TEHERAN, 27 April 2026 — Situs Axios mengutip pejabat AS dan sumber terpercaya yang melaporkan bahwa Iran, melalui mediator Pakistan, telah mengajukan proposal baru yang bertujuan mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, dengan menunda negosiasi terkait program nuklir ke tahap selanjutnya.
Menurut sumber-sumber tersebut, usulan ini dibahas selama kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi ke Pakistan, dan berfokus pada penanganan krisis Selat Hormuz serta blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran sebagai prioritas utama. Proposal ini juga mengindikasikan kemungkinan memperpanjang gencatan senjata untuk periode yang panjang atau mencapai kesepakatan permanen, dengan negosiasi nuklir akan dimulai kemudian setelah selat dibuka kembali dan blokade dicabut.
Perubahan Strategi
Dalam konteks ini, Direktur Kantor Al Jazeera di Teheran, Nour al-Din al-Daghir, mengatakan bahwa proposal Iran mencerminkan perubahan dalam strategi negosiasi yang dipimpin oleh otoritas tinggi di negara tersebut, yang didasarkan pada prioritas untuk mengakhiri keadaan perang dengan AS sebelum beralih ke masalah-masalah lain, termasuk masalah nuklir.
Ia menambahkan bahwa pendekatan ini didasarkan pada dua tuntutan utama:
Menghentikan perang sepenuhnya.
Mendapatkan jaminan bahwa perang tidak akan kembali lagi, yang merupakan titik sentral dalam proposal baru Iran.
Latar belakang proposal ini adalah perbedaan mendasar antara Teheran dan Washington dalam mengatur prioritas negosiasi. Iran berusaha untuk memisahkan masalah-masalah dan memulai dengan krisis Selat Hormuz, sementara AS bersikeras untuk menghubungkan semua masalah dengan masalah nuklir dan menganggap uranium yang diperkaya sebagai pintu masuk utama untuk setiap kesepakatan.
Al-Daghir menjelaskan bahwa jaminan ini mencakup:
Jaminan regional yang mungkin diberikan oleh kekuatan seperti Rusia dan China.
Jaminan internasional melalui penerbitan resolusi Dewan Keamanan PBB yang akan mengkonsolidasikan setiap kesepakatan yang dicapai antara kedua belah pihak.
Lingkungan Negosiasi
Mengenai negosiasi Iran-AS, Direktur Kantor Al Jazeera di Teheran mengatakan bahwa ada kemungkinan untuk memindahkannya dari Islamabad ke lokasi lain, seperti Kesultanan Oman atau Turki, dalam upaya mencari lingkungan negosiasi yang lebih sesuai.
Al-Daghir menambahkan bahwa gerakan Iran baru-baru ini, terutama kunjungan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi ke Pakistan, Oman, dan Rusia, mencerminkan upaya untuk membangun kembali jalur negosiasi dengan AS, setelah putaran sebelumnya yang diadakan di Islamabad menemui jalan buntu.
Ia menjelaskan bahwa putaran pertama negosiasi menyaksikan kesepakatan luas antara kedua belah pihak dengan mediasi Pakistan, dan kedua belah pihak hampir menandatangani kesepakatan kerangka kerja yang berlangsung selama 45 hari, sebagai pendahuluan untuk negosiasi komprehensif yang akan berlangsung antara 4 hingga 6 bulan. Namun, Teheran menuduh Washington mundur dari kesepahaman tersebut dan mengajukan tuntutan yang dianggapnya “berlebihan”, yang menyebabkan tersendatnya putaran kedua.
Skenario Militer
Sejalan dengan gerakan diplomatik ini, skenario militer tetap ada di Iran, terutama dengan terhentinya negosiasi, yang membuka kemungkinan konfrontasi. Al-Daghir mengatakan bahwa pesan yang dibawa Menteri Luar Negeri Iran selama kunjungan dan kontak regionalnya memiliki dua dimensi:
Dimensi diplomatik yang berusaha menghidupkan kembali negosiasi.
Dimensi peringatan yang mengisyaratkan kemungkinan eskalasi jika jalur ini gagal.
Dalam konteks terkait, mediasi regional memainkan peran penting dalam jalur ini. Pakistan muncul sebagai mediator dalam putaran sebelumnya, sementara Oman kembali ke permukaan sebagai saluran tradisional untuk dialog antara kedua belah pihak, terutama dalam masalah sensitif yang terkait dengan Selat Hormuz.
Dalam kerangka ini, Al-Daghir mengutip Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, yang mengatakan bahwa Iran “belum memainkan semua kartunya” —sebuah indikasi bahwa opsi eskalasi masih ada jika diplomasi tidak membuahkan hasil nyata.
Pada akhirnya, diplomasi tetap menjadi opsi yang ada bersama dengan kemungkinan eskalasi, di tengah perbedaan prioritas kedua belah pihak, sambil menunggu apa yang akan dihasilkan oleh fase negosiasi selanjutnya. Para analis percaya bahwa Washington mungkin tidak akan menerima proposal baru Iran, karena mereka percaya bahwa masalah nuklir harus dinegosiasikan terlebih dahulu.
Presiden AS Donald Trump dijadwalkan akan bertemu dengan pejabat keamanan nasional senior hari ini untuk membahas kebuntuan dalam negosiasi dengan Iran, menurut media AS.
Sumber: Al Jazeera



