Dari Pangkuan Rasul hingga Medan Jihad
Di sebuah sudut rumah Nabi di Madinah, terlihat pemandangan yang mengharukan. Seorang anak kecil duduk di pangkuan Rasulullah di satu sisi, sementara di sisi lain duduk pula Hasan bin Ali, cucu kesayangan beliau. Rasulullah merangkul mereka berdua, lalu mengangkat tangan berdoa dengan suara lirih namun penuh cinta:
اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا، فَإِنِّي أُحِبُّهُمَا
“Ya Allah, sayangilah keduanya, karena aku mencintai mereka berdua.”
Anak kecil yang duduk di pangkuan Nabi itu adalah Usamah bin Zaid. Putra dari Zaid bin Haritsah, mantan budak yang diangkat menjadi anak oleh Rasulullah, dan Ummu Aiman, perempuan mulia yang mengasuh Nabi sejak kecil. Darah istimewa mengalir dalam tubuhnya, dan cinta Rasulullah mengalir lebih deras lagi dalam jiwanya.
Inilah kisah Usamah bin Zaid, pemuda yang dicintai Nabi, panglima perang di usia belia, dan anak yang berbakti kepada ibunya hingga akhir hayat.
Buah Cinta dari Dua Insan Mulia
Usamah bin Zaid lahir dari pasangan yang sangat istimewa. Ayahnya, Zaid bin Haritsah, adalah sahabat yang paling dicintai Rasulullah. Ia pernah diangkat menjadi anak oleh Nabi, dan hingga akhir hayatnya tetap setia mendampingi Rasul dalam suka dan duka. Ibunya, Ummu Aiman Barakah Al-Habsyiyah, adalah wanita mulia yang mengasuh Rasulullah kecil setelah ibunda beliau, Aminah, wafat. Ummu Aiman adalah “ibu kedua” bagi Rasulullah, sosok yang sangat beliau hormati dan cintai.
Dari kedua orang tua yang mulia ini, lahirlah Usamah bin Zaid. Ia tumbuh dalam limpahan cinta Rasulullah, yang melihat dalam dirinya perpaduan dua insan yang sangat dicintainya.
“Orang yang Paling Aku Cintai”
Cinta Rasulullah kepada Usamah bukan rahasia lagi. Suatu ketika, beliau mengutus Usamah dalam sebuah misi. Orang-orang berbicara tentang pengutusan ini, mungkin karena usia Usamah yang masih sangat muda. Mendengar itu, Rasulullah ﷺ bersabda dengan tegas:
عَنْ سَالِمٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ فَقَالُوا فِيهِ، فَقَالَ: «قَدْ بَلَغَنِي أَنَّكُمْ تَقُولُونَ فِي أُسَامَةَ، وَإِنَّهُ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ»
“Dari Salim, dari ayahnya (Ibnu Umar), ia berkata: Rasulullah ﷺ mengutus Usamah bin Zaid (dalam suatu misi), lalu orang-orang membicarakan tentangnya. Maka beliau bersabda: ‘Telah sampai kepadaku bahwa kalian membicarakan Usamah, dan sesungguhnya ia adalah orang yang paling aku cintai.'” (H.R. Al-Bukhari)
Bayangkan! Di tengah ribuan sahabat yang mulia, Usamah disebut sebagai orang yang paling dicintai Rasulullah. Sebuah kehormatan yang tak ternilai harganya.
Cinta ini tidak hanya diucapkan, tetapi juga ditunjukkan dalam tindakan sehari-hari. Usamah menceritakan:
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَأْخُذُنِي فَيُقْعِدُنِي عَلَى فَخِذِهِ، وَيُقْعِدُ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ عَلَى فَخِذِهِ الْأُخْرَى، ثُمَّ يَضُمُّهُمَا، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا، فَإِنِّي أُحِبُّهُمَا»
“Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah ﷺ pernah mengambilku lalu mendudukkanku di atas pahanya, dan mendudukkan Al-Hasan bin Ali di atas paha beliau yang lain. Kemudian beliau merangkul kami berdua dan bersabda: ‘Ya Allah, sayangilah keduanya, karena aku mencintai mereka berdua.'” (H.R. Al-Bukhari)
Bahkan Aisyah, istri Nabi yang sangat beliau cintai, diminta untuk turut mencintai Usamah:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «يَا عَائِشَةُ، أَحِبِّي أُسَامَةَ، فَإِنِّي أُحِبُّهُ»
“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Wahai Aisyah, cintailah Usamah, karena sesungguhnya aku mencintainya.'” (H.R. At-Tirmidzi)
Mengapa Usamah Lebih Diutamakan?
Cinta Rasulullah kepada Usamah tidak berhenti di dunia. Bahkan setelah beliau wafat, cinta itu terus terasa. Suatu ketika, di masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Umar memberikan empat ribu dirham kepada Usamah, sementara kepada putranya sendiri, Abdullah bin Umar, ia hanya memberi tiga ribu.
Abdullah bin Umar merasa agak tersinggung. Ia bertanya kepada ayahnya, “Mengapa engkau lebih mengutamakannya dariku? Demi Allah, tidak ada satu pun tempat berbahaya (dalam jihad) yang ia lebih dahulu dariku, kecuali aku juga mendahuluinya.”
Umar menjawab dengan bijaksana:
إِنَّ أَبَاهُ كَانَ أَحَبَّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنْ أَبِيكَ، وَكَانَ هُوَ أَحَبَّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنْكَ
“Sesungguhnya ayahnya (Zaid bin Haritsah) lebih dicintai Rasulullah ﷺ daripada ayahmu (yakni aku), dan ia (Usamah) juga lebih dicintai Rasulullah ﷺ daripada engkau.” (H.R. Al-Bukhari dan At-Tirmidzi)
Umar, seorang pemimpin besar yang tegas dan adil, mengakui keutamaan Usamah di sisi Nabi. Ini adalah pengakuan yang luar biasa.
Cinta Tidak Menghalangi Keadilan
Meski sangat mencintai Usamah, Rasulullah ﷺ tidak pernah membiarkan cinta itu menghalangi tegaknya hukum Allah. Suatu ketika, seorang wanita terhormat dari Bani Makhzum terbukti mencuri. Kaum Quraisy merasa kesulitan karena wanita itu berasal dari keluarga terpandang. Mereka berkata, “Siapa yang berani berbicara kepada Rasulullah tentang kasus ini? Tidak ada yang berani kecuali Usamah bin Zaid, kekasih Rasulullah ﷺ.”
Usamah pun menemui Nabi dan menyampaikan permohonan syafaat agar hukuman potong tangan tidak dilaksanakan. Seketika itu juga, raut wajah Nabi berubah. Beliau bersabda dengan tegas:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ، فَقَالُوا: مَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ؟ فَقَالُوا: وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ؟ فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ؟» ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ، ثُمَّ قَالَ: «إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا»
“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa orang-orang Quraisy merasa cemas dengan kasus wanita Makhzumiyah yang mencuri. Mereka berkata: ‘Siapa yang berani berbicara kepada Rasulullah tentang kasus ini?’ Mereka menjawab: ‘Tidak ada yang berani kecuali Usamah bin Zaid, kekasih Rasulullah ﷺ.’ Maka Usamah pun berbicara kepada beliau. Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Apakah engkau meminta syafaat dalam perkara hudud (hukuman) Allah?’ Kemudian beliau berdiri dan berkhutbah, lalu bersabda: ‘Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah bahwa apabila ada orang terhormat mencuri, mereka membiarkannya, dan apabila ada orang lemah mencuri, mereka menegakkan hukuman atasnya. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku akan memotong tangannya.'” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
Pelajaran berharga dari Usamah: cinta kepada Nabi tidak boleh membuatnya buta terhadap keadilan. Dan pelajaran dari Nabi: cinta kepada Usamah tidak menghalangi beliau untuk menegakkan hukum Allah.
Panglima Muda di Medan Jihad
Sejak kecil, Usamah sudah bercita-cita berjuang di jalan Allah. Saat Perang Uhud, ia meminta izin untuk ikut, namun Rasulullah menolak karena usianya yang masih terlalu belia. Usamah bersedih, namun ia tidak berputus asa.
Pada Perang Khandaq, ia kembali memohon dengan tekad yang lebih kuat. Melihat semangatnya yang membara, Rasulullah pun mengizinkannya, meskipun saat itu usianya baru 15 tahun.
Usamah kemudian ikut dalam Perang Mu’tah di bawah komando ayahnya, Zaid bin Haritsah. Saat itu usianya belum genap 18 tahun. Di medan perang yang dahsyat itu, ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya terkena hujaman tombak musuh hingga gugur sebagai syahid. Seorang remaja menyaksikan ayahnya terbunuh di depannya, namun imannya tidak goyah. Ia terus bertempur dengan gagah berani.
Dalam Perang Hunain, saat pasukan muslimin sempat terdesak dan banyak yang lari tunggang langgang, Usamah termasuk segelintir sahabat yang tetap tegar mendampingi Nabi. Bersama Abu Bakar, Umar, Ali, Al-Abbas, dan beberapa sahabat lainnya, ia menjadi benteng terakhir yang melindungi Rasulullah di medan perang.
Pelajaran Berharga: Hati-hati dalam Membunuh
Pengalaman paling berkesan dalam hidup Usamah mungkin adalah teguran keras yang diterimanya dari Nabi. Dalam sebuah ekspedisi melawan suku Juhainah, Usamah dan seorang sahabat Anshar mengejar seorang musuh. Ketika mereka hampir menangkapnya, orang itu mengucapkan “Lā ilāha illallāh” (Tiada Tuhan selain Allah).
Sahabat Anshar itu langsung menghentikan serangannya. Namun, Usamah karena ragu akan ketulusan orang itu, tetap menusuknya dengan tombak hingga tewas.
Sekembalinya ke Madinah, berita itu sampai kepada Nabi. Rasulullah ﷺ bertanya dengan nada yang sangat menusuk hati:
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِلَى الْحُرَقَاتِ مِنْ جُهَيْنَةَ، فَصَبَّحْنَا الْقَوْمَ عَلَى مِيَاهِهِمْ، فَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ رَجُلًا مِنْهُمْ، فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَكَفَّ الْأَنْصَارِيُّ، وَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ، فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: «يَا أُسَامَةُ، أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟» قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا. فَقَالَ: «أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟» فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ
“Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah ﷺ mengutus kami ke perkampungan (suku) Juhainah. Kami menyerang mereka di pagi hari di sumber air mereka. Aku dan seorang sahabat Anshar mengejar seorang dari mereka. Ketika kami hampir menangkapnya, ia mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh’. Sahabat Anshar itu berhenti, namun aku menusuknya dengan tombakku hingga ia tewas. Ketika kami kembali, berita itu sampai kepada Nabi ﷺ. Beliau bersabda: ‘Wahai Usamah, apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan Lā ilāha illallāh?’ Aku menjawab: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ia hanya mengucapkannya untuk melindungi diri.’ Beliau bersabda lagi: ‘Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan Lā ilāha illallāh?’ Beliau terus mengulanginya kepadaku hingga aku berangan-angan seandainya aku belum masuk Islam sebelum hari itu.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
Pelajaran yang tak terlupakan: nyawa seorang yang mengucapkan syahadat adalah suci, meskipun kita meragukan ketulusannya. Menjaga nyawa manusia lebih utama daripada tergesa-gesa menumpahkan darah.
Berbakti kepada Ibu hingga Akhir Hayat
Cinta Usamah tidak hanya kepada Nabi, tetapi juga kepada ibunya, Ummu Aiman. Di masa kekhalifahan Utsman bin Affan, Usamah pernah menebang pohon kurma miliknya dan memeras kurma itu menjadi sari buah untuk diberikan kepada ibunya.
Orang-orang tercengang. Mereka bertanya, “Apakah yang mendorongmu melakukan itu? Bukankah engkau sudah tahu bahwa sebuah pohon kurma harganya mencapai 1000 dirham?”
Usamah menjawab dengan kalimat yang mengharukan:
سَأَلَتْنِيهِ أُمِّي، وَأَنَا أَفْعَلُ لَهَا مَا أَقْدِرُ عَلَيْهِ مَا عِشْتُ
“Ibuku memintanya dariku, dan aku akan penuhi permintaannya selama aku sanggup melakukannya.” (Ṣifatush Ṣafwah, Jilid 1, hlm. 219)
Sebuah pohon kurma yang mahal, ditebang begitu saja demi memenuhi permintaan ibu. Inilah bakti seorang anak yang tak ternilai harganya.
Akhir Perjalanan Sang Kekasih
Setelah melewati masa-masa penuh perjuangan bersama Nabi dan para sahabat, Usamah memasuki masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan dalam usia yang semakin senja. Ia jatuh sakit, dan tak lama kemudian wafat di Madinah, sekitar tahun 56 atau 58 Hijriah, dalam usia kurang lebih 60 hingga 75 tahun.
Salat jenazahnya dipimpin oleh Sa’id bin Al-‘Ash, gubernur Madinah saat itu. Jenazahnya dimakamkan di Baqi’ Al-Gharqad, berdampingan dengan para sahabat mulia lainnya. Ia kembali ke rahmatullah, meninggalkan warisan cinta dan keteladanan bagi umat Islam sepanjang masa.
Warisan Usamah
Usamah bin Zaid telah tiada, namun kisahnya tetap hidup. Ia adalah pemuda yang dicintai Nabi, namun cinta itu tidak membuatnya sombong. Ia adalah panglima perang di usia muda, namun ia tetap rendah hati. Ia adalah putra dua insan mulia, namun ia tetap berbakti kepada ibunya hingga akhir hayat.
Ia mengajarkan bahwa cinta kepada Nabi harus diwujudkan dalam ketaatan, bahwa keadilan harus ditegakkan meski terhadap orang yang kita cintai, bahwa nyawa manusia sangat berharga di sisi Allah, dan bahwa berbakti kepada orang tua adalah amal yang tak ternilai harganya.
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka (di dalam surga), dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Aṭ-Ṭūr: 21)
Semoga Allah meridhai Usamah bin Zaid dan mengumpulkan kita bersamanya, bersama ayahnya Zaid, ibunya Ummu Aiman, dan bersama kekasihnya, Rasulullah ﷺ, di surga-Nya yang abadi. Āmīn.
Sumber bacaan: Ensiklopedi Sahabat, Mahmud Al-Mishri, Pustaka Imam As-Syafi’i.





