Perjalanan hidup Nabi Yusuf ‘alaihissalam sangatlah unik. Salah satu keistimewaannya yang menakjubkan adalah perpaduan antara spontanitas dan perencanaan yang terukur. Kehidupan manusia pada dasarnya tidak lepas dari dua jalur: jalur teratur yang dapat diperkirakan dan diperhitungkan, serta jalur penuh dinamika yang mewarnai hari dengan berbagai kejutan. Pada kondisi normal yang dapat diprediksi, seseorang mampu menyusun rencana. Sementara itu, dalam situasi yang tidak menentu dan penuh kekacauan, seseorang dituntut untuk bertindak cepat dan mengambil keputusan secara spontan.
Masa awal kehidupan Nabi Yusuf ‘alaihissalam diwarnai oleh berbagai peristiwa yang tidak terduga, sebagaimana lazimnya fase awal kehidupan setiap manusia. Beliau belum memiliki visi yang terperinci atau target khusus tertentu. Sikap dan tindakannya murni dituntun oleh fitrah yang lurus serta pendidikan keluarga kenabian. Beliau belum membayangkan akibat jangka panjang dari suatu peristiwa. Jika merujuk pada sebuah riwayat, setelah Nabi Ya’qub ‘alaihissalam berpesan:
قَالَ يٰبُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلٰىٓ اِخْوَتِكَ فَيَكِيْدُوْا لَكَ كَيْدًا ۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
“Dia (ayahnya) berkata, ‘Wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, nanti mereka membuat tipu daya (untuk membinasakanmu). Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia.'” (QS. Yusuf: 5)
Nabi Yusuf yang masih polos tetap menceritakan mimpi tersebut kepada saudara-saudaranya karena prasangka baik serta belum menyadari potensi bahaya yang mengintai di kemudian hari.
Demikian pula ketika berada di istana Al-Aziz maupun di dalam penjara, Nabi Yusuf ‘alaihissalam bertindak secara alamiah. Beliau menghadapi berbagai kejutan yang datang dengan kecerdasan, keluhuran budi, serta kebaikan perangainya. Namun, rangkaian pengalaman hidup yang panjang dan beragam tersebut menempa beliau hingga menguasai seni perencanaan yang sangat luar biasa, yang kelak membuat raja Mesir takjub.
قَالَ تَزْرَعُوْنَ سَبْعَ سِنِيْنَ دَاَبًا ۚ فَمَا حَصَدْتُّمْ فَذَرُوْهُ فِيْ سُنْبُلِهٖٓ اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تَأْكُلُوْنَ ثُمَّ يَأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَّأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تُحْصِنُوْنَ ثُمَّ يَأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ عَامٌ فِيْهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيْهِ يَعْصِرُوْنَ
“Dia (Yusuf) berkata, ‘Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian setelah itu akan datang tujuh tahun yang sangat sulit, yang akan menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memerah anggur.'” (QS. Yusuf: 47-49)
Melalui ayat tersebut, beliau memberikan rancangan penyelamatan negeri Mesir dari kebinasaan sekaligus rencana pembangunan untuk lima belas tahun ke depan. Kehidupan Nabi Yusuf ‘alaihissalam merupakan perpaduan yang indah antara ketepatan bertindak secara spontan dan perencanaan yang matang.
Sebagian orang tidak mengenal arti perencanaan, sehingga seluruh hidupnya berjalan tanpa arah. Mereka membiarkan diri terbawa angin tanpa tujuan yang jelas dan tanpa rencana kerja. Orang dengan tipikal seperti ini sangat rentan kehilangan arah, tidak memiliki keteguhan sikap, serta tersesat dari tujuan utama.
Sementara itu, ada pula tipe orang yang sangat lihai menyusun rencana dalam kondisi normal dan terprediksi. Namun, begitu perubahan mendadak atau kekacauan menghampiri, seluruh perhitungannya menjadi kacau dan berantakan.
Prinsip utamanya adalah setiap orang perlu menyusun rencana hidup untuk menentukan arah, mencapai tujuan, serta mewujudkan cita-citanya secara terstruktur. Meski demikian, keluwesan dalam merencana tetap diperlukan karena hidup ini penuh dengan kejutan, dan faktor yang membentuk suatu peristiwa tidak selalu berasal dari hal-hal yang sudah diketahui. Sandaran utama tetaplah kepada Allah, dari awal hingga akhir. Namun, berserah diri bukan berarti pasrah begitu saja pada ketetapan takdir tanpa usaha. Orang yang mendapatkan petunjuk adalah mereka yang berikhtiar menghadapi takdir Allah dengan hukum-hukum-Nya, demi mencari kebenaran.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan taufik dan ketepatan dalam setiap langkah kita.
Sumber: iumsonline





