Seluruh manusia pernah sakit, beriringan dengan masa-masa sehatnya. Sakit itu merupakan salah satu ujian, sebagaimana ujian lainnya; ada yang lulus dan ada yang gagal. Yang lulus ujian, Allah Ta’ala angkat derajatnya menjadi hamba terbaik.
إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ
“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” (QS. Shad: 44)
Yang gagal dalam ujian, ia murka, maka Allah Ta’ala pun murka kepadanya.
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya ketika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Barang siapa rida, maka ia mendapat keridaan; dan barang siapa murka, maka ia mendapat kemurkaan.” (H.R. At-Tirmidzi No. 2396, hasan)
Oleh karena itu, berbaik sangkalah kepada Allah Ta’ala di saat sakit. Imam Al-‘Aini menyebutkan:
إِحْسَانُ الظَّنِّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَبِالْمُسْلِمِينَ وَاجِبٌ
“Berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kepada kaum muslimin adalah wajib.” (‘Umdatul Qārī, 20/133)
Maka, ingat-ingatlah. Barangkali penyakit itu menjadi penghapus dosa-dosa kita. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, sakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, dan kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menjadikannya sebagai penghapus kesalahan-kesalahannya.” (H.R. Bukhari No. 5641)
Atau bisa jadi, itu adalah hukuman yang disegerakan di dunia agar di akhirat dia sudah bebas, maka berbahagialah.
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, maka Allah menyegerakan hukuman baginya di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya, maka Allah menahan (hukuman) dosanya hingga ia menerimanya kelak di hari Kiamat.” (H.R. At-Tirmidzi No. 2396, hasan sahih)
Beginilah cara mukmin memandang takdir Allah Ta’ala atas dirinya. Walau takdir itu buruk, semua keadaan adalah baik baginya.
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh mengagumkan urusan orang mukmin itu. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya, dan itu tidak dimiliki oleh seorang pun selain orang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan syukur itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan sabar itu baik baginya.” (H.R. Muslim No. 2999)
Wa Shallallāhu ‘alā Nabiyyinā Muhammadin wa ‘alā Ālihi wa Ṣaḥbihi wa Sallam.
Sumber: Alfahmu.id – Website Resmi Ustadz Farid Nu’man.





