RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
Kategori
  • Akhbar Dauliyah (1,063)
  • Akhlak (135)
  • Al-Qur'an (80)
  • Aqidah (169)
  • Dakwah (35)
  • Fikrah (1)
  • Fikrul Islami (43)
  • Fiqih (193)
  • Fiqih Dakwah (76)
  • Gerakan Pembaharu (23)
  • Hadits (107)
  • Ibadah (13)
  • Kabar Umat (444)
  • Kaifa Ihtadaitu (6)
  • Keakhwatan (7)
  • Kisah Nabi (12)
  • Kisah Sahabat (4)
  • Masyarakat Muslim (14)
  • Materi Khutbah dan Ceramah (78)
  • Musthalah Hadits (3)
  • Rumah Tangga Muslim (12)
  • Sejarah Islam (199)
  • Senyum (2)
  • Taujihat (25)
  • Tazkiyah (45)
  • Tokoh Islam (20)
  • Ulumul Qur'an (7)
  • Uncategorized (5)
  • Wasathiyah (138)
0
2K
RISALAH
Subscribe
RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
  • Fiqih

Kunci-Kunci Rezeki

  • 01-06-2026
  • No comments
Ilustrasi kunci rezeki berdasarkan pedoman Al Quran

Pertanyaan:

Apa nasihat Anda bagi orang yang dipersempit rezekinya?

Jawaban Yang Mulia Syekh Al-Qardhawi:

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul yang paling mulia, kepada keluarganya, dan seluruh sahabatnya. Amma ba’du.

Nasihatku untukmu, wahai saudara yang tercinta, dan untuk seluruh kaum muslimin, adalah sesuatu yang dituntut dengan tuntutan kewajiban—karena Rasulullah ﷺ menjadikannya sebagai inti agama, sebagaimana diriwayatkan dari sahabatnya Tamim Ad-Dari dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim—dan termasuk dalam Hadis Arbain An-Nawawi:

عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «الدِّينُ النَّصِيحَةُ» قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: «لِلَّهِ، وَلِرَسُولِهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ، وَعَامَّتِهِمْ»

“Agama itu adalah nasihat.” Kami bertanya: “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Untuk Allah, untuk Rasul-Nya, untuk kitab-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin, dan untuk seluruh umat mereka.” (HR. Muslim)

Nasihat ini terwujud dalam beberapa perkara yang diambil dari Al-Kitab dan As-Sunnah.

Sebelum Aku Rincikan Nasihatku, Ketahuilah:

Sempit dan luasnya rezeki adalah masalah yang relatif.

Betapa banyak orang yang menyangka diri mereka dalam kesempitan, tetapi keberkahan membuat kesempitan mereka menjadi luas. Qana’ah (merasa cukup) dengan apa yang Allah rezekikan mencukupi mereka, dan rida dengan apa yang Allah bagikan mengayakan mereka.

Seorang penyair berkata:

“Demi umurmu, tidaklah suatu negeri menjadi sempit bagi penduduknya, tetapi akhlak manusia-lah yang menyempitkannya.”

Dalam sebuah hadis riwayat Ahmad dan Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «اِرْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ»

“Ridalah dengan apa yang Allah bagikan kepadamu, niscaya engkau akan menjadi manusia paling kaya.”

Penyair lain berkata:

“Jika engkau memiliki hati yang qana’ah, maka engkau dan pemilik dunia itu sama!”

Maka inilah yang pertama aku nasihatkan kepadamu dan kepada diriku sendiri. Engkau mungkin memiliki banyak harta, tetapi itu tidak membuatmu qana’ah dan tidak mengayakanmu—karena engkau senantiasa berkata: “Apakah masih ada tambahan?”

Sekarang, Aku Mulai Menjelaskan Sebab-Sebab yang Allah Jadikan untuk Melapangkan Rezeki Halal Seseorang:

Pertama: Taubat dan Istigfar

Sudah menjadi tabiat manusia bahwa ia lemah—sebagaimana firman Allah:

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (Q.S. An-Nisa’: 28)

Ia tidak pernah lepas dari kekurangan, maksiat, dan pelanggaran—baik dalam meninggalkan apa yang diperintahkan maupun melakukan apa yang dilarang.

Di antara bahaya dosa adalah bahwa ia menjadi sebab terhalangnya rezeki dan keberkahan di dalamnya.

Dalam hal ini, Nabi ﷺ bersabda:

عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ»

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar dihalangi rezekinya karena sebuah dosa yang ia lakukan.” (HR. Ahmad, dihasankan oleh para penelitinya)

Allah Ta’ala berfirman tentang orang Yahudi:

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا * وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Maka karena kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (benda-benda) baik yang dahulu dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi dari jalan Allah, dan karena mereka memakan riba padahal telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta manusia dengan cara batil. Dan Kami sediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka azab yang pedih.” (Q.S. An-Nisa’: 160-161)

Agar seseorang selamat dari konsekuensi-konsekuensi ini, dan rezekinya tetap terjaga, serta maksiat tidak membahayakannya—maka wajib baginya untuk segera berlindung kepada Tuhannya dalam keadaan bertobat, beristigfar, dan menyesal atas dosa-dosa dan kesalahan yang telah diperbuatnya.

Karena istigfar dapat menghancurkan dosa-dosa, dan taubat dapat memotong apa yang sebelumnya—dan keduanya juga merupakan sebab rezeki.

Allah Ta’ala berfirman—menceritakan perkataan Nabi-Nya Hud ‘alaihis salam:

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

“Dan (Hud berkata): ‘Wahai kaumku, beristigfarlah kepada Tuhan kalian, kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepada kalian, dan menambah kekuatan di atas kekuatan kalian, dan janganlah kalian berpaling sebagai orang-orang yang berdosa.'” (Q.S. Hud: 52)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah memerintahkan Hud ‘alaihis salam kepada kaumnya untuk beristigfar—yang di dalamnya terdapat penghapusan dosa-dosa masa lalu—dan bertobat dari apa yang akan mereka lakukan di masa depan. Barang siapa yang bersifat dengan sifat ini, maka Allah akan memudahkan rezekinya baginya, melancarkan urusannya, dan menjaga keadaannya.”

Allah Subhanahu berfirman—menceritakan perkataan Nabi-Nya Nuh ‘alaihis salam:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku (Nuh) berkata: ‘Beristigfarlah kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepada kalian, dan membantu kalian dengan harta dan anak-anak, serta menjadikan untuk kalian kebun-kebun dan menjadikan untuk kalian sungai-sungai.'” (Q.S. Nuh: 10-12)

Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Dalam ayat ini (di surat Nuh) dan surat Hud terdapat dalil bahwa istigfar menurunkan rezeki dan hujan.”

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Maksudnya: jika kalian bertobat kepada Allah, beristigfar kepada-Nya, dan menaati-Nya, maka rezeki akan dilimpahkan kepada kalian, Dia akan memberi minum dari keberkahan langit, dan menumbuhkan untuk kalian dari keberkahan bumi, menumbuhkan tanaman untuk kalian, mengalirkan air susu hewan ternak untuk kalian, serta membantu kalian dengan harta dan anak-anak—yaitu memberi kalian harta dan keturunan, dan menjadikan untuk kalian kebun-kebun yang di dalamnya terdapat berbagai jenis buah-buahan, dan mengalirkan sungai-sungai yang mengairi di dalamnya.”

Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi bahwa Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu keluar untuk memohon hujan bersama manusia—ternyata ia tidak lebih hanya beristigfar hingga ia kembali. Maka dikatakan kepadanya: “Kami tidak mendengar engkau memohon hujan!” Ia menjawab: “Aku telah meminta hujan dengan pengait-pengait langit yang dengannya hujan diturunkan”, lalu ia membaca: “Faqultu istaghfirū rabbakum innahū kāna ghaffārā * yursili as-samā’a ‘alaikum midrārā”

Seseorang mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kemarau, maka ia berkata kepadanya: “Beristigfarlah kepada Allah!” Orang lain mengadu tentang kemiskinan, maka ia berkata: “Beristigfarlah kepada Allah!” Orang lain berkata: “Doakanlah agar Allah memberi rezeki seorang anak kepadaku!”—maka ia berkata: “Beristigfarlah kepada Allah!” Seseorang mengadu tentang kekeringan kebunnya, maka ia berkata: “Beristigfarlah kepada Allah!”

Para sahabatnya berkata kepadanya: “Banyak orang datang kepadamu mengadukan berbagai macam keadaan, tetapi engkau memerintahkan mereka semua untuk beristigfar!”

Maka Al-Hasan menjawab: “Aku tidak mengatakan sesuatu dari pendapatku sendiri. Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman dalam surat Nuh: “Faqultu istaghfirū rabbakum innahū kāna ghaffārā * yursili as-samā’a ‘alaikum midrārā * wa yumdidkum bi amwālin wa banīna wa yaj’al lakum jannātin wa yaj’al lakum anhārā”

Kedua: Birrul Walidain (Berbakti kepada Kedua Orang Tua) dan Silaturahmi

Telah banyak hadis tentang hal ini. Di antaranya:

HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ»

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya baginya, dan diperpanjang umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali kerabatnya.” (HR. Bukhari)

HR. Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ»

“Barang siapa yang senang dilapangkan rezekinya, dan diperpanjang umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali kerabatnya.” (HR. Bukhari)

Al-Bukhari memberi judul pada dua hadis ini dengan: “Bab: Orang yang dilapangkan rezekinya karena menyambung tali kerabat.”

HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ، فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِي أَهْلِهِ، مَثْرَاةٌ فِي مَالِهِ، مَنْسَأَةٌ فِي أَثَرِهِ»

“Pelajarilah dari silsilah keturunan kalian apa yang dengannya kalian dapat menyambung tali kerabat kalian. Karena silaturahmi itu menumbuhkan kecintaan di antara keluarganya, menjadikan harta berkembang, dan memperpanjang umur.” (HR. Ahmad, para penelitinya berkata: sanadnya hasan, dan dishahihkan Al-Albani)

HR. Ahmad dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمْرِهِ، وَيُوَسَّعَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُدْفَعَ عَنْهُ مِيتَةُ السُّوءِ، فَلْيَتَّقِ اللَّهَ وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ»

“Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya, dilapangkan rezekinya, dan dicegah darinya kematian yang buruk, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menyambung tali kerabatnya.” (HR. Ahmad, para penelitinya berkata: sanadnya kuat)

Dalam Al-Adab Al-Mufrad disebutkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Barang siapa yang bertakwa kepada Tuhannya dan menyambung tali kerabatnya, maka umurnya akan dipanjangkan, hartanya akan berkembang, dan keluarganya akan mencintainya.”

Dari hadis-hadis ini, jelas bagi yang merenungkannya nilai silaturahmi dan buahnya—yang paling penting adalah: kelapangan dalam rezeki, tambahan umur, pencegahan kematian buruk, dan kecintaan keluarga.

Orang yang paling berhak dengan silaturahmi adalah kedua orang tua dan karib kerabat, kemudian yang terdekat.

Silaturahmi dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain: berbuat baik kepada mereka, mengunjungi mereka, mencintai mereka, menanyakan kabar mereka, memperhatikan keadaan mereka, membantu fakir mereka, menghormati orang tua mereka, berduka bersama mereka dalam kesedihan mereka, berpartisipasi dalam kegembiraan mereka, juga dengan mendoakan mereka di belakang, berbaik sangka kepada mereka, bersih hati terhadap mereka, memenuhi undangan mereka, menyeru mereka kepada petunjuk, menyuruh mereka berbuat makruf dan mencegah mereka dari kemungkaran, juga dengan harta, dan dengan bantuan serta dukungan dalam kebutuhan-kebutuhan dan hal-hal yang mendesak, dan seterusnya.

Ketiga: Takwa kepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā

Ini adalah sebab pertama dari keluasan rezeki dan keberkahannya. Allah berjanji kepada orang-orang yang bertakwa dengan hal itu dalam firman-Nya:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Q.S. Ath-Thalaq: 2-3)

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (Q.S. Al-A’raf: 96)

Dan firman-Nya tentang Ahli Kitab:

وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ

“Dan sekiranya mereka menegakkan Taurat, Injil, dan apa yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka, niscaya mereka akan makan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.” (Q.S. Al-Ma’idah: 66)

Takwa kepada Allah adalah dengan melakukan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang dan dicegah.

Keempat: Menginfakkan Harta di Jalan Allah

Ini termasuk sebab terpenting untuk kelapangan rezeki. Banyak orang lalai dalam hal ini dengan dalih takut kemiskinan dan kefakiran—meskipun banyaknya teks-teks yang mendorong dan menganjurkan untuk menginfakkan harta di jalan Allah, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah.

Di antaranya:

Firman Allah Ta’ala:

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, dan menyempitkan baginya. Dan apa pun yang kalian infakkan dari sesuatu, maka Dia akan menggantinya, dan Dia adalah Sebaik-baik Pemberi Rezeki.” (Q.S. Saba’: 39)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Maksudnya: apa pun yang kalian infakkan dari apa yang Dia perintahkan kepada kalian dan halalkan untuk kalian, maka Dia akan menggantikannya untuk kalian di dunia dengan pengganti, dan di akhirat dengan pahala.”

Firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ * الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan untuk kalian dari bumi. Dan janganlah kalian sengaja memilih yang buruk darinya untuk kalian infakkan, padahal kalian sendiri tidak mau menerimanya kecuali dengan memejamkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Setan menjanjikan kemiskinan kepada kalian dan menyuruh kalian berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 267-268)

Hadis Nabi ﷺ riwayat Muslim:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ»

“Allah Tabāraka wa Ta’ālā berfirman: ‘Wahai anak Adam, infakkanlah (hartamu), niscaya Aku akan menginfakkan (memberi rezeki) kepadamu.'” (HR. Muslim)

Sabda Nabi ﷺ riwayat Bukhari dan Muslim:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا»

“Tidak ada suatu hari pun ketika hamba-hamba memasuki pagi hari melainkan dua malaikat turun, lalu salah satunya berkata: ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang berinfak pengganti.’ Dan yang lain berkata: ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menahan kehancuran.'” (Muttafaq ‘alaih)

Semua hadis ini mendorong orang untuk berinfak di muka-muka kebaikan, dan memberi kabar gembira dengan penggantian dari karunia Allah Ta’ala bagi orang yang berinfak, serta mengangkat derajat orang yang berinfak di dalam hati.

Kelima: Berbuat Baik kepada Orang-Orang Lemah

Ini termasuk sebab yang dengannya Allah memberi rezeki dan menolong hamba-hamba-Nya.

Hal ini dijelaskan oleh Nabi ﷺ dalam hadis Mush’ab bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu—ketika Sa’d melihat bahwa ia memiliki keutamaan atas orang-orang di bawahnya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: رَأَى سَعْدٌ أَنَّ لَهُ فَضْلاً عَلَى مَنْ دُونَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ»

“Tidakkah kalian ditolong dan diberi rezeki kecuali karena orang-orang lemah kalian?” (HR. Bukhari)

Dari Abu Darda` radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «ابْغُونِي فِي ضُعَفَائِكُمْ، فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ»

“Carikanlah (pahala) untukku pada orang-orang lemah kalian, karena sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong karena orang-orang lemah kalian.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani)

Keenam: Menghadirkan Hati dalam Ibadah

Termasuk sebab yang dengannya rezeki diundang adalah mengosongkan hati untuk beribadah ketika melaksanakannya.

Dalam hadis riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ، تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِنْ لَا تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَكَ شُغْلًا، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ»

“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai anak Adam, kosongkanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi dadamu dengan kekayaan, dan menutup kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, Aku akan memenuhi kedua tanganmu dengan kesibukan, dan Aku tidak akan menutup kefakiranmu.'”

Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «يَقُولُ رَبُّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ قَلْبَكَ غِنًى، وَأَمْلَأْ يَدَيْكَ رِزْقًا. يَا ابْنَ آدَمَ، لَا تُبَاعِدْنِي فَأَمْلَأَ قَلْبَكَ فَقْرًا، وَأَمْلَأَ يَدَيْكَ شُغْلًا»

“Tuhan kalian Tabāraka wa Ta’ālā berfirman: ‘Wahai anak Adam, kosongkanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi hatimu dengan kekayaan, dan memenuhi kedua tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam, janganlah engkau menjauhkan diri dari-Ku, niscaya Aku akan memenuhi hatimu dengan kefakiran, dan memenuhi kedua tanganmu dengan kesibukan.'” (HR. Al-Hakim, dishahihkan Al-Albani)

Dalam dua hadis ini, Allah Ta’ala berjanji kepada orang yang mengosongkan diri untuk beribadah kepada-Nya dengan dua hal: memenuhi hatinya dengan kekayaan, dan tangannya dengan rezeki.

Bukan dalam hadis ini ajakan untuk pengangguran dan meninggalkan pekerjaan, serta memutuskan diri dari mencari rezeki. Yang dimaksud adalah hendaknya hati itu hadir saat beribadah, dikosongkan dari kesibukan-kesibukan dan kegundahan-kegundahan yang menyibukkan hamba dari Tuhannya Ta’ala. Pada saat itulah hati merasakan bahwa ia bermunajat kepada Pemilik bumi dan langit, maka ia menjadi kaya dengan-Nya dari selain-Nya, hati menjadi bahagia dengan ketaatan, dan kehidupan menjadi banyak dengan rezeki.

Ketujuh: Bersyukur kepada Allah atas Nikmat yang Ada

Termasuk sebab penambahan rezeki adalah bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang berlimpah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhan kalian memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian; tetapi jika kalian kufur (mengingkari nikmat), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'” (Q.S. Ibrahim: 7)

Syukur mengikat nikmat yang ada, dan mendatangkan nikmat yang hilang. Dalam hal ini, Umar bin Abdul Aziz berkata: “Ikatlah nikmat-nikmat Allah dengan bersyukur kepada Allah. Karena syukur adalah pengikat nikmat, dan sebab penambahan.”

Syukur kepada Allah dilakukan dengan: mengakui hati dengan adanya nikmat, memuji dengan lisan kepada Allah, dan menggunakan nikmat ini pada apa yang meridai Allah Subhanahu.

Kedelapan: Menikah

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang belum menikah di antara kalian, dan orang-orang yang saleh dari hamba sahaya kalian dan budak-budak wanita kalian. Jika mereka miskin, Allah akan mengayakan mereka dari karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. An-Nur: 32)

Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku heran kepada orang yang tidak mencari kekayaan dalam pernikahan, padahal Allah berfirman: ‘In yakūnū fuqarā’a yughnihimullāhu min faḍlihī’.”

Kesembilan: Berturut-turut antara Haji dan Umrah

Termasuk hal-hal yang dijadikan Islam sebagai sebab untuk menghilangkan kefakiran dan kelapangan rezeki adalah berturut-turut antara haji dan umrah.

Dalam hadis Ibnu Abbas secara marfu’:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلَّا الْجَنَّةُ»

“Berturut-turutlah kalian antara haji dan umrah, karena keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa, sebagaimana pandai besi menghilangkan kotoran besi, emas, dan perak. Dan tidak ada bagi haji yang mabrur pahala selain surga.” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i, dishahihkan Al-Albani)

Berturut-turut antara haji dan umrah memiliki dua makna menurut ulama:

  1. Makna pertama: Mengulang-ulang keduanya berkali-kali bagi siapa yang mampu melakukannya.

  2. Makna kedua: Menjadikan salah satu dari keduanya mengikuti yang lain, terjadi pada waktu yang berurutan—jika ia berhaji, maka ia berumrah; dan jika ia berumrah, maka ia berhaji.

Kesepuluh: Melakukan Sebab-Sebab Pencarian Nafkah

Tidak cukup apa yang telah disebutkan tanpa melakukan sebab-sebab pencarian nafkah.

Telah menjadi sunatullah bahwa rezeki-Nya tidak akan diperoleh kecuali dengan kerja keras dan usaha. Barang siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan, dan barang siapa yang menanam akan menuai.

Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Dialah yang menjadikan bumi itu tunduk kepada kalian, maka berjalanlah di penjuru-penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kebangkitan (setelah mati).” (Q.S. Al-Mulk: 15)

Barang siapa yang berjalan di penjuru-penjuru bumi yang tunduk, maka ia akan makan dari rezeki Allah. Dan barang siapa yang duduk dan bermalas-malasan—tanpa uzur—maka pantas baginya tidak makan, kecuali mengambil dari hak orang lain yang bekerja.

Karena itu, Islam menyeru kepada usaha dan kerja, serta memperingatkan dari pengangguran dan kemalasan.

Allah Ta’ala berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ

“Apabila salat telah ditunaikan, maka bertebaranlah di muka bumi, dan carilah karunia Allah.” (Q.S. Al-Jumu’ah: 10)

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ»

“Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik daripada ia makan dari hasil usaha tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)

Dan beliau memperingatkan dengan peringatan keras dari meminta-minta kepada manusia, sebagaimana dalam HR. Bukhari dan Muslim:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ»

“Seseorang senantiasa meminta-minta kepada manusia hingga ia datang pada hari kiamat dan tidak ada di wajahnya sepotong daging pun (yang tersisa).”

Intisari dari semua itu adalah apa yang telah kami sebutkan di awal: Takwa kepada Allah dengan melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Nikmat Allah tidak dapat diundang dengan sesuatu yang lebih baik daripada ketaatan, dan keberkahannya tidak dapat dilenyapkan dengan sesuatu yang lebih buruk daripada maksiat.

Aku memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Dia melimpahkan kepadamu dan kepada kaum muslimin dengan rezeki yang halal, baik, lagi penuh berkah.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Sumber: Al-Qaradawi

Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Share 0
Share 0
Topik berkaitan
  • Dr. Yusuf Al-Qaradhawi
Anda Mungkin Juga Menyukai
Jj4
View Post
  • Al-Qur'an
  • Fiqih

Menafsirkan Al-Qur’an tanpa Ilmu adalah Perbuatan Terlarang

View Post
  • Fiqih

Dari Fikih Prioritas dalam Kehidupan Seorang Muslim

Istock
View Post
  • Akhlak
  • Fiqih

Perkataan Sia-sia Dalam Sumpah

Arton101388
View Post
  • Fiqih
  • Hadits

Islam dan Perdagangan

HQhJzd55Time and Work Short Tricks
View Post
  • Fiqih

Hukum Menyia-nyiakan Waktu Kerja dan Menggunakan Fasilitas Umum untuk Kepentingan Pribadi

Makan Daging Qurban Semdiri 640x395
View Post
  • Fiqih

Menyalurkan Qurban kepada Nonmuslim

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk Anda Para Pembina Umat!
Iklan PPMT
Trending
  • Ap 6971847a1bb35 1
    • Akhbar Dauliyah
    KTT NATO 2026: Transformasi Aliansi dan Diplomasi Donald Trump
    • 06.07.26
  • 2284304248 2
    • Akhbar Dauliyah
    Seruan Balas Dendam Menggema di Teheran pada Prosesi Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei
    • 06.07.26
  • AFP 20260706 B9CZ8LV v1 HighRes PalestinianIsraelConflictGaza 3
    • Akhbar Dauliyah
    Hamas Umumkan Pembubaran Badan Pemerintahan Gaza
    • 07-07-2026
  • 62014211719 4
    • Akhbar Dauliyah
    Penulis Arab Soroti Narasi Politik Mesir: “Tidak Ada Tempat bagi Ikhwanul Muslimin”
    • 07-07-2026
  • WhatsApp Image 2026 07 07 at 3.30.19 PM (1) 5
    • Kabar Umat
    Kemenag Integrasikan Edukasi Pencegahan Penyebaran Budaya LGBTQ ke Pendidikan Agama
    • 08.07.26
  • 42e1161e72ec8f17f03eca12b8c65c2e 6
    • Kabar Umat
    Ketua BAZNAS: Dunia Menanti Sistem Ekonomi Syariah sebagai Alternatif Kapitalisme
    • 08.07.26

Forum Dakwah & Tarbiyah Islamiyah adalah Perkumpulan yang didirikan untuk menggalakan kegiatan dakwah dan pembinaan kepada masyarakat secara jelas, utuh, dan menyeluruh.

Forum ini berupaya menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat melalui berbagai macam kegiatan dakwah.

Kegiatan dakwah FDTI dilandasi keyakinan bahwa peningkatan iman dan taqwa tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan melakukan aktivitas nasyrul hidayah (penyebaran petunjuk agama), nasyrul fikrah (penyebaran pemahaman agama), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran).

Tag
Afghanistan Al-Aqsha Amerika Arab Saudi Arbain Nawawiyah AS covid-19 Dr. Yusuf Al-Qaradhawi Erdogan Gaza hadits arbain haji Hamas hizbullah Ikhwanul Muslimin india Irak Iran Israel Kemenag Lebanon Ma'rifatul Islam materi tarbiyah Mesir Muhammadiyah MUI Nahdlatul Ulama Pakistan Palestina Penjajah Israel Persis pks qawaidud da'wah Ramadhan Rusia Saudi Arabia Sudan Suriah Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi Taliban trump Tunisia Turki ushulul Islam Wasathiyah
Komentar Terbaru
  • Ghusni Darodjatun pada Ahdafut Tarbiyah
  • Susi pada Hadits 12: Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat
  • Supriadi pada Al-Ihsan
  • Tata pada Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam
  • Halimah Ayu Lestari pada Ahammiyatus Syahadatain (Pentingnya Dua Kalimat Syahadat)
  • Zidnialkelisa pada Al-Mukhtashar fi Tafsir Al-Qur’anul Karim: QS. Al-Baqarah ayat 6 – 20

Input your search keywords and press Enter.