Pertanyaan:
Apakah berjabat tangan dengan nonmuslim membatalkan wudhu?
Jawaban Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah:
Tubuh nonmuslim itu suci, sehingga boleh berjabat tangan dengannya. Yang najis adalah akidah mereka. Inilah pendapat mayoritas ulama.
Imam An-Nawawi Rahimahullah mengatakan:
وَذَكَرَ الْبُخَارِيّ فِي صَحِيحه عَنْ اِبْن عَبَّاس تَعْلِيقًا : الْمُسْلِم لَا يَنْجُس حَيًّا وَلَا مَيِّتًا . هَذَا حُكْم الْمُسْلِم . وَأَمَّا الْكَافِر فَحُكْمه فِي الطَّهَارَة وَالنَّجَاسَة حُكْم الْمُسْلِم هَذَا مَذْهَبنَا وَمَذْهَب الْجَمَاهِير مِنْ السَّلَف وَالْخَلَف . وَأَمَّا قَوْل اللَّه عَزَّ وَجَلَّ : { إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَس } فَالْمُرَاد نَجَاسَة الِاعْتِقَاد وَالِاسْتِقْذَار ، وَلَيْسَ الْمُرَاد أَنَّ أَعْضَاءَهُمْ نَجِسَة كَنَجَاسَةِ الْبَوْل وَالْغَائِط وَنَحْوهمَا . فَإِذَا ثَبَتَتْ طَهَارَة الْآدَمِيّ مُسْلِمًا كَانَ أَوْ كَافِرًا ، فَعِرْقه وَلُعَابه وَدَمْعه طَاهِرَات سَوَاء كَانَ مُحْدِثًا أَوْ جُنُبًا أَوْ حَائِضًا أَوْ نُفَسَاء ، وَهَذَا كُلّه بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ كَمَا قَدَّمْته فِي بَاب الْحَيْض
“Imam Bukhari menyebutkan dalam Shahih-nya, dari Ibnu Abbas secara mu’allaq: ‘Seorang muslim tidak najis baik hidup dan matinya.’ Ini adalah hukum untuk seorang muslim. Adapun orang kafir, maka hukum dalam masalah suci dan najisnya adalah sama dengan hukum seorang muslim. Ini adalah mazhab kami dan mazhab mayoritas salaf dan khalaf. Adapun firman Allah ‘Azza wa Jalla: ‘Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis,’ maka maksudnya adalah najisnya akidah yang kotor, bukan maksudnya anggota badan mereka najis seperti najisnya kencing, kotoran, dan semisalnya. Jika sudah pasti kesucian manusia, baik dia muslim atau kafir, maka keringat, ludah, air matanya semuanya suci, sama saja apakah dia sedang berhadats, junub, haid, atau nifas. Semua ini adalah ijma’ kaum muslimin sebagaimana yang telah saya jelaskan dalam Bab Haid.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/87)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata:
بِأَنَّ الْمُرَادَ أَنَّهُمْ نَجَسٌ فِي الِاعْتِقَادِ وَالِاسْتِقْذَارِ وَحُجَّتُهُمْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَبَاحَ نِكَاحَ نِسَاءِ أَهْلِ الْكِتَابِ
“Sesungguhnya maksud bahwa mereka najis adalah najis pada akidahnya dan kotor. Hujjah mereka adalah sesungguhnya Allah Ta’ala membolehkan menikahi wanita Ahli Kitab.” (Fathul Bari, 1/390)
Sebagian ulama mengatakan mereka najis secara fisik. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berpendapat bahwa sesuai dengan zahir ayat, innamal musyrikun najasun, maka tubuh orang musyrik itu najis sebagaimana najisnya babi dan anjing. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Al-Hasan Al-Bashri, katanya, “Barang siapa yang bersalaman dengan mereka maka hendaknya berwudhu.” (Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni, Rawa’i’ Al-Bayan, 1/282). Ini juga menjadi pendapat kaum Zhahiriyah.
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, “Maka, menurut jumhur bukanlah najis badan dan zatnya, karena Allah ﷻ menghalalkan makanan Ahli Kitab, dan sebagian Zhahiriyah menajiskan badan mereka.”
Pendapat yang kuat adalah pendapat jumhur bahwa mereka suci, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni:
الترجيح : الصحيح رأي الجمهور لأن المسلم له أن يتعامل معهم ، وقد كان عليه السلام يشرب من أواني المشركين ، ويصافح غير المسلمين والله أعلم
“Tarjih: yang sahih adalah pendapat jumhur, karena seorang muslim boleh berinteraksi dengan mereka. Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam minum dari wadah kaum musyrikin, dan bersalaman dengan nonmuslim. Wallahu A’lam.” (Ibid)
Alasan lain yang menguatkannya, karena dahulu Jubair bin Muth’im—ketika masih musyrik—pernah bermalam di masjid, bahkan mendengarkan bacaan Al-Qur’an. (Imam Asy-Syafi’i, Al-Umm, 1/54). Ini jelas menunjukkan kesuciannya, sebab jika mereka najis tentu mereka tidak akan diterima kehadirannya di masjid.
Sumber: Alfahmu.id





