanmu, kemudian membangkitkanmu kembali.” Ia berkata: “Jika aku dibangkitkan, aku akan memiliki harta dan anak, lalu aku akan membayarmu.”‘” (H.R. Bukhari)
Al-‘Ash bin Wa’il, dengan segala kesombongannya, menganggap bahwa di akhirat nanti ia tetap akan kaya raya seperti di dunia. Ia menantang Allah dengan keyakinan batilnya.
Maka, Allah SWT menurunkan firman-Nya:
أَفَرَأَيْتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لَأُوتَيَنَّ مَالًا وَوَلَدًا
“Maka apakah engkau telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan: ‘Pasti aku akan diberi harta dan anak.'” (QS. Maryam: 77)
Ayat ini turun membela Khabbab dan mengancam Al-‘Ash dengan siksa yang pedih. Khabbab menang, bukan karena ia pandai besi yang ulung, tetapi karena imannya kepada Sang Pencipta.
Keluhan kepada Nabi
Siksaan demi siksaan terus menimpa Khabbab dan para sahabat yang lemah. Mereka tak tahan lagi. Suatu hari, mereka datang menghadap Rasulullah ﷺ yang sedang duduk beralas kain di bawah naungan Ka’bah.
Mereka berkata dengan penuh harap:
عَنْ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ، قَالَ: شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ، فَقُلْنَا: أَلَا تَسْتَنْصِرُ لَنَا؟ أَلَا تَدْعُو لَنَا؟
“Dari Khabbab bin Al-Arat, ia berkata: ‘Kami mengadu kepada Rasulullah ﷺ, saat itu beliau duduk beralas kain di bawah naungan Ka’bah. Kami berkata: “Tidakkah engkau memohon pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa untuk kami?”‘” (H.R. Bukhari)
Mereka berharap Rasulullah akan berdoa agar azab segera menimpa orang-orang kafir yang menyiksa mereka. Namun, jawaban Nabi sungguh mengejutkan:
فَقَالَ: «قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ، فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ، فَيُجْعَلُ فِيهِ، فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ، فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ، فَيُشَقُّ بِاثْنَيْنِ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ، مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الْأَمْرَ، حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ، وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ»
“Beliau bersabda: ‘Sungguh, orang-orang sebelum kalian, ada seorang lelaki yang ditangkap, lalu digali lubang untuknya, lalu ia dimasukkan ke dalamnya. Kemudian didatangkan gergaji dan diletakkan di atas kepalanya, lalu ia digergaji menjadi dua bagian, namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Ada pula yang disisir dengan sisir besi hingga terkelupas daging dari tulang dan uratnya, namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Demi Allah, Allah pasti akan menyempurnakan agama ini, hingga seorang pengendara dapat bepergian dari Shan’a ke Hadramaut tanpa takut kecuali kepada Allah dan serigala terhadap kambingnya. Tetapi kalian tergesa-gesa.'” (H.R. Bukhari)
Nabi mengajarkan bahwa jalan dakwah adalah jalan panjang penuh ujian. Mereka yang datang lebih awal harus siap menanggung beban lebih berat. Namun, janji Allah pasti datang: kemenangan akan tiba, meski tidak sekarang.
Sunnatullah dalam Dakwah
Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa ujian adalah keniscayaan bagi setiap orang yang mengaku beriman:
الم (١) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (٢) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (٣)
“Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 1-3)
Dan firman-Nya lagi:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)
Khabbab dan sahabat lainnya memahami ayat-ayat ini dengan sangat dalam. Mereka adalah generasi pertama yang merasakan langsung “guncangan” itu dalam hidup mereka.
Doa yang Terkabul
Di tengah siksaan yang tak kunjung reda, Khabbab pernah memanjatkan doa keburukan untuk Ummu Anwar, majikannya yang kejam. Ia memohon kepada Allah agar wanita itu merasakan sakit sebagaimana ia merasakan sakit.
Allah mengabulkan doanya. Ummu Anwar tiba-tiba terserang sakit kepala yang sangat hebat. Saking hebatnya, ia harus berobat dengan cara tradisional bangsa Arab: menempelkan besi panas ke kepalanya.
Subhanallah. Besi yang dulu ditempa Khabbab untuk dijadikan pedang, kini ditempelkan ke kepala wanita yang menyiksanya. Keadilan Allah datang dengan cara yang tak terduga.
Hijrah ke Negeri yang Adil
Ketika siksaan semakin tak tertahankan, Rasulullah ﷺ mengizinkan para sahabat untuk berhijrah ke negeri Habasyah (Ethiopia). Beliau bersabda:
لَوْ خَرَجْتُمْ إِلَى أَرْضِ الْحَبَشَةِ، فَإِنَّ بِهَا مَلِكًا لَا يُظْلَمُ عِنْدَهُ أَحَدٌ، وَهِيَ أَرْضُ صِدْقٍ، حَتَّىٰ يَجْعَلَ اللَّهُ لَكُمْ فَرَجًا
“Sekiranya kalian keluar ke negeri Habasyah. Sungguh di sana ada seorang raja yang tak seorang pun dizalimi jika berada di sisinya. Habasyah juga negeri yang (memegang erat) kejujuran. Sampai Allah menjadikan kelapangan untuk kalian.” (Sirah Ibnu Hisyam, 1/321)
Khabbab termasuk dalam rombongan yang berhijrah ke Habasyah. Di sana mereka hidup aman di bawah perlindungan Raja Najasyi yang adil, meski hati mereka tetap rindu kepada Rasulullah dan tanah kelahiran.
Kembali dan Hijrah ke Madinah
Setelah beberapa waktu, kabar gembira datang: Rasulullah telah hijrah ke Madinah dan kaum muslimin mulai memperoleh kekuatan. Khabbab dan para sahabat lainnya pun kembali ke tanah Arab dan ikut hijrah ke Madinah.
Di Madinah, Khabbab mengikuti berbagai peperangan, di antaranya Perang Badar yang bersejarah dan Perang Uhud yang penuh ujian. Di Perang Uhud, ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Hamzah bin Abdul Muthallib—paman Rasulullah yang gagah perkasa—membunuh Siba’ bin Abdul Uzza, saudara Ummu Anwar yang dulu turut menyiksanya. Keadilan sejarah kembali ditegakkan.
Ajal Menjemput Sang Mujahid
Tahun 37 Hijriah, di kota Kufah, Irak, Khabbab bin Al-Arat terbaring lemah. Usianya telah mencapai 73 tahun. Para sahabat datang menjenguknya.
Mereka berkata dengan penuh semangat, “Bergembiralah, wahai Abu Abdullah, karena engkau akan segera menemui saudara-saudaramu (para syuhada)…”
Namun, Khabbab justru menangis.
Ia berkata dengan suara bergetar:
إِنِّي لَا أَجْزَعُ، وَلَكِنَّكُمْ ذَكَّرْتُمُونِي قَوْمًا سَمَّيْتُمُوهُمْ إِخْوَانِي، سَلَفُوا وَمَضَوْا بِأُجُورِهِمْ كَامِلَةً، وَإِنِّي أَخْشَى أَنْ لَا يُؤْتَى أُجُورُنَا مِثْلَ الَّذِي أُوتُوا، بَعْدَهُمْ أَصَبْنَا مِنَ الدُّنْيَا مَا لَا نَجِدُ لَهُ مَوْضِعًا إِلَّا التُّرَابَ
“Sesungguhnya aku tidak merasa cemas, namun kalian mengingatkanku pada kaum yang kalian sebut sebagai saudara-saudaraku. Mereka lebih dahulu pergi dengan pahalanya masing-masing secara sempurna. Sungguh aku khawatir pahala itu tidak diberikan kepada kita sebagaimana diberikan kepada mereka… sepeninggal mereka kita memperoleh limpahan harta hingga tidak menemukan tempat untuk membelanjakannya selain untuk tanah (bangunan).”
Seorang mukmin sejati, di ambang kematiannya, justru khawatir bahwa pahala yang ia peroleh tidak sebanyak para sahabat yang meninggal lebih awal. Ia khawatir kemudahan hidup setelah masa-masa sulit akan mengurangi pahalanya.
Khabbab wafat di Kufah pada tahun 37 Hijriah. Khalifah Ali bin Abi Thalib sendiri yang menyalatkan jenazahnya, tepat sebelum beliau berangkat ke Perang Shiffin. Usai menyalatkan, Ali berdiri dan berkata:
رَحِمَ اللَّهُ خَبَّابًا، فَلَقَدْ أَسْلَمَ رَاغِبًا، وَهَاجَرَ مُطِيعًا، وَجَاهَدَ مُجَاهِدًا
“Semoga Allah merahmati Khabbab; dia masuk Islam dengan sukarela, dia berhijrah sebagai wujud ketaatan, dan dia berjihad dengan sungguh-sungguh.”
Warisan Kesabaran
Khabbab bin Al-Arat telah pergi. Namun, kisahnya tetap hidup, menginspirasi setiap generasi muslim yang membaca perjalanan hidupnya.
Ia adalah bukti bahwa iman sejati tidak bisa dibakar api, tidak bisa dihancurkan batu, dan tidak bisa dipatahkan oleh pedang mana pun. Tangannya yang biasa menempa besi telah menempa sesuatu yang jauh lebih berharga: keteguhan hati dalam memegang kebenaran.
Dari seorang budak belian yang tak punya apa-apa, ia menjadi guru kesabaran bagi seluruh umat. Dari seorang pandai besi biasa, ia menjadi teladan dalam menghadapi ujian hidup.
Khabbab bin Al-Arat mengajarkan kepada kita bahwa jalan menuju surga memang berat. Tapi, Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang bersabar. Dan pertolongan Allah itu, pasti dekat.
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.'” (QS. Fushshilat: 30)
Semoga kita termasuk dalam golongan mereka. Āmīn.
Sumber bacaan: Ensiklopedi Sahabat, Mahmud Al-Mishri, Pustaka Imam As-Syafi’i.





