Allah melimpahkan amanah kepemimpinan kepada manusia di bumi melalui panduan ilahi yang bersendikan pilar-pilar kokoh. Dua pilar paling utama di antaranya adalah sabar dan salat, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)
Pesan ini disampaikan Allah kepada umat-umat terdahulu maupun kepada umat Nabi Muhammad. Keduanya diminta menjadikan sabar dan salat sebagai pegangan hidup demi menunaikan amanah besar tersebut. Umat Islam juga diajak mengambil pelajaran dari perjalanan Bani Israil pada masa Nabi Musa, lalu disapa dengan perintah yang sama:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Penegasan ini menunjukkan betapa krusialnya kedua hal tersebut bagi kehidupan manusia.
Sabar dan Salat sebagai Sarana Kemenangan
Salat bukan sekadar ibadah ritual, melainkan kunci keberhasilan dalam berbagai aspek kehidupan serta tujuan yang senantiasa dikejar oleh orang-orang bertakwa. Perintah untuk memohon pertolongan melalui sabar dan salat mengisyaratkan bahwa jalan menunaikan amanah di bumi penuh dengan rintangan, baik yang berasal dari gejolak batin maupun dari tekanan lingkungan sekitar.
Hakekat kesabaran terletak pada kemampuan menahan diri dari hal-hal yang tidak menyenangkan. Ini adalah perjuangan tanpa henti untuk mengendalikan hawa nafsu. Sementara itu, salat adalah momen indah untuk bermunajat kepada Allah, tempat mengadu dan berlindung ketika manusia tidak lagi bisa diandalkan. Keindahan fungsi salat ini tercermin dalam seruan Rasulullah ketika memanggil muazinnya:
أَرِحْنَا بِهَا يَا بِلَالُ
“Istirahatkanlah kami dengan salat, wahai Bilal.” (HR. Abu Dawud)
Melalui sabar dan salat, seorang hamba memperoleh kekuatan batin dan keteguhan jiwa untuk menghadapi berbagai ujian hidup.
Terasa Berat Kecuali Bagi Orang yang Khusyuk
Namun, menjadikan salat sebagai tempat bersandar terasa berat bagi kebanyakan orang, kecuali bagi mereka yang khusyuk. Merekalah jiwa-jiwa yang memiliki cita-cita mulia dan tekad yang kuat, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 45 di atas.
Khusyuk yang sejati mencakup dua dimensi yang saling melengkapi:
- Khusyuk Fisik: Terlihat dari sikap tubuh yang tenang, pandangan yang tertuju ke tempat sujud, serta keheningan dalam setiap gerakan.
- Khusyuk Hati: Berupa rasa rendah hati, ketundukan, dan kepasrahan penuh kepada Allah. Inilah roh dan inti dari kekhusyukan.
Karakter Jiwa yang Khusyuk
Penggunaan bentuk kata Al-Khasyi’in dalam Al-Qur’an menandakan bahwa sifat khusyuk tersebut telah terlatih dan melekat erat menjadi kepribadian mereka. Al-Qur’an menggambarkan ciri utama kelompok ini dalam ayat berikutnya:
الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“(Yaitu) mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Rabb mereka dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 46)
Dua ciri utama dari kelompok ini adalah:
- Sangat meyakini pertemuan dengan Rabb mereka: Maksud dari kata yadhunnuna pada ayat ke-46 adalah keyakinan yang mantap, bukan keraguan. Pertemuan ini dapat dirasakan di dunia melalui salat dan ibadah, ketika seorang mukmin merasakan keakraban dan kedekatan dengan Allah.
- Meyakini hari kembali: Mereka sadar penuh bahwa seluruh manusia akan pulang kepada Allah di hari kiamat untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kesadaran inilah yang membuat hati mereka menjadi lembut dan anggota tubuh mereka tunduk patuh.
Menjalankan peran sebagai pemimpin di bumi sangat bergantung pada kesediaan kita untuk bersandar pada sabar dan salat. Merekalah rahasia sejati di balik keberhasilan dan kejayaan manusia.
Sumber: IUMSOnline





